E-mail dari seorang sahabat:

 "Manusia punya sifat moral inheren untuk selalu berterima kasih pada mereka yg memberi. Kita berterima kasih pada orang tua kita, guru, kerabat, teman dll atas apa yg telah mereka lakukan untuk kita. Kecenderungan kita  berterima kasih dan membalas pertolongan ini secara universal begitu kuat hingga kalau ada orang yg berkelakuan sebaliknya, maka ia akan dicap orang yang tak tahu diri, tidak bermoral. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa siapapun yang memberi kita berkah harus menjadi fokus rasa terima kasih kita yg terbaik.

Saya mengakui bahwa ada orang yg bertanya kenapa kita harus berterima kasih padaNya jika ada alasan kuat untuk percaya bahwa Dia itu tidak ada. Pemikiran intelektual tentu saja akan menantang gerak hati moral dalam diri manusia, tapi secara moral kita akan lebih tergerak untuk mencari jawaban yg benar dibandingkan secara intelektual.

Kesungguhan dalam pencarian Tuhan setidaknya harus sama besarnya dengan kesungguhan seorang anak mencari orang tuanya walau dia tidak yakin kedua orang tuanya itu masih hidup atau tidak.

Faktor rasa takut cuma bisa menjadi titik awal untuk percaya pada Tuhan. Ini cuma alasan yg dangkal untuk percaya padaNya dlm jangka panjang. Malah, ini tidak bisa dijadikan alasan yg baik untuk percaya padaNya. Saya sarankan lebih baik tidak percaya Tuhan daripada percaya padaNya karena takut. Saya tidak percaya bahwa Tuhan harus ditakuti seperti kita takut pada monster maut. Saya percaya pada Tuhan yg penuh cinta dan kasih sayang, yang lebih penting lagi, Tuhan yang menjawab doa-doa saya. Dan saya sangat yakin bahwa Dia memang menjawabnya. Tapi saya tidak menuduh orang lain kurang berusaha atau tidak berdoa dengan tulus. Itu sebabnya kenapa saya bilang saya heran. Apa sih ruginya mereka yg tidak menemukan Tuhan dan tetap berdoa padaNya dengan penuh ketulusan?

Tapi, agar doa bisa membuat suatu hubungan dengan Tuhan, harus ada satu syaratnya: Harus menundukkan diri dengan rendah dihadapanNya. Anda boleh bilang ini sebuah usulan yg lucu bagi seseorang yang bahkan tidak percaya pada tuhan tapi harus merendah dihadapanNya. Saya jawab bahwa ketika kita merasa secara moral wajib berterima kasih pada sebuah sumber yang mengatur semua hal bagi kehidupan kita, ketika kita temukan alas an percaya bahwa Dia itu Ada (bahkan jika ada alasan lain yg berlawanan sekalipun), dan ketika kelemahan kita menyebabkan kita merasa takut akan keberadaan kita, adakah respon yg lebih baik dari diri kita selain dengan merendahkan diri kita dihadapanNya (atau kemungkinan keberadaanNya) dan lalu kita lihat apa yg akan terjadi?

Saya merasa bahwa semua argumen intelek dari para agnostik dan ateis mencerabut mereka dari segala hal penting akan perasaan merendah yang mengilhami seseorang untuk mencari dg tulus keberadaan Tuhan. Tapi saya bisa saja salah.Sering, saya perhatikan orang-orang yg mengklaim tidak percaya Tuhan mencemooh agama, orang religius dan konsep mereka tentang Tuhan. Sering muncul penolakan sebuah konsep agama dengan cemoohan yg penuh hina. Ada semacam rasa lebih hebat (superioritas) secara intelektual yg jelas dari penjelasan akan penolakan tersebut. Richard Dawkins misalnya membuat klaim yg keras dalam bukunya berdasarkan studi sains yg menunjukkan bahwa semakin pintar seseorang, semakin mungkin orang itu menjadi ateis. Maksud saya adalah bahwa apa yang mereka anggap sebagai kekuatan (intelektual) mereka, mungkin sebenarnya menjadi penyebab kegagalan mereka dg membuat mereka merasa hebat, superior dan dengan demikian membuat mereka sombong hingga tidak mampu untuk merendahkan diri.

 

Rasa berterima kasih dan rasa merendah diri keduanya adalah kebaikan yg diinginkan orang. Rasa tidak berterima kasih dan keangkuhan adalah kecenderungan tidak bermoral. Pasangan rasa yg pertama adalah rasa yang membawa kita pada Tuhan. Pasangan rasa yg lain menjauhkan kita dari Tuhan. Itu sebabnya saya berpendapat bahwa percaya pada Tuhan utamanya berada pada domain moralitas; aspek intelektual dari itu kuranglah penting dibanding yg sering kita sadari.

