Sholat taraweh selesai. Waktunya untuk mendengarkan khotbah. Paling tidak bisa membantu Izza mencatat khotbah untuk tugas sekolahnya. Tiba-tiba teringat pada suatu Ramadhan, bapak saya lah yang berdiri di podium, tempat khotbah. Itu sungguh peristiwa yang ganjil untuk saya. Bapak saya yang dulu ribut dengan ibu saya karena dengan lantang mengatakan bahwa beliau tidak lagi Islam tapi menganut kepercayaan. Teringat sepasang suami istri, tetangga saya yang baru pulang dari haji, sang suami ingin menitipkan siwak untuk bapak saya pada saya. Tapi istrinya menyenggol dan berkata bahwa bapak saya tidak Islam lagi. Perih hati saya. Sampai segitunya.

 

Toh akhirnya bapak dan ibu berangkat haji sendiri. Setelah, entah kenapa, bapak tidak aktif lagi di aliran kepercayaan yang selama beberapa waktu itu dianutnya. Setelah itu bapak aktif ikut pengajian. Kemudian ibu mengajak naik haji waktu bapak pensiun. Bapak setuju. Dan sepulang dari haji itu bapak diminta untuk membantu mengisi khotbah di waktu taraweh. Bapak sudah tidak mau. Berkhotbah itu berat. Kalau cuma bicara dan tidak menjalani, dosanya berat, kata bapak. Tapi karena sudah dipaksa pengurus mesjid, bapak menyerah. Hitung-hitung latihan. Toh bapak juga guru. Sudah biasa bicara di depan orang banyak.

 

Maka malam itu bapak berdiri di sana. Setelah sholat taraweh bapak saya menuju podium untuk berkotbah. Saya deg-degan minta ampun. Bertanya-tanya apa yang akan dikatakan bapak saya. Pembukaannya sama dengan khotbah yang biasa disampaikan. Tapi setelahnya, bapak saya dengan jujurnya mengatakan tidak tahu apa yang akan dikatakan. Ini ganjil. Biasanya pembicara sudah tahu benar apa yang akan dikatakan. Minimal mereka membawa catatan. Tinggal dibaca, selesai. Tidak peduli apakah mereka sendiri paham benar apa yang mereka sampaikan atau tidak. Tidak peduli apakah yang mendengar mengerti apa yang mereka sampaikan atau tidak. Tidak peduli juga apakah apa yang mereka tulis sama dengan apa yang ada di hati mereka atau tidak. Yang penting mereka sudah menyampaikan khotbah. Selesai.

 

Berbeda dengan pembicara lain yang langsung berkhotbah dengan manisnya, bapak saya malah terang-terangan mengatakan sebenarnya tidak tahu akan bicara apa. Respon yang tidak saya duga, semua orang tertawa. Seumur-umur, baru kali ini para jamaah taraweh tertawa selepas itu. Apalagi ibu-ibu yang senang sekali tertawa. Sampai mereka keluar air mata. Bapak saya juga menceritakan bagaimana bisa berdiri di situ. Dan segala proses pemaksaan yang 'menyedihkan' itu menjadi hal yang menggelikan untuk para jamaah. Tidak ada pembicara yang pernah mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak tahu apa yang mereka katakan. Cuma bapak saya yang pernah.

 

Setelah pembukaan yang menggelikan itu, bapak saya masuk ke materi. Tidak banyak karena memang waktu yang diberikan juga tidak banyak. Khotbah taraweh malam itu selesai, dengan sisa tawa ibu-ibu yang pulang bareng saya. Sampai-sampai mereka bertanya di jalan, apakah bapak saya memang selucu itu kalau di rumah. Saya bingung harus menjawab apa. Memang bapak saya suka bercanda. Tapi saya tidak tahu kalau orang sampai menganggap bapak saya sedemikian lucunya.

 

Di malam Ramadhan kali ini di mesjid yang sama, cuma sekarang sudah jauh lebih bagus karena baru saja selesai direnovasi, saya teringat saat bapak saya berdiri di depan sana. Cuma satu kali itu.Karena Ramadhan berikutnya bapak saya tidak lagi diminta untuk memberikan khotbah. Tidak tahu kenapa. Tapi bapak saya sudah mulai tidak bisa menjalankan puasa dengan sempurna. Badannya sudah terlalu lemah karena diabetes dan ginjal. Dan beberapa bulan kemudian bapak saya meninggal.

 

Buat saya, itu adalah khotbah terjujur dan terindah dalam hidup saya. Mana pernah seorang pembicara dengan jujur mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak tahu apa yang akan mereka katakan? Cuma bapak saya yang pernah… :")