Tag

ImageApa rasanya menjadi manusia merdeka? Kebanyakan dari anda tidak bisa menjawab, pastinya. Sebab dalam realita getir kehidupan, sebagian besar dari anda terjajah oleh pahitnya pekerjaan. Ongkos hidup atau mengebulnya asap kompor dapur rumah anda sangat tergantung pada penghasilan gaji bulanan. Saya dan anda adalah kurcaci yang tenaga dan pikirannya dimanfaatkan oleh sang boss atau atasan. Skill dan potensi anda dihisap sebanyak mungkin oleh corporate dan mengubahnya dalam bentuk kue profit yang sebagian besar dinikmati para CEO dan pemilik modal sedangkan remah sisanya silahkan anda cicipi sendiri dengan memberengut. Anda tidak pernah luput dari rasa khawatir terhadap PHK. Jika itu terjadi anda tahu pasti masa depan anda sekeluarga bisa seredup interior warung remang remang.

Tulisan ini bukanlah bercerita soal US History. Tapi soal bagaimana caranya saya sebagai person mencoba memerdekakan diri dari ketergantungan hidup pada pekerjaan dan those fat greedy capitalists. Maaf, ini bukan berarti saya mendukung teori ekonomi kerakyatan, sosialism, marxism ataupun atheisme si wawan ( this dude has spoken like a true commie ). Saya tidak pernah tertarik dengan anarkis, libertarian socialist, aborsionist,komunis atau sop kaki sapi tenda di daerah Blora dengan trade mark Pak Kumis. Saya cuma ingin hidup merdeka, tidak memiliki ketergantungan pada siapapun baik dari uang pensiunan, jaminan sosial dari pemerintah ataupun mengharapkan uang warisan ortu. Cara terbaik menurut saya adalah dengan retire sedini mungkin mumpung masih muda dengan menyiapkan passive income bulanan yang cukup untuk menikmati hari tua.

rumah 1 kecil.png

Itu sebabnya saya minggu ini membeli rumah ke dua di Las Vegas. Rumah ini saya harapkan akan menjadi nest egg yang bisa menyelamatkan saya dari segala ketergantungan pada gaji bulanan. Sebab andakan tahu tidak lama lagi saya harus pulang dan menjalani hidup sebagai nabi santun di Garut sana. Tentu saja saya ogah menjadi prophet kere yang cari makan dan kemudian kokay dengan cara jualan ceramah sana sini. Selain itu sayapun yakin, jika saya bokek, omongan saya nanti tidak anda dengar barang sepatahpun. Adalah rahasia umum , hidup miskin di Indonesia lebih menyedihkan dan rendah mutunya dari syair lagu Ahmad Albar yang bercerita soal panggung sandiwara plus itu tragedy dari Yunani.

home inspector.png

Ekonomi Amerika memang sedang awut awutan. Value real estate misalnya saat ini sedang terjun bebas masuk ke dasar lembah Ngarai Sianok.Mungkin ini adalah sebuah keajaiban,mungkin juga cuma sekedar Ironi- sebab pada saat ekonomi Amerika sangat kuat sekitar 10 tahun yang lalu, saya malah bokek dan tidak memiliki tabungan. Tapi dalam 2 atau 3 tahun terakhir ketika ekonomi Amerika murat marit seperti sekarang ini- rejeki dan nasib saya justru melesat bagai roket Titan yang menghantarkan Gemini Capsule dan Neil Armstrong ke bulan. Anda jangan salah sangka, ini bukan artinya saya mendeklarasi diri secara pongah bahwa Habe sudah kaya raya. Dibandingkan dengan kekayaan para ikan kakap di kantor pajak, apalah artinya sih diri awak?

Rumah yang saya beli ini ukurannya tidak besar. Memiliki cuma 2 kamar tidur, dan dua kamar mandi beserta family room dan living room plus garasi buat 2 mobil. 4 tahun yang lalu rumah ini dibeli siempunya dengan harga $ 186.000. Tapi saat saya beli kemarin harganya mendapat korting akibat financial stress dan devaluasi sekitar 60 persen alias equal nilainya dengan harga 1 mobil Camry plus 2 Avanza di Indonesia. Anda silahkan menjuluki saya sombong atau justru sangat bloon setelah saya bilang saya bayar rumah itu tunai menghabiskan tabungan saya selama 3 tahun terakhir.Jumlah uang ini memang tidaklah seberapa dibandingkan Ical Bakri yang memiliki kekayaaan 2.5 milyar dollar, atau Mark Zuckerberg bocah 27 tahun yang kekayaannya sekitar 5 kali lipat dari si Ical si muka ikan mujair. Tapi untuk anak kampung yang besar di sebuah gang di Karet Tengsing dan dibesarkan seorang janda cerai beranak 6, jelas ini adalah sebuah prestasi luar biasa. Setujukah anda?

inspect.png
inspect.png (247.74 KiB) Viewed 100 times

Maka saya punya alasan untuk merasa bangga ketika minggu lalu mengikuti Steven Arch si home inspector dan Bob Ingals sang trainee memeriksa rumah berumur 10 tahun itu dari dapur ke kamar mandi. Dari atap rumah ke garasi. Tidak banyak yang mesti diperbaiki dari rumah yang berukuran bangunan 120 m persegi ini. Tapi saya harus membeli kulkas baru, mesin cuci, mesin pengering dan water softener baru.Tidak lupa saya harus mengecat ulang dinding garasi dan ruang tamu.

