Saya Anti Cina!

Kawan…., saya dulu di masa kecil, oleh lingkungan, telah terdidik untuk membenci orang Cina (Tiong Hoa). Satu misal, ketika SMP – SMA, kami sempat punya ungkapan, “kalau habis makan tidak merokok rasanya sangat tidak enak, seperti habis digebuki Cina tapi tidak membalas!” Hahaha….

Aneh memang. Saya dulu bersekolah dasar di SD Katholik Maria Fatima I Jember – Jawa Timur. Di situ mayoritas (lebih dari 80%)kawan dan sahabat kecil saya selama 6 tahun adalah anak-anak keturunan Tiong Hoa alias Cina. Bahkan sebagai seorang anak berdarah Londo (Belanda) – Jawa – dan Jerman, tampang saya (yang berkulit putih) pun sempat, oleh beberapa orang, dianggap sebagai anak orang Cina.

 

Lantas mengapa selepas SD saya bisa menjadi seorang anti-Cina? Jawabannya adalah: pengaruh lingkungan. Selepas SD saya tak lagi bersekolah di sekolah katholik, karena alasan umum: sekolah katholik untuk bayar SPP duitnya selangit, hanya cina-cina kaya yang sanggup bayar. Nah di sekolah negeri itulah kebencian saya terbentuk (bukan sekolah negeri yang membentuk tentunya, melainkan lingkungan pekatnya). Secara langsung dan “istiqomah”, melalui pergaulan saya dulu, saya terbentuk menjadi seorang anak yang membenci anak-anak Cina. Cina itu musuh. Cina itu kafir. Cina itu wedhi lading (takut pisau) buktinya kontolnya ga disunat. Cina itu babi karena suka makan babi. Cina itu Asu… Cina itu keparat…. Cina itu …. Ah… pokoknya Cina itu harus dimusuhi! Titik.

 

Hohoho…. Lingkungan memang nota bene telah membentuk masa kecil saya, dari seorang anak yang lugu, imut-imut nan lucu, yang punya banyak sahabat dan teman berdarah Cina di sekolah katholik yang tertib dan disiplin ketat, kemudian tumbuh kembang menjadi remaja brandal-suka merokok-minum vodka, melompati tembok sekolah, meledakkan “bom” (petasan besar) di lingkungan sekolah, dan… yang suka membenci Cina!

 

Frenz… bagi orang-orang yang kini mengenal saya lebih dekat, tentu heran dan nyaris tak percaya, masa sih seorang Frans Donald dulu sempat menjadi pembenci Cina? Ya.. keheranan semacam itu memang wajar, sebab siapa saja yang tidak buta matanya tentu sekarang bisa melihat dengan jelas: bahwa dari wajah dan dalam darah anak saya jelas ada darah Cina! Artinya? Ya.., artinya, maksudnya? sudah jelas dan pasti, istri saya adalah seorang nonik Cina (wanita keturunan Cina).

 

Mengapa yang dulunya sempat menjadi pembenci Cina tetapi kok malahan kemudian bisa kepincut, jatuh cinta, menikah, bercinta-ria siang malam, hingga sering bersenggama-making love sampai menghasilkan buah hati seorang bayi mungil dari seorang wanita keturunan Cina?

 

Ceritanya cukup panjang, kawan. Tapi singkatnya begini: Dulu sepeninggal Papa saya, selepas SMA, saya langsung merantau berjuang hidup ke Pulau Bali (8 tahun saya tinggal di Bali). Nah di Pulau Seribu Arca, Pulau Dewata, Pulau yang -kata sekelompok orang-adalah tempat yang banyak berhala dan setan-setan itulah pencerahan saya untuk tak lagi terus membenci Cina makin terbentuk kokoh. Dan bukan hanya itu saja, hal yang lebih menemplak saya adalah: beberapa waktu sebelum saya pergi dan tinggal di Pulau Bali, saya sempat dikejutkan oleh fakta keluarga diketahui dengan pasti bahwa ternyata Papa saya memiliki darah Cina. Papa saya, yang mati muda itu (wafat usia 42 tahun), adalah anak seorang Pelaut dari Belanda yang mengawini seorang keturunan Cina di Indonesia, di zaman perang dahulu kala. Ya…selain kakek moyangku orang pelaut (kayak lagu aja ya..)… Jadi sebenarnya darah saya bukan hanya darah “biru” keturunan Belanda (dari papanya papa) dan Jawa-Jerman (dari mama), melainkan juga ada darah Cina dari mamanya papa saya. Berarti benarlah dulu orang-orang yang menganggap saya adalah seorang sinyo keturunan Cina. Nah lho…!

