(Simpanse Bonobo di Zaire yang saling menggosokkan alat kelamin mereka untuk melambangkan ikatan sosial) Manusia beragama percaya bahwa moralitas berasal dari agama dan bila agama kehilangan pengaruhnya, manusia akan menjadi immoral. Apakah moralitas merupakan produk agama? Apakah orang yang tidak beragama juga tidak bermoral?

 

Anda berkata bahwa tanpa agama orang akan tukar menukar istri. Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang muda yang berkeras bahwa jika tanpa agama orang akan melakukan incest dan tidak ada yang akan mampu menahan mereka untuk meniduri ibu mereka sendiri. Saya bertanya apakah dia bergairah terhadap ibunya dan apakah agamanya satu-satunya pencegah dia meniduri ibunya? Dia tampak tersinggung.

Bagian terbesar dari moralitas kita adalah naluri kita. Incest tidak dianut oleh peradaban manapun baik agamis maupun tidak. Tentu ada beberapa individu dengan perkembangan mental yang abnormal. Pada kenyataannya, kecuali Simpanse Bonobo di Zaire yang saling menggosokkan alat kelamin mereka untuk melambangkan ikatan sosial, tidak ada jenis kera lain yang berkembang biak melalui incest.

Biasanya para pejantan mengunjungi kelompok lain untuk mencari pasangan. Singa muda dipaksa meninggalkan kelompoknya untuk mencari pasangan singa betina di kelompok lain.

Menariknya, pernikahan di antara anak-anak yang tumbuh bersama dalam suatu panti asuhan jarang terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi, sekalipun anak-anak ini tidak ada yang memiliki hubungan darah.

Namun beberapa isu moral tidak sejelas contoh di atas. Apa yang tergolong moral dan imoral tergantung pada waktu dan budaya. Bahkan bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Apa yang dulu dianggap bermoral misalnya seribu tahun lalu menjadi immoral saat ini, demikian sebaliknya. Begitu pula apa yang dianggap bermoral di satu belahan dunia bisa dianggap sebaliknya di bagian dunia lain.

Contohnya perilaku seks bebas. Banyak kebudayaan menganggap hal tersebut imoral. Tetapi ada juga kebudayaan yang menganggapnya sebagai norma. Bagi kami, ‘yang berkiblat ke Barat’ memiliki beberapa partner secara bersama-sama merupakan hal yang biasa. Namun bagi  para penganut poligami, hal tersebut adalah ‘anugerah Allah’.

Di bagian dunia lain, wanita melakukan poliandri. Dalam suku Inuit, seorang pria akan menawarkan istrinya kepada tamunya untuk dihamili. Perilaku mana yang imoral? Dan siapa yang menentukan hal tersebut?

Apakah memperlihatkan bagian tubuh itu imoral? Di tengah hutan Amazon beberapa suku benar-benar telanjang BULAT. Apakah hal tersebut imoral ? Bagi mereka itulah gaya hidup. Di beberapa negara, wanita diharuskan menutup seluruh bagian tubuhnya sepertt pocong. Apakah itu moral yang baik? Jika hal demikian menjadi definisi moral, apakah wanita yang berpakaian sopan tanpa hijab termasuk imoral? Bagaimana pula dengan wanita berbikini di pantai? Apakah mereka imoral? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bergantung pada siapa anda dan apa standar moral anda.

Moralitas ditentukan oleh situasi, tetapi etika melampaui waktu dan ruang. Etika berakar pada logika. Moralitas dapat berbeda antar kebudayaan, dari waktu ke waktu dan dari orang per orang. Siapa yang berhak menentukan sesuatu itu bermoral atau tidak?

Seorang pria di Pakistan dapat menganggap bahwa pertemuan istrinya dengan sepupu laki-lakinya tanpa kehadiran orang ketiga sebagai tindakan imoral, menodai kehormatannya dan untuk memulihkan kehormatan, sang istri harus dibunuh. Baginya, pertemuan dua saudara adalah tindakan imoral tetapi membunuh dianggap baik-baik saja.

Kita harus membedakan moralitas yang membahayakan masyarakat dengan yang tidak. Apa yang membahayakan harus dianggap tidak etis dan dilarang. Perbudakan contohnya, melanggar kebebasan seorang manusia. Karena itu entah dilarang atau dipraktekkan oleh suatu budaya, hal tersebut tetap tidak etis. 1400 tahun yang lalu memiliki budak bukanlah tindakan immoral. Tetapi secara etika, perbudakan itu salah dan hal tersebut melintasi waktu.

Sekarang saya akan menjawab kekuatiran anda mengenai tukar menukar istri. Saya menyebut hal tersebut sebagai perzinahan. Sekalipun dilakukan dengan sadar dan sama-sama suka. Pertanyaan anda adalah apa yang akan dilakukan oleh suatu masyarakat yang tidak beragama. Jawaban saya sama dengan jawaban Pierre Trudeau di hadapan parlemen Kanada. Dia berkata, “Negara tidak boleh mencampuri urusan kamar tidur penduduk.” Ia menyampaikan hal tersebut 30 tahun yang lalu. Namun saya tidak pernah melihat orang-orang Kanada menawarkan istri mereka kepada orang lain.

