ket. fot 4: sebagaimana gadis belia lainnya Dee pun sering jatuh bangun dalam urusan cinta. Namun ia tetap tersenyum tegar.> Tesa – Anti Tesa dan Sintesa serta Semangat Dekonstruksi Ala Gautama

Dee The Truthseeker Girl bag 7b Tamat : Iha Dee – Ingatlah Dee

by Aajin Sangmusafir on Monday, May 16, 2011 at 10:1

 

Oleh karena itu, di dalam kekosongan, tiada bentuk, perasaan, pencerapan, pikiran, dan kesadaran. Tiada juga mata (caksuh), telinga (srotram), hidung (grahnam), lidah (jihva), badan (kaya), batin (manasa). Tiada bentuk (rupa), suara (sabda), bau (gandah), rasa, sentuhan (sparstavyam), maupun dhamma. Tiada unsur penglihatan (caksu dhatu), hingga tiada unsur pikiran dan kesadaran (mano-vinnanam dhatu). Tiada kebodohan (avijja), tiada akhir kebodohan (avijja-ksayo), hingga tiada usia tua dan kematian (jaramaranam-ksayo), tiada akhir dari usia tua dan kematian. Demikian pula, tiada penderitaan (dukkha), asal mula dukkha (samudayah), lenyapnya dukkha (nirodha), jalan menuju lenyapnya dukkha (marga). Tiada kebijaksanaan (jahna), pencapaian (prapti), dan akhir pencapaian (abhi samaya).

 

Pada tahun awal-awal pengabdiannya Pertapa Gautama tak lelah-lelahnya membangung psikologi manusia berdasarkan perspektif yang ia tempuh. Ia memformulasikan ajaran-ajaran fundamentalnya secara mengesankan dalam 4 Kesunyataan / Kebenaran / Kenyataan Luhur, yaitu :

kebenaran tentang adanya penderitaan (dukkha)

kebenaran tentang adanya sebab-sebab penderitaan (Dukkha Samudaya)

kebenaran tentang adanya lenyapnya penderitaan (Dukkha Niroda)

kebenaran tentang jalan berunsur 8 menuju akhir Dukkha (Dukkha Nirodha Gamini Patipada Magga)

 

Jalan berunsur delapan menuju lenyapnya penderitaan adalah :

– Pengertian Benar

– Pikiran Benar

– Ucapan Benar

– Perbuatan Benar

– Mata Pencaharian Benar Usaha Benar

– Perhatian Benar

– Konsentrasi Benar

 

Dalam mengembangkan Perhatian dan Konsentrasi Benar, Pertapa Gautama menekankan pentingnya kewaspadaan dalam melihat unsur-unsur yang membentuk persepsi manusia, yaitu :

– mata (caksuh)dan aktvitasnya penglihatannya, apa yang menarik bagi mata, apa yang tidak menarik bagi mata dan apa yang netral.

 – telinga (srotram) dan aktivitas pendengarannya, apa yang menimbulkan ketertarikan bagi telinga untuk mendengarnya, apa yang tidak menyukakan bagi telinga, dan apa yang netral.

– hidung (grahnam) dan aktivitas penciumannya, apa yang menimbulkan kegembiraan bagi hidung untuk menciumnya, apa yang menimbulkan ketidak sukaan bagi hidung untuk menciumnya, dan apa yang bersifat netral. 

– lidah (jihva) dan aktivitas pengecapannya, apa yang menimbulkan selera bagi lidah untuk dikecap, apa yang menimbulkan ketidakseleraan bagi lidah untuk dikecap, dan apa yang bersifat netral.

– badan (kaya) dan aktivitas ragawi yang dilakukan badan, apa yang menimbulkan kenyamanan untuk dilakukan, apa yang menimbulkan ketidaknyamanan untuk dilakukan badan, dan apa yang netral. 

– batin (manasa) dan aktivitas mencerap dan menginternalisasikan nilai pengalaman-pengalaman subyektif, apa yang enak, indah dan berkenan, apa yang tidak dan apa yang netral.

 

Jika bahasan tadi di atas menyoal manusia sebagai subyek yang beraktivitas, sekarang Buddha menyoal tentang obyek,  nilai dan persepsi yang ditimbulkan dari aktivitas si subyek, yaitu bentuk (rupa), suara (sabda), bau (gandah), rasa, sentuhan (sparstavyam), maupun dhamma (konsep).

 

Semua arus kemunculan dan pengembangan, penyusutan dan hilangnya fenomena bathin dalam indra dan pikiran dianalisa dalam meditasi pandangan terang, meditasi kebijaksanaan yang membelah dualitas. Dari semua fenomena itu diperiksa, adakah sebenar-benarnya aku, diriku, dan kepunyaanku (I, me, mine) yang kekal dan tak terkondisi?

 

Demikianlah sebagian inti fondasi Budhisme dalam kacamata psikologi meditasi.

Namun di akhir pengabdiannya justru Buddha menegasikan sendiri fondasi yang dahulu ia formulasikan. Mengapa? Karena ia melihat bahwa bathin sebagian muridnya sudah cukup tinggi untuk menangkap makna terdalam dari pengajarannya. Dulu ia menawarkan tesa, sekarang ia menyuguhkan antitesa, agar tercipta sintesa dari semua ajarannya.

