<Pada jaman agama-agama samawi lahir, manusia memahami alam semesta sebagai semesta berlapis tiga: Surga, Bumi, Alam Kematian, dalam pemahaman inilah kisah-kisah agama mereka bisa dipahami. Tentu saja tinjauan semesta ini sudah kedaluarsa>

 

 

Bagi yang melek dengan sains, evolusi, dan bahkan astronomi, dimana batasannya sudah melampaui bumi dan galaksi, akan sukar lagi untuk memahami bagaimana manusia-manusia agama begitu terjerat dalam semangat primordial tentang adanya kaum terpilih, nabi terpilih, kitab yang terakhir sempurna dsb.

 

Itu produk pemikiran manusia yang worldview-nya sudah kedaluarsa.

 

Bagaimana mungkin saya harus memercayai Yesus yang naik ke surga, Muhammad yang menunggang Buraq sampai ke surga lapis ke tujuh, dimana dia berbicara dengan para nabi, dan bahkan malaikat di sana bertanya, "Siapakah namamu?" dan yang lebih konyol lagi tawar menawar dengan alloh tentang berapa kali umat muslim harusnya shalat – sebagai kisah faktual.

 

Kita harus tahu bahwa kisah-kisah demikian adalah mitos.

 

Kisah-kisah demikian hanya bisa dipahami apabila kita menyadari bahwa pada jaman dahulu, dengan keterbatasan pengetahuan alam semesta, manusia memahami semesta itu sebagai 3-layer-universe atau alam 3 lapis: dimana lapis terbawah adalah d…unia orang mati, lapis kedua adalah dunia manusia, dan lapis paling atas adalah surga di mana tuhan / para dewa bertahta bak raja-raja di bumi, dimana ada tahta untuk tuhan (raja), ada para bidadari (dayang & biduan/biduanita kerajaan), ada malaikat (para mentri, utusan & tentara kerajaan).

 

 

Kita harus bisa menerima ini bahwa dalam rantai peradaban manusia sepanjang jaman, manusia mengkoleksi pengetahuan lewat cara trial & error.

Yang berarti ia bisa saja keliru dan menganggap kekeliruan itu suatu kebenaran, namun apabila ada pengetahuan yang lebih integrated, bisa dibuktikan secara empirisi dan rasional, atau masuk dalam kerangka rasional, maka asumsi-asumsi berdasarkan iman, haruslah dilepaskan demi suatu kemajuan peradaban itu sendiri.

 

Ketika saya katakan 'mitos' itu tidak berarti kisah omong kosong, mumbo jumbo, kebohongan dan sampah, tapi itu berimplikasi pada kisah yang tentu saja tidak faktual secara detil, dan bahkan sampai suatu derajat tertentu memang semuanya tidak faktual, namun sebagai satu kisah yang darinya nenek moyang kita berkontemplasi dan mengambil makna-makna moral & etika lewat simbol dan figur ahistoris / legendaris dalam kisah-kisah itu.

 

Jadi yang penting di sini bukan benar atau tidak benarnya kisah itu terjadi, karena jelas itu memang kisah rekaan, alias tidak pernah terjadi, namun dari kisah itu, apa yang bisa kita ambil sebagai bahan perenungan.

 

Saya ambil contoh kisah tentang Drama di Taman Eden yang ditulis oleh kaum Ibrani dalam kitabnya Kejadian / Genesis, yang nantinya dicontek oleh umat Islam.

 

Kisah itu juga sebenarnya diadaptasi dari kisah-kisah sejenis dari daerah Mesopotamia. Jelas karena dalam detilnya, kisah itu menceritakan tentang sungat Eufrat, dan Tigris.

 

Banyak orang Kristen menjadikan kisah itu sebagai kisah sebenar-benarnya tentang kejatuhan manusia dalam dosa, yang nantinya berimplikasi dosa turunan,  bahwa setiap manusia pada dasarnya sudah jatuh dalam dosa, sehingga memerlukan seorang juru selamat. Tentu saja itu adalah perspektif teologi yang ngawur dan serampangan.

