Tag

Ya saya orang Cina! Bingung bukan? Seperti saya membingungkan anda ketika dulu memproklamirkan bahwa Habe adalah seorang Israel kecil. Apakah saya ngomong begini sekedar mencari sensasi? Nggak juga.

Saya cuma berusaha mengekspresikan kecenderungan solidaritas saya pada golongan atau ras minoritas yang tertindas. Dia bisa saja seperti penganut Ahmadiyah atau Lia Aminudin. Dia bisa saja TKW Indonesia yang gemar diperkusi Barbaric Arab. Tapi yang saya omongin sekarang ini adalah soal bagaimana saya merasa menjadi seorang Cina di tengah masyarakat yang memiliki temperamen gampang disulut perasaan rasisme pada para Lim dan Chen di Indonesia. Kalau ada yang menolak bahwa semangat rasisme eksis di tanah air beta, Saya dulu adalah salah satu orang yang sangat anti cina sebagai buktinya. Dulu, ketika saya masih SD dan gampang dikibulin gerombolan santri pengajian Bu Warokah di Jalan Kebembem. Dulu ketika saya sempat merobek injil Om Annas lantaran begitu mencintai Quran dan anti kristen termasuk salah satu penganutnya teman sekelas hobby ke gereja bernama Benyamin yang bermata cuma segaris.

Tapi jangan salah, yang saya maksud Cina adalah warga minoritas keturunan Cina di Indonesia, bukan mayoritas Cina di Cina. Pada yang terakhir ini saya tetap memiliki praduga curiga. Walaupun mereka dihembus hembuskan sebagai the next superpower ( gosip ini sudah beredar 20 tahun yang lalu ) Orang banyak yang melupakan sejarah bahwa Cina pernah mengeskpor paham Komunisme free duty yang hampir mengkacaubalaukan Indonesia tahun 60 an. Ini bukan berarti saya mendukung rejim Suharto, sebab tahun 60 an sendiri lomba karya gemilang ganyang Cinasecara rutin dilakukan dibawah pengawasan dia. See? Rejim Cina di Cina bikin ulah, korban yang menderita salah satunya WNI Cina di Indonesia.Ngerti kan?

Lupakan soal orang Cina di Cina. Walaupun gembar gembor segmen kelas menengah jumlahnya di negeri itu lebih banyak dari jumlah populasi orang Indonesia, 3/4 dari mereka hidup masih dibawah standar kemiskinan. Gedung gedung jangkung yang anda lihat di Shanghai dan Hanjin, itu cuma sekedar screen saver yang menutupi kenyataan bahwa setengah jam nyetir ke arah barat, Cina masih didominasi tehnologi batu dan bambu. Tehnologi made in China bisa dikatakan telah lama wafat sejak Dinasti Ming.Hasil karya mereka yang mutakhir dan terakhir setelah menemukan misiu, mesin cetak tradisional adalah mendirikan tembok bata dengan sejumlah pos hansip yang panjangnya equal dari Sabang ke Marauke sekedar untuk mencegah ekspansi kerajaan tetangga. Setelah dinasti Qing Cina bisa disebut masuk ke dalam jaman tehnologi Jahiliyah alias semua penemuan berasal, menjiplak, meniru atau dicolong dari Barat. Mao Zedong yang pernah berjasa membinasakan sekian puluh juta warga Cina ( lebih banyak dari jumlah orang Jerman yang dibunuh Hitler ) memperkerjakan sejumlah Chinese James Bond or lebih tepatnya James Wong ke Barat dalam rangka mencuri tehnologi dari mereka. Kalau mencuri susah, mereka bisa menyuap.Jika menyuappun susah, mereka membuka diri dan mengundang barat untuk membuat pabrik di Cina dengan janji untuk memberikan kemudahan dan profit yang aujubilahminjalik lantaran akses pada market yang luar biasa besar selain pada janji upah tenaga kerja Cina yang sedemikan rupa dibuat miniscule, sejajar dengan upah para budak membangun Pryramid para Firaun di Mesir kuno dulu.

Image

Saya adalah warga Indonesia keturunan Tionghoa, metaphorically speaking. Saya mengerti dengan diskriminasi terhadap mereka lantaran pernah memperlakukan tindakan dan pikiran diskriminatif terhadap si Acong teman SMP dulu di Jakarta. Saya melihat treatmen para preman Karet yang lebih mendahulukan dan menfokuskan ke pada keluarga Cina atau Kristen dari pada keluarga non Cina atau pribumi Islam. Dulu percaya bahwa Cina selain hobby memakan babi yang kami anggap menjijikan, etika bisnisnya juga selalu curang. Tidak heran Warung Babah Lim sering kena dijarah para maling dari pada warung Pak Pak Idris, walaupun Babah Lim bukan termasuk orang berada di kampungnya di Karet Pasar sana. Tragisnya saya bukanlah orang pertama yang menyukuri nasib jelek dia.

