(Transkrip Khotbah Misa Paskah di Gereja Penjual Inventaris Belanda, 24 April 2011)

 

<ket. foto 1. Yesus yang telah bangkit dari kematian pertama-tama menampakan diri pada Maria Magdalena dan Maria ibunya. Historis atau tidak, benar-benar kejadian atau tidak, kisah ini tetap memberi kesan bagi kita bahwa Yesus dan gereja awal sangat menghargai status wanita. sebab dalam tradisi Yahudi dan Islam, saksi wanita tidak bisa dianggap valid kesaksiannya. Namun tidak demikian dengan Yesus. Ia malah menunjuk Maria Magdalena <istrinya?> sebagai salah satu soko guru dalam padepokannya.>

 

 

 

Bapak, Ibu, saudara-saudara terkasih Sidang Misa Paskah yang berbahagia, salam sejahtera dari alam semesta turun atas kita semua.

 

Sungguh Aa Jin merasa terhormat diundang untuk berkhotbah Gereja Penjual Inventaris Belanda ini. Terima kasih kepada Pastur ibu Yanti Kusumastuti dan keluarga, dan jajaran Majelis yang antara lain adalah Johannes Onggo Sanusi, Abang Sihar  Marojahan Panggabean, Benediktus Sudjatno,  Frans Donald, Yulius Leonarta Tarigan, dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebut satu-persatu.

 

Sebelum saya memulai Renungan Misa Minggu Pagi ini ijinkan saya menyapa dulu secara lebih hangat kepada kaum yang senior.

 

Bagaimana Om-om  – senang?  <senang – jawab om-om>

Bagaimana tante-tante – girang?  <bergirang – jawab tante-tante>

 

Baguslah. Sebagaimana Paulus tuliskan dalam suratnya kepada salah satu jemaah,

 

“Segala sesuatu yang indah, suci, dan sedap didengar, terhadap semua itu – pikirkanlah.”

 

Yah pikirkanlah yang bagus-bagusnya di dunia ini, nikmati arti kehadiran kita di dunia ini tanpa sesal dan takut. Hidup dalam bentuk kita kali ini hanya satu kali. Tak perlu ditakuti.   Ia yang merasakan makna hidup terdalam bersama dengan orang-orang yang dikasihinya, akan tertawa ketika ajal menyambutnya.

 

 

Setiap kali saya diundang ke Gereja Penjual Inventaris Belanda ini, Aa Jin selalu tertawa melihat keragaman ras yang ada di sini.

 

Ada  ras kaukasoid seperti halnya keponakan-keponakan Leonardo Rimba yang baru datang dari Australia,  

Ada ras mongoloid seperti halnya Johannes  Onggo  Sanusi dan Benediktus Sudjanto.  

Dan ada juga ras hutasoid seperti halnya para marga Tarigan, Situmorang dan Hutapea

Semoga tidak ada diantara anda yang termasuk ras selulid dan sembelid.

 

Bagus. Bagus. Kalian di sini hidup tentram mengurusi urusannya masing-masing, tidak seperti Sunni dan Syiah yang demennya ngerecokin keyakinan orang lain.

 

Jika Paulus mengatakan “ Di dalam kristus , tidak ada lagi kaum Yahudi, Yunani, dan Romawi, tidak ada lagi tuan dan hamba atau budak sahaya. Kalian adalah satu bersama dan di dalam kristus,”

 

maka sekarang Aa Jin katakan :

 

”Di dalam rengkuhan alam semesta yang maha rahmani dan rahimi, tiada lagi Kristen, Islam, Yahudi, Buddha, Hindu atau Kejawen dlsbg. Tiada lagi theis, atheis, pantheis dan marxis dlsbg, yang ada hanyalah manusia-manusia merdeka, yang terdidik dan tercerahkan, yang telah terbebaskan dari ilusi-ilusi tahayul yang dulu ditemukan oleh nenek moyang kita dalam ketidak mengertian dan kekuranganpengetahuanan mereka. ”

 

Sekali lagi Aa Jin tegaskan, kita adalah satu ras manusia, elemen dari alam semesta, yang mencari makna hidup. Jadi rayakanlah hidup ini sebaik-baiknya bersama dengan orang-orang yang kita cintai, sepanjang tidak melukai dan memperkosa hak-hak hidup orang lain.

 

Baiklah Sidang Misa yang terkasih, saat ini saya akan membawakan renungan yang berjudul :

 

MELEPASKAN YANG PERTAMA – MEMELUK YANG KEDUA

 

Sudah saya duga pasti anda akan tertawa dan menggeleng-geleng, apalagi Majelis Johannes sampai terguling-guling di lantai. Bukan. Bukan demikian, ini bukan tentang istri pertama dan istri kedua.

 

Aa Jin dari sononya orang yang setia dan pencinta satu istri.

 

“Bersuka citalah dengan pasangan di masa mudamu – bukan dengan pasangan mudamu ”demikianlah motto rumah tangga kami.

 

Justru saya menyarankan agar dalam rumah tangga anda sekalian tidak ada gejolak atau gonjang-ganjing yang berlebihan, kecuali hanya sebagai bumbu cinta saja.

 

Apa yang “pertama” yang harus dilepaskan agar kita dapat memeluk yang “kedua” ?

 

Mari saya ajak sidang jemaah Misa Paskah untuk melihat lebih dalam pada suatu rentetan kisah di Perjanjian Lama.

 

Jemaat Gereja Penjual Inventari Belanda yang saya kasihi, dalam banyak contoh di Kitab-kitab Perjanjian Lama, allah nampaknya menolak yang pertama, tetapi menerima dan memeluk yang kedua.

 

Tentu kata ‘allah’ yang saya maksud bukan suatu sosok kedewaan yang tinggal di seberang sono, sesosok lelaki tua berjanggut dan duduk di singgasana surga. Tidak.  Allah bagi saya adalah personifikasi dari idea-idea manusia tentang apa yang dianggap baik, benar, adil, suci, menyukakan, memberi kelepasan, dan idealisme-idealisme lain. Idea-idea ini dipersonifikasikan dalam suatu wadah kepribadian. Demikianlah allah dalam naturnya. Allah adalah allah yang ber-evolusi, seirama dengan dialektika manusia itu sendiri dalam peradabannya.