 

Saya tidak bilang bahwa orang-orang religius tidak bisa sombong atau angkuh. Banyak yg sangat angkuh. Tidak juga saya mengklaim bahwa semua ateis itu sombong. Banyak yang sangat merendah diri. Tapi kesombongan religius tidak punya tempat dalam pengampunan Tuhan, kerendahan diri ateistis akan, saya harap, memberi jalan pada kepercayaan akan Dia.

 

Pertanyaan saya adalah: Apakah orang-orang Agnostik dan Ateis telah cukup yakin bahwa sang pemberi berkah yang mereka nikmati setiap hari memang tidak eksis ?

Apakah mereka telah sungguh-sungguh berdoa padaNya, bahkan tanpa secara formal percaya padaNya, seperti yg saya lakukan ? Jika mereka bilang mereka telah berdoa tapi tidak mendapat jawaban, saya sungguh bingung karena pengalaman yg saya dapatkan sangatlah berbeda. Ketika saya berdoa padaNya, bahkan ketika saya berpikiran bahwa saya tidak secara formal percaya padaNya, jawaban Dia sangat meluap-luap. Lalu kenapa mereka tidak mendapatkan pengalaman yg sama dengan saya ? Saya sungguh heran!"

 

Berikut tanggapan dari saya :

Argumen anda masuk akal, sampai orang mendapatkan bahwa argumen anda itu didasarkan pada serangkaian fallacy (buah pikiran yg keliru) logika. Dengan kata lain, anda mendirikan bangunan yg cantik, tapi tanpa fondasi. Sekarang perhatikan, saya akan meniupnya hingga rubuh.

Pertama, anda membandingkan Tuhan dengan ortu kita dan bilang bahwa sebagai anak yg baik kita harus mencari ortu kita, meski jika kita tidak tahu apa mereka itu hidup atau mati, untuk menunjukkan rasa terima kasih kita.

Ini perbandingan yang salah. Ortu kita nyata sementara Tuhan tidak dan berdasarkan iman belaka. Apakah ada bukti bahwa kita punya Pencipta yg berintelejensia selain dari hokum-hukum alam? Selama anda tidak/belum membuktikan itu, anda hanya melakukan argumen2 berfallacy “Begging the Question”.

“Begging the Question” adalah jenis fallacy dimana dasar pikirannya termasuk pernyataan bahwa kesimpulannya adalah benar atau (langsung maupun tidak langsung) mengasumsikan bahwa kesimpulannya itu benar. Jenis ‘akal-akalan’ seperti ini punya bentuk sbb:

1. Dasar pikiran yg mana ‘kebenaran’ dari kesimpulan diklaim atau kebenaran dari kesimpulannya hanya diasumsikan (baik langsung maupun tidak).

2. Klaim K (Kesimpulan) adalah benar.

Jenis ‘akal-akalan’ ini adalah fallacy karena mengasumsikan bahwa kesimpulannya benar (langsung atau tidak) padahal dalam dasar pikirannya tidak berisi bukti untuk kesimpulan tsb. Jelasnya, hanya mengasumsikan sebuah klaim itu benar tidaklah berlaku sebagai bukti untuk klaim itu sendiri. Ini khususnya jelas terlihat dalam kasus: “X itu benar. Bukti dari pernyataan ini adalah bahwa X itu benar.”

 

Beberapa kasus ‘Begging the Question” ada yg sangat2 jelas, sementar beberapa kasus lain sangat tersamarkan fallacynya,ini salah satu contoh fallacy Begging the Question:

Amir: “Tuhan mestilah ada.”

Udin: “Darimana kau tahu?”

Amir: “Karena Kitab Suci bilang begitu.”

Udin: “Kenapa aku harus percaya Kitab itu?”

Amir: “Karena Kitabku ini ditulis oleh Tuhan.”

Kemudian…

 

Pewawancara: “Resume anda terlihat menakjubkan tapi saya perlu referensi dari orang lain.”

Udin: “Amir bisa memberiku referensi yg bagus.”

Pewawancara: “Bagus. Tapi darimana saya tahu bahwa Amir itu bisa dipercaya?”

Udin: “Tentu saja. Saya bisa menjamin dia”

 

Anda perhatikan, dasar pemikiran anda itu salah. Dengan demikian, kesimpulan anda juga salah. Anda enak saja bilang bahwa Tuhan itu sang Pencipta dan Penyedia segalanya, dan dgn demikian anda menyimpulkan bahwa kita harus berterima kasih padaNya. Tapi, anda gagal memberi bukti yg mendukung dasar pikiran anda.

