Judul tulisan bertajuk Licence to Kill ini terinspirasi oleh judul film lawas Licence to Kill-nya James Bond yang terkenal itu. Namun, isi tulisan ini samasekali tidak ada hubungan langsung dengan film ke-16 James Bond yang dirilis tahun 1989, disutradarai oleh John Glen dan dibintangi oleh Timothy Dalton itu. Tulisan Licence to Kill karya saya ini dan film Bond yang berdasar dari novel karya John Gardner itu hanya sama judulnya. Itu saja.

 

Naskah Licence to Kill alias “Izin Membunuh” ini berisi kajian ilmiah dan blak-blakan tentang ajaran agama yang menginspirasi atau melegitimasi tindak kekerasan dan pembunuhan. Izin membunuh yang bersumber dari ajaran TUHAN (tepatnya KONSEP BIKINAN MANUSIA TENTANG TUHAN)

Jika selama ini sudah sangat banyak orang yang menyangka serta mengatakan di sana-sini bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan atau pembunuhan, maka kehadiran naskah Licence to Kill ini akan niscaya meruntuhkan pandangan yang seperti itu.

Mendampingi nafsu hegemoni-politik-kekuasaan manusia, agama, khususnya monoteisme, telah (sudah), sedang, dan akan terus bisa menjadi legitimator mesin-mesin pembunuh yang sangat mengerikan.

 

***

“Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan!”, teriak para agamawan.

 

Klaim bahwa “tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan”, hal itu sesungguhnya, secara terus terang saja, harus saya katakan sebagai ekspresi ketidakjujuran dari para agamawan masa kini terhadap realitas. Apakah yang menjadi alasan mereka berperilaku tak jujur berkata bahwa “tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan”, itu bukan hal yang menjadi fokus saya dalam tulisan ini. Mungkin mereka berkata seperti itu guna membela agama agar selalu terlihat baik, guna menganulir banyaknya orang-orang yang akhir-akhir ini seringkali melakukan kekerasan atas nama agama dan Tuhan. Atau mungkin, maaf, untuk upaya membodohi umat atau upaya menutupi sisi buruk dari “wajah iblis agama”. Atau untuk tujuan-tujuan lain, entahlah.

 

Tetapi mengapa saya menyebut perangai mereka sebagai tidak jujur? Jawabnya adalah sebab fakta-realitanya di muka bumi ini jelas ada agama (dan teks-teks keagamaan) yang memang mengajarkan perilaku kekerasan secara terus terang dan “istiqomah” kepada umatnya. Kekerasan yang disengaja: DIPERINTAHKAN OLEH TUHAN DAN DILEGITIMASI OLEH TEKS KEAGAMAAN ITU SENDIRI!

 

Ehm… Ketika saya berkata-kata apa adanya, Anda lagi-lagi jangan terkejut membaca keterus-terangan saya ini. Anda harus membiasakan diri. Mari kita lanjut.

 

Nafas teks-teks keagamaan memang bisa (dan sudah) menjadi suatu “weaponry of killing” atau “persenjataan pembunuhan”. Ini realita dan fakta. Tetapi, sekali lagi, begitu banyak orang beragama yang tak rela mengakuinya. Bahkan banyak yang takut untuk membicarakannya. Membicarakan agama sebagai weaponry of killing dianggap sebagai haram atau tabu atau tidak sopan atau sesuatu yang kurang ajar. Sehingga, demi menghindari ranah tabu tersebut jauh-jauh, mereka pun senantiasa menutupinya dengan berteriak-teriak dalam berbagai kesempatan (via koran, media elektronik, dsbnya) bahwa tak ada agama yang mengajarkan pembunuhan atau kekerasan.

 

Niscaya memang perlu hati yang legawa agar mampu melihat dengan benderang bahwa nafas teks-teks keagamaan (khususnya agama monoteisme, sebut saja Trio Samawi: Yudaisme-Kristen-Islam), disamping bertabur ayat yang mengajarkan kedamaian, juga dengan mudah dijumpai bertabur ayat yang dapat memprovokasi atau menjadi inspirator lahirnya tindak kekerasan dan pembunuhan.

 

Agama monoteisme “Trio Samawi” (Yahudi-Kristen-Islam) adalah agama buku, yakni agama yang ke-eksistensi-annya dirancang-bangun berdasarkan teks-teks kuno yang oleh pengikutnya terkemudian diyakini sebagai kitab suci, yang sebagian mengklaim bahwa ayat-ayat yang bertaburan dalam kitab tersebut adalah wahyu made in TUHAN yang turun dari langit melalui perantaraan malaikat. Itu pula sebabnya agama monoteisme sering disebut sebagai agama langit (samawi).

 

Kebesaran, peradaban, popularitas dan zaman keemasan monoteisme tak pernah lepas dari yang namanya buku atau kitab-kitab. Tradisi tutur-tinular berupa kitab-kitab monoteisme telah melahirkan banyak ide-gagasan dan imajinasi yang ikut membentuk teologi-teologi ortodoks agama monoteisme mencapai masa kejayaan atau kepopuleran.

 

Monoteisme Yudaisme, Kristen dan Islam menjadi sangat populer hingga sanggup mengubah peradaban dunia jelas adalah karena tradisi buku / kitab. Berbeda dengan monoteisme Zoroaster yang tidak lekat dengan tradisi kitab. Padahal monoteisme Zoroaster adalah saudara tua dari Yudaisme-Kristen-Islam, dimana selanjutnya bisa kita jumpai dengan jelas banyak sekali ajaran Zoroaster yang diteruskan atau diadopsi oleh Yudaisme-Kristen-Islam (seperti adanya kepercayaan terhadap malaikat, surga-neraka, kemesiasan / al-masih, dllnya), namun karena tidak memiliki tradisi memelihara dan menyebarkan kitab maka agama Zoroaster menjadi jauh kalah populer dengan adik-adiknya (Yudaisme-Kristen-Islam).

 

Kalau kita jujur dan mau mengaji secara komprehensif, niscaya akan melihat dengan terang benderang bahwa sesungguhnya agama langit (monoteisme), melalui teks-teksnya, telah mengajarkan hal-hal yang bersifat dualistis: TUHAN yang mengasihi dan membenci, mengampuni dan menghukum, memaafkan dan membalas dendam, baik dan jahat, dilarang membunuh dan harus membunuh, dlsbnya, termasuk juga mengajarkan – menginspirasi – memprovokasi – melegitimasi – tindak kekerasan terhadap golongan lain yang dianggap sebagai musuh.a