 

Hahaha…. Frenz… itu sepintas tentang sisi kehidupan saya: Seorang sinyo keturunan Cina yang sempat tak tau diri membenci darah nenek moyangnya. Selanjutnya sedikit kisah tersebut nanti, pada akhirnya, akan menjadi analogi yang sesuai dengan apa yang akan saya tulis berikutnya.

 

 

Ngrogo Sukmo

Banyak orang beragama yang sangat memandang buruk atau benci mati terhadap paganisme. Paganisme, oleh kaum agamis kerap diklaim sebagai pengikut setan-setan, kafir, agama iblis, calon penghuni neraka, kaum terkutuk, layak dibunuh, dsbnya.

Banyak orang menyangka-mengklaim bahwa agama monoteis Trio Samawi: Yudaisme, Kristen dan Islam adalah agama yang samasekali berbeda dari agama-agama pagan / agama tradisionil.

Tulisan ini adalah salah satu hasil dari ungkapan ekspresi kegelisahan serta keresahan yang mendalam dalam diri saya. Perlu bertahun-tahun lamanya menaklukkan “sisi tak jujur” dalam diri saya terkait kesakralan doktrin agama yang saya peluk selama ini. Barulah ketika keraguan batin dapat saya atasi, tulisan ini –Paganisme Dalam Trio Monoteisme- menjadi memungkinkan untuk saya tulis.

Pembaca yang bersahaja, niscaya memang perlu kerelaan hati dan jiwa besar atau apa yang saya sebut sebagai kemampuan ‘ngrogo sukmo’ (keluar dari diri sendiri) sebelumnya, bagi para penganut monoteisme (yudaisme-kristen-islam), untuk kemudian mampu dengan penuh kejujuran mengakui bahwa agama monoteisme beserta kitab-kitab sucinya dan perangkat ortodoksinya dalam banyak hal adalah ‘anak keturunan’ dari paganisme, atau paganisme adalah “nenek moyang” dari agama monoteis.

 

Saya sendiri, sebagai pemerhati dan pengkaji agama yang dulunya memiliki latar belakang beragama Kristen (saya lahir dari keluarga katholik taat), memerlukan bertahun lamanya untuk kemudian sampai pada kesadaran penuh dan kerelaan hati yang dalam sehingga rela ‘membongkar’ doktrin-doktrin ‘suci’/sakral dalam agama yang saya anut. Kerelaan hati dan keberanian saya menyentuh ke’sucian’ dogma agama, meskipun penuh perjuangan dan sangat melelahkan, telah membuahkan banyak pencerahan, setidaknya bagi diri saya dan sahabat-sahabat terdekat saya. Bagi banyak orang mungkin apa yang saya lakukan adalah hal yang tabu, bahkan terhujat atau terkutuk, tapi bagi saya ini adalah pencerahan spiritual yang sangat memerdekakan, membebaskan saya dari kungkungan dogmatisme agama yang memang suka mengikat bahkan memenjarakan manusia dengan keangkuhan ortodoksi-ortodoksinya.

 

Gajah Di Depan Mata

 

Pada halaman 24 buku “Sejarah Tuhan” yang sangat terkenal dan best seller itu, Karen Amstrong mengatakan, “…sekalipun kaum monoteis pada dasarnya menolak mitos-mitos tetangga pagan mereka, mitos-mitos itu ternyata sering kembali masuk ke dalam keimanan pada masa berikutnya.” (cetakan XIII, Mizan, 2009)

 

Apa yang disampaikan oleh Karen Amstrong sangat benar. Trio Monoteis Yudaisme-Kristen-Islam memang realitanya sarat dengan mitos-mitos. Mitos yang tadinya adalah milik kaum yang biasa disebut paganisme pra-monoteisme, ternyata, ketika diselidiki, telah muncul kembali dalam Yudaisme dan Kristen dan Islam dengan penamaan atau istilah-istilah yang baru. Dengan kata lain, sebenarnya inti isinya sama, hanya bungkus/kemasannya saja yang baru.

