Menelusuri Sumber Mata Air Sungai Agama

Bagi orang yang senang berkemah di gunung atau aktivitas lintas alam,  salah satu aktivitas wajibnya adalah menelusuri sumber sungai sampai ke hulu,  yaitu  ke sumber-sumber mata air pertamanya. Ada kegembiraan tersendiri melihat bagaimana sumber-sumber mata air itu mengeluarkan air yang sedikit namun tetap, sehingga seiring dengan mengalirnya sungai, ditambah dengan mata-air-mata air yang memancar di bantaran sungai sepanjang kilometer-kilometer  pertama, jadilah suatu arus sungai yang besar.

 

Ketika kita berada di sumber-sumber mata air  tersebut ada suatu ‘revelation’  atau penyingkapan tersendiri : ternyata sungai dengan debit air sedemikian besar ini diawali dengan sumber-sumber air yang kecil dan tampak tak berarti.

 

Saya ingin menarik alegori di atas sebagai perumpamaan dari pencarian asal-usul agama.

 

Kita bagaikan pramuka yang sedang berkemah di dunia ini. Di sekitar kemah kita di dunia ini terdapat banyak sungai besar lebar yang mengalir deras dimana kita mengambil air untuk melepaskan dahaga. Dan sungai-sungai tersebut adalah agama-agama. .

 

Sedari kecil kita dididik dan dibentuk untuk mempercayai bahwa agama adalah demikian dan demikian, dengan segala atribut kebaikan dan kemuliaan yang demikian, dengan tokoh agama yang sedemikian arif, bijaksana, superior dsb. Dengan agitasi semacam itu  kita dibentuk secara sistematis untuk melihat dunia dan sesama lewat perspektif yang sudah disuguhkan kepada kita.

 

Hanya sedikit dari kita berani untuk mempertanyakan keabsahan perspektif yang disodorkan pada kita itu. Tidakkah kita, sebagai manusia dewasa, tertarik untuk menelusuri sejarah agama sebagaimana alaminya, dari pada hanya mempercayai kata orang dan tradisi?

 

Sebagaimana ada perasaan ‘ahhhh’ yang didapat ketika kita sampai di hulu sungai, menyadari bahwa sungai sebesar itu ternyata memiliki mata air-mata air kecil yang mengalir tenang, demikianlah manusia dewasa seharusnya memiliki kerinduan untuk mencari sumber mata air sejarah sungai agama itu.

 

Kita selama ini disuguhkan dengan sungai agama yang seakan-akan sudah dalam, berarus kuat,  faktual dan menyejarah dari sononya, dari awalnya.  Padahal tidaklah demikian sejarah agama.

 

Dalam hal ini kita akan sedikit mencari rekam jejak sejarah islam sampai ke akar yang mampu kita capai lewat penelusuran arkeologi dan catatan sejarah dan tidak di dasari atas iman atau tradisi iman.

 

Harapan Yang Tak Bergayung Sambut

 

Tentu kita berharap bahwa seorang tokoh besar yang termasyur, disemati dengan berbagai atribut pengagungan begitu rupa, seperti halnya Muhammad bin Abdullah, nabi dalam agama Islam, bisa hadir dalam rekam jejak sejarah.  Namun sayangnya harapan itu tidak bergayung sambut.

 

Penelusuran sejarah Islam yang dilakukan oleh para pengkaji dari berbagai lintas ilmu, dalam hal ini lewat sejarah, arkeologi, dan filologi (kebahasaan) sejak hampir 50 tahun ini tidak mendapati satupun bukti yang mendukung dan menguatkan tentang Islam, Muhammad, dan Quran bahkan dari sumber-sumber islami itu sendiri sebelum tahun 750 M. (120 tahun setelah tahun yang diduga sebagai tahun wafatnya Muhammad- 632 M).

 

Sungguh mengagetkan bukan !  Bagaimana mungkin suatu agama besar dengan segudang kisah tentang pendirinya ternyata tidak memiliki secuilpun kisah valid yang ditulis dalam seratus tahun masa pembentukannya?

