Carut marut kehidupan berbangsa dan bernegara sejak era reformasi boleh dibilang suram berkenaan dengan terjadinya serangkaian peristiwa konflik komunal bernuansa SARA pada awal tahun 2000-an lalu (Ambon, Poso, Sambas, dan Malut). Kemudian dilanjutkan dengan aksi-aksi terorisme serta munculnya arogansi keyakinan dan radikalisme. Suka atau pun tidak suka, era reformasi yang sebenarnya diharapkan ada pembaruan-perubahan yang positif, nasibnya hanya menjadi lembaran sejarah hitam bangsa kita yang sebelumnya terkenal dan diakui dunia sebagai bangsa yang ramah dan penuh toleransi.

 

Khususnya di era rezim SBY berkuasa, akumulasi dan intensitas terjadinya pelanggaran hak azasi manusi= pembiaran negara terhadap hak kaum minoritas (Ahmadiyah dan Kristiani) untuk beribadah dan pelarangan membangun rumah ibadah (gereja) selama tahun 2010 sampai awal bulan Pebruari tahun 2011 ini, sungguh sangat memprihatinkan dan memalukan atas harkat dan martabat bangsa kita di tengah pergaulan masyarakat dunia. Siapa pun warga negara Indonesia, tentu tidak akan mentolerir kalau kita disebut bangsa ‘biadab’.

 

Sehubungan dengan itu, catatan ini coba mengungkapkan secara singkat pengalam pribadi saya sebagai anak bangsa ketika menjalin hubungan sosial dengan sesama anak bangsa lainnya. Sebab, bangsa dan negara yang saya tahu ini (NKRI) didirikan oleh pendiri bangsa (Yong jawa, Yong Sunda, Yong Sulawesi, Yong Sumatra, Yong Maluku dan Yong Kalimantan), didasari oleh perasaan senasib dan sepenanggungan selama ratusan tahun dijajah oleh kolonial asing (belanda).

 

Pengalaman sebagai anak bangsa

Tahun 1975. Pertama kali ke Jakarta tinggal di Kawasan perkampungan Kawi-Kawi (Sentiong) Jakarta Pusat. Teman pergaulanku, selain anak-anak di kampong tersebut (Betawi, Banten, Palembang dan Jawa), juga sering didatangi kawan-kawan dari kompleks Siliwangi (dekat teater apolo, sekarang sudah digusur). Dapat dikatakan, dilihat dari segi hubungan sosial sebagai sesama anak bangsa sangat terjalin secara harmonis dalam canda dan tawa, terlebih ketika berjalan bersama sebagaimana umumnya anak gaul, seperti ke pesta undangan dan acara-acara anak muda lainnya. Berdasarkan pengalaman, sangat tabuh apabila ada yang menyinggung latar belakang primordial, dikatakan “sudah bukan jaman lagi mempersoalkan asal daerah dan/atau agama”.

 

Suatu hal yang menyenangkan suasana hidup di tengah penduduk yang mayoritas beragama Islam (mulai dari kawasan Tanah Tinggi, Kramat Pulo sampai di daerah Paseban), kami remaja-remaja yang beragama Kristen (kebetulan bermukim di kawasan tersebut), sebagaimana biasanya setiap minggu mengadakan acara ibadah pemuda/remaja pada malam hari yang diadakan dari rumah ke rumah di pemukiman padat. Suasananya benar-benar terasa aman dan penuh toleransi, di mana tetangga non-kristiani sama sekali tidak pernah komplain ketika di lingkungannya diadakan acara ibadah, seperti mendengar kidung-kidung rohani dan khotbah kristiani (Catatan: Pengalaman saya pertama kali memimpin ibadah, namun sialnya ketika giliran doa penutup konsep doa ter jatuh dan diam sejenak langsung amin hahaha). Begitu juga menghadapi hari-hari besar keagamaan, seperti lebaran atau natal, suasananya berlangsung dengan baik tanpa ada perasaan perbedaan antara mayoritas dan minoritas.

Catatan: Pada tahun 70-an kalau pun ada konflik sosial lazim terjadi antar gang di Jakarta (Siliwangi, Berlan, Halper, dan Sartana).

 

Tahun 1988. Kembali ke Jakarta, melanjutkan studi S2 di Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia di Jakarta. Kebetulan mendapat rumah kontrakan di kawasan Jl. Kenari Salemba, tepatnya di pemukiman yang dihuni umumnya Wong Solo; dan bertetangga dengan rumah kontrakan kawan-kawan dari Unhas. Dalam hubungan sosial dengan sesama warga dan kawan-kawan dari Unhas, juga dalam suasana harmonis. Pada waktu-waktu tertentu, di rumah kontrakkan diadakan acara ibadah kristen, sama sekali tidak merasakan sebagai warga minoritas. Begitu juga pihak warga setempat dan kawan-kawan dari Unhas tidak menunjukkan sebagai pihak mayoritas. Toleransi beragama benar-benar bukan mitos.

