Ket. foto 1: Banyak orang bertanya apakah Dee adalah tokoh rekaan Aa Jin? Tidak Dee adalah wanita sebenar-benarnya. Tentang identitas sebenar-benarnya tentu tidak etis saya katakan. Namun jika saya lukiskan kecantikan dan gaya-gaya innocence-nya, maka seperti inilah wajah cantiknya.

Aa Jin, setelah saya merenungkan korespondensi kita selama ini, setelah saya berjuang keras memahami apa yang tersurat dan tersirat dari semua pemaparan yang Aa Jin berikan, pertanyaan saya akhirnya kembali ke awal : Adakah hakekat sejati dalam kehidupan ini? Kalau ada, apakah hakekat sejati itu? Bagaimana cara mencapai hakekat sejati itu?

Wah Dee, pertanyaanmu selalu saja to the point dan membuat saya terkagum-kagum. Baiklah saya akan coba menjawabnya dengan versi saya. Adapun jika kamu nanti tidak setuju, anggaplah ini hanya pendapat saya saja, ekspresi dari pengalaman dan perenungan saya saja, tanpa ada penuntutan untuk dipercaya sebagai kebenaran mutlak.

Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, saya ingin Dee yakin dulu dengan pertanyaannya. Ketika Dee menanyakan tentang adakah hakekat sejati, maka jelas itu bukanlah pertanyaan yang bersifat saintifik, namun sebuah semangat pencarian makna hidup. Jika benar demikian, maka tentu saya tidak akan memaparkan kepada Dee tentang,  katakanlah theory big-bang, atau juga big bump, atau abiogenesis, atau evolusi dsb. Namun tetap akan saya jawab berdasarkan rasionalitas saya.

 

Untuk menjawab itu saya ingin memberikan sebuah kisah perumpamaan.

 

 

Ziarah Dari lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar ke Puncak Terang   

 

Konon hiduplah satu koloni besar para hobbit / manusia cebol di suatu lembah bernama Lembah Hingar Bingar Hirup Pikuk. Tidak diketahui kapan pertama kali leluhur para hobbit ini tinggal di perkampungan padat penduduk ini. Yang jelas tak lama setelah generasi pertama para hobbit itu tinggal di sana, mereka telah terjangkit  sakit penyakit.  Banyak di antara mereka mengalami muntaber, ada yang menderita sesak-sesak nafas dan asma. Wajah mereka kebanyakan pucat, dsb.

 

Ada cerita beredar di antara para hobbit, bahwa nun jauh di sana, di Puncak Terang, titik tertinggi Gunung Kebahagiaan Tertinggi ada seorang Dewa Penyembuh- Sang Baghawan Tanpa Nama. Di sana, para pelancong yang cukup beruntung akan mendapati istana Kedamaian.

 

Sang Baghawan Tanpa Nama akan memberi para pelancong yang berhasil masuk istananya hidangan Hikmat dan minuman Kehangatan Jiwa. Para pelancong ini akan disuruh berendam dalam telaga Sinar Kehangatan Surya.  Setelah sekian lama tinggal di sana para pelancong akan disembuhkan dari sakit penyakit mereka. Mereka kemudian akan diberi nama baru, nama yang tak seorangpun bisa mengucapkannya kecuali orang itu sendiri.

 

Para pelancong ini tidak boleh tinggal berlama-lama di sana. Setelah beberapa saat mereka akan dengan sendirinya turun dari Puncak Terang.  Namun setiap saat mereka mau kembali ke Gunung Kebahagiaan Tertinggi itu, mereka boleh kembali mendaki.

 

Sebenarnya ada banyak jalan kecil menuju Puncak Terang Gunung Kebahagiaan Tertinggi itu, sebanyak peziarah yang berhasil mendaki ke Puncak Terang tersebut. Namun anehnya setiap peziarah menempuh jalan yang beda dari peziarah lain. Jalan kembali akan sama dengan jalan pergi. Anehnya, sekali mereka turun gunung, dan menjelaskan pada orang lain, jalan itu tertutup bagi para pendengarnya.

 

Mereka yang pernah ke Puncak Terang tidak pernah saling bertemu di sana sebab pertemuan dengan Dewa Penyembuh, Sang Baghawan Tak Bernama adalah pertemuan pribadi antara sang peziarah dengan Sang Dewa Penyembuh saja. Tidak pernah melibatkan pihak ketiga.   

 

Ada banyak hobbit yang berusaha mendaki Puncak Kebahagiaan itu, namun banyak pula yang pulang kembali tanpa hasil, mengingat betapa sulitnya  dan licinnya jalan menuju Puncak Kebahagiaan itu.

 

Ada pula hobbit yang setelah berniat pergi ke Puncak Gunung Kebahagiaan Tertinggi itu, menghilang beberapa lama, dan kemudian ditemukan telah tinggal di gubuk kecil lain di sebelah atas lembah itu. Mereka tampaknya ogah untuk kembali ke Lembah Hingar Bingar Hiruk Pikuk.

 

Suatu saat seorang hobbit, dengan tekad yang kuat berusaha untuk mencapai Puncak Gunung itu. Dengan upaya yang berat ia melepaskan semua keterikatan kepada teman dan saudaranya di lembah Hingar Bingar Hiruk Pikuk, dan setelah beberapa tahun perjalanan yang penuh liku,  akhirnya ia berhasil mencapai Puncak Terang Gunung Kebahagiaan Tertinggi.

 

Dan apa yang ia lihat di sana? Ia tidak melihat apa-apa. Hanya kosong melompong. Ia terkejut untuk beberapa saat. Ia merasa dibodohi, namun setelah beberapa lama ia mencari apa yang ia pikir seharusnya ia temui, ia tertidur.  Dalam tidurnya ia merasakan ketenangan luar biasa. Suatu kelegaan yang tak pernah ia rasakan ketika ia masih hidup di lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar. Ia terbangun dan dan segera menyadari perbedaan yang hakiki telah terjadi dengan seketika di dalam dirinya : kini secara alami ia melihat dunia dengan perspektif yang sama sekali berbeda dengan perspektif yang ia pakai sebelum ia mencapai Puncak Terang di Gunung Kebahagiaan Tertinggi. 

 

Dalam kesunyian dan kehangatan sinar mentari suara burung, desiran angin yang menerpa daun-daun di pohon perdu dan hembusan  langsung ke badannya seakan-akan menjadi simfoni indah tanpa konduktor.

 

Tadinya betapa ia berharap dapat bertemu dengan Sang Dewa Penyembuh –  Baghawan Tanpa Nama. Alangkah bahagianya jika ia bisa memasuki Istana Kedamaian dan menyantap hidangan Hikmat dan minuman Kehangatan Jiwa.

 

Namun setelah beberapa lama  ia hanya menemukan dirinya sendiri di sana, menyatu dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya,  ia sadari adalah segala sakit penyakit yang ia derita ketika masih hidup di Lembah Hingar Bingar Hiruk Pikuk sirna sudah.