 

We simply do not have any account from the Islamic community during the [initial] 150 years or so, between the first Arab conquests [the early 7th century] and the appearance, with the sira-maghazi narratives, of the earliest Islamic literature” [the late 8th century] (Wansbrough 1978:119).

 

Sampai awal abad ke delapan, wilayah penaklukan imperialis Arab telah terbentang dari Afrika Utara sampai India Barat , dari Yaman sampai Persia, namun begitu mengejutkan bahwa kita tidak memiliki dokumen tentang pembentukan quran yang kredibel yang masih ada sampai sekarang. Apalagi dokumen yang ditulis dalam bahasa Arab sendiri.

 

Satu hal yang bisa dipastikan adalah informasi tentang kisah pembentukan islam sebelum tahun 750 itu terdiri dari  ‘hampir seluruhnya kutipan-kutipan  meragukan yang dikompilasi di jaman berikutnya’ (’almost entirely of rather dubious citations in later compilations’’ – Humphreys).

 

Memang suatu keanehan yang luar biasa bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 120 – 150 tahun setelah kematian Muhammad.

 

Penelaah kisah-kisah dalam Quran, Sunnah Nabi dan Sirah dengan mudah dapat dilacak di literartur agama-agama  lain sebagai hasil dari pengutipan dan pencatutan.

 

Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke 2 literatur Yahudi:

 

– Cerita Kain  & Qabil dalam dalam Surah 5.31-32 dipinjam dari Targum Jonathan ben Uzziah dan Mishnah Sanhedrin 4.5

– Cerita Ibrahim, berhala dan penghancuran mereka dalam Surat 21.51-71 adalah dari Misdrash Rabbah ;

– cerita tentang Sulaiman dalam Surat 27.17-44, tentang burung yang dapat berbicara dan Ratu Sheba yang     mengangkat gaunnya karena menyangka lantai mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua cerita Esther.

– Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang diatas kepala rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau menolak hukum Yahwe (Surah 7.171) berasal dari The Abodah Sarah,  dan seterusnya.

 

Dalam Surat 17.1 terdapat laporang tentang perjalanan Muhamad dari Mekkah ke al Aqsa. Dalam tradisi berikutnya, ayat ini menunjuk kepada Muhamad menaiki langit ke-7, setelah sebuah perjalanan malam (mi’raj) dari Mekah ke Yerusalem dengan menunggangi Buraq, kuda bersayap. Ini berasal dari berbagai sumber : Testamen Ibraham (~200), Rahasia Enoch (chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia tua berjudul Arta-I Viraj Namak.

 

Quran mengisahkan bahwa Muhamad memutuskan hubungan degnan kaum Yahudi pada tahun 624 dan memindahkan arah Kiblat (Surat 2.144 and 149-150) dari Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada pada kita, yaitu Doctrina Iacobi Chronicle (ditulis kira-kira tahun 634 M) dan dokumen Usup Sebeos (ditulis tahun 660 M) menunjukkan hubungan baik antara kaum Yahudi dengan kaum Ismail yang dahulu dikenal sebagai kaum Sarracen. Sumber yang lebih kemudian dari Armenia bahkan menyebut gubernur Yerusalem adalah seorang Yahudi pada tahap akhir masa penjajahan. Jadi, kesaksian-kesakian dokumen sejarah ini  bertentangan dengan kesaksian dalam Quran.

 

Sirah Nabi

 

Sirah Nabawiyah atau sejarah hidup nabi Muhammad dalam bahasa Arab baru hadir satu abad lebih setelah kematiannya. Sirah pertama ditulis oleh Ibnu Ishaq (707 – 773) sekitar tahun 765. Kemudian salinannya disimpan oleh seorang bernama Ibnu Hisyam dan disadur ulang olehnya hampir satu abad setelah wafatnya Ibnu Ishaq (wafat tahun 883).  Selain itu kisah-kisah nabi Muhammad dan komentar quran juga ditulis oleh Al-Tabari (839-923)

 

Sangat janggal dan mengherankan untuk orang terkenal semacam Muhammad perlu menunggu sampai 120 tahun lebih sampai ada orang yang menuliskannya? Jika sebelumnya kisah-kisah itu bertumpu pada tradisi oral / lisan, maka dapat dibayangkan derajat penyimpangannya dari satu generasi ke generasi lain, dari satu mulut ke mulut lain berdasarkan preferensi si penutur kisah, bukan?

