<ket. foto. Yesus di Taman Getsemani. Hanya sedikit sekali orang kristen yang tahu bahwa perkataan-perkataan Yesus dalam Injil Yohanes, kebanyakan bukanlah kata-kata dari mulut Yesus sendiri, melainkan penuangan iman komunitas penulis Injil Yohanes yang memakai bibir Yesus. tentu saja termasuk kalimat-kalimat doa Yesus di Taman Getsemani ini.>  Teman-teman, ada beberapa surat melayang ke inbox saya. Mereka meminta saya untuk menjelaskan beberapa hal dengan bahasa yang lebih mudah, terutama apa yang saya tulis dalam note : Melepaskan Yang Pertama dan Memeluk Yang Kedua.

 

 

Baiklah. Saya akan coba. Saya beri judul :

 

Kehidupan Kekal – Khronos dan Kairos

 

Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang digunakan untuk mengungkapkan kata ‘waktu’ yaitu khronos (χρόνος) dan kairos (καιρός) .

 

Khronos adalah waktu dalam artian kerangka waktu yang berjalan berdasarkan urutan waktu / sekuensial dan bersifat matematis. Contoh 1 jam, 2 hari, 4 bulan dsb.

 

Kairos adalah waktu dalam artian momen penanda signifikan.

 

contoh 1:

Dalam pertandingan sepak bola waktu pertandingannya adalah 2 X 45 menit – itulah khronos. Pertadingan itu mendapati momen penanda signifikan pada menit ke 75 dimana seorang pemain team A memasukan bola ke gawang lawan. Ia berteriak kegirangan “yes”, sementara para penonton berdiri bersorak dan bertepuk tangan riuh rendah – itulah kairos.  Kairos adalah momen “Ahhhhhh”

 

Contoh 2:

 

Seorang perempuan mengandung bayi umumnya selama 9 bulan 10 hari – itulah khronos.

dan saat-saat dimana si jabang bayi menendang-nendang perut ibunya, saat-saat dimana ia bereaksi terhadap musik yang diperdengarkan untuknya, dan pada puncaknya, saat dimana si ibu mempertaruhkan nyawa melahirkannya ke bumi, saat-saat dimana ia mengeden dan bayi itu pun keluar dan menangis. Saat dimana si ibu mengatakan “ahhhhh  akhirnya. “ – itulah kairos.

 

 

Ada kekeliruan laten dalam pemahaman tentang hidup yang kekal dalam benak kebanyakan orang. Kebanyakan dari kita berpikir bahwa hidup kekal adalah di mana setelah kita mati, roh kita dibawa entah ke surga atau neraka secara kekal, tidak pernah mati-mati.

 

Dalam notes sebelumnya, Dee. bag 6,  saya sudah paparkan bahwa saya menolak pemahaman ‘roh / jiwa ‘ sebagai entitas yang independen, lepas dari tubuh, dan yang  abadi.

 

 

Coba bayangkan, logiskah kita untuk mempercayai adanya roh yang kekal yang berdiam dalam tubuh ini paling lama 80 tahun kemudian ketika tubuh ini mati, roh itu diganjar selama-lamanya atau dihukum selama-lamanya untuk perbuatannya selama 80 tahun itu?

 

Jika memang ada roh yang kekal, dari manakah roh sebelum kita terlahir? Masa iyah ada suatu yang memiliki awal tapi tidak memilki akhir?

 

Pada abad 4 M patriakh Jerome dan Agustinus pernah bersitegang tentang hal ihwal roh. Jerome  percaya bahwa roh itu diciptakan oleh allah. Sedangkan Agustinus percaya roh itu dilahirkan dari ‘rahim’ allah. Dua-duanya menurut saya sama-sama tak berdasar.

 

Kita tahu bahwa agama adalah produk budaya dan pemikiran lokal. Karena itu produk pemikiran, maka kita akan dapati banyak centang perentang diskursus tentang roh dan hidup kekal. Dan ini adalah fenomena umum di semua agama. Sebagaimana mereka diajarkan, begitulah mereka memandang dunia.

