Inilah satu-satunya lagu dengan bahasa Indonesia yg pernah menduduki ranking pertama dalam tangga lagu populer di Belanda. Dibawakan oleh Massada, group band keturunan Maluku Selatan. A very beautiful song, and that’s bahasa Indonesia dialek Maluku Selatan. Masih dipakai oleh orang-orang RMS sampai sekarang. Kebayanya juga. Bisa kita lihat ada dua model kebaya Maluku, yg panjang dan yg pendek.

Saya lihat di Youtube, group band Massada datang ke Ambon setelah kerusuhan. Untuk memberikan semangat kepada orang Ambon yg masih jalan di tempat aslinya. Mereka membawakan lagu latin, karena memang ini group yg spesialisasinya lagu latin. Kebetulan saja lagu “Sajang” e ini jadi hits.

Saya pikir, untuk masa depan mereka sendiri, merupakan berkah tersendiri ketika 12,500 orang Ambon diangkut oleh Belanda ke Holland. Sekarang jumlahnya sekitar 40,000 orang. So jelas, mereka jadi lebih terjamin kesejahteraannya dibandingkan dengan nyungsep terus di Maluku Selatan yg tidak ada apa-apanya dan “dijajah Jawa”.

Apakah orang RMS budak? Menurut saya bukan. Walaupun Maluku Selatan wilayah miskin, mereka tetap bilang manise. Tanah ambon selalu manise. Nona Ambon selalu manise. Bahkan Tuhan pun disebut dengan manise. Tete Manise, that’s the word for Tuhan in Ambonese. Dalam bahasa Ambon, Tuhan disebut Tete Manis. Tentu saja SBY tidak berani ke Belanda. Tidak punya muka untuk berhadapan dengan orang Ambon. He is a kebo.

Saya sudah terlalu jauh dari latar belakang primordial saya sendiri. Saya bisa comfortable di kalangan Ambon Manado, tapi nggak tau what kind of spirituality that I can offer. Seingat saya, orang Ambon dan Manado tidak fanatik agama. Agama is agama, tetapi hidup jalan terus. Kalau ketemu, nggak pernah ngomongin Tuhan. Nggak pernah ngebahas amal ibadah. Mungkin itu Liberalisme yg, tanpa sadar, diserap dari orang Belanda.

 

I don’t mind being called “Mas Leo”, walaupun saya bukan orang Jawa. Kalau mengikuti adat Indonesia Timur, harusnya saya dipanggil “Bung”. Bung itu istilah panggilan dari Indonesia Timur, memang tidak membedakan orang. Semua orang laki bisa menjadi “Bung”. Mungkin pertama kali diperkenalkan ke seluruh Indonesia oleh orang-orang Ambon dan Manado yg menjadi serdadu kolonial Belanda. Dan akhirnya diambil-alih oleh kaum perjuangan Indonesia. Dan jadilah Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir. But never Bung Harto.

 

Percakapan di kalangan Ambon Manado is very open and without batas, even between orang tua dan orang muda. Tidak ada paksa memaksa seperti di budaya Jawa dan Sunda. Mungkin itulah sebabnya tidak terlalu banyak yg menjadi kapir. Kalau agama dianggap biasa saja, dan bukan hal istimewa, akhirnya orang akan menjadi normal. Tidak gila agama. Free. Dan lebih waras, maybe.

 

Saya tidak pernah masuk gereja dengan mayoritas Ambon Manado lagi. Sudah lama, sejak saya umur belasan tahun. Kalaupun saya masuk, saya tidak tahu apa yang akan saya dapatkan. Gereja di kalangan Ambon dan Manado cuma tempat berkumpul sesama teman. Memang banyak kebaktian dari rumah ke rumah yg, secara salah kaprah, sering diartikan sebagai pesta-pesta. Kebaktian dari rumah ke rumah itu ibadah, sebenarnya, istilahnya pengucapan syukur. Tetapi, karena ini orang Manado dan Ambon, maka suasananya memang begitu bebas. Enjoyable. Dan memang tampak seperti pesta kalau orang mengira peribadatan harus pasang tampang syahdu.

 

Mungkin spiritualitas Indonesia Timur itu simple saja. Tuhan adalah Tete Manis (bahasa Ambon), dan dimengerti sebagai pemberi kehidupan, tempat mengucap syukur, dan obyek tempat mengarahkan doa. Cuma itu saja. Dan, of course, tidak pake syariat.