 

Tesa- anti tesa dan sintesa adalah elemen dari evolusi peradaban, entah itu dalam ranah materi, ataupun dalam laku spiritual.

 

Tesa dan anti tesa adalah dua sisi dari satu keeping uang yang sama. Dan sintesa itu adalah nilai kegunaan dari si koin itu tadi, yang tidak akan ada tanpa salah satu sisi koinnya.

Tesa itu diadakan karena suatu kondisi dan permaksudan, begitu pula antitesa. Tanpa permaksudan maka tidak akan hadir semua fenomena konsep / dharma.

 

Pertapa Gautama memformulasikan ajaran karena adanya kondisi, permaksudan  dan kemendesakan, yang jika kondisi-kondisi ini berubah, maka akan berubah pula bentuk dharma ini.

 

Sebagaimana rakit, oh para bikkhu, diperlukan manakala kita akan menyebrang (kondisi, maksud dan kemendesakan), seketika kita sampai di seberang (kondisi, maksud dan kemendesakan yang baru),  perlukah kita terus menyeret-nyeret rakit itu di sepanjang jalan menuju rumah?

 

 

Demikianlah salah satu alegori yang selalu Buddha ajarkan kepada murid-muridnya tentang dharma. Dharma bagaikan rakit, yang dipakai ketika hendak menyebrang. Ketika kita telah menyeberang kita tidak perlu rakit, kita hanya perlu jalan saja.   

 

Konon menurut kisah buddhis, suatu saat pertapa Gautama ditanya oleh muridnya,

“ Guru telah empat puluh lima tahun guru mengajarkan dharma yang tak tertandingi, tak terhitung dharma mendalam yang telah anda babarkan. Jika itu harus disimpulkan dalam suatu rangkaian kalimat, seperti apakah dharma yang terdalam itu, ya Guru?

 

Buddha tersenyum dan menjawab:

“ Engkau keliru oh muridku, jika engkau katakan bahwa selama empat puluh lima tahun ini aku telah membabarkan dharma yang absolut, engkau keliru. Sebab tak sepatah Dharma yang aku ucapkan dari mulutku.

Mengapa, wahai muridku? Karena Hakekat Dharma yang sesungguhnya adalah tak terkatakan, hakekat dharma yang sejati mengatasi dualitas dharma dan adharma. Hakekat dharma yang dikatakan bukanlah dharma sejati. Dharma yang Sejati adalah tak terkatakan, tak tergambarkan. Dalam Dharma yang sejati tidak ada tinggi dan rendah, panjang dan pendek, lebar dan sempit, hina dan mulia.”   

 

“ Kebenaran bukanlah kebenaran kalau dinyatakan oleh mulut dan pikiran! Kebahagiaan bukanlah kebahagiaan kalau dinyatakan oleh pikiran. Aku Sejati pun bukan Aku Sejati kalau dinyatakan oleh pikiran. Semua adalah khayalan pikiran karena pelajaran-pelajaran yang pernah didengar atau dilihatnya meniru-niru dan mengulang-ulang barang lama pusaka usang “ demikianlah kata-kata Asmaraman Sukhowati Kho Ping Ho lewat  karakter Pendekar Tanpa Tanding Suma Han.

 

Semua kebenaran yang bisa ditangkap oleh bahasa, sebenarnya kebenaran yang dualitas. Kebenaran yang mengatasi dualitas adalah ketidakhadiran nilai subyektif dari manusia.

 

 

 

 

 

Pada Mulanya Adalah Kata-kata

 

Kita harus memahami bahwa semua berasal dari bahasa, dari konsep, dari upaya manusia untuk memaknai hidup. Untuk itu ia harus diakhiri dengan kesadaran bahwa bahasa itu sendiri adalah konsep, bahasa itu terbatas, suatu wadah yang berisikan persepsi yang menunjuk pada realitas, bukan realtas itu sendiri.

 

Menyadari hal ini, bagaimana mungkin kita bisa menerima bahwa ada suatu firman yang kekal tentang suatu yang haram dan halal, suatu yang suci dan tidak suci yang difirmankan oleh suatu tuhan yang absolut? Semua hanyalah konsep yang dibuat oleh manusia dalam kadar kesadaran yang rendah dan terbatas.

 

Kalau anda menemukan seonggok tahi ayam di jalan, lalu anda membuang muka, merasa jijik dan sebal, lalu menjauhinya  dan meludah. Sekarang pikirkan, benarkah tahi ayam itu menjijikan? Apakah konsep jijik itu melekat pada si tahi ayam atau pada pikiran anda?  Jika anda suka daging ayam, mengapa anda merasa jijik dengan tahi ayam yang adalah produk satu paket dari kehidupan si ayam?

 

Bagi lalat dan bakteri yang ada di dalam tahi ayam itu, tahi ayam adalah berkah, surga makanan. Bagi tanah, mineral yang terkandung dalam tahi ayam akan diserap dan didar ulang demi kelangsungan hidup lainnya. Coba anda posisikan diri anda menjadi lalat, bakteri dan tanah, maka kata jijik itu akan hilang.