 

Kehangatan sinar mentari, kesegaran udara dengan kadar oksigen yang murni, bersihnya udara, heningnya suasana puncak, itulah yang menyembuhkannya. Segera ia sadar bahwa itulah yang ia cari. Ia tidak perlu lagi sosok Dewa Penyembuh, ia tidak perlu lagi sebangun istana, dan sehidangan makanan dan minuman secara fisikal. Ia telah sembuh. Ia sekarang tahu bahwa kesembuhan itu secara gradual telah terjadi seketika ia bertekad untuk meninggalkan Lembah itu dan berkulminasi ketika ia berada di Puncak Terang.

 

 

Setelah sekian lama menghirup udara Puncak Terang dan berenang dalam kehangatan sinar mentari. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali lagi ke bawah. Kemanakah ia harus tuju? Kembali ke Lembah Hingar Bingar? Mungkin. Mungkin saja, dengan maksud untuk memberi motivasi kepada teman-temannya yang lain. Agar mereka bisa sembuh dari penyakit asma, gatal-gatal dan muntaber.

 

Namun apakah teman-teman mereka di Lembah akan mempercayai ceritanya? Tidakkah mereka justru akan kecewa jika diceritakan bahwa tidak ada Istana Kebahagiaan itu, tidak ada Telaga Kehangatan itu, tidak ada Dewa Penyembuh Bagawan Tanpa Nama itu.

 

Tidakkah keterusterangan ini justru akan membuat mereka mundur dari keinginan untuk sembuh?

 

Apa yang mereka butuhkan sebenarnya adalah keluar dari Lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar yang padat penduduk, tidak higienis, kotor, buram dan pengap itu.

 

Setelah lama mempertimbangkan. Maka ia bertekad untuk tinggal di suatu tempat yang lebih tinggi. Sesekali ia akan mengunjungi teman-temannya di Lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar untuk memotivasi mereka.  Dalam hatinya ia berjanji kelak ketika ia memotivasi teman-tmeannya ia akan sebisa mungkin meminimalisir bumbu-bumbu cerita, tentang sosok  sang dewa penyembuh, istana dan telaga serta elemen mumbo-jumbo lainnya. Ia hanya akan katakan,' bangkitlah dan tempuh jalanmu sendiri.' 

 

Ia mulai sadar mengapa ada beberapa hobbit di generasi lalu yang sesudah lama tak terdengar beritanya semenjak kepergian ke Puncak Terang, ternyata tinggal di gubuk  sederhana di bukit sebelah atas dari Lembah Hiruk Pikuk. Mereka

memulai kehidupan baru di tempat yang jauh lebih sehat, dengan kebiasaan dan disiplin hidup yang baru. 

 

Lucunya para Hobbit tidak pernah menganggap kisah-kisah mereka ini. Sebab penjelasan mereka terdengar kering, samar dan tak berselera. Pesan mereka terasa hampa, kosong, nihil dan tak layak dipercayai. Begitulah sanggahan para hobbits di Lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar.

 

                      ***

 

 

 

Itulah Dee kisah perumpamaan dari saya sebagai jawaban dari pertanyaanmu.

 

 

Hmm sepertinya saya mengerti sekarang. Para hobbit  itu gambaran dari kita, yah Aa? Lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar itu adalah latar belakang dan kondisi kejiwaan kita yang masih senang dengan pergelutan dan pikiran yang kacau balau.

Para hobbits sakit-sakitan karena kondisi kejiwaan yang sumpek, penuh dengan ketidaksehatan mental. Untuk menyembuhkan sakit penyakit mental ini, seharusnya mereka keluar dari lingkaran setan di Lembah itu dan berangkat sendiri-sendiri.

 

Karena ada keinginan untuk sembuh maka mereka terobsesi untuk berziarah ke Puncak Terang, bertemu dengan Dewa Penyembuh dan Berendam di telaga Kehangatan. Dsb.

 

Yang mereka tidak sadari adalah bahwa kesehatan secara gradual dan evolutif telah mereka dapatkan seketika mereka melangkah meninggalkan lembah itu. Lembah itulah masalah utamanya.

 

Adapun  rintangan mereka berikutnya adalah menyadarai kalau obsesi untuk bertemu sang dewa dan menginap di istana itu adalah sebentuk kisah saja. Hanya cerita pengantar. Tujuannya adalah perjalanan menuju kesadaran itu sendiri.

 

Benarkah begitu Aa?

 

 

 

 

Tepat Dee, kamu pintar sekali.

 

 

Namun kisah ini terdengar begitu simplistik, terlalu sederhana, menyederhanakan semua fenomena agama dan pencarian spiritual manusia. Di sini di China, banyak orang meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk hidup di biara, hidup membujang, tidak mengenal kehidupan modern, dsb. Mereka membaktikan hidupnya untuk menari hakekat  hidup dsb. Kalau saya paralelkan dengan kisah perumpamaan dari Aa, rasanya kisah itu terlalu menyederhanakan semua fenomenologi agama.

 

 

Great , justru Dee sendiri membuktikan kisah itu . Dee sekarang mengerti dan merasakan sendiri, khan?  ketika saya ceritakan langsung tanpa buih-buih bahasa puitis , Dee tidak percaya, seperti halnya para hobbit yang menutup mata dan telinga ketika para peziarah kembali dari Puncak Terang dan berkata: 

 

“ Tidak ada dewa penyembuh, tidak ada istana kebahagiaan, yang ada adalah gaya hidup sehat, dan gaya hidup sehat itu mempersyaratkan pola hidup yang sehat, baik raga dan mental.”

” Kamu berbohong, kamu penipu. Kisahmu tak sama dengan kisah yang kami terima secara turun temurun. “ kata hobbit kepala suku.

”Ya benar kamu pembohong. Kisahmu justru akan membinasakan bibit-bibit kerinduan para hobbit untuk bertemu dengan sang dewa. Kalian perusak agama dan mitos yang selama ini kami puja dan yakini.” Teriak yang lainnya.

”Enyahlah dari sini hei kau peziarah bodoh, kami tidak akan menanggapi kisah perjalananmu. “  timpal yang satu lagi.

 

Dan ironisnya justru yang merespon dengan keras adalah mereka yang tidak pernah melangkahkan kaki keluar dari Lembah Hiruk Pikuk Hingar Bingar menuju Puncak Terang. Mereka hanya cukup puas dengan memelihara dan mengagung-agungkan kisah perjalanan para peziarah, bukan menjadi peziarah itu sendiri.

 

 

hmmmm I guess I see now,  Aa.

<ket. foto 2 : tentu saja ini bukan foto Dee sebenarnya. Ini adalah Zhou Dong Yu, artis muda berbakat dari China. Aktingnya sebagai Jing Qiu dalam Under The Howthrone Tree – mengingatkan saya akan Dee. >

 

Satu Jalan Dua Sisi 

 

Dee, ada dua sisi dalam satu jalan pemahaman.

Sisi pertama, pemahaman yang timbul karena tercerahnya kognisi / rasio.