Kesalahan lain dari perbandingan ini adalah bahwa ortu kita itu manusia. Mereka berkorban dan memberi segalanya sementara mereka mendapatkan yg diberikan pada kita itu tidaklah dengan mudah. Sampai kita tumbuh besar dan kuat. Dan ketika itu mereka sudah berusia tua dan lemah. Jadi secara moral kita diharuskan membalas jasa mereka dengan mengurus mereka selama mereka hidup.

 

Misal ada Tuhan yg menciptakan kita, dia katanya Maha Kuasa. Kenapa dia perlu pertolongan kita atau bahkan rasa terimakasih kita? Jika dia Tuhan, tidak ada pengaruhnya bagi dia kita menyembah dia atau tidak. Jadi kenapa dia menghukum mereka yg tidak berterimakasih padaNya?

Misalkan lagi, ada orang yg sangat kaya yg berniat untuk dermawan. Dia kejalan dan membagikan uang pada setiap orang yg dia temui. Orang-orang ambil uang itu dan berterimakasih padanya, tapi ada juga orang yg tidak berterimakasih padanya meski mengambil uangnya. Apa yg akan anda pikirkan atau katakan pada sang dermawan ini jika dia mengejar orang yg tidak berterimakasih itu, memukuli mereka dan menyiksa mereka? Pantaskah orang demikian dipuja-puji?

 

Kita manusia diajarkan bahwa kedermawanan yg paling baik dilakukan tanpa diketahui orang lain, tanpa mengharapkan balas jasa dan jadi terkenal. Apa anda mau bilang Tuhan anda ini bahkan menurut standar manusia sekalipun tidak bisa lulus? Bahwa begitu ngototnya dia ingin diberi rasa terima kasih hingga dia mau menyiksa orang dg cara mengerikan (selama-lamanya) jika mereka tidak berterima kasih? Jika kepingin pahala, kedermawanan anda percuma saja Kenyataannya adalah, tidak ada rejeki jatuh dari langit. Kita harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Jika tidak, Tuhan tidak akan memberikannya bagi kita. Banyak orang yg sungguh-sungguh mati kelaparan dan tidak ada tuh Tuhan datang menolong mereka. Kita manusia menjaga binatang peliharaan kita jauh lebih baik daripada Tuhan menjaga kita dan malahan kita tidak minta peliharaan kita itu agar berterima kasih pd kita tidak juga kita menyiksa mereka jika mereka tidak menggoyang2kan ekornya setelah diberi makan.

 

Fallacy lain dalam argumen anda adalah ketika anda mengungkapkan kekaguman anda mengenai kenapa Tuhan menjawab doa anda secara meluap-luap, sementara orang-orang lain (kami) mengklaim tidak mendengar jawaban apapun dalam doa2 kami.

Ini ‘subjective reasoning’. Misal anda menyaksikan sebuah mukjijat, kenapa kami musti percaya? Kenapa kami harus percaya anda? Mungkin saja anda berhalusinasi? Kenapa tuhan tidak menunjukkan mukjijatnya pada saya? Haruskan saya bersandar pada intelejensia saya sendiri atau bersandar pada pengakuan si anu, si anu dan si anu? Dan kenapa Tuhan menghukum saya karena tidak percaya akan mukjijat yg tidak pernah saya alami/saksikan?

Misal anda sangat butuh uang dan anda beli lotere, berdoa pada Tuhan, lalu menang. Anda lalu menyimpulkan Tuhan telah menjawab doa anda. Apakah ini kesimpulan yg logis? Yg anda lupakan adalah bahwa jutaan orang lain juga membeli lotere yg sama, kebanyakan dari mereka juga sangat butuh uang dan berdoa agar menang, tapi mereka kalah. Malah beberapa tahun lalu di Kanada, sepasang pengedar narkoba yg pernah melakukan banyak sekali kejahatan memenangkan hadiah lotere yg besar sekali. Apa Tuhan ikut campur dalam pemenangan itu? Sementara jutaan anak-anak tidak mendapat makanan.

 

Berapa sering kita dengar orang selamat dari bencana, dimana ribuan orang lainnya mati dalam bencana yg sama, berkata, “Ini mukjijat dari Tuhan karena saya selamat.” Kenapa tuhan tidak melakukan mukjijat pada ribuan orang lainnya yg mati juga?

Anda bilang anda tidak percaya pada Tuhan yg ditakuti, tapi pada Tuhan yg menjawab doa anda. Tidak ada bukti bahwa Tuhan menjawab anda. Orang religius bilang Tuhan hanya menjawab doa yang ingin Dia jawab. Kalu gitu untuk apa capek-capek berdoa? Tuhan akan melakukan apa yg dia pikir benar, apapun yg kita lakukan. Kenapa meminta Tuhan sesuatu hal yang mungkin tidak baik bagi kita? Dan kenapa meminta hal-hal yg pada akhirnya akan diberikan pada kita pula?