 

Jadi, telah saya anggap clear apa yang saya rujuk sebagai allah.

 

Dalam Kitab Kejadian atau Genesis kita melihat dengan jelas contoh-contoh dimana allah menolak yang pertama dan memeluk yang kedua. Mari kita ambil contoh-contoh kasusnya.

 

 

Kain vs. Set

 

Konon, menurut kisah sahibul ngibul hikayat, anak Adam yang pertama adalah Kain, kemudian Kabil atau Habel. Namun ternyata Kain, dalam kecemburuannya, membunuh adiknya sendiri yaitu Habel. Maka alam ini murka. Kain disuruh pergi dari rumah Adam dan hidup dalam pengasingan.

 

Tak lama kemudian Adam mempunyai seorang anak laki-laki kembali sebagai hadiah dari semesta atas kehilangan Habel dan kepergian Kain. Anak laki-laki ini bernama Set. Baik Adam, dan alam, merahmati Set, sehingga darinya keturunan Adam bisa dibangun kembali. Jadi allah menolak Kain dan memberkati Set.

 

 

Ismael vs. Ishak

 

Bapak Abraham atau Ibrahim yang sudah tua, tidak memiliki anak dari istri satu-satunya yaitu Sarai. Maka dalam keputusasaannya Sarai membujuk Abraham untuk mendekati pembantunya, seorang wanita dari Mesir, Hagar.

 

Karena takut tidak memiliki anak laki-laki sampai matinya, akhirnya Abraham menyetujui dan mengambil Hagar, maka lahirlah Ismael. Abraham berpikir bahwa Ismaellah yang akan menggantikan dirinya, menjadi penerus alur darah dagingnya.

 

Namun jalan hidup berbicara lain. Ternyata Sarai, sesuai dengan ilham yang diberikan semesta kepada Abraham, mengandung di usia yang sangat tua. Ketika anak yang dikandungnya itu lahir, ia beri nama  Ishak, yang berarti ‘tertawa’, karena Sara tadinya tertawa dalam ketidakpercayaan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki.

 

Demikianlah seperti yang kita ketahui bahwa Ishaklah, dan bukan Ismael, perjanjian antara Abraham dan tuhannya terpelihara. Sebagai tanda kesetiaan Abraham, ia berani mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran pada tuhannya. Sekali lagi, allah menolak yang pertama, yaitu Ismael, dan memeluk yang kedua, yaitu Ishak.

 

 

Esau vs. Yakub

 

Ketika Ishak sudah besar dan berkeluarga. Ishak memiliki dua anak lelaki dari istrinya Ribka. Yang pertama bernama Esau, yang kedua bernama Yakub.

 

Ishak mencintai Esau karena Esau paras eloknya, kekar dan berbulu, cocok dijadikan penerus tradisi keluarganya. Ia senang berburu, mengejar singa dan juga perawan dan janda kaum Kanaan. Sedangkan istri Ishak, Ribka, menyayangi Yakub yang kemayu dan suka bantu-bantu ibunya di dapur. Dia juga pemalu dan mudah disuruh-suruh menggembalakan ternak.

 

 

Ribka tidak suka kelakuan Esau. Ia risau apabila Esau dijadikan penerus tradisi keluarga, untuk itu ia mengajarkan Yakub untuk menjebak Esau. Suatu hari Esau, selepas berburu binatang liar dan juga janda liar, ia merasa haus dan lapar. Di dekat itu Yakub, dengan sengaja dari tadi telah mendirikan kemah dan memasak sup kacang, makan dengan lahap.

Melihat itu Esau berkata, “ Berikanlah padaku semangkuk sup kacang itu, adikku.”

“Boleh saja abang, asalkan kau berjanji dahulu padaku.”

“Janji apa itu?”

”Aku akan berikan padamu semangkuk sup, asalkan kau mau menukarkannya dengan hak kesulungan.”

”Hak kesulungan? Siapa yang peduli.  Untuk apa hak kesulungan itu seandainya aku mati karena lapar dan haus? Ambilah hak itu, sebab dengan tangan dan kakiku aku telah mampu menjadi lelaki sejati. Ambilah segala tradisi bodoh itu untukmu.”

Demikianlah Esau yang ceroboh dijebak oleh Yakub dan ibunya.

 

Ketika Bapak Ishak itu sudah tua dan matanya lamur berat, ia merasa tidak kuat untuk hidup lebih lama lagi, ia ingin menurunkan berkah-berkah kepada Esau. Untuk itu ia menyuruh Esau pergi ke padang untuk berburu sebagai tanda terima kasih seorang anak yang akan diberkahi – kepada bapaknya. (perhatikan bagaimana tradisi memberkahi anak dari orang tuan dan sang anak harus memberikan sajian, sama persis dengan inisiasi sang guru kepada seorang sadhaka dalam tradisi spiritual. Mengapa? Karena berkah dari guru dan orang tua, bagi yang mempercayainya, dipercayai sebagai kunci akan tercurahnya berkah dari alam).

 

Mendengar itu, Ribka segera memanggil Yakub untuk menyembelih domba peliharaannya. Dagingnya dimasak, sebagian bulu domba itu diberi lem dan ditempelkan ke tangan Yakub agar nanti ketika ia menghadap ayahnya dan berpura-pura sebagai Esau, ayahnya menyangka Yakub ini Esau.

 

 

Ketika Yakub menghadap Ishak, ayahnya ini terkejut, betapa cepat Esau kembali. “Esau-kah engkau? Mengapa begitu cepat?”

”Alhamdulillah, buruannya mudah didapat ayah.”

”… dan  ah kenapa pula suaramu tidak seperti biasanya? Apakah engkau Esau atau Yakub? Mari nak ke sini biar aku memeriksa tanganmu”

 

Mata yang sudah lamur berat itu tidak mampu membedakan kedua anaknya, maka dirabalah Yakub yang sedari tadi melumuri tangannya dengan bulu domba.

 

“Nak, suaramu seperti Yakub, namun tanganmu kekar dan berbulu seperti Esau. Namun biarlah, mungkin aku yang sudah terlalu tua sehingga penuh keraguan. Bawalah masakan itu biar aku memasaknya dan sesudah itu memberkatimu.”

