Kisruh PSSI sebenarnya sejak lama, sejak Nurdin Halid – Nirwan Bakri menguasai persepak bolaan Indonesia dengan dugaan pasar taruhan milyaran sampai trilyunan ! Mungkin alasan itulah yang menyebabkan NH bersikeras mau mengatur agar dirinya tetap menjadi Ketua dan mengatur persepakbolaan. NH cacad sejak mula, kenapa orang yang bertentangan dengan statuta FIFA tetap bisa menjadi Ketua Umum PSSI ? Kenapa ? Inilah pertanyaan yang tetap memenuhi benak penggemar sepak bola , penggemar yang di Indonesia berjumlah jutaan jiwa.
 
Sepak bola menjadikan banyak orang fanatik dan benar-benar menggemari sepak bola ; mulai dari kuli-kuli pelabuhan, penyadap karet di Jambi, pekerja perkebunan sawit, pegawai-pegawai negeri ataulah swasta sampai direktur – manager dan menteri tak lepas dari kegemaran sepak bola. Banyak dari kita menjadi tak pernah puas dengan prestasi persepakbolaan Indonesia dan dugaan suap – sogok dan pengaturan skor pertandingan lokal, Liga bahkan sampai pertandingan perebutan kejuaraan Asean agaknya dugaan permainan tokoh-tokoh taruhan menyentuh persepak bolaan Indonesia. Barangkali itu pula yang menjadikan kekalahan final pertandingan Malaysia lawan Indonesia. Teman berdebat mengatakan bahwa : " Nggak mungkinlah diatur, kan tampak jelas pertandingan seru dan goal yang terjadi ? " Kalau soal pengaturan jelas harus rapi dan tak gampang tampak. Kalau gampang diduga , itu mah kampungan ! Pengatur skor bisa mengatur agar pemain tampak serius dan goal terjadi tampak benar-benar goal yang penuh perjuangan. Namanya aja pengaturan canggih ! Kenapa Malaysai yang dimenangkan ? Mengatur agar menang itu sulit, mengatur agar kalah ? Itu lebih masuk akal ……. asalkan jangan tampak "mengalah" ….. pemain canggih di luar negeri aja bisa diatur , apalagi PSSI ? Pengaturan skor untuk menangguk milyaran Rupiah atau puluhan juta US Dollar bukan barang aneh, itulah sebabnya pengatur taruhan mati-matian mempertahankan agar tetap mampu menjadi Ketua Umum serta mengatur menjadi pengurus PSSI. apa sampai menyogok biang pengurus FIFA ? Wah, itu kita nggak tahu, bisa jadi benar, bisa jadi cuma isu !
 
Nah, sekarang giliran kenapa Tjipta Lesmana memutuskan bahwa George Toisutta san Arifin Panigoro diputuskan bandingnya nggak disetujui ? Padahal jelas sekali bahwa NH- NB sudah mati-matian mencurangi pemilihan Ketua Umum agar mampu bercokol mengatur persepak bolaan Indonesia ? Padahal pada pengurusan sebelumnya ialah sebelum 2011 ternyata terjadi pelanggaran statuta FIFA yang didiamkan juga oleh FIFA ialah adanya aturan bahwa seorang narapidana dan telah diputuskan oleh pengadilan tak bisa menjabat Ketua Umum PSSI ? Nurdin Halid diputuskan pengadilan dalam kasus korupsi dan masuk bui. Toh tetap saja dengan rekayasa menjadi Ketua UMum PSSI sampai 2011, kenapa ? Dari urusan ini seyogyanya Tjipta Lesmana dan Gayus Lumbuan mampu menilai bahwa "menyenangkan NH – NB " dengan keputusan menolak banding GT – AP sangat tidak bijaksana. Keputusan banci Profesor Tjipta benar-benar memuakkan ! Apakah beliau berkeinginan memiliki citra bersahabat ? Apakah Citra bersahabat ini yang menggeluti otak seorang profesor tanpa unsur bijaksana ? Jelas keputusan inilah yang digunakan untuk menggugurkan pencalonan GT – AP dan untuk memuaskan NH – NB , jadi keputusan yang tampak sebagai Win Win Solution , tetapi sangat bernuansa Lose Lose Solution, suatu keputusan yang jelas menjadi malapetaka PSSI .
 
Ada tulisan yang mengatakan kekerasan kepala GT – AP harus dikecam, ini sangat tidak tepat dan keputusan GT – AP melanjutkan perjuangan kepengurusan PSSI layak diteruskan, layak diperjuangkan : ini soal PRINSIP ! Perjuangan rakyat penggemar persepakbolaan Indonesia ini sebagai PRINSIP untuk kemajuan persepakbolaan. Kalau FIFA dulu meluluskan Nurdin Halid , kenapa sekarang menentang habis-habisan George Toisutta – Arifin Panigoro ? Mereka penggemar sepak bola dan berjuang penuh pengorbanan untuk memajukan persepakbolaan Indonesia yang dirusak habis oleh kelompok "pengatur taruhan" dan orang-orang korup di PSSI, ini dugaan berat penggemar sepak bola. Jadi keputusan Professor Tjipta Lesmana dan Gayus Lumbuan bisa dianggap sangat tidak bijaksana dan cuma citra mereka sebagai orang netral ! Kenetralan yang sangat tidak pantas dan sangat merugikan bagi pasangan George Toisutta – Arifin Panigoro yang berjuang untuk memajukan persepakbolaan. Apa mengalah terhadap pengurus FIFA yang dulu meloloskan Nurdin Halid dan sekarang melarang pencalonan George  – Arifin pantas ? 
 
Inilah ciri-ciri yang terjadi dinegara ini : CITRA . Seperti juga pemerintah yang selalu mengutamakan citra, tampak dalam urusan pemberantasan korupsi , dalam urusan nggak mampu meredam kerusakan di DPR, dalam kasus Gayus, dalam kasus Sogok pemilihan wakil Gubernur BI, dalam urusan Mafia Pajak. Dan sekarang urusan pemilihan Ketua Umum PSSI dilakukan lagi oleh Tjipta Lesmana …… 
 
Jakarta, 26 Mei 2011