 

Orang religius bilang kadang jawaban Tuhan untuk doa kita adalah ‘ya’, tapi kadang juga ‘tidak’, dan kadang ‘tunggu!’. Tapi jika anda berdoa pada kursi, hasilnya juga tidak akan jauh berbeda. Doa2 anda kemungkinan dijawab, tidak dijawab atau mungkin nanti dijawab. Argumen bahwa Tuhan menjawab doa bukan lain hanyalah sebuah fallacy. Kursi juga bisa berfungsi demikian.

Terlebih lagi, jika anda tidak percaya pada Tuhan yg didasarkan pada rasa takut, maka anda harus pindah agama. Bagaimana anda bisa menggambarkan pandangan idealistik anda tentang Allah dengan Tuhan yang maha kejam dan sadis?

 

Fallacy lain dalam argumen anda. Anda bilang bahwa untuk percaya pada Tuhan, satu syarat harus dipenuhi, yaitu, “Harus tunduk merendah dihadapanNya.”

Ini trik psikologis yang dimainkan para agamawan. Ini fallacy yg sama, yaitu ‘Begging the Question’. Anda meminta kita untuk percaya sebelum bukti itu disodorkan. Tapi setelah sekali saja kita percaya, bukti itu akan banyak melimpah. Jadi anda bisa rapuh untuk percaya pada kebohongan apapun. Ada banyak agama palsu dan para pengikut agama tsb memakai metodologi yg sama ketika mereka jadi percaya. Mereka melakukan ‘loncatan kepercayaan’ dan berhenti bertanya-tanya. Dan yakinlah, agama tsb kebanyakan bukanlah agama yg baik. Beberapa diantaranya malah berbahaya dan jahat. Jadi sangatlah tidak bijaksana untuk percaya sampai semua bukti diberikan terlebih dahulu.

Pada satu titik mereka berhenti bertanya dan memutuskan untuk melakukan ‘loncatan kepercayaan’. Hasilnya adalah bencana. Saran saya adalah agama apapun yang meminta anda untuk percaya sebelum memberi bukti haruslah dihindari. Jika sebuah kepercayaan tidak memberi cukup bukti, maka kepercayaan itu palsu.

 

Kepercayaan mereka tidak akan berpengaruh banyak jika mereka tidak mengganggu kita. Mereka boleh menyembah batu bata selama batu bata itu tidak dilemparkan pada kita. Hampir semua pengikut agama tidak bisa memberi bukti objektif yg mendukung kepercayaan mereka.

Saya tidak punya masalah akan kepercayaan orang pada Tuhan. Saya juga tidak percaya bahwa ateisme lebih baik daripada teisme. Malah orang percaya terbukti hidup lebih lama dan lebih bahagia. Juga ateis bisa menjadi fanatik dan tertutup pemikirannya sama seperti orang fanatik agama. Fanatisme adalah sikap. Anda bisa saja jadi ateis sekaligus fanatik. Kebanyakan kejahatan yg terjadi diabad terakhir justru dilakukan oleh ateis. Jadi ateisme tidak membuat anda jadi orang yg lebih baik.

 

Lalu anda menuduh agnostik dan ateis itu sombong dan kurang merendah. Ini ad hominem. Saya percaya kebalikannya. Kita diberi otak untuk dipakai. Kerendahan diri adalah bisa menerima fakta. Kesombongan diri adalah menyangkal fakta. Orang religiuslah yang menolak fakta dan percaya tanpa bukti. 2+2 = 4. Ini adalah fakta matematik. Jika anda menerima hasil lain selain fakta itu, anda bersandar pada iman kosong, andalah yg sombong.

Saya ingin para pembaca memperhatikan bagaimana orang percaya memelintir segalanya dan bersandar pada segala macam fallacy logika demi membela kepercayaan palsu mereka. Tidaklah sombong jika kita meminta bukti. Sombong itu jika percaya kemustahilan tanpa meminta buktinya.

 

Sekarang siapa yang lebih sombong? Teroris Taliban dan Al Qaeda yg tanpa kritik menerima omong kosong karena katanya ada dalam Kitab Suci yg mereka percaya tanpa bukti, atau Richard Dawkins, Stephen Hawking dan Carl Sagan yang menolak percaya omong kosong tanpa bukti? Yang mana, Para teroris yg secara merendah menerima kebohongan atau para ilmuwan yg secara merendah menerima fakta? Mana yg lebih etis dan bermoral?

Percaya pada sesuatu yg palsu bukanlah isu moral. Itu bodoh dan bodoh bukanlah isu moral. Tapi oke-oke saja untuk percaya pada Tuhan. Oke juga untuk percaya pada apapun yg anda mau. Tapi, jangan pernah mencoba memaksakan kepercayaan anda pada saya.  Terimakasih.