 

Demikianlah akhirnya konspirasi ibu dan anak kedua ini berhasil memperdaya sang bapak dan si anak sulung. Esau datang terlambat, ketika ia memberikan persembahan kepada ayahnya, Ishak baru tahu bahwa ia sudah ditipu oleh istrinya dan Yakub. Ia telah memberkati Yakub sepenuh-penuhnya sehingga walaupun ia tetap akan memberkahi Esau, berkah bagi Esau menjadi inferior ketimbang bagi Yakub. Esau menangis. Namun ia diingatkan oleh ibunya bahwa karena kecerobohannya sendiri telah menukarkan hak kesulungan itu dengan semangkuk sup kacang, maka ia ditakdirkan untuk menjadi kedua ketimbang adiknya. Semua ini tidak akan dilakukan oleh Yakub apabila Esau tidak menukarkannya dengan semangkuk sup kacang.  Semua ini tidak akan terjadi apabila ia memang cerdas dan tidak ceroboh. Seorang yang hanya menekankan otot dan nafsu, manakah mungkin layak dijadikan pemimpin keluarga yang kelak akan menjadi besar?

 

 

Ruben, Simeon & Lewi vs. Yehuda  

 

Yakub, yang nantinya disebut Israel, memiliki 2 istri sah yaitu Lea dan Rahel. Setiap istri yang sah ini mengijinkan satu orang gundik untuk dinikahi oleh Yakub. Rahel mengajukan Bilha sedangkan Lea mengajukan Zilpa. Kenapa? Karena ada persaingan antara Lea dan Rahel dalam mengambil hati Yakub. Pada waktu itu istri yang memiliki anak laki-laki akan merasa disayang oleh suami ketimbang istri yang tidak beranak atau beranak perempuan saja.

 

Ketika Yakub tua, seperti halnya tradisi turun temurun, ia harus memberkahi anak-anaknya. Namun alih-alih memberkahi Ruben, sebagai anak sulung dari Lea – istri pertamanya, ia malah memberkahi Yehuda, anak keempat. Mengapa?

Karena Ruben telah kedapatan meniduri Bilha, gundik dari bapaknya. Inilah yang mendukakan Yakub. Sekalipun Bilha itu seorang gundik, ia adalah gundik ayahnya, mengapa Ruben begitu ceroboh dengan nafsu syahwatnya?

Adapun Simeon dan Lewi, anak kedua dan ketiga, juga tidak mendapat berkah kesulungan karena mereka tersangkut skandal pembunuhan yang mengerikan.

Seperti yang kita ketahui bahwa Yakub hanya memiliki satu anak perempuan, Dina. Suatu saat Dina yang cantik ini diperkosa oleh oleh Sikhem pangeran dari raja penguasa negeri Hewi. Setelah kejadian perkosaan itu Sikhem dan ayahnya meminta Yakub untuk merelakan Dina menjadi istri Sikhem.

 

Mendengar kejadian itu Simeon dan Lewi bermufakat. Mereka menganjurkan Yakub, ayah mereka untuk menerima Sikhem sebagai menantu asalkan, Sikhem dan semua laki-laki di kerajaan mereka menyunat penis mereka sama seperti kaum bani Yakub.

 

Syaratpun disetujui, Sikhem,ayahnya dan seluruh lelaki sebangsanya menyunat penis mereka. Namun apa daya, di hari ketiga, ketika rasa sakit mencapai puncaknya, Simeon dan Lewi datang ke kerajaan itu dan membinasakan semua laki-laki dikerajaan itu sebagai balas dendam atas diperkosanya Dina.

 

Demikianlah akhirnya Yakub memilih Yehuda untuk diberkahi ketimbang Ruben, Simeon dan Lewi.

 

Jadi di sini kisah yang sama terulang kembali, allah menolak yang pertama dan memeluk yang kemudian.

 

Saul vs. Daud

 

Pada waktu bangsa Israel memilih bangsa berkerajaan ketimbang bangsa theokrasi, mereka dengan perantaraan Samuel, meminta Saul untuk diangkat menjadi raja, sebab Saul berbadan tegap dan cakap.

 

Adapun Samuel dengan berat hati akhirnya memberkahi Saul. Namun sejarah nampaknya berpaling dari Saul. Di hari tuanya, tanduk kekuasaan Saul tidak diteruskan pada anaknya, justru Samuel, dengan hikmat yang diberikan padanya memilih seorang lelaki yang masih muda belia untuk diangkat menjadi raja menggantikan Saul, yaitu Daud.

 

Dinasty pertama kerajaan Israel, yaitu Saul, berhenti pada dirinya sendiri dan tampuk itu dengan berdarah-darah direbut oleh Daud. Demikianlah Daud naik tahta dan meneruskan  dinastinya, dan dengan itu pula tergenapilah berkah dan janji Yakub, bahwa suatu saat bangsa yang lahir dari 12 anak-anaknya ini akan dipimpin oleh seseorang dari kaum Yehuda.

 

 

Anak haram vs Salomo

 

Pada waktu Daud dalam puncak kejayaannya, ia merasa tidak perlu memimpin langsung peperangan. Ketika anak buahnya berperang ia justru bersenang-senang di istananya. Suatu saat ketika ia sedang berjalan-jalan di balkon gedung istanya, ia melihat seorang wanita tengah mandi di kolam kompleks istananya. Ia jatuh hati pada perempuan itu. Ia bernama Betsyeba, seorang perempuan yang sudah bersuamikan Uria, seorang jendral perang kepercayaan Daud. Daud mengajaknya tidur. Demikianlah perselingkuhan itu dimulai.

 

Suatu ketika Betsyeba meminta bertemu Daud untuk menyampaikan bahwa dirinya telah hamil dan yang menghamilinya tentu saja Daud, karena telah berbulan-bulan Uria, suaminya diutus perang dimedan laga. Mendengar itu Daud merencanakan konspirasi keji. Ia memanggil Uria untuk kemudian dikirim lagi ke medan peperangan yang lebih dasyat dengan posisi paling depan. Meskipun Uria heran, ia tetap melaksanakan perintah yang agak terlalu itu. Dengan tergesa-gesa dan tanpa diperbolehkan mengunjungi istrinya terlebih dahulu ia maju ke medan perang, dan akhirnya mati di sana.

