Saya tidak kenal Allah, baik dari versi Islam maupun Kristen. Allah berasal dari kata Elohim. Elohim itu istilah Yahudi, dan masuk ke bahasa arab menjadi Allahuma. So, untuk anda yg berlatar belakang Islam, sadarlah. Allahuma itu tidak muncul begitu saja 1,400 tahun yg lalu. Allahuma merupakan pengucapan ala arab untuk istilah Yahudi, yaitu Elohim.

 

Walaupun demikian, saya tetap tidak mengenal Allah. Di kitab-kitab aslinya, yaitu kitab-kitab Yahudi, Elohim itu cuma merupakan cerita saja. Diceritakan bahwa ada Elohim. Ceritanya konon dituliskan oleh Musa. Untuk anda yg belum tahu, Musa itu semi legendaris. Kemungkinan cuma tokoh mitologis semacam Malin Kundang di Sumatra Barat atau Sangkuriang di Jawa Barat. Musa itu setelah di-arab-kan. Di bahasa ibrani, Musa adalah Moshe. Dan Moshe berarti anak dalam bahasa Mesir. Jadi, bahkan nama Musa sendiri bukanlah asli Yahudi, tetapi nama mesir.

 

Elohim menjadi Allahuma setelah dibajak ke Arabia.

 

So, agama-agama samawi memang berlatar-belakang Yahudi. Allahuma yang disembah orang muslim itu tidak lain dan tidak bukan adalah Elohim.

 

Ada pula Allah, dan saya rasa itu merupakan transliterasi dari istilah Elloi, yaitu istilah lebih pendek untuk menyebut Elohim. Elohim kan nyebutnya panjang, kalau disebut Elloi lebih singkat. Elloi menjadi Allah di Arabia.

 

Di komunitas aslinya, yaitu para penganut Yudaisme atawa yg lebih kita kenal sebagai orang kapir yg dibenci Allah SWT, sebutan Elohim tidak dilarang untuk diucapkan. Itu bisa diobral. Anda bisa menjerit-jerit kepada Elohim maupun kepada Elloi. Tidak dilarang, asal kuat aja.

 

Yg tidak boleh diucapkan adalah JHVH. Kalau tulisan itu muncul di kitab-kitab Yahudi, maka alkitab berbahasa Inggris menerjemahkannya menjadi the Lord. Alkitab berbahasa indonesia menerjemahkannya menjadi Tuhan.

 

Kristen kan orang kapir juga, jadi ikut menggunakan semua kitab Yahudi, termasuk Taurat dan Zabur. Di Alkitab Kristen, semua kitab Yahudi dimasukkan di bagian awal, dan disebut Perjanjian Lama.

 

Perjanjian Lama adalah Old Testament di Alkitab berbahasa Inggris atau the Bible. Penerjemahannya literal sekali, mengikuti alur penulisan dan pemikiran aslinya. Kalau yg muncul itu Elohim, maka diterjemahkan menjadi God di dalam bahasa Inggris, dan diterjemahkan menjadi Allah di dalam bahasa indonesia.

 

Kalau yg muncul JHVH, maka alkitab berbahasa Inggris mengikuti tradisi asli Yahudi tidak menerjemahkannya, tetapi menggunakan kata ganti yg berarti gusti atau junjungan. Bisa juga berarti dewa. Itu dituliskan sebagai the Lord dalam bahasa Inggris. Dan dituliskan sebagai Tuhan di dalam bahasa indonesia.

 

So, mungkin inilah untuk pertama kalinya anda membaca dan tahu bahwa di dalam kitab-kitab Yahudi ada perbedaan antara istilah Elohim dan JHVH. Perbedaan itu tetap dipertahankan bahkan ketika kitab-kitab Yahudi diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa indonesia. Dan ke semua bahasa lainnya yg ada di dunia.

 

Tradisi Yahudi mengharamkan mengucapkan nama JHVH. Itu terlalu sakral. Tetapi Elohim bisa diucapkan. Makanya Elohim masuk ke bahasa indonesia sebagai Allah. Orang Kristen di Indonesia mengucapkannya Allah (biasa saja dan bukan Awloh). Asalnya dari kata Elohim di bahasa ibrani. Dan bukan ngutil dari Allah di bahasa arab.