 

Jika hari ini ada orang penganut monoteisme fanatis-konservatif yang sering merendahkan atau menyalahkan (bahkan mengkafir-kafirkan) penganut agama selain monoteisme (atau agama pagan/agama tradisional), sebetulnya mereka dalam hal ini cocok dengan peribahasa sebagai orang-orang yang sedang “melihat kuman di seberang lautan tetapi tak melihat gajah di depan matanya sendiri”.

 

Orang-orang yang jujur niscaya akan mampu melihat dengan jelas bahwa mitos atau paganisme sesungguhnya begitu kental dalam monoteisme Yudaisme-Kristen-Islam, tiga agama samawi / agama Ibrahimik.

 

 

Dalam Yudaisme

 

Secara sederhana, perbedaan yang tegas antara Yudaisme dengan agama pagan lainnya adalah hanya dalam dua hal, yakni:

 

Pertama, jumlah Tuhan (dewa)-nya. Yudaisme berdewa tunggal (monoteis atau radikal monoteis) sedangkan agama pagan lainnya memiliki banyak dewa-dewi (politeis).

 

Yang kedua, perihal tradisi teks/buku. Ajaran-ajaran, doktrin atau petunjuk-petunjuk yang berhubungan dengan agama Yudaisme terbiasa dituliskan dalam bentuk kitab atau buku. Sementara dalam agama pagan umumnya tidak terbiasa dengan tradisi teks/buku, kecuali agama Mesir kuno. Bangsa Mesir kuno juga terbiasa menuliskan teks suci dalam papirus (atau suatu buku). Tradisi membuat teks atau buku suci Mesir kuno inilah yang diadopsi atau ditiru atau diresapi oleh Yudaisme.

 

Sedangkan persamaan Yudaisme dengan agama pagan ada banyak hal.

 

Salah besar jika ada orang yang menyangka bahwa Yudaisme adalah agama yang bebas sama sekali dari praktek yang sama dengan praktek paganisme dan mitos-mitos agama lain.

 

Seperti halnya para penganut ratusan agama lain di daerah Laut Tengah, Yudaisme juga melakukan ritual ibadat kepada suatu dewa (god) melalui pengurbanan binatang dan atau penyerahan bahan makanan / hasil bumi tertentu.

 

Yudaisme, seperti halnya paganisme, juga percaya terhadap suatu tempat suci (buatan manusia) yang dianggap sebagai rumah / tempat tinggal dewa (god). Dewa Yudaisme, yaitu Yahweh, tinggal (atau hadir) dalam Bait Allah di Yerusalem. Dan di dalam bangunan buatan tangan manusia (tempat tinggal Yahweh) itulah orang-orang Yahudi melakukan ritual pengurbanan binatang.

 

Paganisme memiliki banyak festival-festival beribadatan seperti misal: perayaan hari lahir dewa/dewi, persembahan kurban keselamatan, pemujaan pada dewi kesuburan, upacara syukuran, dsbnya sebagai ritus persembahan kepada dewa/dewi tertentu. Hal yang serupa jelas ada dalam tradisi Yahudi, seperti: festival tahun baru, perayaan paskah, hari persembahan kurban kambing-domba-burung, tahun sabat, yobel, syukuran hari raya pondok daun, dsbnya yang semua itu dilakukan sebagai persembahan kepada Yahweh penguasa alam (sang dewa monoteistik versi Yahudi).

 

Pengurbanan manusia sudah terbiasa dalam agama pagan tertentu, dan hal tersebut tampak nyata ada juga dalam Yudaisme yang dilegitimasi oleh kisah Abraham (Ibrahim) yang oleh Yahweh pernah diminta (diuji) untuk menyembelih/mengurbankan anak sulungnya (Yudaisme dan Kristen meyakini putera yang akan dikurbankan adalah Ishak, sementara tradisi mayoritas muslim meyakini Ismail).