Sisi kedua , pemahaman yang timbul dari pengalaman. Sisi kedua ini melibatkan 3E, experiment, experience & expertise (percobaan, pengalaman dan keahlian).

 

Apa yang Dee tangkap sekarang hanyalah kebenaran secara kognisi, kebenaran lewat rasio. Dee membaca pemaparan saya dan menangkap lewat rasionalitas yang ada pada Dee. Sedangkan mereka yang melakukan laku ini dan itu, semacam biksu, pertapa, para Sufis dll mencoba memahami atas dasar 3 E ini. Idealnya, kedua sisi pemahaman ini harus berjalan seimbang dan serempak. Namun seringkali tidak seperti itu.  Ada orang yang berjalan di sisi pertama, sehingga memutlakan rasio dan berkeliling-keliling dalam perbantahan kata-kata. Ada yang berjalan di sisi kedua, dan terjebak dalam pemahaman intuitif subyektif.

 

Apa yang Dee pahami ini hanyalah modal dasar  untuk meretas menuju percobaan, pengalaman dan keahlian. Dan sama seperti kisah di atas, dimana setiap peziarah memiliki jalannya masing-masing, mereka pulang dari dari Puncak Terang dengan jalan yang sama ketika mereka pergi. Tidak ada satu jalan untuk dua orang, karena masing-masing memiliki rute yang berbeda. Itulah kenapa Buddha mengatakan “aku yang menunjukan jalan, dan engkau sendiri yang menapaki jalan itu."

 

Tidak ada satupun orang yang akan menggendong anda ke Puncak Terang itu dari awal sampai akhir. Bahkan seorang Guru hanya menggendong murid sampai di batas tertentu. Buddha pernah melewati jalan itu, ia kembali untuk memberi tahu rambu-rambu dan pos-pos yang mungkin akan ditemui pelaku olah batin. Namun tidak berarti semua fenomena olah batin itu harus identik sama dalam detilnya.

 

 

Hmmm saya mikir keras Aa. Berarti perjalanan spiritual itu tidak sesederhana yang disebutkan dikisah tadi, sekalipun nampaknya sederhana.

 

 

 

 

That’s it. Dan apa yang saya katakan ini tidak berasal dari rasio belaka, namun suatu usaha untuk menggugah mereka yang terpanggil untuk meretas jalan mereka sendir, yang melibatkan 3 E tadi, experiment, experience and expertise.

 

hmmmmm (merenung mode : ON). Aa lagunya donk, biar saya bisa lebih paham. Aa khan biasanya punya stock lagu buat setiap perenungan.

 

Boleh. Boleh. Kebetulan tadi Dee menyinggung tentang perjalanan spiritual para biksu di China, sekarang saya ingin kasih Dee lagu yang lain dari pada yang lain. Tapi bukan lagu Cina, melainkan lagu berlirik India. Jangan tertawa dulu, ini bukan lagu Bolliwood, jadi Dee gak bisa menari-nari nangis dan ketawa  dekat  tiang listrik atau pohon. Saya jamin deh, Dee gak akan bisa mengikuti liriknya dengan mudah, sebab nada dan penggalan dalam mendaraskan kata-katanya agak berbeda.

 

Ini lagunya, Dee bisa download di  :

 

http://www.youtube.com/watch?v=eN77Z3QwaB4

 

Dan ini liriknya :

 

Arya Avalokitesvara Bodhisattva gambhiram prajnaparamita caryam caramano

vyavalokayati sma panca-skandha asatta sca svabhava sunyam pasyati sma

Iha Sariputra, rupam sunyatam, sunyata iva rupam

rupa na vrtta sunyata, sunyataya na vrtta sa-rupam

yad rupam sa-sunyata ya sunyata sa-rupam

Ivam iva vedana samjna sam-skara vijnanam

 

Iha Sariputra sarva dharma sunyata-laksana

anutpanna aniruddha amala a-vimala, anuna a-paripurna

Tasmat Sariputra sunyatayam na rupam

na vedana, na samjna

na samskara, na vijnanam

na caksu srotra ghrana jihva kaya manasa

na rupam sabda gandha rasa sparstavya dharma

na caksur-dhatu yavat na manovijnanam-dhatu

na avidya, na avidya-ksayo

yavat na jara-maranam na jara-marana ksayo

na dukkha, samudaya, nirodha, marga

na jnanam, na prapti, na abhi-samaya

Tasmat na prapti tva bodhisattvanam

prajna-paramitam a-sritya vi-haratya citta avarana

citta avarana na shitva na trasto

vi-pariyasa ati-kranta nistha nirvanam

Tri-adhva vyavasthita sarva buddha prajna-paramitam

a-sirtya anuttara-samyak-sambodhim abhi-sambuddha

Tasmat jnatavyam prajna-paramita maha mantra

maha-vidya mantra, anuttara mantra

asama-samati mantra

Sarva dukkha pra-samana satyam amithyatva

prajna-paramita mukha mantra

 

tadyata : "GATE GATE PARA GATE PARASAMGATE BODHI SVAHA"

                               ***

 

 

Hah lagu apa ini Aa? Kirain lagunya Sharuk Khan. Enak sih, tapi lantunan dan penggalan katanya susah diikuti. Lagu apa sih ini,  Aa?

 

 

Hahahaha ini adalah sutra Dee, atau dalam bahasa orang kristen adalah Surat / Kitab, atau juga dalam bahasa islam disebut Surrah.  Lirik di atas adalah isi dari Sutra Hati Prajna Paramita. Sutra yang sangat terkenal bagi Buddhisme Mahayana dan Vajrayana.

 

Tolong jangan kaget, Dee, saya tidak sedang mempromosikan suatu agama tertentu, namun karena ini terlintas di kepala saya, dan Dee juga menyebut-nyebut tentang kehidupan Biksu di China, maka inilah yang saya bisa berikan pada Dee.

 

Kita akan membedah dan mengambil saripati dari Sutra buddhis ini, bukan untuk mengagungkan suatu agama, namun untuk mencari jawaban dari apa yang Dee tanyakan. Umat Buddha melihatnya dalam perspektif keimanan, sedangkan kita akan menganalisanya secara jernih dan lirih dalam perspektif filsafat, sebab lewat filsafat barat dan timurlah saya mendapat perpektif baru dalam hidup ini.

 

 

Jika diterjemahkan maka sutra Hati itu berbunyi sebagai berikut:

 

Pada saat Yang Arya Bodhisatva Avalokitesvara sedang dalam kegembiraan yang mendalam atas  meditasi perenungan Kebijaksanaan Sempurna (Prajnaparamita),

Beliau memandang dari atas dan tertampaklah  bahwa panca skandha (lima kelompok penopang kehidupan) itu sebenarnya kosong. Hingga akhirnya, Ia mengatasi semua penyakit dan penderitaan.

Wahai  Sariputra, bentuk (rupa) tidak-lah dapat dibedakan dari kekosongan (sunyata), dan kekosongan tidak dapat dibedakan dari bentuk. Bentuk adalah kosong dan kosong adalah bentuk. Demikian juga perasaan (vedana), pencerapan (sanna), pikiran (sankhara), kesadaran (vinnana).