 

Allah di bahasa arab sendiri merupakan transliterasi dari istilah Elohim di bahasa ibrani. Lebih tepatnya, Elohim menjadi Allahuma di bahasa arab, dan dari Allahuma akhirnya disingkat menjadi Allah saja.

 

Penerjemah Alkitab ke bahasa indonesia tahu bahwa Allah itu berasal dari kata Elohim, makanya ketika Alkitab diterjemahkan ke bahasa indonesia, digunakanlah kata Allah. Kata Allah di alkitab berbahasa indonesia digunakan untuk menggantikan kata Elohim di kitab-kitab Yahudi.

 

Elohim itu menjadi God di bahasa Inggris. Dan bukan menjadi Tuhan. Tuhan itu lain lagi. Dalam bahasa Inggris, Tuhan adalah the Lord. God itu Elohim atau Allah.

 

Setahu saya orang Kristen tidak pernah bayar royalty ke orang-orang Yahudi. 100% seluruh kitab suci Yahudi dibajak oleh orang Kristen. Masuk ke alkitab Kristen sebagai Old Testament dalam alkitab berbahasa Inggris. Atau Perjanjian Lama dalam alkitab berbahasa indonesia.

 

Budaya barat terkadang disebut sebagai Yahudi-Kristen (Judeo-Christian). Anda tidak tahu kenapa disebut demikian, bukan? Sekarang saya kasih tahu. Barat disebut Yahudi-Kristen (Judeo-Christian) karena kitab suci mereka terdiri dari dua bagian. Sekitar 3/4 bagian dari alkitab itu adalah kitab-kitab Yahudi. Yg asli kitab-kitab Kristen cuma sekitar 1/4 dari alkitab.

 

So, apakah implikasi dari ini semua? Mengapa orang Yahudi tidak boleh menyebutkan JHVH ? Mengapa orang Kristen menerjemahkan JHVH itu sebagai the Lord atau Tuhan ? Pedahal dari kitab-kitab yg sama, Yahudi bisa menyebutkan Elohim. Dan Elohim itu menjadi God dalam bahasa Inggris, atau Allah dalam bahasa indonesia.

 

Menurut saya, karena secara intuitif orang Yahudi juga sudah tahu bahwa Tuhan itu tidak terdefinisikan. Tidak bisa diucapkan. Yg bisa diucapkan dan diuraikan sampai bibir kita jontor dan lidah kita kering adalah istilah Elohim. Elohim diterjemahkan menjadi God atau Allah.

 

Sedangkan JHVH sampai sekarang tidak boleh diucapkan. Kita tidak tahu pasti bagaimana mengucapkannya. Bahasa ibrani tidak mengenal huruf hidup (vokal), so JHVH bisa diucapkan sebagai Yehuva, bisa juga sebagai Yahveh. Tetapi itu pun tidak diucapkan. Kalau kata itu muncul di kitab suci Yahudi, yg diucapkan atau dibaca adalah kata ganti. Kata ganti untuk JHVH ada banyak. Biasanya disebut sebagai Adonai. Adonai adalah kata ganti untuk JHVH yg akhirnya diterjemahkan menjadi the Lord di bahasa Inggris, atau Tuhan di bahasa indonesia.

 

Saya berargumen bahwa kalau orang Yahudi mengucapkan Adonai sebagai pengganti JHVH, maka mereka mengucapkan sesuatu yg jauh lebih besar daripada pengertian apa pun. Di bahasa Inggris, itu menjadi the Lord. Di bahasa indonesia, itu menjadi Tuhan. So, karena Kristen merupakan turunan dari Yahudi, seharusnya makna Tuhan di dalam Kristen juga tidak bisa terdefinisikan. Tidak terperikan.