 

Penyelamatan sekelompok manusia dengan cara mengurbankan golongan manusia lain juga sangat terkenal dari tradisi Yudaisme, yakni saat di mana Yahweh melalui malaikatnya pernah bertindak barbar membunuh semua anak sulung dan bayi-bayi orang Mesir.

 

Mitos penciptaan versi Babilonia (syair-syair “Enuma Elish”), kalau kita bandingkan dengan penciptaan versi kitab Yahudi (kitab Kejadian) akan terlihat sangat serupa atau seide. Bagi pengkaji dan peneliti agama yang berpikir komprehensif tentu akan meyakini bahwa kisah penciptaan manusia versi Alkitab Kejadian (yang juga sama dengan versi Islam) adalah tidak lepas begitu saja atau tanpa hubungan yang dekat dengan syair-syair Babilonia (Enuma Elish).

 

Mitos penciptaan versi Babilonia mengisahkan bahwa pada mulanya yang ada adalah dewa air tawar: Apsu, dan dewi air asin: Tiamat; yang dari perkawinan keduanya lahirlah banyak dewa-dewi. Kemudian karena keturunan Apsu-Tiamat banyak yang menjadi jahat maka terjadilah peperangan antara kubu Apsu-Tiamat versus kubu dewa-dewi yang merupakan keturunan mereka. Singkat kisah, Apsu-Tiamat berhasil dibunuh oleh dewa bernama Marduk yang kemudian memotong tubuh Tiamat menjadi dua bagian: bagian atas dijadikannya cakrawala sementara bagian bawah dijadikannya bumi. Dewa Marduk-lah yang menciptakan bulan dan matahari, selanjutnya juga menciptakan manusia dan binatang untuk menjadi pelayan para dewa.

 

Selanjutnya, sekarang kita lihat penciptaan versi Alkitab (Yudaisme-Kristen), yang juga diyakini (diteruskan) oleh tradisi Islam:

 

Kitab Kejadian dimulai dengan ayat “Pada mulanya Allah (TUHAN=elohim=dewa) menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong;gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah/Elohim melayang-layang di atas permukaan air.”

 

Ayat tersebut mengindikasikan dengan jelas bahwa sebelum segalanya yang ada awalnya adalah air. Ayat selanjutnya mengisahkan bahwa penciptaan semesta berlangsung selama 6 hari. Penciptaan pertama adalah terang. Hari kedua TUHAN memisahkan air menjadi dua bagian: atas dan bawah. Bagian atas disebut langit. Selanjutnya penciptaan berlangsung 6 hari dan pada hari terakhir diciptakan manusia. Tujuan diciptakan manusia adalah untuk berbakti kepada TUHAN.

 

Nah, jika kita bandingkan kedua kisah penciptaan tersebut (versi Enuma Elish dengan versi Alkitab), akan muncul beberapa persamaan sangat kental, di antaranya:

 

  1. Alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan dewa (elohim) atau Tuhan.

  2. Pada mulanya yang ada adalah air.

  3. Terjadi pemisahan air: bagian atas dan bawah, di mana bagian atas menjadi langit (cakrawala) sedangkan bagian bawah menjadi bumi. Dalam kisah penciptaan versi Babilonia yang dibelah adalah tubuh Tiamat (dewi air asin) sedangkan dalam versi kitab Kejadian yang dibelah adalah air.

  4. Manusia diciptakan untuk mengabdi atau melayani (menjadi hamba) bagi elohim/dewa/Tuhan.

 

Agama Yudaisme menyucikan hari ketujuh (sabat) sebagai hari di mana Dewa Yahweh beristirahat dan memberkati ciptaannya. Hal tersebut serupa/senada dengan paganisme Babilonia dimana para dewa –setelah mencipta berbagai ciptaan selama enam hari- berkumpul pada hari ketujuh dan memberkati Dewa Marduk.