 

Lalu panggilan untuk perempuan apa? Panggil nama saja. Kalau agak jauh lebih tua dari saya, saya panggil “zoes”. Bukan Mbak. Loe bisa digamparin kalo manggil perempuan Ambon dengan kata Mbak. Apalagi kalo dorang tau saya punya step father orang Ambon juga.

 

Kerusuhan di Ambon bukan gara-gara agama, tetapi gara-gara saudara. Kalau satu orang Ambon berkelahi dengan orang lain, maka satu kampung akan ikut membela. Kalau orang yg dibela luka, maka kampungnya akan ikut membalas. Jadi, sebenarnya, akar dari akutnya perseteruan di Ambon bukanlah agama, melainkan adat. Adat Ambon, kalau satu perang, semua ikut perang. Satu luka, semua menuntut balas. Dan itu dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyulut “perang agama”. Yg dibela sebenarnya bukan agama, tetapi orang. Teman. Saudara.

 

Dari jaman Belanda kan semua orang sudah tahu: mana ada orang Ambon berkelahi satu lawan satu? Selalu keroyokan. Bukannya takut satu lawan satu, tetapi adat Ambon, kalau satu berkelahi, semua teman akan turut membantu.

 

Pedahal orang Islam dan orang Kristen di Ambon sudah punya perjanjian “Pela Gandong” (Saudara Kandung). Disana satu kampung bisa semuanya Kristen, dan kampung sebelahnya semuanya Islam. Tetapi ada adat Pela Gandong yg dihancurkan oleh orang-orang dari luar. Semua orang Ambon kalap, lupa diri, Pela Gandong hancur berantakan. Bahkan orang Kristen juga menyesal sekarang walaupun mereka semua tahu, bahwa mereka bukan bela agama, tetapi bela teman.

 

Jadi, jangan salah kaprah mengira kerusuhan Ambon itu kerusuhan agama. Menurut saya, itu bukan kerusuhan agama, tetapi kerusuhan antara komunitas. Orang Ambon yg mayoritasnya Kristen Protestan sampai sekarang tidak fanatik. Dari dahulu sampai sekarang tidak ada orang Ambon yang fanatik agama. Mereka fanatik membela teman. Kalau anda berteman dengan orang Ambon, maka anda dianggap saudara kandung. Agama anda tidak menjadi persoalan. Dan kalau anda ribut dengan orang lain, maka orang Ambon yg merasa dirinya saudara anda akan ikut campur. Dia merasa berhak membela anda. Nah, itulah jeleknya Ambon.

 

Spiritualitas Ambon itu sederhana sekali. Ada Tete Manis (Tuhan), dan ada pela, saudara dimana-mana. Kalau tidak punya uang, tidak malu minta. Dan juga langsung diberi oleh yg diminta. Manado tidak begitu, lebih sophisticated sedikit, mungkin karena Manado banyak dipengaruhi oleh pedagang Cina. Yang jelas, Manado dan Ambon beda dengan Jawa. Tidak ada pengaruh Hindu Buddha disana. Tidak ada penghambaan diri untuk masuk Nirwana, atau menaikkan “budi pekerti”. Paling jauh ada jaga gengsi.

 

Saya tahu pasti orang Ambon tidak membedakan agama orang. Baik Islam ataupun Kristen, kalau kenal dan berteman, maka semuanya dianggap saudara. Sedangkan orang Manado itu seperti orang Belanda kalau soal agama. Mau aliran apa pun tidak menjadi soal, asal tidak mengganggu orang lain. Kalau tidak suka, maka bisa pindah gereja. Bisa pindah dari Protestan ke Katolik, dari Katolik ke Potestan, dari Kristen ke Islam dan sebaliknya. Tidak ada yg usil urusan orang. Mungkin orang Manado adalah yg paling intelektual, dalam arti paling banyak menyerap pengaruh Belanda. Ambon juga menyerap banyak dari Belanda, tetapi adatnya terlalu kuat. Adat perang membela saudara masih dibawa-bawa sampai sekarang. Manado tidak begitu. Paling Liberal. Paling ke-belanda-belandaan which means paling oke.