 

Yg bisa terdefinisikan itu Elohim, yg menjadi Allahuma di bahasa arab. Menjadi God di bahasa Inggris. Dan menjadi Allah di bahasa indonesia. Allah di alkitab berbahasa indonesia dan melayu bukan lah bajakan dari nama tuhan orang arab. Allah yg dipakai orang Kristen merujuk kepada Elohim di kitab-kitab Yahudi, yg lalu menjadi Allahuma di bahasa arab.

 

Elohim di kitab-kitab Yahudi akhirnya terurai menjadi berbagai asma. Ada El Shaddai, ada El Sabaoth, banyak sekali. Itulah asma-asma Elohim. Bisa diuraikan karena merupakan hasil pemikiran manusia.

 

Tetapi JHVH tetap tidak bisa diuraikan. Ada karena memang ada. Orang Yahudi sampai sekarang menyebutnya sebagai Adonai. Dan orang Kristen menyebutnya Tuhan.

 

Tuhan itu the Lord dalam bahasa Inggris, dan bukan Allah. Allah itu Elohim. Beda maknanya. Elohim atau Allah bisa diuraikan sampai bibir anda jontor dan mulut anda kering. Sedangkan Tuhan tidak bisa diuraikan. Tuhan ada karena ada. Titik.

 

 

Mungkin sebagian dari anda tidak bisa mengikuti uraian saya ini. Sebagian lagi pasti bisa. So, JHVH atau Tuhan ini adalah Acynthia di dalam Hindu Bali. Acynthia ini adalah yg tak terperikan. Tidak bisa didefinisikan. Ada karena memang ada. Yg bisa didefinisikan itu Dewi Saraswati, Dewa Ganesha, Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Siwa, Dewi Durga. Dewa dewi itu asma kalau dalam bahasa arab, percikan sifat illahi. Sedangkan yg illahi itu sendiri tetap tidak bisa diuraikan. Tetap ada dan utuh walaupun manusia sudah menemukan berbagai macam manifestasinya yg disebut sebagai dewa dewi dalam hinduisme, atau sifat-sifat Elohim / Allah di dalam Yudaisme dan Kristen, atau asma Allah di dalam Islam.

 

Elohim bisa diucapkan. Elohim itu sifat, bisa diuraikan. Menurut saya artinya Tuhan yg maha rahim. Maskulin dan feminin sekaligus. Itulah Elohim di Yudaisme, yg menjadi Allah ketika diucapkan oleh pemeluk Kristen berbahasa indonesia. Yg tidak bisa diucapkan itu JHVH, diterjemahkan menjadi Tuhan di dalam alkitab berbahasa indonesia.

 

Dalam Taurat Musa dituliskan kisah ketika Musa bertanya kepada Tuhan: Siapakah namaMu? — Tuhan menjawab: Eheieh asher eheieh. Artinya: I shall become what I shall become. Aku akan menjadi apa yg aku akan menjadi. Bisa juga diartikan: I am what I am, atau aku adalah aku.

 

Eheieh Asher Eheieh adalah JHVH, dan itu menjadi the Lord dalam bahasa Inggris. Atau Tuhan dalam bahasa indonesia. Bukan Allah. Kalau Allah itu terjemahan dari Elohim. Elohim artinya maskulin dan feminin. Maskulin yg rohim. Lelaki berv*g&na, something like that. Bisa juga disebut Lingga Yoni. Yin dan Yang.

 

So, semuanya filsfat saja, bukan? Kalau saya sudah bawa ke filsafat yg mendekati aslinya, sebagian akan bingung. Tapi sebagian mungkin akan mulai berpikir, bahwa ternyata leluhur kita tidak goblok-goblok amat. Untuk anda yg belum tahu, saya juga menganggap Yahudi sebagai leluhur saya. Agama-agama samawi berasal dari kepercayaan Yahudi. Dan itu ada sejarahnya.

 

Tuhan (JHVH) punya sejarah, yaitu tidak boleh disebutkan. Tidak boleh diuraikan. Sama seperti Acynthia dalam Hinduisme, dia ini ada karena dia ada. Sudah, gitu aja. Tetapi ada juga kata pengganti seperti Elohim yg bisa diuraikan. Elohim itu maskulin dan feminin sekaligus. Lingga Yoni. Yin dan Yang.

