Bayangkan anda berada di sebuah kasino. Di tangan anda tergenggam seluruh uang yang anda punyai. Dan anda diminta ikut bermain mempertaruhkan semua yang anda miliki. Permainannya mudah. Sebuah dadu di kocok. Kemudian anda menebak angka berapa yang muncul. Kalau anda menang, anda akan dapat 10 kali lipat.

 

Anda pasti hitung-hitung.  Dadu  bersisi 6. Setiap angka memiliki kemungkinan menangnya muncul hanya 1/6 atau 16.7 %. 

Anda punya 16.7%  kemenangan dan 83.3% untuk kalah.

Maukah anda ikut bermain?

Remember, the rule of gambling is :

If you win – you’re a king. A king of gambler.

If you lose – you’re still a king too. A king of gembel .

 

Sekarang kita pindah permainan. Permainan kematian. Crazy Roussian Roulette.

 

 

 

Saya memasukan 5 buah peluru ke dalam barrel sebuah pistol, bukannya satu seperti yang ada di gambar, tetapi lima buah peluru. (Barrel adalah bagian dalam pistol tempat penyimpanan peluru. Satu barrel berisi 6 lubang.)  Berarti hanya ada satu lubang kosong.  Lalu saya putar barrelnya untuk memastikan tidak ada faktor kesengajaan.

 

Kemudian saya menyerahkannya pada anda. Maukah anda menembakkan kepala anda dan berharap anda masih hidup setelah tindakan gila itu? Saya yakin tidak.

 

                                                           ***

Ketika saya melihat bom-bom jihad dan kelakuan para radikalis agama, saya melihat mereka tidak ubahnya dengan orang yang berjudi dengan kemungkinan menang yang sangat-sangat tipis. Namun ironisnya kesadaran akan kemungkinan yang tipis ini justru ditutup-tutupi oleh emosionalitas agama.

 

Seandainya kita mau terbuka dalam melihat setiap kemungkinan sejarah, dalam mengkritisi tokoh-tokoh agama, masih maukah kita mempertaruhkan hidup kita untuk tokoh-tokoh agama itu?

 

Tidak ada seorang pun dari kita yang melihat bahwa Musa, Buddha, Yesus, Muhammad benar-benar lahir, bertumbuh, berkarya, seperti yang dikisahkan oleh kitab-kitab agama mereka.

 

Dari manakah kita mengenal mereka? Dari orang lain. Orang lain mengenal mereka dari mana? Dari orang lain lagi. Nah orang lain ini, dari mana tahunya? dari orang lain lagi,  terus menerus selama ratusan dan ribuan tahun.

Tidakkah kita seharusnya menyadari kemungkinan keakuratan sejarah mereka sangat diragukan?

Tidakkah kita mesti jujur bahwa alur sejarah agama sangat memungkinkan mengandung distorsi karena agama selalu jadi tangan kanan penguasa dalam melanggengkan kekuasaanya?

Jikalau kita sendiri tidka mengenal tokoh pujaan agama kita secara langsung, untuk apa kita harus mempertaruhkan hidup kita mempercayai mereka sebagai tokoh-tokoh superstar yang tidak boleh diusik-usik kesejarahannya? 

Apa salahnya bila kita mengkritisi kesejarahannya?

 

Seorang teman baik mengatakan ini di emailnya

 

"seperti orang jawa bilang "kulak jare adol ndean", wong kita tak pernah tahu siapa mereka sebenarnya kok sudah berani menyebarkannya ke orang lain (pakai bumbu lagi)… saya yakin era spiritualis akan tiba saat mereka, orang2 kolot itu,  menyadari bahwa semua hal yang mereka pelajari hanyalah pepesan kosong yang bahkan bungkusnya busuk."

 

 

Apakah saya tidak jadi manusia hanya karena saya mengatakan bahwa kisah Gautama telah didistorsi menjadi legenda dan mitos ketika dikomunikasikan dalam tuturan kitab-kitab tripitaka?

 

Apakah saya tidak jadi manusia hanya karena saya tidak percaya Musa pernah ada dan menurunkan tulah ke Mesir dan membelah laut Teberau?

 

Apakah kehidupan ini berkurang kebermaknaannya mana kala saya tidak percaya Yesus sebagai tuhan dan juru selamat yang dijanjikan, yang lahir, berkarya, mati dan bangkit dari kubur terus naik ke surga seperti yang dikisahkan oleh Injil-injil?