Wahai Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak sunyata; mereka tak muncul, juga tak berakhir; tidak kotor. juga tidak murni bersih, tidak kurang, tidak lengkap/bertambah.

Oleh karena itu, di dalam kekosongan, tiada bentuk, perasaan, pencerapan, pikiran, dan kesadaran. Tiada juga mata (caksuh), telinga (srotram), hidung (grahnam), lidah (jihva), badan (kaya), batin (manasa). Tiada bentuk (rupa), suara (sabda), bau (gandah), rasa, sentuhan (sparstavyam), maupun dhamma. Tiada unsur penglihatan (caksu dhatu), hingga tiada unsur pikiran dan kesadaran (mano-vinnanam dhatu). Tiada kebodohan (avijja), tiada akhir kebodohan (avijja-ksayo), hingga tiada usia tua dan kematian (jaramaranam-ksayo), tiada akhir dari usia tua dan kematian. Demikian pula, tiada penderitaan (dukkha), asal mula dukkha (samudayah), lenyapnya dukkha (nirodha), jalan menuju lenyapnya dukkha (marga). Tiada kebijaksanaan (jahna), pencapaian (prapti), dan akhir pencapaian (abhi samaya).

Demikianlah, karena bodhisatva tidak mempunyai apa yang perlu dicapai, Ia berada dan berdiam di dalam prajnaparamita. Tiada rintangan dalam pikiran. Tanpa rintangan dalam pikiran, Ia tidak memiliki rasa takut serta tiada rintangan kesempurnaan. Hingga akhirnya, Ia mengatasi khayalan menyesatkan dan mencapai Nibbana Sejati.

Buddha dari ketiga masa — lalu, sekarang, mendatang — dengan bersandar pada Prajnaparamita mencapai kebuddhaan pada tingkat yang tiada tara, yaitu samyaksambodhi. Oleh karena itu Prajnaparamita adalah mantra pengetahuan agung, mantra tiada tanding, mantra tertinggi, mantra yang pasti dapat melenyapkan semua dukkha, yang di dalamnya tiada cacat, harus dipahami sebagai kebenaran.

 

Demikianlah mantra ini diucapkan:

"GATE GATE PARA GATE PARASAMGATE BODHI SVAHA"

                                                   ***

 

Mari kita membahas satu persatu.

 

 

Latar Belakang Sutra Hati

 

Sutra Hati Prajna Paramita mungkin adalah sutra yang paling pendek, sederhana, ringkas, namun juga paling tinggi nilai pencerahannya. Itulah mengapa ia disebut hrdaya sutra atau Sutra Inti, Sutra Hati, atau Sutra Jantung;  jantung dari Jalan Pencerahan Para Buddha.

 

Secara umum banyak ahli yang mengatakan bahwa Sutra Hati ini adalah ringkasan dari Sutra yang lebih panjang yaitu Sutra Maha Prajna Paramita. Ada juga yang mengatakan bahwa penulis Sutra Maha Prajna Paramita dan Sutra Hati Prajna Paramita itu adalah Yogi Nagarjuna, salah satu penggagas filsafat Madhyamika. Kita tidak tahu dengan pasti. Namun yang jelas sutra Hati ini pastilah ditulis oleh seseorang dengan kemampuan analisa dan kedalaman kebijaksanaan yang luar biasa.Kita dapat berandai-andai bahwa dalam kedalaman meditasinya, ia seakan-akan kembali pada jaman Buddha Gautama ketika sedang berbicara pada Sariputra, muridnya yang paling cerdas. Buddha memaparkan rahasia inti dari jalan pencapaian menuju Nibanna.

 

Kemunculan sutra-sutra Mahyana ini adalah sebagai berikut:

 

Kira-kira 400 sampai 500 tahun setelah mangkatnya Pertapa Gautama, Buddhisme telah tersebar di berbagai tempat di anak benua India sampai ke tempat sejauh Mesir dan Persia. Sekalipun demikian Buddhisme di India mengalami degradasi. Banyak para petapa yang mementingkan keheningan pertapaan dari pada memberi dampak nyata pada manusia sekitarnya. Banyak pula para pertapa yang menjadikan pertapaan sebagai pelarian kekanak-kanakan dari beratnya hidup.

 

Banyak bikkhu dan kaum awam yang menjadikan kehidupan membiara sebagai ladang mencari nafkah. Antara satu sekte dengan sekte lain sibuk mengagungkan sutra dan vinaya mana yang lebih asli, lebih agung dan lebih adiluhung. Dan mereka meninggalkan panggilan untuk berbuat dan berbuah bagi manusia lainnya, yaitu kaum awam.  

 

Di sisi lain agama Brahmana, agama inti dari Hinduisme, yang darinya Buddhadharma lahir justru lebih mendapat tempat di hati masyarakat. Brahmanisme, bukannya menyusut setelah Buddhisme lahir dan berkembang, justru Brahmanisme makin kuat tertancap di hati masyarakat India. Mengapa? Karena berbeda dengan Buddhisme yang terlalu rasional, kering dalam perayaan dan terlalu berfokus pada kehidupan membiara, Brahmanisme justru agama perayaan, agama rakyat dan agama penyembahan. Rakyat tidak butuh rasionalitas yang tajam tapi kering. Rakyat butuh sesuatu yang darinya kita mencerminkan moral dan harapan, dan permasalahan dari kehidupan sehari-hari.

 

Ada pepatah yang mengatakan :

 

‘Jika kita hendak merubuhkan pagar di depan rumah kita, hendaknya kita bertanya dahulu pada ayah dan kakek kita, kenapa mereka dulu mendirikan pagar tersebut.’

 

Kiranya hal ini terjadi pada buddhisme. Pada awal kelahirannya, buddhisme, sekalipun melalui cara-cara yang intelek dan beradab,  berusaha ‘ membunuh ’ ajaran tentang para dewa dan segala tek-tek bengek persyaratan pemujaannya.

 

Pertapa Gautama, seorang pangeran yang sangat intelek, menolak ketuhanan yang bersifat pribadi dan menjinakan kekuasaan para dewa dalam benak rakyat India. Dengan menolak suatu ketuhanan yang berpribadi maka sebenarnya Gautamalah yang lebih dulu mendeklarasikan tuhan telah mati – jauh sebelum Nietzsche melakukannya.  

 

Seperti seorang teman saya pernah katakan “ Buddha Gautamalah yang telah berhasil membunuh tuhan secara beradab, dan tradisi pembunuhan tuhan itu dilestarikan dalam semangat Theravada.”

 

Sebelum masa Gautama  rakyat India terilusi dengan dewa-dewi sebagai suatu pribadi-pribadi yang ajek, nyata, faktual dan secara signifikan mengurusi hajat hidup manusia. Namun setelah Gautama membabarkan dharmanya, rakyat India mulai sedikit demi sedikit mengarahkan perhatiannya dari dewa-dewi sebagai pribadi yang ajek  – kepada gambaran yang lebih abstrak yaitu potensi sifat-sifat luhur dari dirinya sendiri. Dewa-dewi adalah simbol dari nilai-nilai luhur dari manusia itu sendiri.