Tolong bedakan antara membersihkan suatu tempat dari kotoran karena alasan higienis, dengan menilainya kotoran tersebut sebagai kejijikan dalam pikiran kita.  Jijik dan tidak jijik ternyata penilaian subyektif kita sendiri, yang telah dipermak oleh konsep yang ditanam oleh lingkungan dan diri kita sendiri.

 

Dari manakah logika babi itu haram? Adakah itu kebenaran absolut? Pernahkah terpikir bila anda terlahir jadi babi yang diharamkan dan dijijik-jijkan oleh milyaran manusia sepanjang jaman?

 

Pernahkah anda terpikr bila anda terlahir jadi orang yang anda sekarang anggap kafir, kaum yang dilaknat allah dsb? Allah macam apa itu yang melaknati ciptaannya sendiri (dengan meminjam logika penciptaan ala mereka)? Bukannya mendamaikan manusia malahan memfirmankan hukum-hukum yang tidak karuan. Jelas bahwa semua itu adalah produk pemikiran manusia, tepatnya manusia yang masih berkesadaran rendah dan terjerambab dalam dualitas. Namun kepongahannya gak ketulungan.

 

Bagi yang telah sadar maka semua fenomena di dunia ini tidaklah ajek, dan berinti. Kematian sebenarnya bukan akhir, sama seperti kelahiran bukanlah awal. Semua hanyalah rentetan penjadian yang terus menerus seturut dengan kondisi dan potensi yang mendukungnya.

 

 

Tiada Lagi Rintangan Pikiran  

 

Demikianlah, karena bodhisatva tidak mempunyai apa yang perlu dicapai, Ia berada dan berdiam di dalam prajnaparamita. Tiada rintangan dalam pikiran. Tanpa rintangan dalam pikiran, Ia tidak memiliki rasa takut serta tiada rintangan kesempurnaan. Hingga akhirnya, Ia mengatasi khayalan menyesatkan dan mencapai Nibbana Sejati.

 

Dalam semesta berpikir Buddhisme, meditasi dianggap sebagai perjalanan menuju suatu tahapan bodhicitta.

bodhi artinya : ketercerahan, yang bangun , yang terjaga, yang mengetahui.

Dan citta artinya pikiran atau juga kesadaran.

Jangan sampai tertukar antara vinnana ( kesadaran akan kedirian / ahankara) dengan citta (pikiran dan kesadaran yang lebih halus)  Vinnana adalah kesadaran akan keberadaan diri, ego yang masih berfokus pada kepentingan diri sendiri, sedangkan citta adalah kesadaran altruistik yang mengenali keterkaitan kesegalaan yang ada dengan dirinya.

Jadi tujuan dari meditasi dan laku hidup ini adalah meraih pemahaman yang benar, suatu olah batin, transformasi dari perenungan mulia, kepada realisasi kehidupan sehari-hari.

Perenungan mulia dalam meditasi adalah suatu tahapan evolutif yang sering disimbolikan sebagai alam-alam kehidupan. Seperti yang terdapat dalam tingkatan di candi Borobudur. Yaitu Kammadatu, Rupadatu, dan Arupadatu.

 

Bagi umat buddis Kammadatu, Rupadatu dan Arupadatu dibagi ke dalam 31 alam-alam kehidupan, yaitu alam-alam kehidupan sebenar-benarnya.  Ke alam mana nantinya kita terlahir bergantung dengan karma kita selama hidup ini.

 

Kita tidak akan berkutat dalam tafsir keimanan, bagi anda yang memahaminya, silahkan saja percayai itu. Tapi seperti yang saya katakan di awal, kita akan menelaahnya dalam kerangka filsafat, bukan kerangka keimanan.

 

Bagi saya pribadi :

kammadatu adalah state of mind / keadaan pikiran manusia yang masih terbelit dengan dualitas kesukaan dan kedukaan, kebahagiaan dan kesengsaraan. Keuntunga dan kerugian.

 

Rupadatu adalah keadaan pikiran manusia yang telah beranjak dari dualitas, namun masih terjerat dalam konsep-konsep yang mereka harapkan nyata, mewujud, bisa diperikan dengan gamblang, bisa didemonstrasikan, tak terbantahkan.

 

Mereka yang masih terjerat dalam konsep akan terus menerus mencari satu konsep kepada konsep lainnya, membandingkan, menganalisa, mencantelkan, dan bersukacita pada konsep itu. Seperti misalnya pemikiran tentang : Benarkah ada yang namanya Dewa Shiwa / brahma / Wisnu? Benarkah ada yang namanya Avalokitesvara, Samantabadra dan ksitigarba? Dimanakah sorga mereka? Siapa saja yang bisa masuk ke sorga mereka? Apa yang harus dilakukan di dunia ini agar saya bisa terlahir di sorga mereka? Berapakah panjang umur para mahluk di sana dll. Inilah surga-surga konsep.

 

Dalam meditasi sering ditemukan adanya ‘alam-alam’ dan pemandangangan yang indah, menyejukan dan menyenangkan, dimana si meditator ingin tetap tinggal di sana. Setiap kali ia bermeditasi ingin merasakan kembali berada di sana. Mengapa? Karena ia terikat dengan ‘bentuk, rasa, dan suara’ yang memikat dari ‘alam-alam’ ini.

