Tujuan pembahasan tema ini dimaksudkan agar kita senantiasa sadar bahwa sejarah selalu berulang pada konteks umat manusia manapun. Suatu peristiwa masyarakat lain pada masa lalu sering terjadi pada masyarakat masa kini. Demikian bangsa Papua bahwa kilas balik sejarah sebagaimana pernah terjadi di Indonesia adalah sejarah pergerakan perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme Belanda dengan dominant nilai-nilai religiusitas sebagai medium perlawanan. Distingsi religiusitas sebagai alat pertahanan dapat kita petik hikmah agar bagaimana berpijak adalah urgensi relevansi disini.

 

Dalam Al-Qur’an (kitab suci umat Islam) umat islam diperintahkan Allah SWT, senantiasa belajar dari sejarah umat manusia masa lalu, demikian pesan Cak-Nur (Nurcholish Majid), seorang cendikiawan Muslim Indonesia terkemuka dalam bukunya; ‘Pintu-Pintu Menuju Tuhan’, buku kumpulan tulisan artikel diharian Koran Pelita yang dihimpun Penerbit Paramadina. Oleh sebab itu contoh baik dan gampang bagi kita di Papua adalah penjajahan portugis kemudian Belanda di Indonesia selama 300 tahun mau diangkat disini dengan tujuan kita mengambil ibroh (ibarat) atau hikmah sebagai manfaatnya.

Perlawanan Agama

Pada mulanya saudara-saudara kita di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, kaum pribumi Indonesia, dulunya menganut animisme, lalu masuk agama Budha dan Hindu yang datang dari India. Belakangan Islam muncul dan menjadi jaya di Samudera Pasai kemudian di pantai Utara Jawa dengan kerajaan Demak. Samudera Pasai di Aceh, Maluku hingga Fak-Fak, Raja Ampat Papua  dan Malaka di Malaysia agama Islam kokoh.

Proses islamisasi dikalangan pedagang di Pesisir Pantai Utara lumayan tuntas sehingga daerah-daerah itu kini dikenal sebagai daerah Kaum Santri. Tapi sejumlah daerah di gunung dan pedalaman Jawa Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi masih percaya dewa-dewa dan agama nenek moyang dari alam hingga Hindu nyata di Bali. Sampai dewasa ini rakyat kebanyakan di pedalaman dan dipegunungan belum tersentuh nilai-nilai Islam malah dalam perkembangannya sinkretisme. (Gus-Dur, Membangun Demokrasi, 2001).

Lalu bagaimana pedagang muslim sanggup mengislamkan Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Pesisir Kalimantan, Maluku Utara sehingga kini hampir seluruh masyarakatnya beragama islam walaupun tidak tuntas seperti Aceh? Alasannya penjajah beragama Kristen. Kristen Barat (Belanda-Portugis) datang cari Pala (Maluku), Islam dijadikan alat perlawanan untuk mengusir dari penjajah rakus Eropa Kristen.

Kaum pribumi dipimpin ulama melakukan perlawanan terhadap penjajah dan Islam sebagai alat pemersatu dan perjuangan pertahanan dalam perlawanannya dengan penjajah yang datang menguasai kekayaan alam Indonesia yang kaya raya karena letaknya didaerah tropis oleh bangsa Eropa Kristen. Kekayaan Asia Barat dan Tenggara (negeri Muslim) diangkut ke Eropa membuat super makmur Eropa.

Hal ini persis terjadi di Timor Leste. Tokoh utama negeri itu, Xanana Gusmao, ideologinya sosialis berorientasi ke paham marxisme yang atheistis. Mari’ Al-Katairi lain, dia muslim keturunan Arab, tapi mayoritas rakyat Timor Leste sangat menghormati Uskup Bello, Tokoh Katolik.

Agama Katolik sebagai alat perlawanan dan sentiment rakyat Timor Leste. Artinya Indonesia dianggap penjajah muslim yang merampas kemerdekaan hak menentukan nasib sendiri rakyat Timor Leste yang Katolik. Padahal mayoritas suku dipedalaman Timor Leste dominant kepercayaan tradisi lama. Mereka masih menganut dan menghayati nilai-nilai lama (animisme).

Dengan masuknya invasi pasukan TNI/POLRI dikawasan itu dengan sendirinya mempercepat proses katolikisasi, persis sama terjadi juga demikian di Hindia Belanda (Indonesia) dulu, bahwa dengan datangnya penjajah Portugis yang beragama Kristen dan Belanda membantu proses islamisasi dikalangan penduduk pribumi Indonesia secara cepat dan bertahap walaupun belum tuntas sampai saat ini, (Suku Badui, Banten Jawa Barat, Toraja Sulawesi, suku Anak Dalam, Sumatera dan Dayak di Kalimantan adalah suku-suku pribumi yang belum masuk Islam)

Konteks Papua

Sejak penyerahan kekuasaan dan kontrol Papua dari Belanda kepada Soekarno melalui PEPERA, Belanda pergi tapi missionaris berkebangsaan Belanda dan Amerika bertahan di Papua menyebarkan agama. Mereka bangun sekolah dan pos kesehatan agar anak-anak Papua secara otomatis dan itu berlangsung hingga dewasa ini menjadi Kristen.

Pengaruh itu dominant daerah pesisir Utara Papua (Manukwari, Biak, Serui dan Jayapura) kebanyakan daerah padat penduduk Pegunungan sampai dewasa ini belum tuntas menerima pengaruh Otto-Geisler yang  datang antar agama Kristen Protestan dari Jerman (5 Mei 1885). Belanda memperkenalkan Agama Katolik di Merauke dan melalui guru-guru dari Key yang lebih dulu masuk agama itu, membantu menyebarkan agama Katolik di Selatan Papua.