Memang urusan ranjang tetangga saya bukan urusan saya. Seperti yang dikatakan kawan: saya tidak mau terkubur bersama mereka. Lantas mengapa kita membahasnya?

Sekarang mari kita lihat dibeberapa negara dimana pemerintahnya mengatur kehidupan pribadi penduduknya. Ibu-ibu yang memiliki anak diluar nikah dirajam batu sampai mati dengan cara yang paling sadis. Apakah itu yang disebut bermoral? Orang dicambuk karena meminum bir. Wanita dipukuli sampai berdarah karena selendang mereka tersingkap sehingga rambut mereka terlihat di muka umum. Tolong katakan kepada saya moralitas mana yang lebih baik?

Sebagai penutup, kita harus membedakan antara apa yang imoral  dan apa yang tidak etis. Masalah moralitas harus diserahkan kepada individu; masalah etika harus diajarkan di sekolah dan ditegakkan melalui hukum atau kode etik. Apakah berganti-ganti pasangan itu imoral atau tidak etis? Jawaban atas bagian pertama bergantung pada siapa anda. Jika anda berada dalam kelompok ultra liberal negara barat mungkin hal tersebut bukanlah hal imoral. Ini berkaitan dengan selera, budaya dan didikan. Kita tidak boleh terpaku pada sisi moral saja. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa di dalam kamarnya bukanlah urusan kita. Pertanyaannya adalah: apakah hal tersebut etis?

 

Jika berganti-ganti pasangan di-sah-kan misalnya melalui poligami, apakah hal tersebut tetap imoral? Mereka yang melakukannya mungkin tidak terlalu memusingkannya, tetapi hal tersebut tetap saja tidak etis. Pernikahan adalah institusi sosial yang pengaruhnya lebih luas daripada hanya kepada dua orang yang bersumpah setia. Bukan hanya anak-anak tetapi seluruh masyarakat akan ‘dipaksa’ untuk mendukung keluarga yang berubah jadi tidak berfungsi. Masyarakat harus membayar biaya pendidikan anak-anak, makanan mereka, pakaian mereka dan juga menanggung akibat atas sampah masyarakat yang kemungkinan besar akan dihasilkan oleh keluarga yang berantakan tadi. Poligami harus dilarang bukan karena imoral, sesuai dengan uraian kita tadi bahwa hal tersebut adalah masalah individu, tetapi karena poligami itu tidak etis. Hal tersebut membahayakan anak-anak dan masyarakat.

 

Apa yang disebut moral tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Moral religius terlihat tidak etis lagi. Apa yang kita anggap bermoral berlawanan dengan agama. Poligami, perbudakan, pengorbanan hewan, perkawinan dengan anak kecil dan lainnya tidak termasuk hal immoral. Tapi wanita yang bepergian sendiri, tidak memakai hijab atau memasuki lift bersama seorang asing disebut immoral.

 

Karena itu moralitas harus diserahkan kepada masing-masing dan bisa berubah-ubah. Namun masalah etika harus didefinisikan. Nilai-nilai etis berdasarkan logika dan Golden Rule. Keduanya bersifat universal dan tidak akan berubah secara intinya, apa yang melukai orang dan mengganggu hak mereka itu tidak etis. Pada kenyataannya, binatangpun memiliki hak dan suatu masyarakat yang etis harus melindungi dan menghargai binatang.

Moralitas adalah sesuatu yang pribadi dan sesuatu yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Tetapi moralitas sejati tidak berasal dari doktrin dan kepercayaan kuno. Sangat menyedihkan bahwa ada yang membuat moralitas menjadi tawanan agama. Sangat absurd memaksakan moralitas dari suatu budaya yang telah lalu terhadap masyarakat modern saat ini. Moralitas diperoleh dari kesadaran manusia dan kepekaan rohani. Semakin kita dewasa, tindakan kitapun semakin baik. Kita tidak hidup dalam moralitas demi kerakusan atau ketakutan akan hidup setelah kematian. Kita berlaku moral karena moral meningkatkan kehidupan kita. Moralitas harus menjadi bagian kehidupan kita, sama seperti pengetahuan menjadi bagian dari diri kita. Moralitas sejati tidak pernah bertolak belakang dengan etika.

 

Etika sangat sedikit dipengaruhi agama. Seperti kata Gandhi, etika adalah persoalan ekonomi. Pertanyaannya adalah dimana kita akan menginvestasikan energi kita untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Jika anda menginvestasikan energi dalam kenikmatan seksual anda akan memperoleh hasil yang sementara. Jika anda menginvestasikannya di dalam hal-hal yang berarti anda akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar.