– Arupadatu adalah kawasan dimana si meditator merasakan suatu ketidak-berdayaan ditengah-tengah kemaha-luasan alam semesta.

 

Menurut Buddha ada empat alam dalam arupadatu yang akan dilalui oleh meditator, yaitu :

– alam ruang tanpa batas

– alam kesadaran tanpa batas

– alam kekosongan tanpa batas

– alam bukan pencerapan – bukan pula non-pencerapan.

 Dan dari setiap alam itu meditator harus tetap menyadari bahwa itu bukanlah tahapan terakhir. Ia harus tetap lirih melihat bahwa tiada didapati aku, diriku dan kepunyaanku baik di dalam maupun diluar semua itu, terkait maupun terlepas dari semua itu.

 

 Bagi saya pribadi, inilah kawasan pikiran yang sangat-sangat halus dimana si meditator digoda untuk mendeskripsikan apa yang ia ‘lihat –rasa –sentuh – kecap dan tangkap / persepsi” ketika ia dapati kegirangan disitu ia digoda untuk terus melekat ke arah situ, ketika ia mendapatkan kehampaan dan ketandusan, bahkan kengerian ia digoda untuk menjauh dari kawasan itu.

 

Buddha secara tak langsung mengajar muridnya akan luasnya alam semesta yang tak terbatas ini. Alam semesta bersifat enigmatik, bagaikan buku yang setelah begitu lama kita habiskan waktu untuk membacanya, ternyata tidak kita dapati halaman terakhir. Seketika kita pikir ini adalah halaman terakhir, ternyata ini adalah halaman baru di bab berikutnya.

 

Dengan konsep yang ditanamkan pada diri kita, nafsu untuk mengupas alam semesta sampai batas terakhir – adalah sia-sia.  Dari pada bernafsu untuk menaklukan yang tidak bisa ditaklukan, mengapa tidak kita nikmati saja samudera kehidupan ini dengan tiada beban dan nilai? Lepas dari semua lekatan-lekatan penilaian – itulah nibanna – kedamaian yang tak tergoyahkan. Penghentian dari segala kerisauan. Hilangnya rasa dahaga seketika air minum itu kita tenggak. Ahhhhhhh – itulah nibanna.

Dengan penjelasan lain, empat alam arupaloka memiliki paralelnya pada perenungan Empat Kediaman Mulia atau Catur Brahma Vihara, yaitu :

 

Metta : perhatian, cinta kasih yang dipancarkan kepada semua mahluk hidup tanpa syarat 

Karuna: bela rasa atau empati yang dipancarkan kepada segala mahluk yang menderita  

Mudita: kegembiraan yang tulus atas keberhasilan orang lain, tanpa cemburu dan iri atas pencapaiannya.

Uppekha : ketenang seimbangan, suatu ketenangan yang timbul dari pembatinan atas perenungan pada sebab akibat. Ketidakgoyahan perasaan dan pikiran karena kegembiraan dan kesedihan, penerimaan dan penolakan, pujian dan celaan.

<ket. foto 5. Pertanyaan-pertanyaan Dee adalah pertanyaan manusia sepanjang jaman. Andaikan saja manusia Indonesia sering bertanya sekelas pertanyaan Dee, tentu bangsa ini akan lebih rasional dan cepat bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh budaya kekerasan, tahayulisme dan emosionalitas agama.>

 

 

Realization is to release and to realize

 

Demikianlah, karena bodhisatva tidak mempunyai apa yang perlu dicapai, Ia berada dan berdiam di dalam prajnaparamita.

 

Jikalau dalam tahap awal, Buddha Gautama tidak lelahnya memotivasi muridnya untuk mencapai ketenangan, mencapai pengetahuan yang lebih tinggi, mencapai disiplin diri, mencapai kebiasaan mulia, sekarang justru Gautama mengatakan bahwa bodhisattva tidak mempunyai apa-apa yang perlu dicapai. Mengapa?

Seperti halnya kisah hobbit di awal note ini, sebenarnya kesembuhan mereka dari awal sudah secara gradual mereka dapatkan seketika mereka keluar dari lembah yang kotor, sumpek dan suram, begitu pulalah manusia. Ia harus diajari dulu sesuatu yang perlu dicari, dikejar dan dicapai. Jika kebiasan baik sudah dibatinkan, maka semua sifat mulia itu bukan berasal dari tuntutan syariah, atau kitab-kitab ini itu, namun mengalir sendiri secara alamiah dalam dirinya. Sifat-sifat mulia itu, yang tadinya hanya idea, sekarang menjadi bagian dari hidup, terpancar secara alami dari bathin yang telah diolah.

 

Dalam buku saya yang pertama : Catatan Sang Musafir bab 5 Satori  sang bijak menasehati saya : :

“Pada hakikatnya, oh musafir, diri ini cerlang, bagaikan intan yang masih berupa batu kasar. Adakah perbedaan hakekat antara intan yang telah digosok dengan intan yang masih berupa batu? Tidak ada bukan? Seperti halnya intan yang ditatah, digosok, dipoles dan dibersihkan, demikianlah, oh musafir, bathin ini. Ia harus mengalami ketidaknyamanan agar kecerlangannya nampak.  Untuk itu aku katakan pembebasan itu adalah kecerlangan.