 

Bayi hasil perselingkuhan Daud dan Betsyeba ini hanya hidup beberapa hari saja. Ia bahkan tidak pernah diberi nama, sebab tuhan lewat perantaraan nabi Nathan mengutuk perbuatan Daud itu. Ia adalah seorang raja termasyur, baginya mendapatkan perawan manapun bukanlah kesukaran. Mengapa harus mengambil istri dari jendral yang ia setia padanya dan bahkan sengaja mengatur pembunuhan padanya?

 

Namun berkah kepada Daud tidak surut. Anak pertama yang meninggal itu diganti dengan anak kedua, anak hasil perkawinan resminya dengan Betsyeba. Anak ini diberi nama Salomo atau Sulaeman. Dan allah memberkahi Salomo sehingga pada saat ia bertahta kerajaan Israel, konon, mencapai bentangan wilayah yang luas seperti yang dijanjikan oleh allah kepada Musa. Demikianlah kita melihat paralelismenya kembali : allah menolak yang pertama dan memeluk yang kedua.

 

                                 ***

 

Nah, Sidang Misa Paskah yang berbahagia, sebenarnya apa yang ada dibalik semua kisah-kisah parallel ini? Mengapa tiap kali yang pertama selalu pada akhirnya ditolak dan yang kedua justru dirangkul?

 

Semua kisah parallel ini tidak akan berarti tanpa seorang mistikus yahudi abad 1 M yang bernama Paulus.

 

Sebab demikianlah kalimat yang terlontar darinya setelah kontemplasi yang mendalam:

 

Adam Vs Kristus

 

“Jadi sama seperti ketidaktaatan seseorang (maksudnya ketidak-taatan Adam di Taman Eden) semua orang telah menjadi berdosa,  demikian pula oleh ketaatan satu orang (maksudnya ketaatan Yesus yang taat sampai mati di kayu salib) semua orang menjadi orang benar.”

 

Jadi menurut Paulus, sekali lagi saya tegaskan, menurut Paulus, atau dalam perspektif Paulus, Yesus Kristus itu menggenapkan idea-idea orang sebelumnya tentang apa itu kebenaran dan hukum.

 

Dalam perspektif dan kontemplasi Paulus, kisah-kisah itu membawa arti bahwa sebagaimana Adam, manusia pertama telah jatuh dalam ketidaktaatan hukum, dan darinya seluruh manusia terjerat dalam hukum, namun dengan perspektif yang sama sebagaimana Yesus taat  sampai mati di kayu salib, maka seluruh manusia di bawa kembali dari perbudakaan hukum pada pembebasan kasih.

 

Di dalam Kristus, sebagaimana yang selalu ditekankan oleh Paulus, allah menerima kita apa adanya, bukan karena kemampuan kita untuk mengganapi hukum-hukum syariah Musa, namun dalam penerimaan hidup dan kepasrahan sebagaimana Yesus taat dan pasrah sampai di kayu salib.   Demikianlah paralelisme itu bagi Paulus.

 

Nah di sinilah bagian rumitnya jemaah yang budiman. Saya ingin mengajak anda semua untuk berpikir jernih dan rasional.

 

Menurut anda, apakah Yesus dalam idea Paulus adalah Yesus dalam pemahaman anda semua seturut dengan keempat injil dalam PB? Tidak salah, namun jelas tidak benar sama sekali.

 

Siapakah Yesus? Yesus adalah seorang Yahudi yang tinggal di daerah perkampungan  Galilea. Penaksiran yang paling memungkinkan ia lahir tahun 6 – 4 SM. Ia dibesarkan secara yahudi, bersekolah di madrasah Yahudi dan paling memungkinan adalah seorang rabbi atau pendeta Yahudi, sangat mungkin ia dididik dalam tradisi apokalips, mesianik yang mempercayai bahwa suatu saat allah akan datang dalam wujud seorang mesias dan akan memimpin dan menegakan kerajaan Israel Raya seperti halnya Daud, nenek moyang mereka dahulu.

 

Beberapa dasa warsa sebelum Yesus lahir Pada jaman Yesus hidup ada beberapa tokoh mistikus terkenal seperti halnya Rabi Hanina ben Dosha atau yang lebih terkenal disebut Honi si Pembuat lingkaran, yang juga ahli dalam berdoa dan menyembuhkan dan juga pengajar kelas wahid seperti halnya Rabbi Hilel, yang diduga darinya Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami. Bahkan setelah jaman Yesuspun masih ada Eliazar si Pengusir Setan yang hidup beberapa dekade setelah peristiwa penyaliban Yesus. Dapat di duga bahwa Yesus hidup dalam semesta berpikir dan kebathinan Yahudi sedemikian sehingga ketika dewasa Yesus memilih menjadi murid Yohanes Pembaptis, seorang pertapa, mistikus padang gurun dan juga pewarta apokalips. Yesus menjadi pewarta kerajaan allah dan penentang pendudukan tanah Yudea oleh Romawi dan akhirnya ia disalibkan karena bangsa Yahudi mengira Yesus bisa dijadikan raja yang mengusir Romawi dari tanah Yudea Palestina. Rencana Yesus gagal, ia disalibkan dan Romawi berkuasa sampai ratusan tahun kemudian atas tanah itu.    Tersiar kabar bahwa setelah kematiannya Yesus bangkit kembali dan menampaki murid-muridnya.

 

Yang menarik adalah bahwa Paulus seumur hidupnya tidak pernah bertemu Yesus secara fisik. Kemungkin Paulus lebih muda hinga maksimal 10 tahun dari Yesus. Paulus terlahir dengan nama Saulus atau Saul, kira-kira tahun 3 – 6 M di Tarsus, bagian dari Turki moderen sekarang, sebuah kota kosmopolitan dengan budaya Greeko-Romano. Ia terdidik dalam cara berpikir Yahudi mazhab Farisi, namun dari tulisan-tulisannya, nampak sekali pengaruh neo-platonis, stoa, epikurian sehingga semangat itulah yang melahirkan suatu ajaran yudaisme mesianik yang lebih egaliter dan  Internasional. Ia menjadikan ajaran Yesus bukan hanya konsumsi kaum Yahudi Palestina tapi juga kaum bangsa-bangsa lain.   Ia mencerabut akar-akar Yudaisme yang legalis dan menawarkan suatu ajaran yang lebih ringkas yang nantinya akan disebut kekristenan.