 

 

Penulis ternama Muhammad Said Al-Ashmamy, yang adalah mantan Ketua Pengadilan Tinggi Kairo, intelektual humanis, pengajar perguruan tinggi di Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah dan Afrika Utara, dalam salah satu bukunya, “Jihad Melawan Islam Ekstrem” menuliskan (sedikitnya 40 hal) kesamaan kental antara agama Mesir kuno dengan Yudaisme, di antaranya:

 

Sunat

 

Muhammad Said Al-Ashmamy mengungkap tentang tradisi SUNAT/KHITAN (pemotongan kulit-daging ujung “burung” kaum laki-laki). Yudaisme-Kristen-Islam telah mewarisi/meresapi/mengadopsi tradisi kuno asal Mesir ini, yang selanjutnya oleh ketiga agama Ibrahimik tersebut diklaim sebagai ajaran yang murni/asli dari Tuhan (Yehova/Allah) mereka, padahal aslinya jelas sunat/khitan adalah warisan/adopsi dari tradisi Mesir.

 

Muhammad Sa’id Al-Ashmawy, yang karyanya, al-Islam al-Syiyasi (Political Islam) banyak mendapat apresiasi dari kalangan intelektual sekaligus hujatan dari kalangan Islamis fundamentalis itu menyatakan:

 

Khitan adalah adat-istiadat Mesir kuno dari era pra dinastik (sebelum 3200 SM). Ini cukup jelas terlihat dari lukisan-lukisan dan relif-relif pada monumen-monumen Mesir, khususnya monumen-monumen Osiris, di mana organnya selalu dikhitan. Dalam Perjanjian Lama, disebutkan bahwa Ibrahim dikhitan ketika umurnya sudah tua (barangkali ketika dia di Mesir atau sebelum ke Mesir, karena bangsa Mesir biasa memandang rendah orang-orang yang tidak berkhitan). Khitan menjadi perjanjian (testament) antara Tuhan dengan Ibrahim. Setelah Eksodus, Musa memerintahkan khitan secara kolektif, barangkali juga bagi orang-orang yang bukan bangsa Mesir. Khitan menjadi cirri khas Yudaisme dan kewajiban agama.

 

Sahabat Pembaca, setelah kita tahu latar belakang tradisi SUNAT atau KHITAN itu, maka akan nampak sangat konyol (bahkan bodoh dan tolol banget loh!) kalau dalam perkembangan terkemudian tak sedikit kaum agamis fanatik-konservatif-fundamental dengan petentang-petenteng atas nama Tuhan/Allah suka mengejek atau menghakimi orang-orang yang tak bersunat sebagai kaum kafir, calon penghuni neraka, pengikut iblis, layak disingkirkan, warga kelas dua, dsbnya.

 

Anti Babi

 

Hal lain yang diungkap oleh Muhammad Said Al-Ashmamy terkait kesamaan Mesir dengan Yudaisme adalah soal haramnya babi.

 

Dalam cerita Osiris, lawannya Set, masuk ke dalam tubuh babi ketika bertempur melawan Horus (anak Osiris). Babi kemudian menjadi tanda Set (setan, satan, yang buruk) dan pembawa rohnya atau semangat yang buruk. Dengan demikian, babi menjadi tabu. Bangsa Mesir meyakini bahwa roh Set masuk ke dalam jasad babi karena roh Set memang kotor atau babi itu sendiri juga kotor dan dapat menimbulkan penyakit sebagai akibat dari membawa roh yang buruk. Bangsa Mesir tidak pernah makan babi, tidak pernah menggunakan belanga di mana babi telah dimasak, dan tidak pernah mencium atau mendekati orang yang makan babi.

 

Selanjutnya kita semua ketahui bahwa sikap anti-babi bangsa Mesir ini juga menjadi sikap Yahudi (dan Islam, juga sebagian sekte Kristen seperti kaum adventis misalnya) tetapi tanpa penjelasan yang komprehensif selain seperti yang sering kita dengar alasan demi kesehatan (babi mengandung cacing pita) atau babi itu najis, identik dengan kekafiran atau alasan negatif lainnya.