Manuskrip Sanaa

 

Manuskrip tertua yang kita miliki sekarang adalah manuskrip Sanaa yang ditemukan di Masjid Agung Sanaa tahun 1972 ketika Mesjid Agung itu di restorasi.  Lembaran naskah yang masih bisa bertahan itu ditelaah oleh Gerard Puin & tim dari Saarland University Jerman  dengan hasil riset yang sangat menohok pemercaya tradisi Islam. Berdasarkan tes karbon 14 diperkirakan naskah ini berasal dari kwartal pertama abad 8, tepatnya sekitar tahun 715 yang mengalami penghapusan dan penimpahan sampai akhir abad 8.

 

Puin sendiri berkomentar di article Atlantic Monthly 1999 sbb:

Menurut saya Quran adalah koktail teks , naskah campur aduk, yang tidak dipahami bahkan pada jaman Muhammad sendiri. Beberapa bagian dari quran mungkin berusia ratusan tahun telah ada sebelum jaman islam. Bahkan dalam tradisi Islam terdapat begitu banyak informasi yang kontradiktif, termasuk cuplikan naskah Kristen yang signifikan. Seseorang bisa mendapatkan sejarah yang anti islam secara keseluruhan darinya jika ia menginginkannya.  Quran diklaim bersifat mu’bin, atau jelas dengan sendirinya, namun jika anda memeriksannya, anda akan melihat bahwa setiap kira-kira  lima kalimat dibaca kita akan mendapati klaim tersebut tak masuk akal. Muslim akan bersikeras sebaliknya, tentu saja. Namun fakta bahwa seperlima bagian dari teks Quran tidak bisa dipahami. Hal ini yang telah menyebabkan tradisi kebingungan dalam penerjemahan. Jika Quran tidak bisa dipahami, jika ia bahkan tidak bisa dimengerti oleh orang Arab, maka ia tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa manapun. Inilah yang muslim takutkan. Sebab Quran terus diklaim sebagai telah jelas namun kenyataannya tidak – terdapat kontradiksi yang jelas dan serius di sini. Suatu hal lain pasti telah terjadi.

 

Mushaf Topkapi dan Mushaf Taskent

Muslim biasanya mengatakan bahwa kita masih memiliki 3 manuskrip / mushaf Quran tertua salinan dari jaman Kalifah Usman yang disebut  Mushaf Sammarkand, yang disimpan di Perpustakaan Tashkent Uzbekistan, dan Mushaf Topkapi yang disimpan di Topkapi Museum Turki.

 

Mushaf  Samarkand muncul pertama kali di Tashkent sekitar tahun 1485. Manuskrip ini sama sekali tidak lengkap. Dimulai dari pertengahan ayat ke-7 surat ke-2 (Al Baqarah) dan dari situ banyak halaman yang hilang. Dalam beberapa tempat hanya 2 atau 3 lembar yang hilang, sedangkan di tempat lain hingga ratusan halaman. Bagian akhir dari Qur’an dari sejak surah ke-43 ayat 10 sama sekali tidak ada. Dan dari yang dapat diselamatkan, banyak halaman yang koyak serta teks yang hilang.

 

Adanya perbedaan gaya penulisan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain menimbulkan pertanyaan apakah manuskrip ini benar-benar merupakan satu kesatuan ataukah kompilasi dari beberapa buah sumber.

 

Sebagaimana manuskrip Samarkand, mushaf Topkapi pun ditulis di atas lembaran perkamen (kulit binatang) dalam aksara Kufik. Tetapi cara penulisan dan bentuknya berbeda dengan mushaf Samarkand. Masing-masing lembar manuskrip Topkapi terdiri atas 18 baris, sedangkan manuskrip Samarkand terdiri atas 8 sampai 12 baris.

 

Penelitian yang objektif telah membuktikan bahwa tidak satu pun dari kedua manuskrip ini yang benar-benar dapat dianggap sebagai manuskrip asli mushaf Usmani.