 

Baik Yesus maupun Paulus adalah dua mistikus yahudi, yang tidak pernah bertujuan untuk membuat suatu agama seperti yang kita kenal saat ini – yaitu kekristenan. Mereka hanyalah reformis agama Yudaisme. Yesus adalah mistikus Yahudi dalam rengkuhan budaya apokalips mesianik yang menitik beratkan pada pembebasan tanah Israel dari penjajahan Romawi dan pemberdayaan rakyat miskin dengan semboyannya “kerajaan allah / kerajaan surga”.  Yesus dipengaruhi oleh mistikus padang gurun.

 

Sedangkan Paulus, yang tadinya berasal dari Tarsus, dididik dalam tradisi Farisi dan bermental ‘Taliban’, sangat membenci murid-murid Yesus ini. Baginya syariah yahudi yang tercantum dalam Taurat, kitab para nabi, Tanakh, Talmud sudahlah cukup.

 

Namun seperti halnya drama percintaan manusia pada umumnya – yaitu benci berubah jadi cinta demikian pula ini terjadi pada Saulus. Suatu saat ketika ia sedang dalam perjalanan di padang gurun untuk memburu para murid Yesus ini, ia mengalami perjumpaan yang tak terlupakan.

 

Pasti saudara-saudara mengetahui dengan baik kisah ini yaitu bahwa dalam perjalanan menuju Damaskus Saulus ditemani oleh beberapa orang, namun entah mengapa tak seorangpun mengalami apa yang Saulus alami. Mungkin pada waktu itu ia sedang berzikir, entah kita tidak tahu pasti. Yang jelas ia mendapati dirinya melihat cahaya yang sangat menyilaukan dari langit yang membuat matanya tiba-tiba lamur, ia rebah terlentang, dan terdengarlah suara. Perhatikan: ia tidak melihat apa-apa, atau suatu sosok apapun – hanya cahaya.  Dan dalam cahaya itu, terdengar suara:

“Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya aku?”

“Siapakah engkau? Tuhankah?”

“Akulah Yesus yang kau aniaya itu. ….. “

 

Banyak ahli yang percaya bahwa Saulus / Paulus mengidap penyakit ayan, sehingga pada waktu penyakit itu menjangkit, ia mengalami halusinasi. Hal yang sama yang diduga terjadi pada Muhamad yang konon ketika mendapat wahyu dari Jibril akan mendadak mengalami kejang-kejang, panas dingin dan mengalami halusinasi. Sering ditemukan  pasien-pasien dengan gejala yang sama, ketika ayan-nya bermanifestasi, akan serasa mengalami demam yang hebat, panas namun menggigil, mata mendelik dan mendengar suara yang aneh, seperti ada suara-suara yang sukar diperikan.

 

Mungkinkah Paulus mengalami hal yang sama? Setidaknya Paulus pernah mengatakan bahwa ia mendapat duri dalam daging, mungkinkah duri dalam daging ini adalah penyakit ini? Kita tidak tahu. Namun kisah diangkatnya Paulus ke surga ketiga dan melihat Yesus face to face, membuat kita bisa saja skeptis, dan memberi tempat tersendiri akan dugaan-dugaan tidak meng-enakan pada figure-figur yang sering merasa mendapat pengalaman-pengalaman extra-ordinary.

 

Dalam bukunya yang terkenal, The Varieties of Religious Experience,  William James, psikolog dan filsuf pragmatisme Amerika abad 19 menuturkan beberapa pengalaman  mistikus yang kuat yang melibatkan beberapa elemen yaitu:

 

– Photism, ketika seseorang melihat cahaya yang menyilaukan, atau berubah menjadi bagian dari cahaya itu.  

– Audition, yaitu ketika sang pengalam mendengar suara-suara, entah dalam bahasa yang ia kenal atau pun tidak.

– Noetic, suatu pengalaman yang kuat yang melibatkan intuisi untuk mengenali apa yang sedang dialami.

 

Nampaknya apa yang dialami oleh Saulus, entah ia terjangkit ayan atau tidak, memiliki kesaman dengan pengalaman-pengalaman mistik lainnya. Ia melihat cahaya (photism), ia mendengar suara (audition), dan ia mengenali secara intuitif bahwa yang berbicara itu adalah Yesus (noetic).

 

Yesus yang mana yang Saulus dengar berkata-kata demikian dalam cahaya? Tentu saja Yesus iman, Yesus dalam pencitraan gereja setelah peristiwa Paskah. Bukan Yesus sebelum peristiwa Paskah. Bukan manusia Yesus yang berdarah dan berdaging lagi. Bukan Yesus yang bisa lapar dan haus lagi, melainkan Yesus idea, Yesus citraan idealisme kekristenan. Yesus The Idea of What is Good, Sacred, Holy and Eternal.

 

Bisakah anda memahami pemaparan saya ini?

Dalam terang pemahaman ini kita bisa ketahui apa yang dimaksud oleh Paulus ketika ia menuliskan :

 

“Jika aku dahulu melihat Yesus dalam kemanusiaannya, sekarang tidak lagi.”

 

Mengertikah anda? Dulu bagi Saulus, Yesus adalah seorang rabbi sontoloyo yang mencoba mengobrak-abrik bait allah dan meniadakan hukum Taurat. Sekarang cahaya yang menyatakan dirinya sebagai Yesus memberi penembusan makna akan siapa itu Yesus dan misinya bagi Saulus.

 

Dengan kata lain, Paulus melepaskan pemahaman ‘yang pertama’ untuk memeluk ‘yang kedua’.

Paulus tidak pernah tertarik dengan kisah-kisah kemanusiaan Yesus, adakah anda lihat Paulus mengisahkan tentang Yesus yang membuat mukjizat atau bayi yesus yang lahir dari perawan? Sama sekali tidak. Sebab bagi Paulus , Yesus manusiawi hanyalah Yesus yang terbatas dari suatu idea-idea kebajikan dari allah yang tidak terbatas. Namun yang terbatas itu dijadikan suatu tema umum dalam misi hidupnya.