 

 

Namun sisi baiknya adalah dalam setiap sejarah keagamaan, ada saja pemikir dan mistikus yang mencoba menggali suatu pemikiran dengan lebih dalam. Kemudian para mistikus ini dalam bahasa yang samar mencoba mengekspresikan keyakinan mereka dalam kisah. Dari kisah-kisah itulah seharusnya kita mengambil inti sarinya, bukan kerangka ceritanya. Dan dalam hal ini kita akan mengutip 2 ayat dari Injil Yohanes

 

Dalam Injil Yohanes dikisahkan tentang doa Yesus yang sedang berdoa kepada allah, bapanya – bapa kita semua – tentang pengharapan Yesus akan murid-murid yang akan ia segera tinggalkan. Yesus saat itu sedang berdoa tengah malam di taman Getsemani, beberapa saat sebelum ia ditangkap untuk diadili. Demikianlah penggalan doanya:

 

 

Inilah hidup yang kekal  itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,  satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yoh 17:3)

 

supaya mereka semua menjadi satu,  sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. (Yoh 17: 21)

 

Aku mohon, Bapa, supaya mereka semua menjadi satu, seperti Bapa bersatu dengan Aku, dan Aku dengan Bapa. Semoga mereka menjadi satu dengan Kita supaya dunia percaya bahwa Bapa yang mengutus Aku. (Yoh 17:21 terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari)

 

 

Saya ingin menjelaskan terlebih dahulu latar belakang Injil Yohanes ini.

 

Tidak seperti pemahaman umat islam yang mempercayai bahwa allah swt. menurunkan injil kepada Isa as atau Yesus, kemudian Yesus mengucapkannya kepada umatnya maka terbentuklah injil. Injil ini, menurut umat islam mengajarkan tentang islam dan kedatangan nabi yang akan datang yaitu Muhammad.  Dan karena kata Muhammad atau Achmad tidak ada di Injil maka islam menuduh injil dipalsukan oleh umat Kristen. Ini adalah pemahaman keliru, immature dan serampangan. Karena secara fakta Yesus tidak pernah menulis apa-apa. Injil-injil ditulis bukan oleh Yesus tapi ditulis oleh para penulis anonimus beberapa decade setelah peristiwa penyaliban Yesus.

 

Pada waktu Yesus hidup, injil atau kabar baik adalah suatu gerakan moral, suatu etos hidup, suatu isme, suatu urat nadi, bukan kitab. Inti dari injil adalah bahwa allah, menurut Yesus, menerima manusia bukan karena mereka sempurna menjalankan syariat hukum taurat, melainkan menerima manusia karena manusia berharga, apa adanya mereka.

Hukum dalam hati jauh lebih berharga dari pada hukum-hukum tertulis buatan manusia, walaupun ada hubungan dialektis dari keduanya.

 

Sekalipun demikian, titik tolak pelayanan Yesus hanya disekitar Galilea saja. Yesus hanya mengajar kepada umat Yahudi palestina, dan dalam sedikit kesempatan kepada orang Yunani dan Romawi. Berbeda dengan pelayanan Paulus yang trans-nasional.

 

Dan yang harus diingat,  Yesus dalam gaya-gaya mengajarnya, tidak pernah pernah dalam keadaan trans, kesurupan, lalu berceloteh tentang Jibril yang datang padanya dan berkata “Wahai umatku, demikianlah firman allah…. “ TIDAK PERNAH. Semua pengajaran Yesus disampaikan dalam keadaan sadar, sehat walafiat dan waras dan tidak perlu mengatasnamakan Jibril atau bersumpah-sumpah demi gunung, demi langit, demi bumi, demi malaikat-malaikat dsb.  Ia mengajar dengan penuh kuasa, berwibawa, berkharisma, hangat namun tegas. Bukannya berkata, “demikianlah firman tuhan " , Yesus malah berkata – " aku berkata kepadamu sesungguhnya  bla. bla. bla".  

 

Dari manakah sifat-sifat Yesus yang penuh wibawa ini? Kuasa itu datang dari kontemplasi, doa-doa dan meditasinya. Ia seorang yang sangat tekun dalam doa. Ia sering menghabiskan malam untuk berdoa dan bangun pagi-pagi sekali untuk berdoa kembali. 

 

Pada jaman Yesus orang menyebut dan memandang tuhan sebagai suatu yang jauh di atas sana, kudus, menggetarkan dan menakutkan. Namun Yesus dengan enteng menyebut allah sebagai abba, panggilan mesra dari seorang anak kepada bapaknya, mungkin dalam bahasa kita sekarang, babeh, daddy, bokap, pipih dsb.  Dan bagi Yesus, allah itu adalah bapa buat semua manusia, bukan hanya bagi dia saja. Kita adalah anak-anak allah. Bukan hanya Yesus saja.

