Dila sudah selesai menjalani ujian nasional. sebentar lagi dia harus mendaftar SMA. Entah kenapa dia mantab benar ingin mendaftar di SMA 9 tempatku mengajar. Di dekat tempat tinggalku ada 2 SMA. SMA 9 dan SMA 4. Tahun ini SMA 4 menjadi sekolah RSBI. Jelas biaya masuk SMA 4 jadi lebih mahal. Tapi itu tak menjadi alasan seandainya Dila mau masuk SMA 4.

 

 

Setelah berhari-hari berpikir dan mencari informasi tentang situasi sekolah, siang tadi aku membujuk Dila untuk masuk SMA 4. Aku pikir dia layak masuk sekolah RSBI. Dia cukup pintar kok. Tapi sekali lagi aku gagal. Dia benar-benar tetap pada keputusannya.

 

Setelah memaparkan kelebihan dan kekurangannya, segala resikonya, aku serahkan pada Dila untuk memilih. Tiba-tiba terlintas dalam ingatanku tentang note yang aku bikin tahun lalu. judulnya 'Sok Tau'. tentang para orang tua yang sok tau dengan memaksakan kehendaknya dalam menentukan masa depan anak2nya. ah…aku seolah sok tau mana yang paling baik buat Dila.

 

Apakah benar dengan masuk SMA 4 masa depannya segera terjamin? ah aku sungguh-sungguh sok tau. Tuhan punya caranya sendiri dan DIA bisa memberikan jalan buat siapa saja yang percaya. apakah benar dengan masuk SMA 4 Dila pasti bahagia? ah, dia sendiri ingin masuk SMA 9 sejak lama dan apapun yang terjadi dia tidak ingin mendaftar ke SMA manapun selain SMA 9. apakah benar dia akan bahagia di SMA 4 nantinya? well, aku benar-benar sok tau.

 

Aku tercenung. ini baru ujian awal untukku sebagai orang tua. memilihkan sekolah ibarat ujian bagi ego orang tua. nanti akan ada beberapa ujian lagi. setelah masuk SMA, Dila akan memilih jurusan saat naik kelas dua. saat itu, egoku sebagai orang tua juga diuji. sanggupkan aku membiarkan dia memilih pilihannya sendiri? setelah kelas tiga SMA dia akan memilih jurusan di perguruan tinggi. sanggupkan aku merelakan dia memilih jurusan yang dia minati tanpa campur tanganku? untungnya dia sudah punya cita-cita dari sekarang, ingin jadi psikolog. nanti tinggal membantu mencari informasi saja bagaimana untuk menjadi psikolog.

 

Setelah lulus kuliah Dila akan bekerja, apakah aku mampu untuk merelakan dia memilih jalannya sendiri? setelah itu Dila akan menikah. mampukah aku membiarkan dia memilih pasangannya sendiri sesuai dengan hatinya, tanpa campur tangan egoku?

 

Dalam perjalanan hidup Dila, setiap langkah adalah ujian untuk egoku. aku selalu berusaha untuk mengikuti keinginannya. sejak dia kecil aku tak pernah memaksa ketika dia sudah jenuh mengikuti satu les. ketika dia aku masukkan les sempoa dan sudah berada di titik jenuh, dia keluar dan aku setuju saja. ketika dia mengeluh PR kumon yang dia hadapi makin susah dan ingin keluar, aku biarkan saja dia keluar meski hal ini disayangkan beberapa orang.

 

Tiba-tiba aku teringat sebaris puisi yang dibacakan dalam adegan sinetron di TVRI jaman dulu sekali, ketika TVRI masih menjadi satu-satunya siaran di televisi. 

 

 

Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke dunia bebas!

Selama angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

dalam rimba dan padang hijau

 

Pergi ke laut lepas, anakku sayang

pergi ke alam bebas!

Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau

 

 

Jika bayang telah pudar

dan elang laut pulang ke sarang

angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

dan nakhoda sudah tahu pedoman

boleh engkau datang padaku!

 

 

Kembali pulang, anakku sayang

kembali ke balik malam!

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

Kita akan bercerita

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

 

(puisi karya Asrul Sani, berjudul "SURAT DARI IBU")

 

Seharusnya aku tetap mampu menjadi ibu yang mampu merelakan anaknya memilih jalan hidupnya.