 

Kristen Liberal sudah dekat sekali dengan Agnostisme, tinggal satu langkah saja. Islam Liberal juga. Liberalisme artinya keberanian untuk berpikir dan memutuskan sendiri tentang kebenaran apa yg ingin kita pakai. Bukan berdasarkan “katanya”, tetapi berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman asli dan bukan rekayasa. Menjadi Liberal bukan berarti kita tidak punya etika. Etika kita justru lebih tinggi dibandingkan orang beragama yg mau memaksakan “kebenaran” versi mereka. Pedahal, sangatlah etis untuk membongkar kebohongan agama. Semua agama itu berbohong demi memperoleh pengikut. Yg berbohong tentu saja manusianya. Manusia yg menciptakan agama. Agama sendiri benda mati. Benda mati abstrak. Tidak bisa berteriak-teriak.

 

Istilah “Liberal” di dalam ilmu perbandingan agama biasanya digunakan untuk merujuk kepada orang-orang intelek, yg bisa menulis dengan kata-kata indah. Saya rasa anggapan seperti itu sudah terlalu kuno. Kita sudah jauh lebih liberal daripada Kristen dan Islam liberal, contohnya, walaupun tidak semua dari kita bisa menulis dengan bahasa indah seperti Ulil Abshar Abdalla, dll. Saya malahan juga sudah jauh lebih liberal dibandingkan orang spiritual model antik yg masih cukup banyak di Indonesia. Liberalisme itu istilah saja, artinya kita berani berpikir menggunakan otak kita. Kita bukan anak kecil lagi. Tidak bisa dibodohi lagi.

 

 

Hari Pembalasan itu konsep Kristen yang dicolong oleh Islam, by the way. Di Yahudi tidak ada konsep itu. Itu konsep Kristen asli. Islam nyolong syariat dari Yahudi, dan nyolong konsep Hari Pembalasan dari Kristen. Itu dogma, dibuat oleh manusia. Tidak jatuh dari atas langit. Ada kepercayaan di Islam yang bilang bahwa mendekati hari kiamat akan muncul Jun dan Majun. Nah, Jun dan Majun itu juga nyontek dari Kristen. Di Kristen namanya Gog dan Magog. Islam mempunyai “keyakinan” bahwa Imam Mahdi akan datang menjelang kiamat. Siapa Imam Mahdi itu tidak jelas. Yg jelas, dipercaya Nabi Isa akan datang kembali di hari kiamat. Nabi Isa itu Yesus. Dan kepercayaan itu diambil dari ajaran Kristen. Bahkan yg namanya “Dajjal” di Islam adalah “Anti-Kristus” di Kristen. Semuanya kepercayaan seputar hari kiamat.

 

Lalu Islam itu apa sebenarnya? Dari sudut pandang seorang ilmuwan sosial seperti saya, Islam itu tidak lain agama Yahudi dan Kristen yg dikemas ulang dan dinamakan Islam. Yg asli dari Islam sendiri adalah Poligami dan Naik Haji. Bahkan Naik Haji itu, konon, diambil dari ritual orang Hindu. So, in the end, yg asli dari Islam cuma Poligami. Dan itu tentu saja sama sekali tidak menarik. Tidak laku dijual ke manusia paska modern yg mau menggunakan otak. Tapi tentu saja saya pribadi tidak perduli apa yg orang lain percayai. Baik Yahudi, Kristen maupun Islam berhak percaya apa pun yg mereka mau percayai. Asal tidak ganggu saya, it’s more than ok.

 

So, mulai sekarang tidak usah diputar-putar lagi, kepercayaan Islam akan Hari Pembalasan merupakan contekan dari kepercayaan Kristen. Bahkan tentang Imam Mahdi. Imam Mahdi cuma istilah, tentu saja, dan tidak jelas bernama apa. Yg jelas bernama adalah Nabi Isa. Islam mengajarkan bahwa Nabi Isa akan datang kembali di hari kiamat, menghakimi semua orang. Sekarang Nabi Isa ada di Surga, dalam kedudukan yg paling layak di sisi Allah SWT. Nanti, ketika semua kejahatan Islam sudah mencapai puncaknya, Nabi Isa akan datang kembali dan mengumumkan di depan microphone yg disiarkan langsung ke semua masjid di seluruh dunia bahwa beliau itu bukan muslim. Nabi Isa itu Yesus Kristus. Tuhannya orang Kristen, dan bukan nabinya orang Islam.

 

Oalahhhh…

 

Oalahhhh..