Sebenarnya saya bisa mendapatkan rumah yang lebih besar berkamar 3 atau 4 dan lebih bagus dengan harga sama tapi lokasinya cukup jauh dari Las Vegas Strips. Misalnya dibutuhkan waktu 45 menit driving pada hari biasa dari ujung East Las Vegas ke MGM Grand. Sedang lokasi rumah yang saya beli walaupun ukurannya lebih kecil berada cuma 5 menit dari freeway. Ke MGM cuma memakan waktu 15 menit. Saya berani berspekulasi bahwa rental property ini lebih banyak orang cari dari pada rumah yang berada jauh di ujung gunung dan gurun. Pepatah lama bilang rumus membeli property adalah " location, location, location " dan itu yang sedang saya tiru.

Ada alasan kuat kenapa saya berani membeli rumah untuk disewakan ke orang. Pertama bunga CD dan saving di Amerika terlalu kecil sekitar 1 sampai 2.5 persen pertahun. Kedua, investasi rumah sewa di Indonesia tidak menghasilkan profit yang layak. Rumah seharga 700 juta cuma bisa anda sewakan maksimum 25 juta pertahundi Jakarta misalnya. Yield yang terlalu minim dibandingkan dengan modal awal yang dikeluarkan. Sedang saat ini anda bisa membeli rumah di Las Vegas seharga 70 atau 80 ribu dollar, tapi anda bisa menyewakan sekitar $ 1000 sebulan. alias $ 12.000 setahun. Jelas nampak terlihat dengan modal yang nyaris sama, anda mendapatkan yield yang jauh lebih besar dari investasi di Indonesia. Di Amerika ROI ( Return of Investment ) cuma memakan 7 sampai 8 tahun, sedang di Jakarta memakan waktu hampir 30 tahun.Edan bukan?

Lalu alasan ketiga adalah, walaupun passive income ini nanti harus dilaporkan ke IRS ( kantor pajak ) tapi pengeluaran untuk investasi seperti biaya perawatan rumah, beli kulkas, kompor gas, water heate, mengecat exterior atau interior, memasang karpet baru di tiap kamar dll bisa dimasukan sebagai deduksi pajak.

Kemudian alasan terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah, memiliki rumah di Amerika jelas lebih menaikan status dan gengsi dari memiliki rumah di Indonesia..opss salah hahaha..bukan maksud saya adalah krisis ekonomi di Amerika bukanlah barang baru. Amerika dalam waktu dekat ( setelah mereka menendang Obama 2012 nanti ) akan memiliki kecenderungan besar untuk bangkit kembali yang bisa anda terjemahkan sebagai naiknya value real estate kembali.

Jadi bila boleh saya memberikan petuah atau ceramah bak kakek kakek sok bijak buat anda, terutama yang sekarang tinggal di Amerika, jika anda memiliki tabungan, belilah rumah secepat mungkin. Jika uang kurang cukup anda bikin dengan beberapa teman bisa mendirikan semacam investment group. Secara patungan anda beli 2 atau 3 rumah lalu anda jadikan rental property. Jika mampu belilah secara cash sehingga anda tidak terlibat bunga mortgage yang missleading dan menggelikan ( bunga mortgage 5 % per tahun, tapi di cicilan bulanan anda kaget mendapati dari $1200 bayar cicilan rumah, $ 750 untuk interest, dan sisanya untuk hutang prinsipal, komposisi menjijikan seperti itu akan anda hadapi pada 5 tahun pertama )

Saya sendiri berencana untuk membeli rumah ketiga dan mungkin ke empat secara tunai di Las Vegas nanti ( jelas setelah menjual rumah dan tanah Jakarta hehehe emangnya lu kira gue si Gayus Muka Tambun apa? )Memang terlalu terburu buru kalau saya bilang sekarang telah merdeka. Tapi nanti tidak terlalu lama lagi mudah mudahan, insya allah,kalau tuhan orang Arab ini mengijinkan.. saya dengan lantang akan mendeklarasikan kemerdekaan saya pada orang orang sedunia. My personal declaration of independence..

Gimana menurut anda kira kira?

April 21, 2011

 
Diskusi di Forum AK: