Jalan raya di sekitar Gelora Bung Karna, Jakaraya Pusat itu tak biasanya pada hari Sabtu siang seperti ini macet banget! (gambar dari ngerumpi.com)

Aku yang kala itu terjebak di dalamnya hanya berpikir dan heran, "Ternyata hari Sabtu yang bukan hari kerja kok bisa macet juga."

Tak lama ada seorang anak muda berjaket kuning, dengan tulisan PSSIng-Fans Club di dadanya, mengetuk kaca mobil yang kukendarai. 

Kubuka kaca sambil bertanya, "Ada apa, koq macet?"

"NurHal diculik teroris dari kantor pusat pengurus PSSIng di Gelora Bung Karno! Terorisnya minta tebusan 25 milyar rupiah, jika tidak, NurHal, Ketum PSSIng itu, mau disiram bensin, terus dibakar!"

"Lantas, tugas Anda?," tanyaku.

"Tugas saya mengumpulkan sumbangan dari tiap mobil yang lewat….," jawab anak muda tersebut.

"Berapa saya harus menyumbang?," Kataku bingung.

"Terserah, seikhlasnya, tapi yang lain-lain pada ngasih 5 liter, 7 liter, bahkan 10 liter bensin…"

:)) :)) :))
*anekdot ini sumbernya BBM

=============================

Rakyat dan pemimpin sejatinya merupakan mitra. Adanya perbedaan posisi, yang di belakang dan yang di depan, yang dipimpin dan yang memimpin, tidaklah menyebabkan kemitraan itu sirna.

Ada prinsip keseimbangan antara tugas, fungsi dan posisi keduanya, karena yang sesungguh-sungguhnya, tujuan rakyat dan pemimpin seharusnya sama.

Akibatnya, ketika kemudian pemimpin menjadi tidak lagi terlihat memegang amanah, berjalan sendiri-sendiri dengan tujuannya masing-masing yang tidak lagi sejalan dengan tujuan rakyat, maka perlawananlah yang muncul sebagai buahnya.

Banyak cara untuk melawan. Melahirkan anekdot adalah salah satunya.

Seringkali ketika membaca sebuah anekdot, orang berpikir tentang penghinaan. Berpikir tentang olok-olok.

Tapi sesungguhnya tidak hanya itu nilainya. Dalam sebuah anekdot yang menjadikan pemimpinnya sebagai obyek cerita, sering mencuat kritik yang menggambarkan kegerahan rakyat pada sosok pemimpinnya.

Orang bisa memaknainya sebagai perlawanan "kaum putus asa". Mungkin itu benar. Tapi nilai terdalamnya justru menunjukkan fakta ketimpangan yang ada.

Jika saluran kritik secara normal terbuka, jika masyarakat memiliki akses cukup baik melalui wakil-wakilnya untuk berbicara, menyampaikan keluhan dan harapannya, menyampaikan penegasan agar para pemimpinnya benar-benar memahami makna Re-Publik, kembali ke rakyat.
Dan apabila pemimpinnya mau mendengar, mau terbuka dan menerima kembali hakikat rakyatnya sebagai mitra, maka tentu keputus-asaan itu tidak akan pernah tercipta.

Pun demikian, dalam keputus-asaan seperti itupun melahirkan sebuah anekdot adalah cara yang lebih baik ketimbang menebar napsu amarah.

"Lebih baik kami marah dengan tawa, ketimbang tertawa dengan darah!"

Bagi anda yang juga gerah dengan pemimpin anda, lahirkan anekdot!

Ciptakan sebanyak-banyaknya! Hiburlah masyarakat dengan canda, lipurkan lara dengan tawa.
Balut kita punya rindu akan pemimpin baru dengan kisah lucu.

Karena dengan itu, bara kita yang menyala akan tetap terjaga terus menyala, tanpa harus mara-mara mengganggu kerja.

Agar bila suatu saat salah satu pemimpin rakyat bangkit di antara kita, kita belum lupa dengan cita-cita.

Sentaby,
Bogor, Maret 2011

* * * *