 

Setelah Elohim (Allah) ada berbagai nama yg semuanya merupakan uraian atau sifat. Di dalam Hinduisme, ini paralel dengan nama para dewa dewi.

 

Ada El Echad (Allah yg satu), ada El Shaddai (Allah yg utuh, something like that), ada El Hanne’eman (Allah yg setia), ada El Ernet (Allah yg benar), ada El Tsaddik (Allah yg adil), ada El Elyon (Allah yg maha tinggi), ada El Olam (Allah yg abadi), ada El Roi (Allah yg mengamati saya), ada El Yeshurun, El Gibbor, El De’ot… dll istilah Yahudi yg diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain dengan berbagai istilah. Tetapi JHVH sendiri tetap tidak diterjemahkan. Cuma disebut sebagai the Lord dalam bahasa Inggris, atau Tuhan dalam bahasa indonesia.

 

Apa maksud saya menulis ini? Maksud saya adalah mengajak anda semua melihat bahwa Yudaisme itu memiliki makna yg dalam. Bukan cuma syariat potong ujung p3nis dan haram makan babi saja. Syariat di Yudaisme itu diberikan oleh Musa, dan bukan oleh JHVH. JHVH itu dikonsepkan sebagai tetap, tidak berubah. Selalu ada. Ada karena memang ada. Dan, menurut saya, JHVH ini hidup di dalam anda. Kesadaran anda itu JHVH, ada karena memang ada, hm..

 

Saya lihat, penerjemahan alkitab tetap teratur. Kalau muncul JHVH, tetap diterjemahkan sebagai Tuhan. Kalau muncul Elohim, diterjemahkan menjadi Allah. Kalau JHVH Elohim, maka diterjemahkan menjadi Tuhan Allah. Setahu saya, semua aliran Kristen tidak ada satu pun yg pakai istilah Yehuwa (Jehovah), kecuali komunitas Saksi-Saksi Yehuva (Jehovah’s Witnesses).

 

Selain menurut tradisi haram diucapkan, kata Yehuwa / Jehovah juga tidak pernah populer di kalangan orang Kristen. Orang Kristen memilih menggunakan kata Tuhan. Makanya ada sekelompok orang Kristen yg ngotot menggunakan kata Jehovah. Ini menjadi denominasi tersendiri, yaitu Saksi-Saksi Yehuwa. Dulu di masa Orde Baru, Saksi-saksi Yehuwa pernah dilarang oleh pemerintah. Dilarang karena dianggap “ajaran sesat” karena Saksi Yehuwa tidak mengakui Trinitas. Pedahal itu bisa saja, tidak semua Kristen mengakui trinitas. Kristen Suriah dan Kristen Mesir tidak mengakui Trinitas. Kristen arab seperti Khadijah dan Abu Thalib pasti lah juga tidak mengakui trinitas.

 

Agama kan buatan orang, makanya apa pun sah saja. Yg tidak sah adalah yg mau memaksakan pendapatnya. Kristen di Eropa abad pertengahan mau memaksakan diri untuk diterima oleh orang-orang Yahudi. Yahudi lari ke wilayah Arab dan diterima dengan tangan terbuka. Tetapi orang Yahudi tetap tidak berganti agama. Baik di Eropa maupun di wilayah Arab, Yahudi tetap Yahudi. Mereka tahu bahwa Kristen dan Islam menjiplak habis-habisan dari agama mereka, makanya mereka tidak mau jadi Kristen maupun Islam.

 

Dari sudut pandang Yahudi, Kristen sudah membuat agama baru dengan membatalkan syariat dari Musa. Pedahal agama Yahudi itu isinya syariat. Ada Talmud yg merupakan uraian dari Taurat Musa. Setelah Talmud muncul uraian turunannya. Lalu ada turunan dari turunan. Semuanya dibuat oleh para rabbi (ulama) Yahudi. Uraiannya mirip dengan fiqih di Islam. Saya pikir, fiqih Islam itu mencontek gaya penguraian dari Yahudi. Dan dari Kristen juga. Cuma, Yahudi punya gaya penguraian yg benar-benar tua, dan kalau sudah masuk ke Kristen, gaya penguraiannya sudah tercampur dengan filsafat Yunani. Fiqih dari Islam juga terpengaruh filsafat Yunani. Semuanya uraian tentang syariat. Apa yg diinginkan oleh Elohim / Allah itu. Pedahal semuanya buatan manusia belaka.