 

 

Jadi bagi Paulus, Yesus adalah idea dari apa yang baik, apa yang mulia. Yesus yang mana? Yesus dalam perspektif keimanannya. Bukan Yesus kemanusiaannya.

 

paralelisme Yesus dan Paulus adalah :

– jika Yesus menyiarkan idea ‘kerajaan allah’ sebagai kontra terhadap kaisar dan otoritas agama yahudi.

– Paulus menyiarkan idea ‘di dalam Kristus’ sebagai kontra terhadap kaisar dan hukum taurat. Mengapa Paulus tidak menekankan idea ‘kerajaan allah’  seperti halnya Yesus menekankannya? Karena audience Paulus bukanlah kaum Yahudi di Palestina, melainkan kaum Yahudi perantauan dan non-Yahudi.

 

Yesus dalam pemahaman Paulus tidak identik dengan Yesus dalam sejarah. Baginya Yesus Kristus adalah kata terbatas dari segala kebenaran yang bisa dipahami olehnya. Itulah kenapa ia begitu radikal meniadakan sunat bagi non yahudi. Dialah yang berjasa membentuk pola pikir agama yang membebaskan diri dari syariat yang kaku.

 

Dalam idea Yesus yang ahistoris ini mengalirlah semangat-semangat egalitarian Paulus yang sedari dulu sudah tertanam dalam dirinya oleh karena perjumpaannya dengan stoa, epikurian dan neoplatonis. Allah adalah allah untuk segala bangsa, tidak peduli Yahudi, Romawi, Yunani, Kreta ataupun kaum Bar-bar. Semangat inilah yang tidak dimiliki oleh murid-murid Yesus yang masih terjebak dalam romantisme psikologis manusia Yesus yang pernah bersama dengan mereka selama 3 tahun lebih.

 

<ket. foto2. "Saul, Saul, mengapa engkau menganiaya aku?" tanya suara dalam cahaya itu. Paulus tidak pernah melihat Yesus secara fisik. Dan itu tak jadi masalah, sebab ia lebih tertarik dengan Yesus sebagai citra dari idea-idea akan kebaikan dan kesempurnaan manusia  atau summum bonum daripada Yesus yang ragawi.>

 

 

Jadi Yesus Kristus, bagi Paulus adalah symbol, sekali lagi symbol dari segala kebajikan dan kesucian yang ia pahami. Sekali lagi saya katakan, bagi Paulus.  Paulus adalah mistikus, bukan pembuat dogma. Semangat mistik Paulus didasari atas ideanya akan Kristus. Kristus yang mana? Kristus dalam pencitraannya.

 

Bagi mereka yang pernah ikut dalam suatu tarekat, atau menjadi sadakha dalam suatu paguyuban spiritual, untuk segala sesuatu mereka akan selalu mengarahkannya pada sang guru spritualnya (gurumukh), guru adalah segalanya, guru melebihi orang tua, guru melebihi tuhan, guru adalah kebajikan itu sendiri  dsb.

 

Mengapa guru begitu utama melebihi tuhan? Karena tuhan adalah idea belaka, idea ciptaan manusia tentang apa yang baik, suci, kudus, memberi kelegaan, pengharapan dll.

 

“God is a concept by which we measure our pain”, demikianlah kata John Lennon dalam lagu 'God'. Tuhan adalah idea yang darinya kita memaknai hidup ini. Dan itu sehat sepanjang kita sadara bahwa itu adalah idea. Yang keliru adalah menganggap idea itu sebagai realitas yang tak terbantahkan dan tidak boleh dikritik.

 

Dan dalam pelayanan Paulus kita melihat paralelisme itu, tuhan allah itu konsep, dan perwujudan konsep itu, ia lihat mewujud nyata dalam pribadi Yesus yang egaliter. Dengan demikian ia kembali mengideakan Yesus untuk setiap tujuan suci, kudus, memberi pengharapan, kelegaan dsb.

 

Dalam terang ini maka jelaslah bagi kita ketika Paulus mengatakan :

 

’Aku melupakan apa yang telah dibelakangku (agama lahiriah, syariah dan dogmatis) dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku (agama bathiniah), dan berlari-lari pada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari allah dalam Yesus Kristus.’  

 

Agama Syariah vs Agama Bathin

Sedari tadi saya menyebutkan nama-nama dan menceritakan kisah-kisah yang ada di kitab Genesis, kemudian kisah Daud dan Paulus. Banyak orang awam percaya bahwa alkitab itu kitab yang diinspirasikan oleh allah atau roh kudus jadi pasti benar, factual, menyejarah dan tidak bisa salah.

 

Namun berkat penyelidikan para teolog abad 18 dan 19 sebagai hasil dari demam aufklarung, dan kemudian dimatangkan di abad 20 dan 21 ini, kita sekarang sudah bisa melihat dengan jelas apa sebenarnya pesan-pesan orang pada jaman dahulu, pada waktu kitab-kitab ini di tulis, disusun ulang dan dikanonkan.

 

Sederhananya kelima kitab torah ini tidak ditulis oleh musa, melainkan oleh banyak orang dalam tradisi dan jaman yang berbeda dan konteks berbeda yang sekitar abad  4 SM dikanonkan menjadi kitab PL bersamaan dengan lainnya yang ada pada kita saat ini. Dan yang wajib diketahui adalah bahwa kisah-kisah ini bukanlah kisah sejarah, melainkan kisah-kisah inspiratif yang dibuat untuk mewacanakan suatu tema-tema ideologis dan moral.

 

Saya tidak mempercayai adanya Adam dan Hawa, Nuh, ibrahim, Yakub dan Musa sebagai figure sejarah dan alkitab sebagai sumber sejarah. Saya menganggap mereka itu adalah tokoh-tokoh ahistoris dan mitologis yang dikembangkan begitu rupa demi tujuan-tujuan ideologis. Yang penting bukan apakah mereka benar-benar ada, karena sangat mungkin mereka adalah tokoh fiktif, namun pelajaran apa yang terkandung dari kisah-kisah itu.

