Bukankah umat Islam gemar menyatakan bahwa Alquran tidak bisa dipahami secara serampangan? Tidak bisa dipahami secara harfiah. Ayat demi ayat dalam Alquran banyak mengandung hikmah tersembunyi. Banyak perumpamaan. Banyak simbol-simbol. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa untuk bisa memahami Alquran harus menguasai tata bahasa Arab. Harus menguasai ilmu tafsir. Harus dilengkapi oleh ilmu ini itu dan seterusnya. Singkat kata untuk memahami Alquran dibutuhkan waktu yang sangat lama. Sampai-sampai saya sendiri pernah dihardik oleh seseorang ketika disksusi tentang Alquran: “Hey…. Sampai habis umurmu, tidak akan tuntas kamu memahami Alquran”.

Lalu dengan siapa umat Islam bisa belajar mempelajari Alquran? Para sahabat bertanya pada Nabi. Para Tabiin bertanya pada para sahabat. Para tabi tabiin bertanya pada para tabiin. Begitulah seterusnya secara estafet sampai akhirnya pada generasi yang sudah menuliskan tafsirnya dalam bentuk buku. Mulai dari para Ulama, Mutakalimin, Teolog dan Cendikiawan Islam yang tersebar dalam sepanjang sejarah Islam.

Dari dulu hingga sekarang, Alquran telah menyiksa umat Islam untuk bersusah payah memahami apa kenapa ada apa dan apa maksudnya dari ayat demi ayat dalam Alquran. Bahkan hingga hari ini tafsir demi tafsir atas Alquran terus saja ditulis oleh umat Islam.

Itu artinya apa?

Alquran bagaikan sebuah sisi berlian. Setiap sisi memantulkan banyak cahaya dan warna. Begitulah pancaran dari makna yang terkandung dalam ayat demi ayat Alquran. Sehingga lain Mufassir (penafsir Alquran) akan berbeda makna yang ditangkapnya. Meskipun sumbernya tetap sama.

Lalu mana penafsiran yang paling tepat atas Alquran? Tafsiran ulama mana? Buku tafsir karangan siapa? Dan apa pula ukurannya? Lagi-lagi umat Islam disiksa urat syaraf otaknya oleh Alquran.

Maka disusunlah berbagai metode tafsir. Bahwa tafsir yang benar adalah dengan menggunakan metode begini begitu. Sehingga muncullah beragam metode penafsiran terhadap Alquran. Ada tafsir bil ma’tsur, ada tafsir mawdhu’iy. Kemudian dikenal lagi istilah ada tafsir bercorak Sastra, tafsir bercorak Filsafat/Teologi, tafsir bercorak fiqh (hukum), tafsir bercorak tasawwuf. Belakangan juga ada istilah tafsir kontekstual, tafsir feminis, dan seterusnya.

Wacana tafsir Alquran tidak pernah henti sepanjang zaman. Sehingga Qurais Shihab, dalam bukunya Mukjizat Alquran, pernah menulis bahwa Alquran adalah kitab (buku) yang paling banyak dibaca manusia di dunia. Paling banyak dipuji, dikritik bahkan dihujat. Tapi pernahkah turun Hakim Tertinggi yang menghakimi semua penafsiran atas Alquran? Pernahkah Tuhan, yang mewahyukan Alquran turun tangan mengadili semua tafsir tersebut bahwa ini atau itulah tafsir yang benar?

Sang Pengarang telah Mati!

Inilah ucapan dari seorang Strukturalis Perancis, Rolland Barthes.

Ketika saya membaca sebuah tulisan, sebuah buku, saya akan memahaminya sesuai dengan kapasitas saya sendiri. Saya akan menangkap maknanya sesuai dengan kemampuan saya, dengan segala metode penafsiran yang saya kuasai. Dan setiap orang akan memahaminya dengan cara yang berbeda dan makna yang berbeda. Walaupun yang dibaca adalah tulisan dan buku yang sama. Tapi benarkah itu yang dimaksudkan oleh penulisnya? Hanya penulisnya yang tahu.

Jika penulisnya masih hidup, saya bisa bertanya langsung apa yang ia maksudkan dengan apa yang ia tulis. Tapi setiap penjelasannya tetap saja akan saya pahami dengan cara dan kapasitas yang saya miliki. Itu sebabnya dihadapan seorang dosen yang menjelaskan sesuatu akan berbeda pemahaman para mahasiswanya. Itu sebabnya dihadapan seorang orator, para pengkotbah dan para penceramah, akan berbeda pemahaman hadirin yang mendengarkannya. Padahal sumbernya sama.

Itu artinya apa?

Antara Si Penutur, Sang Pengarang, terjadi proses gravitasi makna. Saling tarik menarik makna. Saling membangun makna. Dalam hal ini, sebuah tulisan, sebuah tuturan, ibarat sebuah rumah yang terbengkalai. Dan pembacalah yang menyelesaikan bangunannya. Dan masing-masing pembaca akan melanjutkan bangunanya dengan bentuk yang berbeda. Dalam hal ini, sebuah tulisan, sebuah tuturan, ibaratnya hanya sebuah stimulus. Sebagai sumber inspirasi. Sebagai percikan bunga api kecil yang akan membakar pengembangan makna yang lebih berkembang bagi para pembacanya.

Nah, bagaimana dengan Alquran?
Pernahkah Tuhan menjelaskan apa makna ayat demi ayatnya pasca Kenabian Muhammad? Pernahkan Tuhan turun ke bumi menjelaskan apa makna Alquran setelah zaman Kewahyuan berakhir?

Sang Pengarang telah mati!

Tuhan telah mati dalam Alquran
Jejak Tuhan yang tersisa di situ adalah huruf-huruf mati.
Dan pembacalah yang menghidupkannya kembali
Para penafsirlah yang menghidupkannya kembali.

Tapi manusialah yang membuatnya bicara. Artinya manusialah yang membangun makna dan menghidupkannya. Dalam hati, dalam pikiran, dalam tingkah lakunya. Dalam operasional hidup nyatanya sehari-hari.

Selesai.
Sebagai penulis tulisan ini sayapun telah mati!