 

Dalam kisah-kisah Theravada dan juga Mahayana dikisahkan bagaimana para dewa dan para Brahma sendiri menghormat kepada Buddha, yang adalah seorang manusia. Apakah artinya ini? Ini berarti bahwa yang lebih mulia dari semua yang ada adalah manusia itu sendiri, manusia yang telah sadar, manusia yang memancarkan semua hakekat kebijaksanaan dan semangat altrusitik.

 

Buddha adalah simbol dari manusia yang telah tercerahkan, sehingga dewa-dewa, yang adalah simbol dari elemen-elemen semesta dan nilai-nilai luhur manusia, dan para Brahma, simbol dari kesadaran alam semesta yang halus,  tunduk pada Buddha.

 

Manusialah yang memunculkan kisah-kisah kedewaan dan sifat-sifat luhur itu, tanpa manusia semua itu tidak akan muncul. Maka dari pada itu, tujuan dari memuja sifat-sifat luhur itu tiada lain adalah terwujudnya manusia yang berintegritas, manusia yang memiliki karakter yang luhur, mulia dan suci. Itulah Buddha. Dan kepada manusia dengan kesadaran tinggi sedemikian itu, semua elemen semesta dan kesadaran luhur bersinergi dan berharmoni.

 

Ini adalah rahasia. Inilah  pengetahuan tingkat tinggi. Dan ini terlalu rasional sekaligus terlalu samar, bukan saja bagi kaum awam, tetapi juga bagi para bikkhu yang kesadarannya belum mencapai inti ajaran Buddha.

 

Para bikkhu dari aliran Utara merasakan hal yang sama. Mereka menyadari  betapa Buddhisme telah begitu jauh dari rakyat, betapa para bikkhu telah begitu eksklusif dengan kehidupan biara mereka.  Padahal rakyat yang awam tidak banyak meminta. Rakyat awam tidak banyak menuntut bikkhu untuk menjabarkan hal yang mendetil dan samar. Rakyat hanya membutuhkan jawaban real dari permasalahan mereka. Rakyat membutuhkan jawaban doa, rakyat membutuhkan pegangan moral, rakyat membutuhkan ia yang dengannya manusia bisa mencurahkan segala keluh kesah kehidupan, segala beban derita yang ditimbulkan dari permasalahan keluarga, permasalahan mencari nafkah dsb. Dan hal itu kurang mendapat respon dari para sebagian bikkhu yang seakan-akan terlalu remeh untuk menanggapi permasalah psikologis manusia.

 

 

Para Bikkhu dan yogi dari Aliran Utara menyadarai bahwa secara psikologis pantheon dewa-dewi yang dulu ditundukkan oleh Buddhisme ternyata masih diperlukan bagi umat awam, asalkan umat disadarkan bahwa ujung dari perjalanan rohani bukanlah pemujaan kepada dewa-dewi melainkan pada pemekaran diri yang berbuahkan sifat-sifat mulia. Dengan demikian maka para yogi dan bikkhu Aliran utara mendekonstrukis dan mereinterpretasikan ajaran Buddha dengan kearifan lokal saat itu, demikianlah para Boddhisatva dan Buddha ahistoris sebagai simbol dari sifat-sifat mulia dimunculkan dalam wacana-wacana keagamaan, devosi dan perayaan.

 

Jika Buddhisme aliran Selatan berfokus pada arahat, yaitu manusia yang telah tercerahkan, yang jalannya hanya bisa dilalui lewat jalan hidup membiara, maka Buddhisme aliran Utara berfokus pada jalan Boddhisatva, yaitu manusia ideal yang sadar dan berkelimpahan dalam sifat-sifat altruistik / mulia dan tetap berada bersama-sama manusia untuk bersama-sama mencapai Nibanna. Jalan ke-bodhisattva-an  bukanlah eksklusif milik para bikkhu, tetapi suatu wahana besar, wahana umat awam dan para bikkhu dan bikkhuni. Siapapun yang yang terpanggil untuk mewujudkan sifat-sifat mulia dan cinta pada segala mahluk, tergerak untuk membebaskannya dari belenggu derita –  itulah bodhisattva.

 

 

Bodhisattva adalah calon Buddha, Bodhisattva adalah perwujudan Buddha itu sendiri.

Buddha dan Bodhisattva bisa mewujud dalam diri siapapun, termasuk para perumah tangga. Dan pemahaman ini tertuang dalam Sutra Vimalakirti Nirdesa. Sutra ini menerangkan tentang seorang Buddha  yang konon hidup di masa Buddha Guatama hidup, yang telah mencapai pencerahan sempurna, sekalipun hidup berumah tangga dan melakukan aktivitas sebagai perumah tangga.

 

Sekalipun setiap orang yang rindu mewujudkan idea-idea altruistik bisa disebut bodhisattva, namun ada juga figure-figur buddha  dan bodhisattva langit, yang tidak menyejarah,  personifikasi dari bersatunya kesadaran luhur manusia dan respon dari alam semesta yang berfungsi sebagai devosi dan cermin kesadaran dari manusia pemujanya.

 

Jadi dengan mewacanakan figure-figur bodhisattva, sebenarnya buddhisme mengambil pola-pola kedewaan yang sama dengan agama-agama India lainnya, dalam hal ini Brahmanisme / Shivaisme. Bedanya, dewa-dewi dalam hinduisme bersifat statis dan ilahi semata, sedangkan dalam figure bodhisattva – manusia mengambil peran disana. Bahkan perjalanan kultivasi bodhisattva sendiri adalah menjadi Buddha, manusia yang telah tersadarkan.

 

Di satu sisi boddhisatva dan Buddha menjadi obyek devosi, di sisi lain dipahami bahwa kesadaran boddhisatva itu adalah kesadaran dalam diri manusia sendiri. Inilah dialektika bodhisattva dalam Mahayana, yang sayangnya tidak dipahami oleh umat awam.

 

 

Dari banyak Buddha dan Bodhisattva langit yang dikenal dalam Mahayana, yang paling besar adalah Buddha Amitabha, Bodhisatva Ksitigarba, Bodhisattva Maha Tsamaprapta dan Bodhisattva Avalokitesvara. Dan di dalam sutra ini kita akan bertemu dengan Bodhisattva Avalokitesvara.

 

Sutra Hati adalah sutra yang mengisahkan tentang penjelasan Dharma dari Buddha Gautama kepada muridnya yang paling cerdas, yaitu Sariputra, tentang bagaimana Bodhisattva Avalokitesvara mencapai pencerahan sempurna.

 

Mari kita membahas berdasarkan penggalan demi penggalan sutra tersebut.