 

Meskipun manuskrip ini berumur tua, namun yang harus diingat bahwa manuskrip Quran ini tidak ditulis dalam aksara Arab, melainkan aksara Kufik.  Mushaf Quran dengan aksara Kufik menurut Martin Lings dan Yasin Hamid Safadi tidak pernah muncul sampai abad 8M, dan bahasa Kufi tidak pernah sama sekali digunakan di Mekkah dan Madinnah sampai abad ke 7M.  (Lings & Safadi 1976:12-13,17; Gilchrist 1989:145-146; 152-153).

 

Alasannya sederhana, aksara Kufik disebut demikian karena berasal dari kota Kufa di Irak. Adalah tidak masuk akal apabila sumber dari quran ditulis dalam bahasa Kufki sedangkan wilayah Irak baru diinvasi oleh imperalis Arab beberapa puluh tahun setelah kematian Muhammad.

 

Jika Muhammad yang adalah seorang Arab, berbahasa Arab, mendapatkan wahyu dari Jibril dalam bahasa Arab, mengapa naskah Alquran pertama ditulis dalam bahasa Kufik? Tidakkah akan mengaburkan isi pesan itu sendiri, karena perbedaan kosa-kata dan makna dari bahasa Arab ke bahasa Kufik? Jadi dari mana keyakinan akan keterjagaan Alquran itu sampai ke tangan kita?

 

Bahasa Kufik baru mencapai penyempurnaannya selama abad 8, yaitu sekitar 150 tahun  setelah kematian Muhammad. Dan sejak saat itu bahasa dan aksar Kufik digunakan secara luas di dunia muslim. Hal ini masuk akal sebab setelah tahun 750 AD dinasti Abasid menguasai dunia islam dan latar belakang Persia mereka menjadikan Kufa dan Bagdad sebagai pusat studi islam.

 

Mushaf Maili dan Mushaf Mashq.

 

Ada 2 manuskrip lagi yang tidak populer dikalangan dunia islam moderen yaitu Mushaf Maili dan Mushaf Mashq,  yang konon berkembang di Mekkah dan Madinnah sekitar abad ketujuh. (Lings & Safadi 1976:11; Gilchrist 1989:144-145). Diberi nama Mushaf Maili dari kata al-ma’il sendiri, yang berarti ‘miring’, mengacu pada bentuk penulisan aksaranya.

 

Mushaf Mashq ditulis dalam bentuk aksara yang lebih tegak dan mudah dibedakan dari gaya penulisan yang cenderung melengkung dan indah (Gilchrist 1989:144). Kedua mushaf ini bertahan sekitar 2 abad sebelum akhirnya tidak digunakan kembali dalam peredaran di dunia islam. Beberapa ahli pernah memperkirakan kemungkinan jika mushaf Topkapi dan Sammarkand bisa jadi bersumber pada mushaf Masq atau Maili.

 

Yang menarik adalah kedua Mushaf ini tersimpan di British Museum sehingga bisa dengan mudah dilakukan penelitian ilmiah yang komprehensif termasuk oleh Martin Lings, kurator di museum tersebut, yang adalah muslim sendiri. Dan hasilnya adalah bahwa kedua mushaf ini muncul paling dini sekitar abad 8 akhir yaitu tahun 790-an. Hal ini terlihat jelas dari bentuk hurufnya. (Lings & Safadi 1976:17,20; Gilchrist 1989:16,144)

 

Jadi kesimpulannya tidak ada petunjuk yang kredibel mengenai kehidupan Muhammad dan informasi-informasi penting mengenai pembentukan islam sebelum pertengahan abad 8 atau sekitar tahun 750. Apa yang terjadi dengan 120 – 150 tahun pertama awal islam itu?

 

Dome of The Rock

 

Mungkin anda akan bertanya : bukankah ada tulisan arab di inskripsi Dome of The Rock atau Kubah Emas yang dibangun tahun 689 – 691 pada masa Abdul Malik ?

