Konon, menurut cerita, suatu saat Pertapa Gautama bersama dengan murid-muridnya berkunjung ke suatu kerajaan.

Di sana raja, ratu, para dayang, para mentri,  serdadu dan rakyatnya meminta Petapa Gautama untuk berkhotbah. Maka berkhotbahlah Gautama. Namun anehnya, pada waktu Gautama berkhotbah, tak satupun diantara mereka tertarik untuk mendengarkannya. Mereka tampak acuh tak acuh.

Melihat ini, Gautama menyudahi kutbahnya dan meminta salah seorang muridnya yang tidak terkenal dan tidak terlalu pandai berkhutbah untuk berkhutbah.

Ironisnya, terhadap bikkhu tak terkenal ini justru raja, ratu, para menteri, dan rakyatnya khusyuk mendengarkan.

 

Melihat ini para murid Gautama merasa jengkel setengah mati; betapa lancang raja, ratu, dayang dan para pembesar serta rakyat negeri itu memperlakukan guru mereka.

 

Setelah selesai pertemuan itu, salah satu murid Gautama berkata, “ Ya Guru, betapa kurang ajarnya raja, ratu, para dayang, para menteri, para serdadu dan rakyat negeri ini. Tidakkah mereka tahu siapa yang jadi guru dan siapa yang jadi murid? Mengapa kepada Guru mereka acuh tak acuh, tapi kepada si bikkhu A itu, mereka dengan sepenuh hati mendengarkannya?”

 

Gautama menjawab, “Oh bikkhu, tidak begitu kejadiannya, tidaklah demikian sebab-sebabnya. Telah ku lihat semuanya dengan jernih, maka tiada kejengkelan dalam diriku kepada mereka.”

 

“Apa kejadian dan pertautan yang melatar belakangi semua itu, ya Guru?”

 

”Para bikkhu dan semua murid perumah tangga, dengarlah dan ketahuilah, antara aku dengan raja, ratu, para dayang, para menteri, para serdadu dan rakyat negeri ini, tidak terdapat benih-benih sebab akibat yang darinya dharma bisa bertumbuh dengan subur. Namun dengan bikkhu A, ada pertalian erat antara dia dengan raja, ratu, para dayang, para menteri serta seluruh rakyat ini. Itulah kenapa pertemuan mereka adalah pertemuan kembali, bertemunya elemen sebab dan akibat. ”

 

“Apakah kejadian yang melatar belakangi bertemunya elemen sebab dan elemen akibat itu, ya Guru?”

 

”Demikianlah yang ku ketahui, oh bikkhu dan para perumah tangga;   

 

Dulu… dulu sekali…. dalam suatu penciptaan semesta yang tak terhitung lampaunya,  tertutup rapat dalam penelusuran memori manusia, hiduplah seorang penebang pohon di hutan yang penuh welas asih.

Suatu saat ia hendak menebang pohon. Namun ketika melihat ke atas pohon yang hendak ia tebang, matanya tertambat pada sebuah sarang lebah. Ia berpikir, ‘seandainya aku menebang pohon ini, betapa kasihannya lebah-lebah itu. Di sarang itu terdapat ratu lebah, para lebah pejantan, para lebah serdadu, para anggota keluarga lebah yang lemah. Jika aku tebang pohon ini, tak terbayangkan betapa marah, sedih dan nelangsanya mereka.

Baiklah, aku akan mencari pohon yang lain saja, dimana hanya sedikit mahluk hidup yang terganggu karena tebangan kapakku.’  

 

Sang penebang pohon menebang pohon yang lain, dan para lebah itupun hidup dengan aman dan nyaman di pohon itu.

Tidak ada kejadian apapun setelah itu.

Tak terhitung penciptaan semesta berlalu sejak kejadian itu,  namun kini dan di sini kejadian itu terulang kembali, bukan dari segi sebab, namun dari segi akibat.

Ketahuilah wahai para bikkhu, bahwa penebang pohon itu, melewati busur panah sang waktu berkalpa-kalpa lamanya, sekarang  terlahir menjadi bikkhu A,

ratu lebah itu sekarang terlahir menjadi  raja negeri ini,

para lebah pejantan itu sekarang terlahir menjadi ratu dan ppara dayang sang raja,

para lebah prajurit itu sekarang terlahir menjadi para serdadu kerajaan ini,

para lebah anggota sarang itu sekarang terlahir menjadi rakyat dari kerajaan ini.

Dengan demikian ada pertalian sebab akibat yang erat antara mereka dengan bikkhu A, sedangkan dengan aku tidak ada pertalian sebab akibat itu, sehingga setiap kata yang keluar dari mulutku, tidak memberikan efek yang luar biasa bagi mereka.

Untuk itu wahai para bikkhu dan murid-muridku lainnya, waspadalah akan setiap tindakan kita, sebab setiap keputusan dan tindakan kita memberi kemungkinan akan terjadinya suatu rentetan sebab – akibat.

Sebagaimana diantara bikkhu A dan anggota kerajaan ini terdapat hubungan sebab akibat yang baik yang memungkinkan dharma itu tumbuh subur,

sedangkan tidak ada hubungan sebab akibat baik antara aku dengan mereka yang memungkinkan dharma itu tumbuh dengan subur,

demikianlah seharusnya ini kalian tanamkan, yaitu aspirasi kebajikan :

– semoga setiap pikiran, tutur kata dan tindakanku hanya menyebabkan hal-hal baik bagi sesama mahluk

– semoga setiap pikiran, tutur kata dan tindakanku  hanya memberi efek yang baik bagi sesama mahluk

– semoga setiap pikiran, tutur kata dan tindakanku mengurangi kesakitan, kepedihan dan kelukaan sesama mahluk hidup

 

sehingga bentuk kehidupan apapun yang kujalani nanti, aku akan bertemu kembali dengan mereka yang mencintai aku dan dicintai olehku.”

                                         ***

 

Teman-teman, bukan tujuan saya untuk mempromosikan buddhisme.

Dan saya sendiri tidak mempercayai kesejarahan kisah itu dan tidak menganggap kejadian itu sebagai kejadian nyata. Saya tidak tertarik dengan fundamentalisme ajaran apapun yang menitikberatkan kepada faktualitas dan historitas dongeng-dongeng.

 

Namun demikian seperti yang saya tuliskan dalam note sebelumnya, setiap ajaran harus kita lihat sebagai metafora, penggambaran terbatas akan suatu kontemplasi yang mendalam di baliknya.

 

Bertahun-tahun lalu kisah ini menggetarkan hati saya, dan sampai sekarang kisah ini tetap menggetarkan saya.

 

Moral dari kisah ini adalah agar kita peduli betapa pentingnya, betapa berartinya, betapa krusialnya setiap keputusan yang kita buat, seperti halnya kisah si penebang pohon itu yang berdampak, konon, sampai berkalpa-kalpa lamanya.

 

Keputusan yang kita ambil memberi dampak pada sesama mahluk, entah kini dan nanti.

 

Semoga hidup kita sekarang ini menemui momen-momen ‘tujuan’ kelahiran kita.