 

Seperti halnya sebuah jarum yang jatuh ke dalam genangan lumpur, oh Musafir. Seluruh bagian jarum itu terselimuti lumpur. Adakah jarum itu akan tertarik oleh magnet ketika ia didekatkan

padanya? Apakah sifat besi dalam jarum itu menghilang manakala ia terjatuh ke dalam lumpur? Tidak bukan? Untuk itu si jarum harus dibersihkan dahulu. Maka ia akan tertarik oleh magnet.

Untuk itu aku katakan pembebasan adalah lepasnya segala kotoran yang selama ini menutup hakekat bathin yang sebenarnya.

 

Musafir, manakala setitik air hujan jatuh ke dalam samudra. Apakah setelah ia masuk ke dalam samudera kita tahu dimanakah titik air hujan itu? Bisakah kita bedakan titik air itu dengan air

samudera? Tidak bukan? Dan segera setelah titik air hujan itu larut dalam samudera, dapatkah ia membedakan dirinya dengan air samudera? Ataukah ia larut dalam air samudera itu dan tidak

mampu membedakan dirinya dan air samudera itu? Bahkan kata ‘ia’ atau ‘diri ini’ pun, dan keinginan untuk mengidentifikasikan ‘diri ini’ pun yang berbeda dengan ‘diri yang lain’ sudah tidak

akan hadir bukan? Untuk itu aku katakan pembebasan itu adalah pelarutan.

 

Oh Musafir, dalam pada apakah kita bisa tahu bahwa kecerlangan, pelepasan dan pelarutan itu hadir?

Manakala dalam keheningan yang mendalam, ketika segala suara, gambaran, keceriaan, kesukaan yang ditimbulkan dari kesendirian, kegersangan, ketiada-pegangan, kekosongan dan

ketiada-pastian konsep, bathin ini tidak menemukan kaitan antara aku, diriku, dan milikku dari apa yang sedang dialami.

 

Bathin ini tidak menemukan aku, diriku, dan milikku dari semua yang nampak dalam benak dan pengalaman itu. Dalam apa yang dilihat, dirasakan, dicerap usahakan agar bathin ini tidak memberi diri dikaitkan dengan semua pengalaman itu. Bagaikan alam yang hening tiada memuji, tiada mengeluh dan hanya asyik melihat, dan menyokong, dan merahimi mahluk-mahluk hidup menjalani hidupnya dalam kodratnya masing-masing, demikianlah, oh musafir, bathin yang

hening itu. Dari alam semua lahir, dalam alam semua bermain dan kepada alam semuanya akan kembali.

 

 

Jadi pencapaian pada hakekatnya adalah pelepasan segala lekatan-lekatan kotor yang selama ini melekati batin kita sehingga bodhicitta yang seharusnya bersinar jadi tidak bersinar. Pada saat kita telah mencapai, kita sadari bahwa pencapaian itu pada dasarnya adalah perealisasian, dalam bahasa inggrisnya adalah release – melepaskan dan realize – menyadari dan menjadi / menggenapkan suatu kenyataan.

 

 Karena Ada Ilusi Maka Ada Pencerahan, Tanpa Ilusi  Tidak Akan Ada Pencerahan Tanpa rintangan dalam pikiran, Ia tidak memiliki rasa takut serta tiada rintangan kesempurnaan. Hingga akhirnya, Ia mengatasi khayalan menyesatkan dan mencapai Nibbana Sejati.

 

Dalam tradisi Zen terdapat ujaran: Karena ada ilusi maka ada pencerahan.  Tiada ilusi maka tiada pencerahan. Apa artinya ini? Coba ingat lagi kisah para hobbits.

 

Para hobbits di lembah itu termotivasi untuk bertemu dengan Deawa Penyembuh Sang Bagahawan Tanpa Nama. Dengan motivasi itu mereka keluar dari lembah yang pengap, sumpek dan tidak higienis.  Mereka terilusi untuk disembuhkan oleh sang dewa, padahal justru keberangkatan dari lembah itu sendir sudah suatu pencapaian gradual. Ketika di atas lembah mereka baru sadar bahwa semua kisah yang dulu mereka percayai sebagai konsep yang nyata ternyata tidak ada. Istana Kebahagiaan itu adalah metafora. Danau kehangatan surya adalah metafora. Sang Dewa Penyembuh Baghawan Tanpa Nama yang memberi nama baru kepada mereka yang telah mencapai Puncak Terang dan masuk dalam Istana kebahagiaan – ternyata adalah gambaran dari mereka sendiri – mereka yang telah sama sekali baru. Apanya yang baru? Kesadaran mereka yang baru.  Ahhhhhh ternyata ini tohhhhh……. – hingga akhirnya  ia mengatasi khayalan menyesatkan dan mencapai Nibanna Sejati.