 

Memang benar Kubah Emas dibangun pada masa itu, namun inskripsi itu tidak ditulis dalam aksara arab melainkan aksara Kufik. Sebenarnya kita bisa bertanya kembali pada tahun berapa aksara ini ditulis, sebab Dome of The Rock ini pernah direbut oleh pejuang Salib dan dijadikan gereja sebelum akhirnya pejuang muslim mengambil kembali Dome of The Rock para pejuang Perang Salib yang pernah menjadikannya sebagai gereja. Mereka mengeluarkan semua unsur-unsur berbau Kristen, dan menggantikan interiornya dengan nuansa Islam.

 

Bangunan berkubah megah ini didirikan oleh Abdul Malik pada tahun 691 dan sampai sekarang masih berdiri. Pertama, kita harus mengingat bahwa the Dome of the Rock bukan sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat. Hanya sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar.

 

Mengapa gedung ini tidak memiliki kiblat? Jawaban yang jelas adalah karena Dome of The Rock inilah kiblat pertama agama yang nantinya berkembang menjadi apa yang kita sebut islam. Bukan kota Mekkah sebagai kiblatnya, bahkan setelah sampai awal abad 8 M, yakni 70 – 80 tahun setelah kematian Muhammad. Dome of The Rock adalah kiblat dari ibadah Yahudi, Kristen dan agama baru yang nanti disebut Islam.

 

Umat islam puas dengan keterangan bahwa Dome ini didirikan guna memperingati malam Isra Mi’raj, malam Muhamad terbang ke surga guna berbicara dengan allah tentang berapa kali jumlah shalat yang harus dipatuhi pengikutnya. Namun, menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda Nevo, kaligrafi disana tidak menyebutkan apa-apa tentang perjalanan dari Mekkah ke tempat itu dan dari tempat itu ke surga. Ironis sekali bukan?

Inskripsi di Dome of The Rock hanya berisi tulisan yang menolak ketuhanan Yesus, menegaskan kemesiasan Yesus,  penerimaan para nabi, dan  penerimaan wahyu oleh Muhammad.  Tidak ada kisah tentang Isra Miraj di sana.

 

Mahgraye

 

Salah satu sumber diluar islam yang memberi petunjuk tentang masa perkembangan islam adalah surat dari Jacob, uskup dari Edessa ( Antiochia Turki sekarang) ditulis sekitar tahun 708 yang menyoal masalah genealogy Perawan Maria , menuliskan sebagai berikut :

 

….bahwa mesias haruslah berasal dari  keturunan Daud, setiap orang mengakuinya, kaum Yahudi, Mahgraye dan Kristen. …. Bahwa sang mesias mewujud dalam daging sebagai keturunan Daud… juga diakui oleh mereka semua, Yahudi, Mahgraye dan Kristen, yang menganggap hal itu sebagai sesuatu (kebenaran) yang fundamental. Kaum Mahgraye pun semua mengakui dengan penuh bahwa Yesus adalah mesias sejati yang datang dan yang dinubuatkan oleh para nabi, dalam hal ini mereka tidak berseberangan dengan kita (kaum Kristen), namun berseberangan dengan kaum Yahudi. Mereka (kaum Mahgraye) terus bersebrangan dengan penuh celaan (kepada kaum Yahudi) ….. bahwa mesias haruslah keturunan Daud, dan lebih jauh lagi bahwa mesias yang telah datang dilahirkan dari Perawan Maria. Hal ini dengan tegas diakui oleh Mahgraye, dan tak seorangpun akan menyangkalnya, karena mereka selalu katakan pada setiap orang bahwa Yesus anak Maria  adalah mesias sebenarnya.

Pertanyaan yang mendasar sekarang adalah siapakah kaum Mahgraye yang sering ia sebutkan? Mengapa kaum Mahgraye begitu signifikan disebutkan? Kaum ini dikaitkan dengan kaum Yahudi dan Kristen dalam menyoal kemesiasan Yesus. Siapakah kaum Mahgraye?

 

Kata ‘Mahgraye’ atau ‘Mahgre’ berasal pelafalan Syriac dari kata Arab ‘Muhajirun’. Dalam bahasa Yunani disebut kaum ‘Magaritai’.