Yang Arya Avalokitesvara

Pada saat Yang Arya Bodhisatva Avalokitesvara sedang dalam kegembiraan yang mendalam atas  meditasi perenungan Kebijaksanaan Sempurna (Prajnaparamita),

Siapakah Yang Arya Avalokitesvara ?

Yang Arya berarti Yang Mulia, suatu gelar yang diberikan kepada seseorang yang dianggap luhur dan bijaksana.

 

Avalokitesvara, sebagaimana yang kita ketahui adalah figur bodhisatva langit yang dimunculkan dalam wacana Mahayana.

 

Nama Avalokitesvara berasal dari 3 kata :  

Avalok = yang melihat ke bawah (ditengarai bahwa kata ‘look’ dalam bahasa Inggris berasal dari kata Sanskrit – lok)

 

Lokite = dunia (dari sinilah kata local berasal)

isvara  = tuhan / dewa  (memakai istilah dari brahmanisme, merujuk pada Shiva)

 

Jadi Avalokitesvara adalah tuhan yang melihat ke bawah, mendengar dan menjawab keluh kesah dunia. Avalokitesvara adalah paralelisme Shiva dalam kesediaannya untuk menanggung penderitaan dunia, yang juga disebut Nilakanta. Avalokitesvara juga adalah paralelisme Visnu dalam kesabaran, cinta kasih dan pengayoman segala mahluk hidup.

 

Jadi avalokitevara adalah personifikasi dari kerahmanian dan kerahiman alam semesta ini. Dalam berbagai budaya Avalokitsvara diasimilasikan dalam konteks kelokalan, di China menjadi Dewi Welas Asih atau Kuan Yin, di Indonesia jadi Dewi Sri,  Dewi Kesuburan bumi, yang adalah sebutan lain bagi Bodhisattva Tara Hijau. 

 

Avalokitesvara mengambil banyak bentuk sesuai dengan aspirasi si pengusung.

 

Ada Avalokitesvara sebagai pemberi anak bagi mereka yang menginginkan anak, ada Avalokitesvara sebagai pemberi keberkahan, yaitu Cintamani Cakravarti Avalokitesvara.

Avalokitesvara dikenal sebagai ia yang bertangan seribu dan bermata seribu, sebagai simbol dari kesediaannya untuk membantu dan mengayomi seluruh mahluk. Bagi para sadhaka Tantra, Avalokitevara juga dikenal sebagai Baghavati Cundi – Bunda Milyaran para Buddha, paralelisme dari  Dewi Durga,  yang membantu para sadhaka mencapai penyempurnaan sampai kesadaran para buddha.  Singkatnya Avalokitesvara adalah personifikasi dari Isvara, Hare / tuhan, Brahma, Shiva dan Visnu.

 

 

Namun di dalam sutra ini, Avalokitesvara bukan semata-mata suatu figur ilahi yang terpisah dari manusia. Avalokitesvara adalah simbol dari kesadaran manusia yang inheren. Avalokitesvara adalah tipologi dari manusia-manusia unggul yang terpanggil untuk menapaki jalan kemuliaan, mencapai kesadaran dan membawa sebanyak mungkin manusia ke dalam jalan kebajikan. Inilah dialektika ala buddhisme. Di satu sisi Avalokitesvara dipuja sebagai Isvara / tuhan, di sisi lain ia tunduk pada Buddha, ia terus menerus mengumpulkan parami / kebijaksanaan untuk memberkahi manusia. Ia tidak lelah menambah pengetahuan dharma dan terus menerus menetap di bumi untuk menolong umat manusia. Lihatlah, konsep tuhan yang sungguh berbeda dengan tuhan ala hindu dan samawi yang sangat statis berada di langit. Mengapa? Karena Avalokitesvara adalah gambaran kesadaran laten yang ada pada manusia itu sendiri.

 

Dalam note ‘Atheis Pietis’ telah saya singgung tentang Avalokitesvara sebagai simbol dari kesadaran manusia:

 

”Diri inilah Amitabha, diri inilah Avalokitesvara, dan diri inilah Buddha, yang telah eling dalam roso yang mendalam.”

 

Merujuk kepada konsep Tiga Suciwan dari Barat :

– Amitabha melambangkan kerinduan akan kesempurnaan – summum bonum.

– Maha Stamaprapta melambangkan kecerdasan dan kebijaksanaan – sophia.

– Sedang Avalokitesvara melambangkan cinta kasih dan pengayoman – agape.

 

 

Jadi dalam Sutra Hati ini penulis sutra mencoba membawa para pembacanya untuk menempatkan dirinya sebagai Avalokitesvara yang tengah bergembira dalam perenungan Prajna Paramita yang mendalam itu.

 

 

Apakah Prajna Paramita?

 

Prajna berarti Kebijaksanaan. Paramita berarti sempurna.

 

Bodhisattva bukanlah orang yang mencari ilmu mejik, atau mencari pengalaman mistis, atau pengalaman metafisik paranormalik, sama sekali bukan. Bodhisattva adalah mereka yang kesadarannya telah terpanggil untuk bertransformasi, keluar dari cangkang kedirian yang sempit dan membuahkan sesuatu yang bernilai luhur bagi dirinya dan segala mahluk.

 

Dalam transformasi itu ada perenungan akan enam kesempurnaan yang harus direalisasikan, yang disebut sad paramita (enam kebijaksanaan sempurna):

 

– Kesempurnaan dalam Kemurahan Hati (Dana Paramita)

– Kesempurnaan dalam Perbuatan Baik (Sila Paramita) – Kesempurnaan dalam Kesabaran (Ksanti Paramita)

– Kesempurnaan dalam Semangat (Viriya Paramita)

– Kesempurnaan dalam Perhatian (Dyana Paramita)

– Kesempurnaan dalam Kebijaksanaan (Panna Paramita)

Sekali lagi, saya harus tekankan, laku spiritualitas itu bukan untuk mencari sensasi-sensasi psikologis dan metafisik bersifat ekstra-ordinary, namun menjalani kehidupan kini dan di sini yang penuh dengan buah-buah kebajikan bagi sesama. Dalam mewujudkan kebajikan itu, seorang bodhisattva mewujudkan kemurahan hati, perbuatan baik, kesabaran, semangat, perhatian dan kebijaksanaan.

 

<ket. foto 3: seperti halnya Avalokitesvara adalah typologi kesadaran luhur manusia, begitu pula Dee adalah typologi manusia yang haus akan kebenaran. Pertanyaan Dee adalah pertanyaan seluruh umat manusia.>

Mengatasi Segala Penderitaan

Dan dalam perenungan yang mendalam atas transformasi diri ke arah yang lebih mulia ternyata …..

Beliau memandang dari atas ke bawah / mendapat pemahaman; tertampaklah, bahwa panca skandha (lima kelompok kehidupan) itu sebenarnya kosong. Hingga akhirnya, Ia mengatasi semua penyakit dan penderitaan.