 

Melalui bukunya, mantan Ketua Pengadilan Tinggi Kairo itu menegaskan bahwa jelaslah bahwa Yudaisme pada awalnya bermula di Mesir dan dikembangkan melalui banyak mitologi, gagasan dan kata-kata Mesir. Kebanyakan sejarawan dan ilmuwan tidak mengetahui , atau mengabaikan unsur-unsur Mesir dalam Yudaisme, dengan mencari dan hanya menyebutkan pengaruh Mesopotamia. Selama penaklukan Babilonia (586-539) para rabi Yahudi mengambil cerita penciptaan Babilonia dan merekamnya dalam Perjanjian Lama.

 

 

Dalam Kristen

 

Niscaya semua pemerhati agama yang obyektif telah mengetahui, bahwa doktrin-doktrin kekristenan sangat sarat dengan yang namanya pengaruh paganisme. Hanya orang-orang “penjaga dogma” yang tidak jujur saja, seperti kaum kristen fanatik-fundamentalis-konservatif, yang sering masih mau berdalih dengan kaku bahwa doktrin-doktrin kristen bukan bersumber dari resapan paganisme melainkan 100 % dari Tuhan monoteis, 100 % Firman Allah.

 

Kristen bukan agama yang turun dari langit. Dengan data dan fakta sejarah, serta logika sederhana, bahwa Kristen adalah berakar dari agama Yudaisme sebab Yesus –sebagai tokoh sentral dari kekristenan- dan para murid awalnya adalah orang Yahudi. Tak salah dikatakan Kristen adalah salah satu sekte Yahudi, maka tentu dengan mudah dipastikan bahwa banyak konsep-konsep Yudaisme yang meresap dalam kekristenan. Dan oleh karena doktrin-doktrin dalam Yudaisme sesungguhnya adalah gabungan dari berbagai agama pagan sebelumnya, maka kekristenan pun otomatis mewarisi “paganisme-Yudaisme”. Misalnya, Kejadian / kisah asal mula manusia versi Yudaisme yang adalah adopsi dari Enuma Elish milik Babilonia pun diwarisi oleh Kristen dengan klaim sebagai ajaran dari Allah Bapa (Firman Allah dari Surga).

 

Jelas dan pasti, seperti pendahulunya: Yudaisme, Kristen sungguh sarat dengan paganisme!

 

Hanya orang Kristen tak berpengetahuan saja yang masih bisa ngotot mengklaim bahwa perayaan Natal 25 Desember bukan berasal dari paganisme pra-kristen: hari ulang tahun dewa matahari Romawi.

 

Adalah orang yang tentu saja tak berpengetahuan cukup, yang akan masih menyangka bahwa ajaran surga-neraka yang kini populer dalam kekeristenan bukan adopsi/lanjutan dari agama Zoroaster. Surga-Neraka versi Kristen masa kini (dan juga versi Islam) jelas adalah adopsi dari monoteis Zoroaster, yang oleh para ahli peneliti agama diyakini sebagai agama monoteis pertama dan tertua di dunia.

 

Doktrin Trinitas, suatu doktrin yang oleh banyak gereja dianggap sebagai tonggak utama dalam bangunan agama kristen, sangat jelas adalah doktrin yang telah disusunbangun atas pengaruh paganisme. Arthur Weigall dalam bukunya yang tersohor, Paganism in Our Christianity, mengatakan bahwa Trinitas bersumber dari ajaran pagan: "The origin of the Trinity is entirely pagan."

 

Klaim bahwa orang Kristen (dan Yahudi) adalah sebagai anak-anak TUHAN dan menyebut TUHAN sebagai bapak, adalah sama dengan agama Mesir kuno yang memiliki doktrin bahwa TUHAN adalah bapak dan bapak dari segala bapak.

 

Konsep juruselamat dalam kekristenan adalah adopsi dari Zoroaster kuno.

 

Dan masih banyak lagi.

 

 

Dalam Islam

 

Di berbagai forum kajian agama (sebagian besar di internet), bertaburan tulisan tajam menyebutkan bahwa Islam merupakan gabungan ajaran pagan yang berjubah tauhid, Islam hanyalah seperangkat ritual pagan Arab purba yang di-Tauhid-kan. Dikatakan pula bahwa tidak ada orisinalitas wahyu dalam diri Muhammad. Dari ritual pagan ke Islam hanyalah proses antropologis saja; Islam adalah paganisme berbungkus Tauhid, atau Tauhidisasi ritual Arab pagan.