 

Siapakah kaum Mahgraye atau Muhajirun itu? Kaum Muhajirun adalah kaum Sarracens yang berhasil membebaskan Yerusalem dari tangan penjajah Roma Byzantium. Mereka disebut kaum Muhajirun atau Kaum yang Hijrah dari daerah Sinai ke Yerusalem dan merebut Yerusalem dari kekuasaan Kristen Byzantium.

 

Kaum Sarracen atau Saracenoi adalah kata Yunani untuk merujuk pada bangsa Arab. Namun bukan merujuk pada bangsa Arab secara keseluruhan. Sarracen mengacu pada bangsa Arab yang tinggal di daerah Semenanjung Sinai di desa Saraka, sebagai bagian dari provinsi jajahan Romawi, di daerah antara Sinai dan Palestina sekarang.

 

Kata Sarracen berasal dari bahasa Yunani ‘Sara kenoi’, yang berarti : yang disuruh pergi dengan tangan hampa oleh Sarah. Ini merujuk pada kisah Abraham atau Ibrahim dalam kitab Genesis atau Kejadian. Abraham seorang pedagang kaya dan pemimpin suatu kaum. Terlebih lagi ia dipercaya sebagai seseorang yang memiliki hubungan yang kuat dengan tuhan.

 

Sampai masa tuanya ia tidak memiliki anak dari Sarah istri satu-satunya. Atas saran Sarah, maka Abraham mengambir hamba sahaya Sarah, yaitu Hagar atau Siti Hajar , wanita Mesir,  sebagai gundiknya. Abraham mendekati Hagar, dan kemudian lahirlah Ismael. Namun bukan Ismael yang menjadi anak perjanjian antara Abraham dan tuhan. Setelah Ismael lahir, maka Sarahpun mengandung seorang bayi laki-laki, dan menamainya Ishak.

 

Setelah Ishak lahir, maka Sarah dengan dimotivasi rasa takut kalau-kalau Abraham akan menjadikan Ismael, anak hambanya – Hagar, sebagai ahli waris dari Abraham, maka ia mengusir Hagar dan Ishmael dengan tangan kosong. Maka tinggalah mereka di selatan, yang kemudian di sebut kota Saraka.

 

Jadi harus dipahami di sini bahwa pergerakan kaum Mahgraye, atau yang nantinya disebut Islam, bukan berasal dari Mekkah atau Madinah, melainkan dari daerah Sinai. Daerah dekat Bulan Sabit Mediterania.

 

Kaum Arab Saracen merasa berhak untuk membantu kaum Yahudi karena keterlibatan darah dan emosi. Mereka berasal dari keturunan yang sama yaitu Abraham, dan merebut Yerusalem dari tangan penjajah Roma Byzantine adalah jihad. Seperti halnya Musa yang memimpin bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, demikianlah kaum Saracens dan Yahudi bahu membahu memperjuangkan pembebasan Yerusalem dari tangan kaum Kristen. Inilah mengapa pergerakan kaum Sarracen dan Yahudi untuk membebaskan Yerusalem disebut pergerakan Hagarisme. Karena perjuangan ini bertumpu pada perjuangan kaum Yahudi dan Kaum Hagarin, kaum keturunan Ismael.

 

Nampaknya kisah tentang Muhammad yang hijrah dari Mekkah ke Medinah di tahun 622M adalah kisah yang direka puluhan tahun kemudian, ketika kaum Mahgraye memutuskan untuk membentuk identitas keagamaan sendiri yang berakar pada tradisi bangsa Arab. Mereka mencari akar budaya leluhur mereka dan menemukan tempat-tempat, kisah dan ritual bangsa Arab selatan, maka terjalinlah benang-benang identitas baru mereka sebagai suatu agama yang terlepas dari Yahudi dan Kristen.

 

Patricia Chrone dalam bukunya  Meccan Trade and the Rise of Islam (1987)  memberi alasan yang kuat bahwa pergerakan kaum yang nantinya disebut islam, jelas bukan berawal dari Mekkah, melainkan ratusan mil ke arah utara, yaitu ke daerah bulan sabit, dimana terdapat jalur perdagangan rempah-rempah.