Saya dan seharusnya anda tidak menolak bahwa pembantaian terhadap Cina eksis tertera jelas dalam sejarah negara kita. Dari kerusuhan rasialis tahun 63 di Jakarta sampai pembantaian Cina oleh Banser NU di Jatim tahun 65. Dalam banyak hal perlakuan kita terhadap warga Cina hampir mirip dengan perlakuan Jerman di jaman Nazi atau Russia dibawah Stalin terhadap orang Yahudi. Dan dalam beberapa hal kita sekedar dengki lantaran mereka adalah etnis kapitalis yang sukses. Lalu untuk menikmati sentimen schadenfreude alias guilty joy- kita memakai tameng agama untuk melibas mereka. Melupakan bahwa orang Indonesia lebih memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan Cina dari pada dengan orang Barbarian Arab yang nun jauh di sana.

Image

Orang Cina di Indonesia bukan juga sama sekali innocent. Pengusaha Cina misalnya kerap kali terdengar melakukan tindakan diskriminatif soal gaji para karyawan pribumi. Atau para Bank milik Cina yang komisarisnya well, sebagian besar adalah cina. Atau Bankir bermasalah yang melarikan uang nasabah juga kebanyakan Cina. Tapi mereka bisa dibilang equal dengan orang Cina di Cina yang tidak mengenal rasa Nasionalisme pada tempat bumi mereka mencari makan. Jika mereka hendak ditangkap, mereka bisa melarikan diri ke habitatnya di Tanjin sana dengan gampangnya lantaran kesamaan bahasa dan adat istiadat. Begitu juga bisnisman Cina di dunia hiburan ( pelacuran ) yang menghalalkan segala cara termasuk membuat panti pijat ” ekskusif ” di negara yang bermayoritas anti pelacuran. Negara yang lucunya menujunjung tradisi jilbab,tapi membiarkan kemaksiatan sosial berlangsung di depan mata, di segala segmen kehidupan.

Cina yang pro Cina ini adalah biang perkara, membuat warga Cina di Indonesia yang lahir dan besar dan hampir sama sekali lepas landas dari tradisi nenek moyangnya menjadi korban penjarahan orang pribumi. Cina Babah Lim yang njawani, yang santun dan dengan gampang memberi hutang tetangga pribumi tidak kepalang tanggung menjadi kurban para maling dan preman gara gara itu dosa warisan. Atau majikan Cina yang entah kenapa selalu dan melulu walaupun sebagian kecil memiliki kebiasaan menyiksa pembantu, akan terus menerus terekspos jika Cina Nasionalis tidak diberikan semacam corong otokritik menghujat kebiasaan yang amoral tersebut.
Saya adalah Cina dan curiga darah Cina memang ada mengalir di tubuh ini. Buktinya keponakan dan kakak perempuan saya mirip Cina. Saya selalu merasa lebih dekat pada Cina di Amerika dari pada orang Pakistan, Arab atau India. Saya gemar makan bokchoy walaupun sop Wonton tidak terasa lezat di lidah. Somehow somehere, nenek atau kakek dari kakek saya dulu mungkin pernah nikah atau date dengan seorang mojang bernama Bhaozai atau Dongmei. Jadi walaupun kulit saya tidak seterang mereka, mata saya menurut sebagian kecil orang lebih mengarah ke Mongoloid dari pada ke Indonesia asli.

Cina di Indonesia hendaknya tidak melulu membanggakan kemajuan PRC. Seperti komentator yang ngambek pada tulisan saya di ” Amerika di Hari Kemerdekaan ” lantaran saya ogah membeli barang buatan Cina, mereka hendaknya sadar negara mereka bernama Indonesia. Mereka adalah orang Indonesia. Yang mesti mereka lebih dahulukan adalah kemajuan negara ini bukan bangga bahwa Cina memiliki Bullet train ( dibangun Perancis dan Jerman ) pesawat tempur hantu J-20 ( tehnologinya nyolong dari F-117 Amerika ) atau perekonomian yang demikian pesat ( 40 juta penduduk Cina di utara masih tinggal dalam Yaodong alias shelter )

Image

Saya tentu Cina, sebab saya tidak akan pernah melupakan teman bernama Oong , Cina Bandung yang saya kenal di Hamburg dulu. Dia adalah manusia terbaik dan memiliki budi yang lebih cemerlang dari orang yang pernah saya kenal selama hidup. Saya masih ingat menjelang keberangkatan pulang ke Indonesia, dia menghantar saya di airport. Dan menjelang berpisah dia menggenggamkan saya sebungkus souvenir. Nop itu bingkisan bukan buat saya tapi buat ibu Habe, seorang Janda beranak enam yang dia tidak kenal sama sekali kecuali dari cerita cerita. Saya Minang rasis yang dulu pernah anti dengan etnis dia, seketika mental dan merasa demikian tergugah oleh ketulusan dia. Tidak, saya tidak akan pernah melupakan Oong. Dan juga tidak, saya tidak akan pernah melupakan bahwa Cina di Indonesia adalah saudara kita semua.

July 13, 2011

Habe