 

Tentu pernyataan-pernyataan semacam itu mungkin bisa jadi membuat marah kaum Islam fundamentalis-fanatik-konservatif yang memang biasanya sangat lebay (lemah) terhadap kritik. Tetapi di era informasi dunia maya (internet) yang sangat terbuka seperti sekarang ini, menutup rapat-rapat suatu doktrin agar tidak diketahui oleh banyak orang, adalah merupakan hal yang sia-sia belaka serta makin menunjukkan sifat kekanak-kanakan seorang insan.

 

Ini zamannya keterbukaan, hanya manusia kanak-kanak yang tak siap dengan keterbukaan. Kanak-kanak memang mudah heran dan kagetan, kemudian emosional dan marah ketika mainannya disinggung orang lain. Kanak-kanak juga seringkali bersikap merasa dirinyalah yang paling hebat, kelompoknyalah yang paling benar, paling akhir, paling sempurna, yang lain salah semua, bahkan perlu ditindas dan disingkirkan, bahkan kalau perlu dibunuh saja.

 

Namun dalam Islam juga sejatinya tak sedikit orang yang penuh pencerahan. Banyak intelektual muslim yang selalu berani berterus terang atau berkata jujur. Ya, banyak, bahkan sangat banyak. Salah satunya adalah Muhammad Said Al-Ashmawy, pengajar berbagai perguruan tinggi kelas dunia di Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Tulisan Al-Ashmawy telah mengungkap bahwa Islam sesungguhnya setali tiga uang dengan Kristen dan Yudaisme, yakni sama-sama agama yang mewarisi tradisi paganisme kuno sebelumnya.

 

Tentang Kata “Amen”

 

Belum banyak pengikut monoteisme di zaman ini yang sadar dan paham bahwa kata “Amen” atau “Amin” yang setiap hari dalam jam-jam doa/sembahyang sering diucapkan dengan lidahnya dan didengar dengan telinganya, ternyata adalah warisan budaya agama Mesir kuno.

 

Sudah tahukah umat pengikut Yudaisme, Kristen dan Islam bahwa saat miliaran umatnya mengucapkan kata “amen” (amin) sesungguhnya sedang mewarisi agama Mesir kuno dengan dewanya yang bernama “Amen”?

 

Kata “amen/amin” masuk dalam Islam sebagai kelanjutan dari kedua agama pendahulunya, yakni Kristen dan Yudaisme. Dalam Alquran kata “amin” ini tidak kita jumpai, tetapi hadits (tradisi Islam pasca Muhammad) mengajarkannya.

 

Dalam hadits Shahih Bukhari, Narasi oleh Abu Huraira: Nabi Allah bersabda, "Ketika sang Imam mengucapkan: 'Ghairil-maghdhuubi 'alaihim waladh-dhaalliin [bukan jalan yang Engkau murkai, dan bukan jalan mereka yang sesat (1:7)], maka kamu harus mengatakan, 'Amin,' karena jika ucapan 'Amin' seseorang bertepatan dengan ucapan para malaikat, maka seluruh dosa-dosanya pada masa lampau akan dimaafkan."

Kata 'Amen' datang dari sumber Yahudi masuk ke dalam ajaran Kristiani diakui oleh Catholic Encyclopedia Vol. 1 1907:

"The word Amen is one of a small number of Hebrew words which have been imported unchanged into the liturgy of the Church … 'So frequent was this Hebrew word in the mouth of Our Saviour', observes the catechism of the Council of Trent, "that it pleased the Holy Ghost to have it perpetuated in the Church of God."

 

("Kata Amen adalah satu dari beberapa kata Ibrani yang diadopsi tanpa perubahan ke dalam liturgi Gereja… 'Sangat sering kata Ibrani ini diucapkan Juru Selamat Kami,' berdasarkan observasi catechism (doktrin manual Kristiani) Council of Trent (Konsili Trent), sehingga menyenangkan Ruh Kudus untuk mengabadikan kata itu di dalam Gereja Allah.)