 

 

<Ket. foto 6. Kadang dibalik kedewasaannya, Dee tetap gadis manja dan kekanak-kanakan. Namun siapa sangka ia seorang ibu angkat dari 2 anak yatim piatu ! Sungguh mulia perbuatanmu, Dee.>

 

Lepas – Lepas – Lepaslah Sudah

 

Buddha dari ketiga masa — lalu, sekarang, mendatang — dengan bersandar pada Prajnaparamita mencapai kebuddhaan pada tingkat yang tiada tara, yaitu samyaksambodhi. Oleh karena itu Prajnaparamita adalah mantra pengetahuan agung, mantra tiada tanding, mantra tertinggi, mantra yang pasti dapat melenyapkan semua dukkha, yang di dalamnya tiada cacat, harus dipahami sebagai kebenaran.

 

 

Saya percaya bahwa pelajaran dari Sutra Hati ini bersifat universal, dan sepanjang ada manusia yang rindu mencari hakekat sejati, sepanjang itu pula pesan dari Sutra Hati ini tetap bergema, maka dari itu manusia dari jaman lalu, sekarang dan yang akan datang dengan bersandar pada Perenungan Kebijaksanaan Sempurna, pasti akan mendapat berkah tiada tara.

Mengapa mantra Prajna Paramita disebut mantra pengetahuan agung, tiada tanding, tertinggi, dan dapat melenyapkan semua dukkha?

 

Tidak ada mantra dalam buddhisme ataupun hinduisme dengan sederet pujian yang begitu rupa selain mantra ini. Mengapa? Karena mantra ini bertujuan bukan untuk menjadi kaya, bukan untuk menjadi pintar, bukan untuk mendapatkan suatu pencapaian material, bukan untuk mendapatkan suatu pengetahuan adikodrati, bukan untuk dilepaskan dari suatu kemalangan, bukan untuk meminta supaya dilahirkan di surga Amitabha, surga Brahma, surga Avalokitesvara dsb. Melainkan mantra ini meminta kelepasan dari segala avidya / ketidaktahuan atau mungkin tepatnya dari ketidak-mautahuan yang disebabkan oleh ilusi nafsu dan konsep. Inilah mantra yang paling murni, suatu jeritan, permohonan, dan kerinduan untuk mencapai kesempurnaan.

 

Tadyatha : "GATE GATE PARA GATE PARASAMGATE BODHI SVAHA"

Demikianlah mantra ini kupanjatkan : "GATE GATE PARA GATE PARASAMGATE BODHI SVAHA

Sungguh menarik bahwa berbeda dengan mantra-mantra lainnya, mantra ini tidak diawali dengan bijaksara suci OM. Banyak biksu dan kaum awam menambahkan kata OM pada awalannya menjadi Om Gate Gate Paragate Para sam Gate bodhi svaha. Padahal naskah awalnya tidak berbunyi demikian.

 

Mengapa?

Jawaban pribadi saya adalah: Karena mereka yang belum sadar OM – yang melambangkan Tuhan / Kehidupan / Alam semesta seakan-akan suatu pihak di seberang sana – yang darinya kita memuji dan meminta.

Namun bagi mereka yang telah sadar OM – Tuhan / Kehidupan / Alam Semesta dan diri kita tidaklah terpisah. Tidak ada aku dan dia dalam nibanna. Bahkan keinginan untuk mengetahui dimana aku dan dimana dia tidak pernah tercetus.

demikianlah mengapa bijaksara OM tidak dihadirkan oleh penulis sutra hati ini.

 

Apakah makna dari Gate Gate Para Gate Parasam Gate Bodhi Svaha? Ternyata maknanya sederhana sekali

 

gate – gate berarti lepas – lepaslah

para gate = sudah lepas (bentuk past dari gate)

parasam gate = telah selesai lepas dengan sempurna (bentuk past partisipel dari gate)

bodhi  = tercapailah Pencerahan

svaha = jadilah pinta ku ini atau sama dengan amin atau sadhu.

Dengan kata lain mantra itu berbunyi

 

Lepas lepaslah biarkan kesadaran ini mencapai pantai seberang / peristirahatan abadinya – nyatalah.

 

Jutaan kaum budhis membaca doa ini tiap hari tanpa mengerti hakekat dari sutra ini. Apakah dengan menjapanya saja tanpa mengerti maksud dari mantra ini  akan berdampak secara signifikan?

 

Bersyukurlah anda yang membaca artikel ini.. Sebab di jaman dahulu ajaran ini diberikan kepada para bikkhu-bikhu senior  yang telah mencapai pemahaman yang tinggi.  Sekarang dibabarkan kepada anda dengan bahasa yang mudah.

 

Saya berharap saya tidak sedang melakukan kesalahan  fatal dengan memberikan rahasia ini kepada anda sehingga orang akan mengira bahwa semua ini murah, mudah dan tak bernilai.  Sepatutnya anda bersyukur jika bisa membaca dan memahami ajaran dan penjabaran sutra ini.

 

Entah karma apa yang saya dan anda lakukan sehingga kita bisa membacanya hari ini. Mudah-mudahan semua ini tidak sia-sia.

Nammo Baghavate Prajna Paramita

Terpujian Baghawati Prajna Paramita – personifikasi dari Sutra Prajna Paramita

Nammo Arya Avalokitesvara Bodhisatvaya Mahasatvaya

Terpujilah Yang Mulia Avalokitesvara Sang Suci Yang Maha Sadar  – personifikasi dari kesadaran mulia di dalam diri kita sendiri. Mekarlah – mekarlah – mekarlah kesadaran dalam diriku.