 

 

Dalam wacana awal budhisme, manusia dipahami sebagai entitas yang terdiri dari nama dan rupa, yang berarti mental dan bentuk. Nama rupa ini disebut sebagai 5 khanda/ gugus yang menopang kehidupan manusia. yaitu:

– rupa  (bentuk jasmani)

– vedana (perasaan),

– samjna (pencerapan),

– samskara (bentuk-bentuk mental), dan

– vijnana (kesadaran akan kedirian).

 

 

Kepada setiap meditator pertapa Gautama selalu menekankan pentingnya perenungan akan tiadanya ‘aku’ sebagai entitas yang ajek. “ Baik dari apa yang dirasakan, dilihat, dikecap, disadari, dicerap, ketahuilah oh para bikkhu, bahwa tiada aku ( I) , diriku (me), dan kepunyaanku (mine) disana.”

 

Maksud dari Pertapa Gautama adalah jelas, bukan berarti tidak ada kedirian itu, tetapi menyadari bahwa kedirian itu bersifat sementara, hanya suatu momen kini dan di sini saja. Namun banyak penganut buddhis menangkapnya sebagai kenihilan diri yang bersifat dogmatis.

 

Apa yang disebut kedirian adalah suatu arus pembentukan yang dirajut oleh begitu banyak elemen, momen dan kondisi. Karena ia dirajut oleh begitu banyak elemen, maka ia tidak memiliki suatu inti yang kekal. Kedirian ini adalah wadah yang terus berubah sesuai dengan kondisi elemen-elemen yang menggagasnya.

 

Dengan memahami hal ini secara gradual dan konsisten maka terbebaslah para meditator dari kemelekatan akan konsep diri sebagai  ADA yang utuh yang berdiam dalam tubuh, tidak berubah dan selalu mengembara dari satu bentuk kehidupan kepada bentuk kehidupan.

Ia yang terilusi dengan adanya aku yang utuh, kekal, abadi, dan berada terpisah dari tubuh akan mengalami ketakutan ketika datang momen-momen kehilangan, sakit penyakit, penuaan dan kematian.

 

Sebaliknya ia yang sadar bahwa kita hanyalah penjadian, proses kemenjadian yang terkena akan proses-proses alam, akan menyambut setiap kebahagiaan, kesedihan, pertemuan, perpisahan, kelahiran dan kematian.

 

Dua Sisi Berbeda Dari Koin Yang Sama

Wahai  Sariputra, bentuk (rupa) tidak-lah dapat dibedakan dari kekosongan (sunyata), dan kekosongan tidak dapat dibedakan dari bentuk. Bentuk adalah kosong dan kosong adalah bentuk. Demikian juga perasaan (vedana), pencerapan (sanna), pikiran (sankhara), kesadaran (vinnana).

 

Banyak orang yang keliru memahami kata-kata ini.

Benarkah kosong itu sama dengan bentuk?  Bagaimana mungkin ada sama dengan tidak ada? Mana mungkin tidak ada uang didompet bisa dibilang ada uang? Bukan. Bukan  demikian maksud penulisa  Sutra Hati ini. 

 

Kita harus memahami khazanah berpikir buddhisme. Titik tolak pemikiran buddhisme ada pada Tilakhana atau tiga corak umum kenyataan kesegalaan yang ada. Menurut Buddhisme segala yang ada bersifat :Anica, Dukkha, Anata atau ketidak kekalan, ketidak memuaskan, dan ketiadaan inti yang kekal. Seperti yang tertuang dalam Dhammapada 277,278, 279 

 

Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.  

 

 Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian. 

 

 Segala dhamma (kebenaran) adalah anatta. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

 

 

Darimana penderitaan itu datang? Dari pengharapan kita yang tidak realistis akan nature dari hidup.

– Kita mengharapkan segala sesuatu langgeng, menguntungkan bagi pihak kita.

– Kita berharap segala sesuatu itu berpihak pada kita dan menjamin kebahagiaan kekal.

– Kita berharap segala sesuatu ada tetap, tidak berkembang, menyusut dan layu.

– Dengan segala usaha kita menutupi kenyataan yang ada bahwa hidup ini tidak abadi, tidak menjamin kepuasan sempurna dan tidak statis. Seperti halnya lagu lawas Krisdayanti :

 

jika tuhan mau begitu robahlah semua seperti yang kumau

karna kuingin semua berjalan seperti yang kumau.

 

 

Tidak ada pesta yang tak usai, tidak ada pertemuan tanpa perpisahan, tidak ada kelahiran tanpa kematian.

Mereka yang menyadari hal ini, seyogyanya mencari menyadari bahwa kesalahan bukan pada hidup ini, tapi pada pengharapan kita yang tidak realistis atas hidup ini.

 

 

Perasaan, pikiran, pencerapan dan kesadaran, sebagai aktivitas mentalpun tidaklah ajek. Ia menjadi obyek dari berbagai faktor. Manusia adalah mahluk multidimensi. Seorang yang tidak memiliki pacar ada kalanya merasa malu atau rendah diri jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki pacar. Namun benarkah kebahagiaan akan diraih apabila seseorang telah memiliki pacar? Tidak juga. Dengan bertambahnya kesukaan di dalam hidup, bertambah pula ketakutan yang mengikutinya.

Ia yang memiliki kekasih akan ketakutan apabila kehilangan kekasihnya. Ia meluangkan waktunya hanya untuk memastikan kekasihnya tidak hilang disamber orang.

Setelah berpacaran sekian lama, mereka ingin menikah.

Apakah dengan menikah kebahagiaan itu langsung dirasakan? Jika benar, mengapa banyak keluarga yang berantakan? Sebagian memilih berpisah, sebagian lagi menjalani kehidupan keluarga yang penuh dengan kejemuan, kebohongan, rutinitas dan semata-mata karena kewajiban belaka. Kewajiban pada istri / suami, kewajiban pada anak-anak.

Setelah menikah, baru mereka menyesal dan memimpikan kebebasan para bujangan.

 

Siapa bilang dengan memiliki uang yang melimpah akan menjamin kebahagiaan?

Seorang istri lelaki yang kaya melewati hari-hari sepinya dengan ketakutan. Mereka takut suami mereka selingkuh. Semakin kaya seorang lelaki semakin berpotensi untuk menciderai perkawinannya.

 

Apa yang dipakai sebagai ukuran bahagia, menyenangkan, menyukakan, ternyata tidaklah real. Ia ada, memang ada, namun ditopang oleh berbagai kondisi.

 

Mereka yang menyadari hal ini, yaitu bahwa segala sesuatu bersifat tidak kekal, tidak menjamin kepuasan mutlak, dan tiada hakekat inti,  dengan sendirinya terlepas dari ilusi untuk terus mempertahankan status quo. Ia bebas lepas menghadapi, menjalani dan merayakan kehidupan ini apa adanya.

 

Iha Sariputra – Sarva dharma sunyata

 

Wahai Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak sunyata; mereka tak muncul, juga tak berakhir; tidak kotor. juga tidak murni bersih, tidak kurang, tidak lengkap/bertambah.

