Lagu Ajoen-ajoen adalah lagu paling beken di kalangan Indo Belanda sampai sekarang, karena mereka punya opa en oma diajarkan ini lagu di sekolah. Tambah lagi, de jongos en bediende or babu Belanda juga boleh nyanyi lagu ini. Walaupun inlander or pribumi,  pembantu rumah tangga tidak dianggap berkedudukan rendah. Orang Belanda, baik totok maupun indo atau blasteran tidaklah feodal. Yang feodal itu inlander atau pribumi asli Indonesia yg, sekarang, dengan semena-mena saya sebut sebagai orang Indon dengan ciri-ciri, al, gila hormat, fanatik agama, munafik, bodoh selain, tentu saja dan terutama, memiliki otak orisinil karena jarang dipake.

[tube]B0VJeQ-4550[/tube]

Liriknya dalam bahasa Melayu, dan sebagian menggunakan bahasa Belanda. Kita bisa tangkap kata-katanya: “Jangan mandi kali Petampen, kali Petampen banyak ikannya. Jangan kawin noni Petampen, noni Petampen banyak tingkahnya.”

Lalu the refrain: “Ajoen-ajoen-ajoen in de hooge klapper boom, ajoen-ajoen Masmirah jangan main gila.”

Bait kedua: “Jangan mandi kali kemarau, kali kemarau banyak batunya. Jangan kawin noni Semarang, noni Semarang banyak jodohnya”.

Lalu refrain lagi.

Refrain mengandung arti: berayun-ayun di pohon kelapa yg tinggi. Tapi apa hubungannya dengan Masmirah is still a mysteri to me. Especially with the words: jangan main gila. Kemungkinan ekspressi “jangan main gila” itu berasal dari komunitas Indo di masa lalu. Dan itu terbukti benar karena sampai sekarang orang Indonesia ternyata masih suka main gila. Tambah parah, malahan.

Tentu saja sebagian besar dari kita sudah termakan indoktrinasi kaum republikken yg bilang orang Belanda merendahkan inlander. Pedahal tidak begitu. Belanda tidak feodal, dan tidak membedakan ras orang. Sejak ratusan tahun sudah begitu. Yg mengerti fakta itu cuma orang Ambon item dan orang Manado yg bisa haha hihi dengan orang Belanda tanpa merasa minder. Yg minder terhadap Belanda cuma orang-orang di Jawa, yaitu mereka yg hidup di masyarakat feodal. Yg feodal itu masyarakat Jawa, dan mereka pikir Belanda feodal juga. Pedahal tidak. Dan itu dibuktikan oleh banyaknya perempuan Jawa yg menikah dengan pria Belanda. Perempuan Jawa masa lalu yg menikah dengan orang Belanda otomatis bisa keluar dari perbudakan. Di masyarakat Jawa sendiri perbudakan perempuan sedikit banyak masih berlaku sampai sekarang. Perempuan kedudukannya “sedikit” lebih rendah dibandingkan pria. Dibedakan dimana-mana. Di-diskriminasi. Sebaliknya, di masyarakat Belanda, perempuan kedudukannya sama dengan lelaki. Warisan untuk perempuan sama besarnya dengan warisan untuk lelaki.

 

Kalau baca memoir orang inlander yg bersekolah di Belanda pada masa penjajahan, maka anda akan kaget sendiri. The inlander dari Indonesia itu diterima di Belanda tanpa perbedaan. Sama sekali tidak diperlakukan beda. Walaupun item legem, mereka diperlakukan sederajat. Makanya mereka yg pernah belajar di Belanda seperti Mohammad Hatta bisa biasa saja menghadapi orang Belanda. Yg minder menghadapi Belanda itu Sukarno. Dan mindernya itu dikarenakan Sukarno tidak pernah bersekolah di Belanda. Hatta sendiri yg bilang begitu: Sukarno pemikirannya terbelakang karena tidak pernah bersekolah di Belanda. Tidak pernah melihat dan merasakan sendiri bagaimana kehidupan di Belanda. Sukarno menjadi korban sistem feodal kita sendiri, tidak se-liberal Hatta dan mereka yg pernah bersekolah di Belanda.

 

Suharto lain lagi. Yg ini memang asal mulanya bergabung dalam laskar tentara kolonial Belanda, yaitu KNIL. Sebagai prajurit rendahan. Dan tidak berpendidikan, of course. Suharto tidak masuk dalam “inner circle” prajurit kolonial yg terdiri dari orang Manado dan Ambon. Sebagai orang Jawa, Suharto tentu saja minder menghadapi Belanda. Sedangkan orang Manado dan Ambon dari dahulu memang tidak pernah minder menghadapi Belanda. So, sekali lagi, jangan salah sangka, Belanda, walaupun kolonialis, selalu menganggap semua orang sederajat. Perasaan minder atau rendah diri di kalangan pribumi Indonesia cuma muncul di kalangan anggota masyarakat Jawa yg feodal, dan juga di kalangan Islam. Tapi tidak semuanya. Haji Agus Salim dari Sumatra Barat itu Islam, tapi tidak minder sama Belanda. Kalau berpendidikan dan bisa berbicara bahasa Belanda, maka bisa sama sekali tidak minder. Yg minder itu orang kampoeng. Sudah ditindas priyayi, ditekan ulama, dan tidak ngerti bahasa Belanda. Ya sudah, jadinya goblok terus. Termakan halusinasi. Mengira dirinya didzolimi dimana-mana. Pedahal benar. Dan yg mendzoliminya adalah para tuan di masyarakatnya sendiri which is the priyayi and ulama. Di masa sekarang, itu berarti para pemimpin politik dan agama.