 

 

 

Avalokitesvara Turun dari Puncak Terang dengan Roso Melimpah

 

Aa Jin, saya akui kalau saya banyak terperangah dengan penjelasan Aa Jin. Saya tak terpikir sebelumnya bahwa hal-hal sederhana ternyata mampu memberi jawaban bagi pertanyaan saya. Di pihak lain, apa yang tersembunyi, sekarang tampak sedemikian adanya.

 

 

Dee, kembali saya ingatkan bahwa pemahaman kita saat ini baru sampai pemahaman kognisi, ada satu sisi lagi pemahaman yang belum dilakukan yaitu pemahaman karena pengalaman.

Jadi harap Dee tidak merasa seakan-akan di telah berada di garis finis. Not at all.  Sepanjang kita hidup, kita akan terus menambah pengetahuan dan berkarya. Lewat semua itulah perjalanan kita dimulai dan diakhiri, tanpa ada garis final.

Dalam dunia kebathinan ada istilah roso atau rasa. Roso ini bersifat dialektis.Ia tentu bukanlah rasa dalam artian inderawi seperti halnya manis, asam, asin, dan pahit, kesat dsb. Namun roso tidak bisa tanpa inderawi, atau lepas dari inderawi ketika dikatakan. Sebab bagaimanapun roso adalah yang dialami.

 

Roso adalah yang pengalaman kebenaran dialami, bukan sekedar dipahami. Roso adalah momentum. Roso adalah kairos dan khronos. (Baca catatan saya tentang “Kehidupan Kekal – Khronos apa Kairos?”)

 

Ia bukan kognisi, namun ketika digambarkan mau tak mau harus menggunakan kognisi dalam mengekposisi dan mendeskripsikannya.

 

Roso adalah ‘ ahhhhh ‘ yang keluar dari mulut orang yang haus berat dan ditawarkan oleh seguci air minum. Roso adalah kualitas pemahaman terdalam atas hidup. Roso itulah atma. Atma bukan materi halus yang terbang dari satu badan ke badan lain. Atma adalah kesadaran terdalam akan ketiada-terpisahan kita dengan segala mahluk hidup dan alam semesta. Dalam pemahaman inilah maka bisa dipahami : ayam atma brahma.  atma dan brahman pada hakekatnya adalah sama. Dan ia yang sudah mengalami kebenaran ini bisa mengatakan : aham brahma asmi, akulah sang Brahman.

 

 

Iha Dee – Ingatlah Dee  

 

Baiklah Aa, saya rasa saya paham akan hal itu. Lagian memang saya masih banyak belum mengerti. Satu lagi yang ingin saya tanyakan Aa,  jika kita tahu bahwa semua kebenaran ditemukan oleh manusia, bolehkah kita melanggar moral ? Bukankah manusia selalu melihat dalam dualitas benar –salah, baik – buruk , dan semua itu relative tergantung kesadaran si pengamat?

Dee, memang secara bathin kita harus melampaui dualitas. Namun setelah kesadaran melampaui rintangan pikiran, kita juga harus sadar bahwa dualitas bukan dilampaui bukan untuk ditiadakan, tapi untuk dilengkapi.

 

Seseorang boleh melakukan apapun yang dia. Bukankah moralitas itu relatif?

Namun ia tidak bisa bebas konsekwensi perbuatannya, termasuk dari penilaian negatif dari orang lain.

Menjadi sadar, bukan berarti menjadi penabrak segala adapt dan pelanggar segala hukum. Namun menjadi orang yang bebas.  Bebas karena melakukan kebajikan bukan sebagai tuntutan atau karena ingin mendapat upah surgawi, melainkan karena itu adalah bagian internal dari dirinya.

 

Kembali pada Avalokitesvara, yang sebenarnya adalah symbol kesadaran dalam diri kita. Dalam kisah lain dikatakan bahwa Avalokitesvara seketika mencapai atau tepatnya merealisasikan nibanna,  kedamaian absolute, segera ia terpikirkan akan nasib para mahluk hidup di alam semesta. Seketika itu ia bersumpah di hadapan para Buddha.

“Aku akan menangguhkan masuk ke dalam nibanna – aku akan kembali ke dunia nyata. Akan aku tolong, aku selamatkan, aku hapus air mata seluruh mahluk hidup, aku bawa mereka satu persatu menuju jalan kesempurnaan. Aku bantu mereka menuju nibanna. Jika tidak ada lagi mahluk yang menderita, jika tidak ada lagi mahluk yang berkeluh kesah, jika tidak ada lagi mahluk yang menjerit minta tolong kepadaku – maka aku akan masuk – menjadi yang terakhir menikmati kedamaian kekal nibanna.”

 

Tapi itu mustahil aa Jin, sampai kapan ada saat dimana mahluk berbahagia semua? Sampai kapan semua mahluk mencapai nibanna? Bukankah setelah penciptaan alam semesta ini akan disusul dengan penciptaan alam semesta berikutnya? Dan tak terhitung banyaknya alam semesta dan mahluk-mahluk yang ada di dalamnya, bukan?

