Beberapa waktu lalu saya menemukan buku yang sudah lama disarankan teman fesbuk saya, 'Cacing dan Kotoran Kesayangannya' tulisan Ajahn Brahm. Saya suka dengan penuturannya tentang bagaimana berkecukupan hati agar hidup senang dan matipun tenang. Kalau hati sudah cukup, mau apa lagi?
 
Saya cukup 'tersentil' dengan penuturan tentang 'suffering'. Ajahn Brahm bilang, setiap orang memiliki 'suffering'nya sendiri- sendiri. Ketika belum menikah, orang merasakan 'single suffering', deritanya orang yang belum menikah. Lalu ketika menikah, dia mengalami 'married suffering'. Ketika masih miskin, dia merasakan derita orang miskin, mau beli ini itu tak mampu. Ketika kaya, dia mengalami derita orang kaya. Mau kemana-mana kuatir harta bendanya hilang. Begitulah, semua situasi kehidupan memiliki deritanya sendiri-sendiri.
 
Saya sudah menikah dan punya anak, sering iri dengan teman saya yang belum menikah dan bisa seenaknya pergi kemana-mana. Teman saya yang belum menikah itu malah iri pada saya yang sudah punya suami (bisa juga dibaca : sudah laku) dan sudah punya anak. Setidaknya saya punya keluarga yang menunggu saya kalau saya pulang ke rumah.
 
Well, akhirnya saya pikir, semua memang sama saja. Tak ada satu situasi yang benar-benar ideal dan bebas dari derita.Dulu saya pikir menikah dan punya anak pasti akan senang. Nyatanya, ada juga deritanya. Saya enggak bebas kemana-mana. Tapi jujur, saya rasa saya lebih sanggup menanggungkan derita menikah daripada derita membujang, karena saya punya anak-anak yang manis dan mewarnai hidup saya.
 
Sementara, mungkin teman-teman saya itu menurut Tuhan lebih sanggup menanggung derita bujang daripada derita menikah sehingga hingga saat ini mereka belum dikutuk untuk menjadi 'married women."
 
Maka, benar bila dikatakan kalau kita mengharap untuk berada di satu situasi untuk menghindari situasi yang saat ini kita alami, sama saja kita melarikan diri dari satu derita ke derita yang lain. Karena setiap situasi ada deritanya sendiri-sendiri.
 
Jadi, kalo hidup itu sebuah pilihan, sebenarnya kita bukan memilih situasi seperti apa yang paling baik untuk kita alami, tapi derita mana yang paling mampu kita tanggung. Sepertinya begitu.