 

Banyak salah kaprah di Indonesia tentang peran Belanda memajukan pendidikan tanpa membedakan latar belakang orang. Tanpa membedakan agama orang. Dari dahulu sampai sekarang Belanda tidak pernah membedakan ras dan agama orang. Belanda itu tidak nasionalis, kalau anda belum tahu. Sampai sekarang orang Belanda tidak nasionalis. Bukan berarti mereka masa bodoh. Sebaliknya, mereka rasional. Rasional, liberal dan humanis. Dan itu dibuktikan dengan membangun sekolah-sekolah bagi pribumi di Sumatra Barat. Salah satu pusat konsentrasi sekolah bagi pribumi terbanyak ada di Sumatra Barat. Mungkin lebih tinggi dari rata-rata Jawa. Makanya banyak orang dari Sumatra Barat begitu intelek di masa lalu. Pedahal Sumatra Barat beragama Islam. Tapi itu tidak menjadi masalah bagi Belanda. Belanda tahu bahwa orang Sumbar itu intelijen. Artinya pintar dan mau belajar. Makanya Belanda senang dan memberikan kesempatan dengan cara membangun banyak sekolah disana.

 

Angkatan Pujangga Baru kebanyakan diisi oleh personil Sumatra. Kita kenal nama-nama Sumatra yg otaknya brillian: Sutan Takdir Alisyahbana, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Armijn Pane, dll… Semuanya bisa berbahasa Belanda. Tidak minder. Beda dengan orang-orang di Jawa yg terlalu banyak mindernya menghadapi orang Belanda pada khususnya, dan bule pada umumnya. Pedahal itu tidak perlu. Orang bule tidak pernah memandang kita rendah kok. Yg memandang kita rendah adalah para pemimpin kita sendiri. The pemimpin politik, priyayi di masa lalu dan para politisi kita di masa sekarang. Dan the pemimpin agama. Para pemimpin politik dan pemimpin agama mau mempertahankan kita semua sebagai budak mereka. Sedangkan Belanda di masa lalu, dan masyarakat Barat di masa sekarang, mau membantu kita membuka mata bahwa kita semua sederajat. Tidak perlu lagi menjadi budak.

 

Contoh mental budak orang Indonesia masih ada sampai sekarang: Ucapan orang Indonesia biasanya berisikan komentar yg menjatuhkan. Semua saling menjatuhkan, saling mengingatkan bahwa kita budak. Pertama budak Allah. Kedua budak agama. Ketiga budak negara. Keempat budak orang tua. Sebaliknya, saya tidak begitu. Saya selalu mengingatkan anda semua bahwa kita bukan budak. Anda bukan budak, tidak perlu lagi bawa itu gaya bahasa perbudakan. Tidak perlu lagi saling menjatuhkan. Mulailah saling membangun. Doronglah orang untuk maju. Senanglah dengan mereka yg berhasil. Sudah cukup kelakuan orang-orang tua kita yg saling menjatuhkan. Kita terpuruk karena kita saling menjatuhkan. Orang Belanda, pada pihak lain, sejak dahulu sudah susah payah mengajarkan kepada orang Indonesia untuk mulai menghargai diri sendiri. Hargailah budaya sendiri. Dan itu dibuktikan oleh dilestarikannya banyak peninggalan budaya kita oleh Belanda. Yg melestarikan bukanlah nenek moyang kita, bukan pula buyut anda. Buyut anda budak. Buyut anda diangkat sebagai manusia bebas oleh Belanda. Tapi buyut anda tidak mau. Dia mau menjadi budak sampai mati. Dan orang tua anda mengikutinya karena, ketahuilah, tradisi Indonesia terutama di Jawa adalah untuk mewariskan mental budak turun temurun.

 

Akhirnya mental budak itu menurun kepada anda dengan bukti anda selalu menjatuhkan orang lain. Anda selalu saling mengingatkan agar orang tetap menjadi budak. Budak negara, budak adat, budak agama. Pedahal anda sekarang manusia bebas. Dari dahulu anda manusia bebas, cuma anda tidak sadar. Sekarang mungkin mulai sadar tapi masih takut. Masih merasa ingin berbakti kepada negara dan agama. Itu ciri manusia budak. Kalau masih belum terbuka juga otak anda, ingatlah akan Ibu Kartini. Tanpa malu-malu, Kartini mengeluh tentang feodalnya masyarakat Jawa. Lelaki jawa yg priyayi suka berpoligami atau ngentot dengan banyak perempuan sekaligus secara resmi. Dan kaum perempuan tidak bisa menolak ketika dijodohkan dengan alasan bisa menjadi perawan tua kalau menolak. Dan anak-anak yg lahir semuanya dididik untuk menjadi budak dengan alasan itu adat. Adat istiadat yg memperbudak.

 

 

Ajoen-ajoen.