 

Kata ‘anak’ tidak harus selalu berkonotasi secara biologis seperti yang dipahami dalam teologia islam, lam yalid walam yulad = tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakan.  Kata 'anak' di sini berarti setara dalam kualitas dan sifatnya. Yesus ingin semua muridnya setara dalam kualitas dan sifat seperti allah yaitu kudus, suci dll. Begitu pula orang Yahudi melihat Yesus sebagai perwujudan dari idea tentang allah yang berbela rasa pada kaum miskin dan perempuan. Tidak pernah terbesit dalam benak mereka mengatakan bahwa Yesus adalah anak allah dalam artian allah beranak dan anaknya adalah Yesus ! Mengapa hal semudah ini ternyata begitu sukar dipahami baik oleh orang Kristen trinitarian dan  apalagi oleh orang islam? 

 

Injil-injil ini ditulis sebagai memoar atau ingatan atas guru mereka. Dari keempat injil yang ada Injil Markus ditulis paling awal, oleh seorang penulis anonimus. Injil ini ditujukan untuk orang-orang Kristen dengan latar belakang romawi. Injil ini tidak menceritakan tentang kelahiran Yesus yang katanya luar biasa itu. Bahkan kisah tentang kebangkitan Yesus tidak ada di naskah aslinya. Kemungkinan besar injil ini ditulis oleh seseorang dari komunitas Markus, seorang murid Paulus. Maka dari itu disebut Injil Markus.

 

Mungkin satu atau dua dekade setelah itu ditulislah injil Matius dan Lukas, dimana kisah-kisah tentang kelahiran dan kebangkitan dan kenaikan Yesus mulai dituturkan dengan memakai bahan-bahan cerita dari dewa-dewa lain. Yesus menjadi seorang superstar yang mengatasi dewa-dewa pujaan agama lain. Kemanusiaan Yesus tertutupi oleh gegap gempita pengilahiannya. Injil Matius ditujukan untuk komunitas Kristen Yahudi, sedangkan Injil Lukas dituliskan untuk komunitas Kristen Yunani. Semua kisah itu tidak bisa dijadikan sebagai pelaporan faktual, melainkan sebagai media keimanan.

 

Injil keempat adalah Injil Yohanes. Sekalipun namanya Injil Yohanes, namun tidak ditulis oleh Yohanes murid terkasih Yesus. Melainkan oleh seorang penulis anonimus di Efesus. Penanggalan penulisan injil ini paling dini sekitar tahun 90 M dan paling lambat tahun 120 M. Gaya bahasa penulisan injil ini paling baik dan menyentuh. Injil ini disebut juga injil mistik, karena ada akan terasa sentuhan mistik dan kasih mendalam dari hampir semua kisah-kisahnya. Jelas sekali baik dari segi bahasa maupun ruh-nya Injil ini ditulis oleh seorang terpelajar yang juga penekun mistik dan berwawasan filsafat yunani mendalam, diantaranya stoa, epikurian, gnostik dan neoplatonis. Jadi tidak mungkin bila penulis Injil ini adalah murid Yesus langsung. Bisa jadi murid generasi ketiga atau keempat dari murid-murid Yesus.

 

Nah kita kembali ke Yohanes pasal 21, di sini dikisahkan tentang Yesus yang berdoa di taman getsemani pada malam ia diserahkan untuk diadili dan disalibkan. Benarkah ini kisah sebenarnya? Kita tidak tahu. Mengapa? Jika Yesus berdoa sendirian, lalu siapa yang mendengar doanya untuk dituliskan menjadi bagian dari Injil? Jika setelah Yesus berdoa lalu ia diseret ke pengadilan, ia ditinggalkan murid-muridnya, kemudian ia disalib dan wafat , lalu bagaimana penulis Injil Yohanes tahu dengan detil tentang isi doanya?

 

Saya mengajak para pembaca untuk menjadi rasional dalam melihat teks keagamaan, jangan langsung emosional dan menyela “kan Yesus bangkit dari kematian, lalu bisa saja ia mengatakan ini pada murid-muridnya ?” kalau demikian, mengapa kisah Yesus yang berdoa di taman getsemani ini, hanya ditulis di Injil Yohanes paling tidak 60 tahun setelah peristiwa penyaliban Yesus? Kenapa ia tidak muncul di injil-injil yang lain?