Hampir 80% Penduduk Papua Barat wilayah Pegunungan Tengah Papua, baru di-agama-kan pada masa NKRI tahun 1980-an-1990-an akhir. Papua menjadi mayoritas Nasrani sejak integrasi. Proses Kristenisasi berlangsung pasca integrasi Papua dalam NKRI hingga dewasa ini.

Agama sebagai alat perlawanan, pemersatu, pembeda, pertahanan diri dari penindasan kaum penjajah beragama lain. Agama terbukti dimana-mana sebagai sarana pertahanan, pembeda, perlawanan, perlindungan bagi kaum pribumi tertindas berhadapan dengan penjajah beragama lain terjadi dimana-mana. Demikian disini sedang terjadi proses itu. Tahun 1999-2000, protes para Pendeta dan Pastor dan Ulama Muslim, lebih sebagai perlawanan semangat keagamaan. Mereka berada barisan terdepan. Patut diingat disini bahwa proses kristenisasi tuntas waktu pemerintahan otoriter Soeharto selama 33 tahun hanya secara simbolik.

Ekonomi

Pengangkutan kekayaan alam secara tidak waras alias gila oleh Inggris di India menyengsarakan pribumi dinegeri itu menjadi miskin. Rakyat India dibuat tak berdaya, mereka miskin papa, hanya tenaga kasar, buruh pabrik dan kuli perusahaan tambang yang dikuasai penjajah dari kekayaan alam milik mereka.

Demikian di Indonesia masa lalu, pribumi dibuat miskin oleh Belanda dari tanah mereka yang subur seperti daerah pertanian di Jawa, Sumatera dan Sulawesi serta buah Pala di Maluku. Semua sektor pertanian dan perkebunan dikuasai Belanda. Rakyat Indonesia hanya tenaga buruh kasar. Hasil kekayaan alam Indonesia dibawa pergi Belanda ke negerinya dan Eropa akhirnya super makmur.

Penjajahan Eropa dan perampasan kekayaan dibidang pertanian, pertambangan, dan perdagangan sumber daya alam pribumi ini memunculkan SDI (Serikat Dagang Islam) kemudian SI (Serikat Islam) sebagai cikal bakal organisasi perjuangan perlawanan kemerdekaan rakyat Indonesia.

Pribumi disatukan oleh semangat Islam terjadi di seluruh Hindia Belanda mulai dari Jawa, pesisir Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sumatera. SDI sendiri tujuan awalnya menampung para pedagang muslim yang umumnya pribumi terhadap pasar perdagangan yang dikuasai oleh VOC, Eropa Kristen. SDI mengimbangi perekonomian yang dikuasai Timur Asing (baca, Cina) dan penjajah asing Eropa.

Untuk itu mereka dirikan SDI untuk kelola perdagangan. Pada akhirnya mereka kuasai perdagangan dibidang batik. Sejumlah usaha batik sebagai basis ekonomi rakyat dan perputaran uang sesama pribumi muslim sanggup dihidupkan. Dalam perputaran roda ekonomi pribumi ini menampung, membeli, menjual dan menyediakan bahan dasar perdagangan didalam kalangan pribumi muslim sendiri. Demikian di India dengan penguasaan rakyat terhadap asset garam di negeri itu pada awal-awal perjuangan kemerdekaan mereka dikenal dengan politik ahimsa yang diperkenalkan oleh Indira Ghandi.

Papua dan Agama

Karakter dan mentalitas (berarti soal budaya) orang Papua dibentuk oleh alam. Alam Papua serba tersedia membuat orang Papua bermentalitas peramu. Alam menyediakan segalanya, tinggal memungut tanpa harus menanam. Papua dimanjakan alam yang melimpah. Sebagai akibatnya apa yang didapat hari ini dihabiskan hari ini besok tinggal memungut lagi.

Mentalitas ini belum berubah dalam dunia yang semakin kompetitif  era globalisasi modern ini. Jika dibiarkan terus-menerus tanpa diarahkan pemerintah dengan pelatihan enterprenershif (latihan kewirausahaan), maka akibatnya orang pribumi ketinggalan. Jika dibiarkan tanpa perhatian pemerintah maka ongkos sosialnya tinggi, membakar pasar, tokoh, kios milik orang pendatang. Ini semua terjadi akibat tiadanya keberpihakan penguasaan asset ekonomi pada pribumi.

Sementara oleh alam mereka terbentuk mentalitas: apa yang didapat hari ini di habiskan hari ini juga. Tapi benarkah orang Papua malas? Belum ada penelitian membenarkan tesis ini. Tapi orang Papua tidak punya kecenderungan interpreneshif sebagai bentuk protes lain mereka identifikasi diri dari kebiasaan baik itu terlanjur digeliguti pendatang, lagi-lagi disini semangat berwiraswasta dijadikan alat indentifikasi diri dari pendatang. Benarkah? Wallahu’alam bishowaf.


***  Papua sesungguhnya bagaikan gadis Indah rupa, cantik, akhlaq mulia, muda belia, semua ciri kesempurnaan masa kini, siapa gerangan sanggup sentuh hati-nya? Maka bahagialah. (Wahai Manusia, Aku ciptakan kalian laki2 dan perempuan kemudian Aq jadikan qm bersuku2 dan bangsa agar saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling Mulia disisi Allah ada orang bertaqwa).