 

Inti dari kisah-kisah yang saya sebutkan tadi adalah bahwa yang pertama, selalu biasanya bersifat jasmani, ceroboh, kaku, legalis, dogmatis, syariah, sedangkan yang kedua bersifat rohani, hikmah, hakekat, membebaskan.

 

Yesus dalam idea Paulus, bukanlah Yesus manusiawi, sekalipun darinya ia mengenal bahan-bahan dasarnya, namun lebih jauh Yesus Kristus yang ia syiarkan adalah Yesus Kristus idea. Idea dari apa yang baik.

 

Segera setelah Petrus dan Paulus meninggal (kira-kira tahun 67M), kisah-kisah tentang manusia Yesus dibakukan. Injil Markus ditulis kira-kira  tahun 70 dalam injil ini tidak terdapat kisah tentang kelahiran Yesus dari perawan dan kunjungan para malaikat dan kaum Majusy  karena manusia Yesus adalah manusia sebenar-benarnya tidak ada bedanya dengan kelahiran bayi-bayi di kampong Galilea pada umumnya.

 

Beberapa dekade kemudian injil Matius dan Inji Lukas, tidak puas dengan penuturan injl Markus yang terkesan garing dan jujur, mereka menuturkan kisah Yesus dengan memakai tuturan-tuturan tokoh-tokoh dewa dan superstisi lainnya. Tidaklah heran apabila ada kesamaan antara kelahiran Yesus dengan kelahiran dewa Mithras, atau juga …. Bahkan dengan kisah kelahiran Buddha.

 

Dan apa yang diusahakan oleh para Mistik seperti halnya Yesus dan Paulus, akhirnya mundur kembali dari yang ‘kedua’ yaitu hakekat  kepada ‘yang kesatu’ yaitu dogma dan syariah.

 

 

Banyak orang Kristen tidak memahami idea inti dari Paulus, dan malah tersesat dalam mengimani Yesus bentukan teologia, seperti keyakinan Kristen pada umumnya:

– Jika tidak percaya Yesus maka janji keselamatan ke surga akan hilang,

– Yesuslah satu-satunya jalan menuju kehidupan kekal, yang lain bakal membawa kepada kebinasaan kekal.

– Yesus itu tuhan, karena ia membuat mujizat, bangkit dari kematian dan naik ke surga  dsb.

 

Sungguh suatu kemunduran cara berpikir !

 

Jika kita tahu bahwa injil mengalami evolusi dalam pembentukannya. Seandainya Yesus dan Paulus benar-benar hidup kembali pada jaman ini, maka mereka pasti akan menangis melihat cara berpikir dan sejarah kekristenan.

 

Titik tolak dua mistikus ini adalah kualitas hidup, suatu kehidupan yang melimpah dengan kabajikan dan kebijaksanaan, bukan dogma dan iman kepada dogma.

 

Hidup kekal dalam pemahaman mereka, sejauh yang bisa saya tangkap, bukanlah hidup terus menerus selama-lamanya. Namun hidup penuh dengan kualitas.

 

Seperti halnya penulis Injil Yohanes yang menuliskan injil ini kira-kira tahun 90 -120 M, dalam pemahaman bercorak neo-platonis, ia menuturkan doa Yesus kepada allahnya sebagai berikut :

 

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal engkau, satu-satunya allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah engkau utus.

 

Jadi apakah hidup yang kekal itu? Hidup selama-lamanya ? BUKAN SAMA SEKALI.

Hidup yang kekal yang dimaksud penulis Injil Yohanes adalah hidup yang penuh dengan kualitas pengenalan yang kuat ( noetic), bukan hidup selama-lamanya di surga.

 

Dan hidup yang berkualitas adalah hidup karena pengenalan dan pengalaman sendiri kepada  dan dalam kebajikan itu.

 

 

Dalam tradisi Kristen ortodox ada yang disebut theosis, yaitu bersatunya manusia dengan tuhannya.  Atau dalam bahasa kita, manunggaling kuwol gusti. Yesus ini diyakini telah manunggal dengan tuhannya, sehingga prilakunya bukan atas dasar hukum yang tertulis lagi, namun atas dasar originalitas pengenalannya dengan apa yang disebut tuhan olehnya. Dan Paulus menjadikan Yesus yang theosis ini sebagai yang anak allah, duduk di sebelah kanan allah, yang pertama dari segala yang diciptakan , cetak biru, pilot project, dari segala ciptaan allah.

 

Ini semua adalah bahasa-bahasa puitis devosional yang tidak bisa serampangan diteologikan dan didogmakan. Ini bahasa pengalaman pribadi dan bukan bahasa rasional. Namun ironisnya dijadikan bahasa baku teologia.

 

 

Yesus itu bangkit, bukan bangkit secara ragawi. Ia bangkit dalam pikiran mereka yang mencintainya dan mengingat segala semangat, karya, dan kebajikannya.

 

Yesus bangkit dalam diri semua orang yang mengagumi karya perjuangannya, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, karena Yesus itu idea.

 

Hidup abadi bukanlah hidup selama-lamanya, namun hidup dalam ingatan mereka yang mencintai kita.

 

 

Begitu pula dengan Buddha dan Krishna yang selalu menginspirasi mereka yang mencintai, mengagumi dan setuju akan karya-karya mereka.

 

Bagi saya pribadi, saya tidak mempermasalahkan apabila seseorang menyanjung Yesus, Buddha, Dewi Kuan Im, Krishna, Muhammad, dsb. Sebab yang terpenting bukan dewa-dewi dan nabi-nabi sanjungannya, melainkan isi, ruh, kebatinan dan prilaku hidupnya di dunia ini.

 

Yang jadi masalah adalah, para pemercaya ini tidak sadar bahwa apa yang mereka percayai ini hanyalah idea. Yang namanya idea, ya idea, suatu pemikiran, suatu perspektif, dia bukan realitas.

 

Apakah itu realitas? Realitas adalah bagaimana kita hidup, dengan siapa kita berbagi hidup ini.

 

Sehingga saya mengajak sidang Misa pagi ini mari kita melepaskan yang pertama dan merangkul yang kedua.

