Fanatisme, menurut wikipedia, artinya orang yang meyakini sesuatu dengan membabi buta. Itu kata wikipedia. Mungkin apa yang saya pahami kurang lebihnya sama. Ceritanya, beberapa waktu lalu seorang teman saya tag foto saya. Dia bilang, 'kamu mungkin lebih cantik kalo tidak pake jilbab'. Respon saya biasa saja. Saya tidak marah. Bisa jadi apa yang dia katakan itu benar. Itu pendapat dia.

Dia agak terkejut dengan respon saya yang biasa saja. Dia bilang, 'bukannya orang pake jilbab biasanya fanatik?'

Saya pikir dia terlalu menggeneralisas. Tidak semua orang berjilbab fanatik. Ada yang tidak. Dan saya salah satunya.

Entah kenapa saya tidak terlalu peduli lagi dengan perbedaan keyakinan. Apa perlunya? Saya dan apa yang saya yakini, itu urusan saya. Orang lain dan apa yang mereka yakini itu juga urusan mereka. Memang saya juga tidak serta merta seperti ini. Ada sebuah proses yang luar biasa melalui sebuah kekacauan yang maha dahsyat. Seperti yang pernah saya tulis bahwa renovasi rumah selalu memerlukan waktu dimana semua tampak porak poranda. Hidup saya juga sempat begitu. Tapi ternyata semua itu membawa saya kepada titik ini. Siapa yang bisa mengira? Bahkan saya sendiri tak pernah mengira sebelumnya. Saya hanya merasakan, bahwa Tuhan seperti sengaja 'menjerumuskan' saya pada suatu yang benar-benar kacau dan tak masuk akal, dengan suatu maksud.

Saya baru saja selesai membaca novel Paulo Coelho. Novel bagus tentang cinta yang tertunda sepuluh tahun untuk disampaikan. Konflik batin karena ketakutan dan keraguan, yang seperti juga selalu menghantui kita dan selalu kita ijinkan untuk menjadi penghuni tetap dalam jiwa kita, menjadi tersangka utama. Awal membaca saya takjub karena buku itu seperti menjadi ilustrasi dari buku the power of now yang pernah saya baca.

 

Tapi lalu buku itu menceritakan tentang banyak hal yang akhir-akhir ini saya pahami, saya percaya dan kemudian saya yakini, bahwa semua orang pada dasarnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Mungkin tidak semua orang akan suka novel ini, karena tidak semua orang akan percaya hal ini. Sebagian besar orang terlanjur percaya bahwa kekuatan luar biasa hanya dimiliki orang-orang tertentu dan tidak bisa dimiliki orang-orang lainnya. Sehingga dibutuhkan para pendoa, karena cuma doa merekalah yang diterima, sementara doa orang lainnya tidak.

Well, saya termasuk orang yang sealiran dengan Coelho. Saya percaya semua orang punya kekuatan. Tinggal minta sama Tuhan, maka DIA akan memberi. Selesai. Itulah kenapa saya selalu yakin pada janji Tuhan "mintalah kepadaKU, maka AKU akan memberikannya padamu." Jadi saya tinggal minta, Tuhan kasi. Selesai.

 
Dan dalam banyak hal, memang itulah yang terjadi. Saya minta, Tuhan memberi. Entah kenapa masih saja banyak orang yang tak percaya. Tapi itu bukan urusan saya. Saya cuma ingin membahas bahwa Coelho akhirnya membawa ceritanya pada keyakinan yang dia pahami, Katolik. Dia bicara dalam bahasa Bunda Maria dan Yesus. Dan kekuatan2 yang didapatkan oleh tokoh dalam novelnya itu juga mendapatkannya dari Bunda Maria. Bukan karena dia ingin pembacanya terbawa untuk meyakini Bunda Maria dan Yesus juga, saya kira. Tapi karena paham itulah yang dia pahami.

 

Mungkin juga seandainya saya menulis novel, saya akan bicara hal-hal tentang Tuhan Muslim saya, karena itulah yang saya pahami. Itu saja. Tapi setidaknya, karena tidak fanatik, saya percaya pada Coelho. Bahwa kekuatan Tuhan bisa saja diberikan begitu saja pada umatNYA. Apapun nama yang kita sematkan pada SESUATU MAHA DAHSYAT itu. Bunda Maria, Allah, atau apa saja. DIA akan memberikannya pada manusia. Hanya dengan syarat, bahwa mereka yang diberi kekuatan itu harus berani menghadapi berbagai tantangan, karena hal seperti ini sungguh tak biasa. Tak semua orang mau mempercayainya. Tak hanya tak percaya, mereka bisa melakukan apa saja untuk mencerca, menganiaya dan membuat orang-orang yang 'tak biasa' ini menderita.

 

Apa hubungannya dengan fantisme? Well, seandainya saya fanatik, saya tak akan bisa memahami buku itu. Begitu ada tulisan Bunda Maria di situ, maka buku itu segera saya letakkan karena takut iman saya terganggu dan kemudian terkotori. Seperti anak saya yang selalu mendengar ibu saya menyarankan saya membaca buku-buku Islam seperti yang dibaca ibu saya dan memarahi saya karena membaca buku-buku 'aneh' seperti conversation with God, begitu dia membuka dan membaca begitu banyak kata Bunda Maria dan Yesus di novel itu, dia bilang, "kok mama baca buku seperti ini sih? Kan nggak boleh."

Saya bilang, "kenapa? Kan cuma baca…" Cuma itu yang mampu saya jelaskan. Saya belum mampu menjelaskan lebih jauh untuk anak kelas 3 SD. Biar dia sementara diracuni  oleh berbagai fanatisme dulu sampai dia bosan. Baru nanti akan saya jelaskan. :D.

 
Kalau saja saya seperti ibu saya, saya pasti tak akan membaca buku-buku bagus seperti yang sudah saya baca. Saya tak akan terus berteman dengan teman saya yang bilang saya lebih cantik tanpa jilbab saya. Karena saya pasti sudah marahan sama dia dan berkuranglah satu teman saya. Jadi saya cuma berpikir, seandainya saya fanatik, apa yang bisa saya dapat? Pasti tak banyak