 

 

Benar – untuk itulah janji altruistik para bodhisattva adalah meminta terus dilahirkan kembali untuk menolong para mahluk itu.

 

 

Jadi, kalau Avalokitesvara itu adalah symbol kesadaran dalam diri saya? Berarti saya harus minta dilahirkan terus donk? Apa gak cape?

 

 

Tidak Dee, jangan ambil itu sebagai konotasi pada dunia nyata. Ambilah makna metaforanya. Yaitu segera setelah turun dari Puncak Terang, Dee harus melihat mereka yang masih ada di lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar. Bantulah mereka sebisamu. Sambil membantuk mereka,  tidak lupa juga Dee mendaki Puncak Terang lagi.

 

 

Tapi saya merasa tidak pernah mencapai Pencerahan di Puncak Terang itu, Aa.

 

Tidak masalah, jangan menunggu sampai kamu merasa telah berada di Puncak Terang.  Kapan kamu membantunya kalau kamu terus menerus merasa belum sampai di Puncak Terang? Ingat itu semua adalah metafora.

 

Terkait dengan pertanyaan moral mu, maka saya hanya bisa katakan

Iha Dee, sarva dharma sunyata, ingatlah Dee kebenaran itu bersifat kosong, tiada inti yang mutlak.

Namun janganlah cepat merasa hampa makna. Jalanilah hidup dengan sukacita. Hiduplah dengan sedemikian rupa keluar dari cangkang kedirian yang sumpek yang hanya ingin memuaskan hasrat diri, keluarlah memancarkan sinar kasih kepada orang lain. Lakukanlah apa yang kau anggap baik dan berguna bagi dirimu dan orang lain. Jangan lakukan apa yang sebaliknya. Usahakanlah dirimu selalu berada dalam keadaan tenang, dimana hati nurani dan akal budimu tidak menuduhmu karena telah melakukan yang bertentangan dengannya. Itulah yang saya bisa katakan buat Dee – yang sekarang mendapat nama baru :  Avaloke 'Dee' svara – The Truthseeker Being.

 

Hahahahah gak matching – kebagusan amat.

 

Ucapan Terima Kasih

 

Aa saya ucapkan banyak terima kasih karena Aa telah banyak menjawab pertanyaan saya. Pasti begitu banyak waktu dan tenaga didedikasikan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan saya yang sulit, yang ironisnya, saya sering tidak mengerti.

 

Tidak apa Dee, sudah jadi janji saya dalam hidup ini untuk membantu siapapun. Saya bukan orang kaya, saya tidak bisa membantu orang dengan harta benda. Saya hanya memiliki sebegini ini, yang mungkin tidak berguna bagi orang lain.

 

Di lain pihak saya, dan seluruh pembaca korespondensi kita nanti, sangat berterima kasih kepada Dee.

 

Wah kenapa berterima kasih sama saya?

 

Karena Dee bertanya, maka ada jawaban, Seandainya Dee tidak bertanya, mungkin rahasia-rahasia ini tak tergali dalam bathin ini. Tanpa Dee, mungkin saya akan mati tanpa meninggalkan catatan berharga bagi generasi setelah saya. Terima kasih banyak Dee.

 

Sama-sama Aa, (menangis – terharu mode : On)

 

Juga kita harus berterima kasih kepada dua nabi Yahudi besar jaman moderen ini yang telah memfasilitasi korespondensi kita secara gratis, Bill Gates dan Mark zukerberg, beserta para staff Microsoft dan FB. Serta para kontributror wikipedia dan google.

 

Dan tak boleh dilupakan, para suciwan dan suciwati dari berbagai latar belakang budaya dan spiritual yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai penggiat kebajikan, yang darinya kita mendapat kisah-kisah teladan dan catatan-catatan yang sungguh mulia. Juga semua manusia sebelum kita yang telah meletakkan tangga peradaban sehingga kita bisa hidup lebih nyaman, dengan sains, dan teknologi lainnya. Ingat kita hanyalah satu cincin rantai peradaban yang terkait dengan cincin sebelum dan sesudah kita.

 

 

Epilog

 

Setelah korespondensi kami berakhir. Dee masih kadang-kadang menyambangi wall FB saya dan dengan malu-malu membubuhkan jempol.

 

Sekarang Dee menjadi ibu angkat dari dua anak yatim piatu. Anak-anak itu tidak bersama Dee, mereka ada di Indonesia. Uang yang Dee dapat dengan bekerja di China ia kirimkan setiap bulannya untuk dua anak angkatnya ini.

Sementara itu Dee sering menghabiskan waktu senggangnya membantu para manula di panti jompo di China.  Sungguh mulia perbuatanmu Dee. Semoga Kehidupan memberkahimu.

 

 

<ket. foto. 7. Kita patut berterima kasih pada Dee, sebab tanpa Dee yang bertanya, tidak akan ada jawaban dari saya. Tanpa ada Dee yang bertanya, mungkin saya akan melewatkan hidup ini tanpa meninggalkan karya, yang menurut saya, akan sangat dibutuhkan bagi orang-orang sesudah saya. Terima kasih, Dee>