 

Jawabannya yang paling memungkinkan adalah bahwa kisah-kisah injil ini bukanlah pelaporan fakta sejarah, melainkan kerangka cerita yang dengannya si penulis menyampaikan keyakinannya sendiri tentang Yesus, dalam perspektid dan kedalaman kesadarannya masing-masing. Inilah kenapa terdapat banyak ketidakcocokan detil dari satu injil ke injil yang lain. Karena para penulisnya tidak pernah kongkow-kongkow dulu dalam menuliskan Injil. Injil, bagi mereka adalah sarana untuk menyatakan idea tentang kebaikan dan kebajikan dan kebenaran dalam persona Yesus lewat kisah-kisahnya. Selama anda tidak memahami perspektif ini, selama itu pula anda akan berputar-putar dalam kotak yang sempit.

 

Lewat kisah Yesus di taman Getsemani ini, penulis Injil Yohanes ingin menyampaikan bahwa  puncak dari perjalanan religiusitas menurut Yesus adalah suatu pengenalan akan apa yang disebut dengan allah. Ada komunion atau pengenalan dan kebersamaan antara manusia dengan realitas yang disebut allah. Allah bagi Yesus dalam injil Yohanes bukanlah suatu sosok di atas sana, namun suatu realitas sehari-hari, suatu dimensi perspektif yang lebih erat dari mana kita memandang dunia.

 

Allah atau tuhan adalah konsep memandang, memandang diri, manusia, sesama dan alam sebagai suatu keutuhan. Idea ketuhanan yang samar ini mewujud dalam cara kita memandang, berucap dan berprilaku.  Ada komuni / manunggaling antara yesus dan bapanya, yesus dan murid-muridnya. Murid-muridnya dengan bapa.

 

Dan pengenalan yang kuat kepada kebenaran, yang dalam hal ini diwakili dalam  figur allah dan yesus adalah hidup yang kekal itu.

 

Jadi hidup yang kekal dalam perspekti penulis Injil Yohanes bukanlah hidup untuk selama-lamanya. Ia tidak berbicara tentang khronos. Hidup yang kekal dalam pemahaman mereka adalah hidup yang berkelimpahan dengan kualitas kebajikan dan pengenalan akan hidup itu sendiri, melihat hidup itu senyata-nyatanya dan menerima kesedemikianan hidup ini.

 

Coba anda bandingkan dengan kisah Buddha dengan murid-muridnya:

 

Suatu saat Buddha bertanya kepada murid-muridnya, “Bikkhu, berapa lama manusia hidup?”

 

“Paling lama 60 tahun, ya Bante”

“Jika ia tidak berpenyakitan, ia bisa hidup 80 tahun atau lebih, Bante.” jawab yang lainnya. Dan banyak murid menyebutkan angka-angka lain, ada yang 70 ada yang 100 dsb.

 

”Salah, murid-muridku. Hidup manusia hanya bergantung pada rengkuhan nafasnya. Ia hidup dan mati dalam tarikan masuk dan tarikan keluar nafasnya. Bukan pada berapa tahun ia berjalan-jalan di muka bumi ini”

Juga di suatu kesempatan, ketika Pertapa Gautama telah tua dan hampir mangkat, muridnya bertanya, bagaimana cara kami mengenang Guru? Gautama menjawab " Ia yang hidup di dalam dharma, berarti hidup telah melihat dan mengenang aku."

Nah, apakah anda bisa menangkap paralelisme antara apa yang ditulis oleh Penulis Injil Yohanes dan Buddha?

 

sekali lagi, hidup kekal adalah hidup dalam kualitas sesungguh-sungguhnya. Hidup kekal mengacu pada kairos, moment penanda, bukan pada khronos- berapa lamanya waktu. Namun demikian ada dialektika antara kairos dan khronos. Kairos tidak ada tanpa khronos. Dan khronos tidak bermakna tanpa kairos.

– Gol hanya akan tercipta apabila ada pertandingan.

– Momen kelahiran hanya akan ada apabila sang ibu hamil. Pencerahan hanya akan ada apabila anda mengenal ajaran sebagai ajaran, sebagai wadah yang sangat terbatas dan masih perlu dikritisi.

 

Sepanjang orang masih tertumbuk pada ajaran agama sebagai dogma yang paling terakhir sempurna, tidak bisa salah dan tidak bisa dikritik, dan berusaha orang lain mengakui superioritas agamanya diatas agama lain, selama itu pula ia bagaikan monyet yang mengerumuni  buah kelapa, berharap hanya dengan menggelinding-gelindingkannya akan tertawarkan  dahaganya.