 

Apakah kehidupan ini menjadi kurang afdol jika saya tidak mempercayai historitas Muhammad, tidak percaya bahwa Muhammad pernah bertemu dengan Jibril dan menerima wahyu bahwa allah swt menyuruhnya untuk menjegal, merampok dan membinasakan kaum Yahudi? Apakah saya dosa?

 

 

Akurasi kesejarahan kisah-kisah mereka sangat kecil prosentasenya. Tetapi mengapa jutaan orang mau mati demi mereka?

Jawabannya: karena agama telah salah dalam mendidik umatnya.

 

Agama seharusnya bukan menekankan dogma, syahadat atau kredo.

Agama seharusnya menekankan mekarnya integritas umat yang melewati dan mengatasi sekat-sekat primordial.

 

Bukan menekankan pada aspek keilahian Yesus, tapi seharusnya menekankan pada transformasi diri pada pikiran, ucapan dan tindakan yang berintegritas.

 

Bukan menekankan pada aspek kenabian Muhammad yang tidak boleh dimiliki lagi oleh manusia-manusia lain, namun pada hasrat untuk membangun kehidupan berkeadilan yang sama rata bagi setiap insan manusia tanpa membeda-bedakan keyakinannya.

 

 

Seperti halnya ujaran dalam Zen:

Jika engkau melihat seorang Buddha di jalan, bunuhlah ia.

sebab Buddha yang bisa dibunuh, bukanlah Buddha sebenar-benarnya.

 

Buddha, sama halnya dengan tuhan, allah,dan al haq,  adalah idea tentang samudra kebajikan, kesadaran dan integritas manusia. Ia yang memberi hidupnya kepada sesama dan memberi diri mentransformasikan idea-idea itu ke dalam dirinya, itulah Buddha.

 

Jika buddha, allah, al ahaq,  adalah seluas samudera, dan kita adalah titik-titik air dalam samudera itu, tidakkah kita juga adalah hakekat dan wujud dari idea-idea itu? Kitalah yang seharusnya menyata-wujudkan idea-idea itu, bukan terus sibuk mempertebal dan menambah tinggi tembok-tembok pemisah kemanusiaan, seperti halnya dogma dan organisasi agama.

 

Aku yakin bahwa Gautama, Krisna, dan Yesus tidak akan menelikung kebenaran hanya untuk mereka sendiri. Mereka hanya berusaha untuk menyatakan kebenaran, dalam kapasitas dan ruang-waktu mereka, sesuai pengetahuan mereka, kepada umat manusia dalam lingkungan mereka. Sementara kita sekarang, kita berada dalam ruang dan waktu yang berbeda, pemahaman dunia yang berbeda, umat manusia yang berbeda. Apa yang kita bisa tiru dari mereka adalah semangat pencarian dan pengejawantahan kasih, kebenaran dan keadilan. Bukan pada format dan ritualnya, melainkan pada ruh atau semangatnya.

 

Semoga tidak ada lagi aksi-aksi kekerasan, pembunuhan dan pemboman di Bumi Nusantara.

Semoga tidak ada lagi orang-orang tolol yang rela mati hanya untuk agama dan segala pepesan kosongnya.

 

Di tangan kita ada seluruh harta yang kita butuhkan untuk menyemarakan hidup ini. Untuk apa mempertaruhkan semuanya itu dalam perjudian yang kemungkinan menangnya sangat tipis ?

 

Apakah harta di tangan kita itu?  Lihatlah keluarga anda, suami, istri, anak, dan orang tua. Lihatlah teman-temanmu. Untuk merekalah seharusnya kita hidup. Untuk kesejahteraan mereka.

 

Belajarlah dari alam semesta. Lihat bagaimana alam semesta merahimi, menyusui dan menopang segala mahluk hidup. Ia bukan alam yang senang kematian, kekerasan,  dan kegersangan.

 

Janganlah bertindak bodoh mempertaruhkan segala yang kau miliki, hanya demi kisah-kisah yang kesejarahannya tidak meyakinkan, dibungkus motif-motif organisasional dan hasrat-hasrat primordial yang tak lain adalah pepesan busuk.

Iklan