 

Kalau kita perhatikan dengan secara sepintas saja, kisah itu tidak bercerita tentang sepasang manusia, lelaki yang bernama Adam dan perempuan yang bernama Hawa.

Kisah itu menceritakan tentang manusia sendiri, tepatnya setiap manusia.

 

Adam, bukanlah nama orang, kata adam diambil dari kata “adama’ yang berarti tanah, dan ‘adom’ yang berarti merah, merujuk pada tanah merah.  Dan secara literal Adam berarti manusia – atau mankind.

 

Kata ‘hawa’ berarti nafas , kata ini diambil dari akar kata ‘hayya’ yang berarti hidup – hayat. Tentu kita mengerti benar arti dua kata ini karena baik kata ‘hawa’ maupun ‘hayat’ digunakan dalam bahasa Indonesia sebagai serapan dari bahasa Arab yang masih serumpun dengan bahasa Ibrani.

 

Jadi ‘Adam & Hawa’ sebenarnya berimplikasi pada manusia yang hidup, tubuh yang hidup, suatu korporat yang hidup yang elemen-elemennya berasal dari dunia ini. Dan Adam dan Hawa adalah anda dan saya.

 

Kisah Adam dan Hawa bermakna masa-masa infancy atau kekanak-kanakan manusia

yang hidup dalam kepolosan, tidak mengerti baik dan benar, mainly hanya bersenang-senang, dan tidak dibuat ribet dengan aturan-aturan sosial.  Sampai suatu hari Hawa digoda oleh ular (ingat, tidak ada kata iblis atau setan di sini, yang ada adalah ular). Bahwa jika ia mengambil buah Pengetahuan Yang Baik dan Yang Buruk, maka ia akan pintar dan berumur panjang seperti halnya Tuhan Allah (di sini tuhan digambarkan secara antromorphistik, beraktivitas seperti manusia, seperti misalnya berjalan-jalan di Taman Eden, dan berbicara face to face dengan manusia).

 

Hawa tertarik dengan buah itu, dan mengambilnya. Ia menunggu suaminya Adam untuk memakannya bersama-sama.

 

Friends, saya teringat pepatah Latin “ trahit sua quemque voluptas”  setiap orang ditarik oleh keinginannya, kenapa? Karena keinginan manusia pada hakekatnya adalah keinginan untuk hidup. Anda yang tidak punya keinginan, berarti tidak punya nafas kehidupan.

 

Begitulah sosok Hawa dalam diri manusia yang punya keinginan, ingin maju, ingin hidup, ingin kekal.  Ketika keinginan ditemani dengan tubuh mewujudkan suatu keinginan itu, yang dimetaforakan oleh Hawa yang mengajak Adam untuk bersama-sama memakan buah Pengetahuan Yang Baik dan Yang Buruk itu,  maka terbukalah mata mereka bahwa mereka itu telanjang, mereka melihat ketelanjangan itu sebagai hina, memalukan dan kotor, maka dicarilah dedaunan untuk menutupi ketelanjangan mereka.

 

Ketika manusia beranjak dari evolusi kebinatanannya, ratusan ribu tahun yang lalu, manusia menyadari bahwa ia lemah, tunduk pada kerasnya alam, dan ia harus mengandalakan pengetahuan-pengetahuan yang ada untuk menutupi kelemahan fisik dan mentalnya itu.

 

Dari keinginan untuk maju, maka diusahakanlah pengetahuan. Dari keinginan untuk hidup lebih layak, maka diusahakanlah hukum-hukum yang mengatur hubungan antar manusia, yang berkorespondensi dengan benar dan salah.

 

Seperti halnya Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, begitu pula manusia beranjak dari masa-masa enaknya hidup sebagai kanak-kanak, menuju hidup yang lebih dewasa dan mengandalkan pengetahuan dan kerja keras.

 

Kisah adam dan hawa bukanlah tentang kisah kejatuhan dosa. Pula bukan tentang bersalahnya kaum perempuan karena membuat kaum lelaki meninggalkan surga. Ini kisah tentang kita.