 

Bagi saya pribadi, inilah puncak pemahaman mereka yang tercerahkan. Gautama, bukanlah Buddha omong kosong, sebab ia mengilhami kita dengan pencerahan yang luar biasa pada masanya dan menancapkan pemahaman yang begitu dalam dan halus bagi orang-orang sesudahnya. Di sebelah barat banyak para nabi dan tokoh agama besar lahir setelah Pertapa Gautama, namun tak ada mampu yang melebihi kebijaksanaan dan kedalaman dan kehalusan dharma dari Gautama yang mampu membelah dualitas. Agama-agama samawi sampai sekarang masih terjerembab dalam perdebatan idea tentang yang suatu tuhan yang absolute, mutlak benar, berfirman begini begitu dan mengangkat nabi ini dan itu. Sementara agama-agama timur, yang lahir dari kedalaman perenungan, telah beranjak naik dari kesumpekan dualitas. 

 

Kepada Sariputra, muridnya yang terpandai, ia nyatakan bahwa biarpun ada kebenaran yang harus dicapai, ada disiplin yang harus diterapkan, ada tata nilai dan etika yang harus diemban, namun pada dasarnya semua bentuk kebenaran, prinsip, metoda, sabda, dharma adalah sunyata, kosong, tiada inti.

 

Ingatlah Sariputra, segala bentuk dharma, metoda, jalan, prinsip, tata nilai – bersifat kosong – tiada inti. Segala dharma / prinsip kebenaran/ metoda  ada karena diadakan. Diadakan oleh siapa? Diadakan oleh elemen-elemen yang mendukung pemunculan dharma itu.

 

Tidak ada kebenaran yang muncul dari langit, sebagai hadiah dari seorang dewa atau ilah atau tuhan yang bertahta di surga sana. Semua kebenaran dipahami dan dipeluk oleh manusia, dalam horizon ruang dan waktu sebagai usaha manusia dalam pencarian makna hidupnya di bumi ini.

 

Banyak orang di dunia ini yang masih terilusi dengan adanya suatu kebenaran agama yang mutlak. Padahal mutlak atau tidak mutlak berada di pikiran si pemercayanya saja. Ketika pemikiran si pemercaya itu berkembang, apa yang mutlak sekarang, belum tentu mutlak nantinya. Mengapa? Karena segala kebenaran itu bersifat sunyata, kosong, tiada inti, ia dimunculkan karena adanya factor-faktor yang mendukung kemunculannya. Jika tidak ada faktor-faktor pendukung kemunculan itu, maka sirnalah kebenaran itu.

 

Anda mau contoh lebih real? Mari kita ambil salah satu petikan dari Sepuluh Perintah Tuhan yang konon, menurut mitos , diberikan Tuhan kepada Musa di Gunung Sinai.

 

Janganlah engkau membunuh.

 

Perintah ini, tidak akan pernah ada kalau tidak ada elemen-elemen yang mendukung kemunculannya. Apakah elemen tersebut?

– karena adanya subyek yang melakukan pembunuhan

– karena adanya kegiatan pembunuhan pada si obyek.

– karena adanya obyek yang terbunuh, atau dicoba dibunuh.

– karena adanya sebab dan kondisi yang memungkinkan adanya pembunuhan itu.

– karena adanya sakit yang ditimbulkan dari terbunuhnya seseorang bagi keluarga dan handai taulan yang ditinggalkan.

 

Jika tidak ada orang yang membunuh, tidak ada contoh kasuk pembunuhan, tidak ada yang dibunuh, tidak ada sebab dan kondis yang memungkinkan mengacu pada pembunuhan itu, jika tidak ada orang yang merasa dirugikan dari terbunuhnya seseorang, adakah larangan itu muncul? Tidak.

Siapakah yang memberi hukum itu? Manusia sendiri. Tepatnya manusia yang mencari nilai-nilai yang dianggapnya benar, menjamin keadilan dan ketentraman bagi dirinya dan sesame. Jelas ini bukan diberikan oleh suatu pihak ilahi diseberang sana.

 

 

Manusialah yang memunculkan kesadaran tentang sesuatu yang dianggap baik, bernilai, bermakna bagi dirinya, seturut dengan evolusi kesadarannya.

 

 

"Tanpa Nama demikianlah awal Bumi dan Langit.

Dengan Nama adalah ibu segala benda.

Tidak Ada kalau kita ingin menyatakan rahasianya.

Ada kalau kita ingin menyatakan keadaannya;

keduanya berpasangan walau namanya berbeda;

pasangan yang disebut amat gaib pintu semua rahasia!"

 

 

Demikianlah penggalan ayat-ayat awal dari kitab Tao Te Ching, karya Lao Tze, yang hidup hampir sejaman dengan Pertapa Gautama.

 

Tanpa deskripsi, tanpa penamaan, tanpa penilaian, itulah hal ihwal dari segalanya.

dengan kita mendeskripsikan, memberi nama atau label, menilai – dari sinilah konsep diciptakan.

Dalam upaya untuk mendeskripsikan dan memaknai kehidupan, maka terciptalah segala penilaian dan pembedaan. Tanpa motif demikian – dari mana pembedaan itu tercipta?

 

Ketika manusia mengenal bahasa ia melabeli segala sesuatu dalam dualitas

ada murni – maka ada kotor

ada tinggi – maka ada rendah

ada suci – maka ada yang tak suci

ada halal – maka ada yang haram

Kehidupan menjadi seperti yang kita pahami,rasakan dan persepsi  manakala kita memandang dan menilai-nilai kehidupan. Tanpa penilaian seperti demikian kehidupan adalah kehidupan tiada label pembeda.

 

 

Kehidupan hanyalah arus penjadian tanpa label. Tanpa nilai.

 

Kehidupan menjadi seperti demikian dan demikian manakala dipahami dengan persepsi demikian. Tanpa persepsi demikian, tidak akan ada kehidupan yang sedemikian.

 

Baik itu memakai persepsi atau tidak, dua-duanya merajut nilai dan makna hidup.

Ada dan tidak ada adalah dua sisi dari koin yang sama.

 

Dari manakah konsep muncul dan tidak muncul, berakhir dan tidak berakhir kotor dan bersih, murni dan bernoda, kurang dan lengkap  itu berasal ? Jawabnya : dari penilaian kita, dari persepsi kita dalam memaknai kehidupan. Dan persepsi itu ternyata tidak berdiri sendiri, tidak mutlak ada. Persepsi ada karena ada kondisi yang melahirkan persepsi itu, yaitu karena ada pemikiran, karena ada kita, manusia yang melabeli kehidupan.

Tanpa ada manusia, maka tidak akan muncul konsep kemunculan,ketidakmunculan, kelahiran dan kematian, kesucian dan ketidaksucian, kemurnian dan ketidakmurnian.

 

Life is life with or without humankinds who always bother to value life on their own tastes.

Hidup adalah hidup,  dengan atau tanpa manusia yang selalu ribut menilai-nilai segala sesuatu seturut seleranya.

 

 

Berlanjut ke Dee The Truthseeker bag 7b…..