Secara global, dalam teori, misi agama adalah perdamaian.  Tapi dalam prakteknya, agama justru menindas. Menindas manusia lain yang tidak sekeyakinan. Saya merumuskan penindasan itu terjadi dengan 3 cara:

Pertama:

Menindas secara bathin. Umat beragama, dalam bathinnya cendrung membenci manusia lain yang tidak sekeyakinan. Bahkan dalam agama, umatnya memang dianjurkan untuk membenci umat agama lain. Paling tidak, dianjurkan untuk membenci dalam hati. Jika tidak membenci maka kualitas kesetiaan dan keimanannya pada agamanya sendiri dinilai sudah meragukan.

Kedua:

Menindas dengan mulut atau tulisan. Rata-rata mulut dan kata-kata umat beragama kasar bila bicara soal agama. Ketika orang lain tidak mengakui kebenaran agamanya, maka taringnya langsung mencakar. Akan menampar orang lain dengan kata-kata kasar dengan seganas-ganasnya, sambil ditopang dengan dalil agama yang diyakininya.

Ketiga:

Menindas dengan kekerasan fisik. Inilah yang selalu membuat dunia ketakutan. Pada level ini, agama adalah monster yang mengerikan. Heroik. Serdadu. Teroris. Rumusnya hanya satu: “Siapa yang menghina agama gue, siapa yang tidak meyakini agama saya benar, maka nyawa saya tantangannya.”

Lalu adakah umat beragama yang memang sesuai dengan slogan agamanya?
Yaitu sebagai malaikat perdamaian bagi dunia dan kehidupan?

Tentu saja ada. Kenapa mereka bisa? Biasanya mereka tidak tergolong fanatik. Dalam arti tidak begitu mengaminkan semua ajaran agama. Karena jika mereka mengaminkan secara detail apa yang tertulis dalam kitab suci, maka mereka tidak bisa menolak, bahwa mereka harus membenci umat beragama lain. Dan tidak sulit untuk membuktikan hal ini. Tinggal dibuka kitab suci lalu ….. ah saya kok takut meneruskannya, salam welas asih, rahayu