 

Saya mau mengarahkan perhatian anda kepada JHVH yg tidak dikonsepkan itu, selain ada karena ada. Kalau dibaca, maka disebut sebagai Adonai, dan bukan Yehovah atau Yehuwa. JHVH itu menjadi Tuhan atau the Lord. Tuhan itu the Lord dan bukan Allah. Allah itu God di bahasa Inggris. Allah bisa diuraikan menjadi berbagai asma atau gelar, tetapi JHVH atau Tuhan tidak bisa diuraikan. Uraian tersingkat dari JHVH adalah Elohim, yaitu maskulin dan feminin. Kejantanan yg disaput dengan kebetinaan. p3nis bersaput v*g&na. Lingga Yoni. Yin Yang. Itu uraian tersingkat tentang Tuhan yg tidak terdefinisikan.

 

JHVH itu Acynthia di dalam Hinduisme. Tidak terperikan. Tidak terdefinisikan. Dalam Buddhisme, JHVH adalah nibbana. Sama, tidak terdefinisikan. Yg bisa terdefinisikan adalah konsep-konsep bawahannya seperti Trimurti dalam Hinduisme. Dalam Buddhisme, nibbana tidak terdefinisikan, tetapi Sukawati (Surga) bisa. Kalau anda berbuat baik mengikuti syariat Buddhisme, maka anda akan masuk Sukawati.

 

Tao di kepercayaan Cina tidak terdefinisikan, tetapi Li bisa. Li itu etiket, budi pekerti, dan diuraikan habis-habisan di dalam Confucianisme (ajaran Konghucu).

 

JHVH, Tao, Nibbana, dan Acynthia ini sama saja. Sesuatu yg tidak bisa diuraikan. Ada karena ada. Dan itu bukan agama. Kalau sudah jadi agama, maka ada syarat-syaratnya. Dan semua syarat itu dibuat oleh manusia, walaupun secara tidak kenal malu dibilang ada Elohim yg memberikan syariat itu. Pedahal Elohim tidak memberikan syariat apapun kepada orang Yahudi. Yg memberikan syariat itu Musa. Dan itu pun nyontek. So, bahkan Yahudi sendiri tidak orisinil. Musa, kalaupun ada, pasti lah nyontek dari kepercayaan Mesir dan Mesopotamia kuno. Dia menciptakan istilah Elohim dan JHVH.

 

Bagusnya, Musa masih sempat menuliskan bahwa JHVH yg artinya aku adalah aku tidak bisa diucapkan. Dan disitulah kuncinya. JHVH adalah kesadaran yg ada. Ada dimana? Ada di anda, ada di saya, dan ada di semua orang. Ada karena ada.

 

Kita tidak tahu darimana kita berasal. Sebelum lahir kita ada dimana? Kita tidak tahu. Setelah mati kita kemana? Kita juga tidak tahu. Yg kita tahu: kita ada karena kita ada. Saya ada karena saya ada. Itu saja. Dan itulah JHVH. Itulah Tuhan.

 

Yg ada karena ada bukan lah tubuh anda. Melainkan kesadaran anda. Anda sadar karena anda sadar. Seingat anda, anda selalu sadar. Ada memory yg anda tidak ingat, tertelan di bawah sadar anda. Tetapi anda tahu, bahkan di saat itu anda sadar. Anda selalu sadar.

 

JHVH = Eheieh Asher Eheieh = Aku Ada Karena Aku Ada = Kesadaran Kristus = Kesadaran Buddha = Eling = Enlightement = Pencerahan = Logos = Nur Muhammad.

 

Tidak perlu lagi ada agama.