 

Ketika kisah yang indah ini diturunkan dari satu generasi ke generasi, maka datanglah kaum yang otaknya kurang memadai, mereka meyakini bahwa kisah ini adalah kisah faktual, menyejarah, tentang asal muasal manusia di bumi, tentang keluarga pertama yang menjadi nenek moyang segala bangsa, yang darinya kelak akan muncul nabi-nabi yang membawa kitab-kitab.

 

Semakin kesini – kisah itu semakin tampak bodoh. Paulus mengajarkan bahwa karena manusia pertama jatuh dalam dosa, maka seluruh manusia jatuh dalam dosa, dan jalan keluarnya hanya lewat karya penebusan Yesus. Mengacu pada tradisi penyembelihan domba dalam perayaan Yom Kippur.

 

Islam mengajarkan bahwa Taman Eden itu, yang disebut dengan Firdaus, berasal dari atas, di surga sana. Kemudian semua malaikat wajib menyapa “asallamuaikum “ pada Adam & Hawa. Iblis tidak mau, karena ia merasa lebih mulia, diciptakan dari api, ketimbang manusia yang diciptakan dari tanah (berarti di surga sana ada tanah). Sungguh lucu kisah ini, bagaimana mungkin bahasa Arab sudah ada pada waktu itu? Atau bahasa arab itu bahasa yang dipakai di surga? Padahal kita tahu bahwa bahasa manusia paling tua adalah bahasa Bushman, sekelompok manusia nomaden di Afrika yang ditampilkan dalam film God Must Be Crazy.

 

Kemudian adam dan hawa di jatuhkan dari langit , brak gedubrak , mak jelegur, turun ke bumi secara terpisah. (Bagaimana bisa Adam dan Hawa bisa bertahan menembusi atmosfir yang dingin membekukan itu? Kenapa mereka tidak mengalami hypothermia?)

Setelah ratusan tahun mengembara mereka bertemu di padang Arrafah.

 

Jadi umat manusia pertama tinggal di padang Arrafah? Suatu tempat gersang?

 

Padahal tidak ada bukti-bukti sejarah dan arkeologi yang menguatkan adanya kota Mekkah dan ritual-ritual seperti itu sampai abad 8 masehi awal ! Semua kisah yang kita terima didasarkan atas pencatatan si A yang mendengar si B ketika si B berbicara kepada si C yang si B dengar-dengar  dari si D yang dikabarkan oleh si E sebagai kisah warisan dari si F.  Itulah yang anda dapatkan ketika membaca hadis dan sirat.   

 

Dengan tulisan ini saya mendorong anda untuk mempertanyakan keabsahan kisah-kisah agama, dan kemudian menjadikannya sebagai kisah-kisah metafora. Dari kisah-kisah itu nilai apa yang bisa kita ambil? Pula jangan dilupakan, apakah nilai moral yang terkandung dalam kisah itu masih berguna untuk kita, pada saat dunia sudah berubah, sudah tidak disekat-sekat oleh kohesi primordial, ketika manusia menyadari evolusi alam semesta ini, ketika kita sadar bahwa kita bukanlah satu-satunya mahluk di alam semesta ini, ketika kita memahami bahwa ada kemungkinan banyak planet dengan riwayat evolusi kehidupan yang berbeda-beda dengan kita.

 

Dengan memahami itu, sadarlah bahwa kita bukan pusat alam semesta. Bahwa alam semesta itu tidak berlapis tiga : surga, bumi dan neraka. Secara keilmuan kita terus mencari kebenaran mengenai semesta, secara manusiawi hendaklah kita hidup tidak dikekang oleh ikatan-ikatan primordial yang selalu melihat manusia lain dalam bipolaritas aku vs. kamu, kami vs kalian, mukmin vs. kafir, umat terpilih vs goyim, umat tebusan allah vs umat yang bukan pillihan allah dsb.

 

Jangan terjebak dengan pengetahuan sumpek masa lalu. Jangan mau dipaksa mengunyah pengetahuan cetek hasil pemikiran manusia tribalis ribuan tahun lalu. Jadilah manusia yang pikirannya bebas mengarungi samudera kehidupan dalam alam semesta yang tak terbatas ini.