 

Crone menegaskan bahwa seandainya memang ada suku-suku Quraisy dari Mekkah, bani yang darinya Muhammad konon berasal,  yang berprofesi sebagai pedagang, pastilah ditemukan rekam jejak dalam bahasa Yunani, Latin, Syriah, Aramik, Koptik atau bahasa apapun di luar Arabia. Hal tersebut tidak pernah ditemukan. Kota Mekkah pada saat itu adalah daerah tandus yang tidak ekonomis untuk jadi jalur perdagangan. Tidak ada satu catatan yang kredibel mengenai keberadaan kota Mekkah dan seperti yang digambarkan dalam Sirrah Nabi.

 

Beberapa narasi dalam sunnah dan sirrah hanya applicable bagi masyarakat agraris, yang adalah paling mungkin berada di daerah bulan sabit. Petunjuk ini semakin menguatkan bahwa kaum Mahgraye, yaitu kaum yang Hijrah, bukan melakukan eksodus dari Mekkah ke Medinnah, melainkan dari Sinai ke Yerusalem.  Kaum Mahgraye adalah Arab dari Sinai, dari Sarraka, bukan dari Mekkah ataupun Medinnah.

 

 

 

Nabi dari Sarraken

 

Dalam Doctrina Iacobi, sebuah dokumen yang berisikan traktat anti-Yahudi yang diterbitkan semasa pemerintahan Kaisar Heraclius, tersimpan suatu narasi yang menunjukan perjuangan kaum Saracen ini. Dokumen yang ditengarai di tulis di Palestina sekitar tahun 634-an  ini  berisi diantaranya ceritakan tentang kaum Yahudi yang tinggal di Carthage tahun 634.  Dalam sebuah dialog, sebuah rujukan menyoal tentang kejadian yang tengah terjadi di Palestina. Merujuk pada h surat salah seorang Yahudi Palestina  :

 

…… Seorang nabi telah muncul di tengah-tengah kaum Sarraken. Mereka katakan bahwa nabi ini telah muncul di antara kaum Sarraken, dan memproklamasikan kedatangan seseorang yang diutus ( tou erkhomenou Eleimmenous kai Khristou). Aku, Abraham, berangkat ke Sykamina dan menanyakan hal tersebut kepada seorang tua yang tahu banyak tentang kitab. Aku tanya dia,  “ Apa pandangan anda, guru, tentang nabi yang telah tampil di antara kaum Sarraken?” Dengan erangan kuat dia berkata:

 

 “Dia seorang penipu. Masakah nabi datang dengan pedang dan kereta perang?  Sesungguhnya apa yang terjadi saat ini adalah kekacauan. Namun engkau, tuan Abraham, pergilah dan cari tahu tentang nabi yang telah muncul itu. “

 

Sehingga aku, Abraham, mencari tahu lagi, dan diberitahu oleh orang yang telah bertemu dengannya: ‘Tidak ada kebenaran yang bisa ditemukan dalam diri ia yang mengaku sebagai nabi, hanya pertumpahan darah, sebab ia katakan bahwa ia memiliki kunci surgawi, yang hanya akal-akalan belaka. “

 

 

Kisah ini memunculkan beberapa berkas terang, yaitu:

 

– tentang seorang nabi yang tidak diketahui namanya.

– nabi itu memproklamasikan datangnya seorang Yang Diutus.

– nabi dan kawanannya ditentang karena hanya membawa kekerasan dan pertumpahan darah.

 

 

Menarik sekali bila kisah-kisah dalam tradisi Islam yang gegap gempita dengan keluhuran karakter sang nabi, namun ketika di-cross check dengan catatan-catatan sejarah yang kita miliki sampai saat ini, tidak terdapat secuilpun kisah yang kredibel tentang seorang nabi bernama Muhammad.

 

Dan dari dua dokumen yang disebutkan di atas, tidak pernah tertulis tentang nama si nabi dari Sarraken tersebut, tidak tertulis tentang nama Islam, Muslim, dan Muhammad.

 

Jadi apa yang terjadi selama 150 – 200 tahun masa-masa pembentukan Islam? Dari manakah bahan-bahan tentang kisah kehidupan Muhammad? Sejak kapan muncul kisah-kisah itu muncul kepermukaan?

 

Berangkat dari catatan Doctrina Iacobi tersebut, mari kita kupas beberapa ha.