Muhammad Said Al-Ashmawy, dalam bukunya mengatakan bahwa, setelah sembahyang dalam Yudaisme adalah sebuah keharusan untuk mengatakan “Amen”. Amen tidak mempunyai makna apapun dalam bahasa Ibrani atau dalam bahasa lainnya, tetapi kata ini sangat terkenal dalam mitologi Mesir karena ia merupakan nama Tuhan.

Columbia Encyclopedia, 6th Edition 2001 menuliskan:

"Amon or Amen, Egyptian deity. He was originally the chief god of Thebes; he and his wife Mut and their son Khensu were the divine Theban triad of deities. Amon grew increasingly important in Egypt, and eventually he (identified as Amon Ra; see Ra) became the supreme deity. He was identified with the Greek Zeus (the Roman Jupiter). Amon's most celebrated shrine was at Siwa in the Libyan desert; the oracle of Siwa later rivaled those of Delphi and Dodona. He is frequently represented as a ram or as a human with a ram's head."

 

("Amon atau Amen (Amin), berhala Mesir. Dia pada aslinya merupakan dewa tertinggi Thebes; dia dan istrinya Mut dan anaknya Khensu merupakan tuhan-tuhan trinitas Thebes. Amon tumbuh menjadi penting di Mesir, dan pada akhirnya dia (dikenal sebagai Amon Ra, lihat Ra) menjadi dewa yang tertinggi. Dia diidentifikasikan dengan Zeus Yunani (Yupiter Romawi). Kuil Amon yang paling tersohor terletak di Siwa di gurun pasir Libya; peramalan Siwa lalu akan menjadi rival dari Delphi dan Dodona. Dia seringkali direpresentasikan sebagai kambing (ram) atau manusia berkepala kambing.”)

Ya, Amen (Amin) adalah dewa Mesir kuno.

Dll.

 

 

Pesanku.

 

Setelah umat beragama monoteis memahami bahwa dogma agama monoteis sejatinya tidaklah orisinil (dan sudah pasti bukan firman allah yang njebluk turun dari langit) atau dengan kata lain banyak hal yang sejatinya adalah merupakan hasil dari penerusan tradisi paganisme kuno, maka seyogyanya kaum monoteis “modern” tak perlu lagi dengan bodoh merendahkan atau menghina atau mengutuk agama-agama pagan selain monoteisme. Bukannya membenci, sebaliknya monoteisme semestinya layak memberi apresiasi atau rasa terimakasih pada berbagai agama paganisme pra-monoteisme.

 

Seperti misal kita ingat lagi, monoteisme layak berterimakasih pada agama pagan Mesir kuno atas warisan kata “amen” dan berbagai macam doktrin lainnya.

 

Monoteisme layak berterimakasih pada Babilonia atas Enuma Elish yang menjadi kisah yang serupa dalam kitab Kejadian tentang penciptaan manusia.

Dsbnya, dsbnya.

Sobat, masih ingat kisah saya di awal tadi, bukan? Janganlah menjadi anak kecil yang bodoh seperti saya dulu ya…, seorang sinyo keturunan Cina yang gampang begitu saja dikibuli, diracuni, diprovokasi, didoktrinasi oleh orang-orang dan lingkungan hingga sempat menjadi pembenci Cina, padahal sesungguhnya ada darah Cina juga dalam diri saya. Ya… kaum penganut Trio Monoteisme (Yudaisme, Kristen dan Islam) yang fanatik-konservatif kini yang banyak hadir dengan wajah angkuh sok membenci paganisme, hanya sedang menjadi seperti saya dahulu, seorang bocah kecil yang bodoh, picik, tak tau diri….

 

Wahai para penganut dan pencinta Monoteisme (Yudaisme / Kristen / Islam) yang masih membenci dan suka mengkafir-kafirkan paganisme dan agama selain yang kau anut, semoga kesadaran ada padamu…sobat, sebab sesungguhnya, mau diakui atau tidak, ada “darah paganisme” dalam monoteisme…!

 

Demikian sabda Sang Pemikir Bebas.

 

Salam, dalam kemerdekaan berpikir …..!

Kalau anda punya akun Facebook: Jangan lupa klik LIKE di http://www.facebook.com/pages/Forum-Apakabar-Majalah-Superkoran/152166293967