 

Hidup dalam moral yang baik tidak berarti menghilangkan kenikmatan. Hidup tanpa rasa syukur bukanlah hidup. Semua merupakan pilihan. Apa yang kita pilih sebagai kesenangan kita? Itulah pertanyaan yang penting. Seseorang yang menginvestasikan energinya dalam melayani kemanusiaan mendapat kepuasan yang lebih besar daripada orang yang berkubang dalam pencarian kesenangan duniawi.

 

Tetapi sekali lagi ini adalah pilihan pribadi, didasarkan pada kematangan dan pemahaman spiritual. Moralitas tidak seharusnya dipaksakan oleh otoritas yang lebih tinggi seperti negara atau agama. Moralitas yang dipaksakan bukanlah moralitas. Seseorang yang menjalani hidup dalam moral karena takut pada neraka bukanlah orang yang bermoral karena ia tidak memilih perilaku tersebut secara bebas. Rasa takut dan kerakusan, merupakan metode dalam agama tradisional, yang dipakai sebagai insentif untuk memaksa orang menerima sistem moral tidak akan membuat suatu masyarakat yang bermoral. Tidak seorangpun dan tidak satu agamapun yang mampu memaksakan moralitas kepada orang lain. Pemaksaan sistem moral tidak etis. Agama yang mengancam pengikutnya dengan api neraka atau memancing mereka dengan janji-janji surga tidak akan menjadikan pengikut yang bermoral. Cemeti dan wortel memang berhasil dalam melatih binatang tetapi tidak dalam mendidik manusia. Hanya orang yang dapat memilih secara bebas dapat disebut sebagai orang yang bermoral.

 

Seorang yang bermoral memilih untuk hidup baik karena hal tersebut memberinya kepuasan. Orang yang jujur puas dalam perilaku jujurnya. Ia akan memilih disiksa daripada harus berbohong atau menipu. Moralitas kita berhubungan langsung dengan kematangan spiritual. Jika kita bertumbuh secara spiritual; pengetahuan, sumbangan kepada masyarakat dan bekerja untuk perdamaian akan memberikan imbalan yang jauh lebih besar daripada berkubang dalam kepuasan sensual. Tidak ada yang salah dengan kepuasan sensual. Tetapi kita mendapatkan kepuasan lebih dalam melakukan sesuatu kepada masyarakat dibandingkan dengan memuaskan diri kita sendiri.

 

Agama primitif memperlakukan anda seperti anak kecil (kalau bukan disebut binatang). Mereka ingin memaksakan sistem moral yang sudah kadaluarsa dengan mengancam pengikutnya dengan api neraka dan menyuap anda dengan surga untuk menerima moralitas kuno dan kadang tidak etis. Entah anda hidup bermoral karena rasa takut dan kerakusan ini atau karena anda mendapatkan kepuasan dengan berperilaku moral, tetap saja ditentukan oleh kedewasaan dan kepekaan rohani.

Moralitas keagamaan tidak diturunkan dari langit. Moralitas keagamaan merupakan moralitas orang jaman kuno, dan cara pandang mereka. Kita tidak membutuhkan moralitas orang jaman dulu sama seperti kita tidak membutuhkan teknologi, ilmu, dan pengobatan mereka. Manusia modern harus membentuk moralitas sendiri. Moralitas harus berkembang sama seperti perkembangan pengetahuan dan kesadaran manusia.

Moralitas baru tidak berarti imoral. Artinya keluar dari masa kegelapan ketidakpedulian dan membangkitkan generasi yang lebih bertanggung jawab. Manusia tidak lagi dapat dibelenggu dengan rasa takut dan ancaman di kehidupan setelah kematian. Ilmu pengetahuan telah memberi cahaya terhadap absurditas konsep agama dan menggoncang fondasi dari kepercayaan yang dipegang teguh leluhur kita. Hari ini kita harus mendidik anak-anak kita dengan kesadaran. Mereka harus belajar bahwa umat manusia itu satu. Sama seperti orang tua kita mengajarkan system kepercayaan dan kita mempercayainya. Kita dapat mengajar anak-anak kita kebenaran dan mereka akan percaya.

Kita tidak perlu berbohong dan menakut-nakuti anak kita dengan api neraka untuk mendidik moral, cinta kasih dan perilaku mereka. Metode seperti itu tidak pernah berhasil. Sejarah manusia menjadi saksinya.

Jika kita mencintai anak kita, mereka juga akan belajar mencintai. Jika kita jujur, secara moral dan etika mereka akan belajar jujur. Kita dapat membangun manusia yang lebih baik dengan berperilaku manusiawi sekarang ini. Tetapi pertama-tama kita harus mengajar mereka cinta kasih.

Hal ini akan menjadi kelahiran baru bagi umat manusia seutuhnya. Kita akan menjadi satu, berbagi planet yang sama. Planet satu-satunya untuk hidup! Tidak ada lagi selain bumi yang mampu menampung manusia. Planet yang kecil ini, permata biru yang menggantung di tengah semesta yang kelam dan dingin adalah satu-satunya rumah kita. Jangan hancurkan demi suatu kebohongan.

 

(Artikel tentang Golden Rule baca disini : http://en.wikipedia.org/wiki/The_Golden_Rule  )