 

 

 

Menyoal Gelar Nabi

 

 

Umat muslim ketika mendengar kata nabi dan rasul, menganggap itu sebagai suatu jabatan ilahi yang sangat mahal dan jarang. Apalagi dengan kepercayaan bahwa Muhammad adalah nabi terakhir dan sempurna, tiada ada lagi nabi pembawa firman allah sesudah Muhammad.

 

Namun kalau kita telusuri sejarah agama-agama sebelumnya yaitu agama Yudaisme / Yahudi dan Kristen, gelar nabi adalah gelar yang walaupun istimewa namun tidak membutuhkan penekanan yang sebegitu dahsyat seperti kaum muslim lakukan.

 

Seseorang dengan gelar nabi, sekalipun dihormati dalam lingkaran komunitas Yahudi dan Kristen, tetap bukan sesuatu yang luar biasa milik perorangan. Setiap orang berpotensi untuk jadi nabi. Bahkan pada jaman nabi Elisa / Ilyas terdapat banyak sekolah para nabi. Menjadi nabi bukan semata-mata panggilan dari tuhan, melainkan suatu profesi. Tidak terlalu luar biasa bukan !

 

Kata nabi berasal dari bahasa ibrani ‘navi’ diambil dari frasa  niv sefatayim yang berarti  ‘fruit of the lips’  atau ‘buah bibir’. Istilah ini menekankan fungsi nabi sebagai pembicara. Dalam pemahaman lain nabi berarti he or she who speaks before. Saya sengaja memakai bahasa Inggris karena sayamelihat kata ‘before” memiliki dua arti – sebelum dan di depan.

 

– Navi is he / she who speaks before the events  – nabi adalah ia yang memberitahu kejadian sebelum waktunya atau juga seorang pelihat / seer.

 

– Navi is he / she who speaks before the people – nabi adalah ia yang berbicara di depan banyak orang, merujuk pada fungsinya sebagai pemimpin suatu kelompok atau umat.

 

Seorang nabi tidak selalu harus mendapat perintah dari tuhan, apa lagi menuliskan kitab suci dan menelurkan agama baru, seperti pemahaman kaum muslim.

 

Di dalam dunia Kristen, sekalipun Yesus dipercaya sebagai sentral dari  iman, namun fungsi nabi tetap ada. Ada banyak nabi dalam gereja. Selain nabi, ada juga fungsi rasul yaitu seorang utusan, utusan dari tuhan dan gereja kepada suatu kaum untuk memberitakan injil. Dan tidak ada yang terlalu spesial dalam kedua jabatan itu sehingga harus dibatasi hanya pada figur tertentu sebagai akhir dari suatu garis linear pewahyuan, seperti yang dipahami kaum muslim.

 

Pemahaman bahwa ada 25 nabi dan rasul kiriman tuhan yang berpuncak pada Muhammad tentu hanyalah klaim sepihak dari Islam saja untuk mengagungkan Muhammad dan menempatkan nabi-nabi sebelumnya sebagai nabi inferior.

 

Jikalau dikatakan bahwa ada seorang nabi muncul dari Sarracen, maka bagi orang Kristen pada saat itu, akan menanggapi dengan santai. Setelah Yesus wafat ada banyak nabi-nabi dalam gereja. Ada banyak suciwan seperti Santo Yohanes Maronit, pendiri mazhab Maronit, dan juga banyak tokoh dari tradisi Kristen Etiopia dan Koptik yang mengagungkan para santonya sebagai nabi, sekalipun tidak digelari nabi. Seorang nabi tidak serta merta harus menulis kitab dan memimpin agama baru. Sama sekali tidak ada pemahaman seperti demikian baik dalam Yahudi maupun Kristen.

 

Jikalau kita merujuk kembali pada kisah nabi dari kaum Sarraken, maka tidaklah aneh kalau seorang nabi, seorang pemimpin bisa muncul dari antara kaum lain. Yang menjadi masalah adalah nabi itu memakai kekerasan dan peperangan dalam misinya. Dan kedua, yang menarik adalah bahwa nabi itu memproklamasikan kedatangan Ia Yang Diutus.