 

Tahun 1990. Mengikuti penelitian Primary Health Care, sponsored by Ford Foundation Amrik bersama dengan pembimbing tesis saya Prof. Dr Nico S. Kalangie di Ternate dan Tidore. Di Ternate, lokasi penelitiannya di desa Sulamadaha (mayoritas Islam). Yang paling berkesan dalam konteks hubungan sosial  dengan warga setempat selama penelitian di desa tersebut, yaitu kehadiran kami sebagai tim peneliti (semua Kristen) disambut dan dilayani dengan penuh keramahtamahan. Selesai penelitian selama sebulan, muncul inisiatif beberapa warga setempat memberi cendramata kepada tim peneliti, sebagai wujud ucapan terima kasih atas kegiatan penelitian yang telah kami lakukan. Ketika akan kembali pulang ke Manado, dengan penuh ihklas beberapa warga dari desa tersebut, spontan mengantar tim sampai ke bandara. Dan yang membuat saya pribadi terharu, saat pesawat meninggalkan landasan, saya masih sempat lihat lambaian tangan dari mereka yang mengantar kami di bandara. Terus terang saya sempat menetes air mata, karena mengenang sikap mereka yang begitu penuh kasih selama menjamu kami. Begitu juga di Tidore, kami mendapat perlakuan yang sama. Makanya, pada waktu terjadi konflik komunal (Islam-Kristen)di Ternate dan Tidore (awal tahun 2000-an), saya sama sekali tidak percaya kalau konflik tersebut terjadi secara spontan?

 

Tahun 1996.Pengalaman di desa Naha (multikultural= Islam (muhamadiyah/syarikat islam/nu), Kristen (GMIST, pantekosta, katolik). Saya sempat diundang oleh pemuda dari syarikat islam untuk bawakan khotbah jumat di mesjid. Ternyata mereka menduga saya beragama Islam karena nama saya sewaktu mengadakan penyuluhan diperkenalkan bernama albert husein; dan sebutan AWWB cukup meyakinkan..hahahaha

 

Tahun 1999. Euforia reformasi, mendorong saya menjadi sebagai deklarator PAN Sulut. Meskipun PAN sebagai partai terbuka/nasional dan didirikan di daerah saya Sulut mayoritas Kristen, tapi pada umumnya yang menjadi simpatisan dan anggota partai adalah dari kalangan Islam- Muhamadiyah (waktu itu Amien Rais Ketum Muhamadiayah). Bisa dimaklumi sosok Amien Rais dinilai oleh kalangan kristiani sebagai figur sektarian. Hal yang paling berkesan adalah ketika Amien Rais dan rombongan DPP PAN (AM Fatwah, Hatta Rajasa, dan Alvin Lie) diundang oleh pengurus PAN Sulut (Ketuanya Prof. Dr. AE Sinolungan, SH) untuk membantu korban bencana alam dan menghadiri perayaan natal PAN Sulut di gereja centrum Tondano. Giliran Amien Rais mengakhiri sambutan Natal, sempat menitik air mata menyaksikan indahnya musik dan tarian padang pasir yang ditampilkan oleh pemuda/remaja mesjid Kyai Modjo dari kampong Jawa Tondano (Jaton) di atas altar gereja. Padahal waktu itu, Ambon dan Poso sedang bergolak (konflik SARA).

 

Refleksi

Seperti banyak pendapat menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, kecuali perubahan. Artinya, dengan berjalannya waktu, kondisi objektif bangsa kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kini sedang mengalami perubahan. Akan tetapi, perubahan yang yang dimaksud, terjadi bukan kemajuan dalam arti semakin kokoh dan teguh dalam konteks format kebangsaan/nasionalisme (bhineka-tunggal ika), namun melihat gejala sosial yang terjadi khususnya dalam kehidupan keagamaan akhir-akhir ini, setuju atau tidak menunjukkan  perubahan dalam arti ‘involusi nasionalisme’ yang ditandai dengan semakin dieksploitasnya isu-isu mayoritas – minoritas di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini tentu hanya membawa kemunduran bagi kepentingan bangsa dan negara kita yang semakin terpuruk secara multi-dimensional. Oleh karena itu, perlu diingatkan jangan sampai, bangsa dan negara kita tercinta di abad 21 ini, semakin kehilangan identitas sebagai negara bangsa berdasarkan Pancasila & UUD 45. Merdeka.

————————————

Waraney Camp, 9 Pebruari 2011

Back to baby
Aku & sang lokomotif reformasi Prof Dr. M. Amien Rais