Kita melepaskan agama dogma yang bersifatkan cangkang, kaku dan legalis.

Dan merangkul agama bathin yang bersifatkan inti, membebaskan dan intuitif dan hakekat.

 

Agama bathin adalah agama yang bersumber bukan pada kitab-kitab melainkan pada laku hidup sehari-hari, pengalaman hidup, rasionalitas dan dialektika yang tak kenal lelah sepanjang jaman.

 

Agama bathin menitik beratkan bukan pada dogma, ritual dan syariah, melainkan pada mekarnya kedewasaan dan kecintaan kita pada sesama dan alam semesta.

 

Agama bathin tidak membeda-bedakan mukmin vs kafir, yang sudah diselamatkan vs yang belum diselamatkan, saudara sedhama atau bukan sedharma.

 

Agama bathin memancar dalam hidup kita sehari-hari, lahir dari penerimaan realitas hidup yang memulti- wajah.

 

Agama bathin memberikan ruang perbedaan dan dengan rendah hati menerima ketidak sempurnaan diri kita.

 

<ket. foto 3 :Yesus Sang Bodhisatva. Konon, di beberapa vihara di Taiwan, Korea, Jepang dan Amerika, foto dan patung Yesus dan Bunda Maria di pasang di altar bersama dengan arca para Buddha dan Bodhisatva untuk  disembahyangi oleh umat. Dalam semesta pemikiran Buddhisme, Yesus dan Bunda Maria adalah Bodhisatva, suciwan yang membaktikan diri bagi kebahagiaan sesama. Ia, sama halnya dengan para bodhisatva lainnya, akan terus terlahir ke dunia untuk menolong sesama, berinkarnasi menjadi……. mungkin anda dan saya.>

 

Sekali lagi saya katakan ini, inilah paskah, hari di mana Yesus bangkit.

 

Kemana Yesus bangkit?

Yesus bangkit dan hadir dalam diri kita, dalam hati kita dan dalam ingatan kita.

Ia tidak hanya hadir untuk orang Kristen belaka, ia hadir dalam setiap hati manusia yang terbuka akan cinta kasih dan perdamaian.

– Mungkin bagi orang Sri Lanka Yesus itu berwajah Gautama.

– Mungkin bagi orang Tibet Yesus itu berwajah Avalokitesvara,

– Mungkin bagi orang Jepang Yesus berwajah Amida Buddha

– Mungkin bagi orang Hindu Yesus berwajah Sri Krishna

– Mungkin bagi para Sufis Yesus berwajah Mansur Al-Hallaj atau Jallaludin Rummi.

– Mungkin bagi para pengusung kesetaraan gender, Yesus ini berwajar R.A. Kartini

– Yesus bisa berwajah apa saja, bisa berwajar Munir, Che Guevara ataupun Anand Krishna, dan wajah-wajah anda sendiri karena Yesus, sebagaimana yang dipahami oleh Paulus adalah sebentuk idea akan kebenaran, kebajikan dan pembebasan.  

 

– Jesus, indeed, is you and I 

 

Yesus tidak tinggal di surga seperti pemahaman orang Kristen pada umumnya, Yesus hidup dalam ingatan dan tingkah laku mereka yang mengaguminya, entah mereka ini Kristen, islam, Buddha, hindu, dheist,  atheis dan pantheis.

 

 

<ket. foto 4. Yesus Kristus dan Krishna, banyak orang hindu percaya bahwa Yesus adalah inkarnasi dari Kesadaran Krishna, bukan suatu kebetulan apabil nama mereka hampir sama, Krishna, Kristus,  satu nama India, satu lagi nama jabatan dari bahasa Yunani. Anyway baik itu Krishna, Buddha, ataupun Khristus adalah penamaan akan suatu idea kesadaran yang tidak mengenal batas-batas wilayah.>

 

 

Saudara sidang jemaat Gereja Penjual Inventaris Belanda yang saya kasihi,

 

Demikianlah renungan Misa Paskah pagi hari ini, suatu renungan yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya, berharga untuk direnungkan, mengundang untuk dibuktikan dan mendesak untuk dipraktekan.   

 

Kebenaran telah dipaparkan dalam satu dan lain cara, semoga menjadi cahaya yang menerangi ruang bathin yang gelap, menjadi pelipur hati yang lara, memberi kekuatan bagi mereka yang tengah lemah dan berbeban berat.

 

Bagaikan menegakkan kembali apa yang telah terkulai, menyibak kembali apa yang telah tersembunyi sekian lama, menumbuhkan kembali apa yang tak mungkin bertumbuh,  semoga renungan ini membawa kita pada kecerahan dan keberanian untuk melepaskan yang pertama dan memeluk yang kedua. Melepaskan agama syariat dan dogma, memeluk agama bathin.

 

Dan sebagai tanggapan khotbah ini, saya mengajak sidang jemaat untuk berdiri semua, keluar dari gedung gereja ini dan melakukan tawaf. Apakah tawaf yang saya maksud? Tawaf yang saya maksud adalah kita semua bergandengan tangan dengan erat dan mesra, mengelilingi gedung gereja ini tujuh kali sambil menyanyikan lagu Kemesraan ini.

 

 

http://www.youtube.com/watch?v=obSa4BmzP34

 

kemesraan

 

 

suatu hari

dikala kita duduk ditepi pantai

dan memandang

ombak dilautan yang kian menepi

 

burung camar

terbang bermain diderunya air

suara alam ini

hangatkan jiwa kita

 

sementara

sinar surya perlahan mulai tenggelam

suara gitarmu

mengalunkan melodi tentang cinta

 

ada hati

membara erat bersatu

getar seluruh jiwa

tercurah saat itu

 

kemesraan ini

janganlah cepat berlalu

kemesraan ini

ingin kukenang selalu

 

hatiku damai

jiwaku tentram disampingmu

hatiku damai

jiwaku tentram bersamamu

bersamamu

 

 

Akhirul kalam saya ucapkan  kepada anda semuat Selamat Paskah. Lihatlah ia telah bangkit ! Ia bangkit untuk hidup menjadi anda dan saya.

 

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Shalom aleichem

Om mani Padme Hum

Om Shanti – Shanti – Shanti Om

Iklan