<ket foto 1 : jika Einstein mengatakan 'tuhan tidak bermain dadu dengan alam', apakah tuhan justru bermain mata dalam soal keadilan? >

Aa Jin, dalam korespondensi sebelumnya Aa Jin telah menjelaskan bahwa kejahatan ada karena manusia; kejahatan adalah suatu pelanggaran atas kode etik yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, dan kejahatan itu timbul dari nafsu destruktif dari diri manusia sendiri yang harus dikontrol, ia bukanlah sesuatu yang datang dari luar diri manusia.

Benar. Nafsu destruktif itu harus dikontrol baik oleh si individu dan komunitas dimana ia berada, dalam hal ini adalah negara. Negara, seharusnya, adalah perwujudan keinginan dan cita-cita seluruh rakyat untuk hidup bersama secara bermartabat, berkeadilan, dst. Dan untuk menjamin kebebasan dan hak-hak hidup rakyatnya negara punya hak dan kewajiban untuk menetapkan hukum, mengatur dan menghukum mereka yang melanggar hukum.

Sekarang bagaimana dengan masalah keadilan? Adakah keadilan dalam hidup ini?  Siapakah yang menjamin keadilan dalam semesta ini? Jika manusia pada dirinya sendiri mengandung benih kejahatan dan berpotensi untuk melakukan sesuatu yang destruktif, siapa yang menjamin keadilan bagi sesama? Apakah Aajin percaya akan adanya keadilan ditangan tuhan?

Dimanakah keadilan tuhan apabila orang baik-baik menderita dan terus hidup dalam kemalangan, kemiskinan dan keterbatasan? Sementara para koruptor, dan konspirator politis yang meraup uang negara hidup bermewah-mewahan diatas kemiskinan rakyat banyak?  

Dee, pertanyaan-pertanyaanmu adalah pertanyan manusia sepanjang jaman. Pertanyaan diatas melibatkan banyak dimensi dalam kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut dengan tuntas, memuaskan dan tanpa cela. Dan saya pun tidak berpretensi bahwa jawaban yang akan saya berikan akan mampu menjawab semua pertanyaanmu dengan baik, memuaskan dan bersifat final. Namun baiklah saya coba untuk menguraikannya secara runut berdasarkan pemahaman saya pribadi.

 

Harus dibedakan antara pertanyaan ‘adakah keadilan di dunia ini?’ dengan ‘percayakah anda   akan adanya keadilan atau suatu sistem yang menjamin keadilan?’.

 

Pertanyaan ‘adakah keadilan di dunia ini’ mempersyaratkan suatu pembuktian empiris dimana keterhubungan sebab-akibat / koneksitas kausalitasnya terlihat jelas. Contoh: saya menyakiti dan menyerang Dee dengan kata-kata pedas (peristiwa A), kemudian Dee membalas hal serupa kepada saya sebagai respon dari perlakuan saya (peristiwa B). Nah di sini terlihat adanya suatu kausalitas yang jelas bahwa B (sebagai akibat) ada karena A (sebagai sebab) ada, seandainya A tidak ada maka B pun tidak ada.

 

Namun seringkali antara suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain tidak terdapat suatu koneksi kausalitas yang jelas.  Contoh: seorang penguasa yang berlaku tiran terhadap rakyatnya sendiri. Ia hidup dalam kesenangan, kemewahan dan kesewenang-wenangan. Di akhir hayatnya ia mati dengan tenang karena usia tua. Kita mengharapkan adanya suatu koneksitas kausalitas yang jelas bahwa ia, seturut dengan rasa keadilan yang diyakini secara umum, mendapatkan buah-buah dari perbuatannya, tapi ternyata itu tidak terjadi, atau setidaknya tidak terjadi setragis yang orang harapkan.

Contoh lainnya adalah suku Kurdi, dimana selama ratusan tahun mereka berjuang untuk membebaskan tanah mereka dari penguasaan Irak dan Turki namun tetap gagal. Begitu pula suku Karen di pedalaman Thailand dan Burma, penduduk pribumi benua Amerika, yaitu suku Indian Amerika, suku Aborigin di Australia dsb. Betapa tragis sejarah perjuangan mereka. Dimanakah keadilan itu tampak?

 

Ketika keadilan tidak terlihat secara jelas kausalitasnya maka pertanyaan  ‘adakah keadilan’ bergeser menjadi ‘percayakah anda akan adanya keadilan’. Pertanyaan kedua ini cenderung memperlihatkan sisi keyakinan atau subyektif personal ketimbang pembuktian empiris karena adanya ketidak jelasan alur sebab-akibat / kausalitas. Untuk itulah keimanan dihadirkan oleh para pengusungnya untuk mengisi celah ini.  Sebab jika memang sesuatu itu terbukti ada, untuk apa kita masih berkutat dengan pertanyaan ‘percayakah anda?’Pertanyaan ini hadir karena adanya peristiwa-peristiwa yang bersifat random atau sembarang tanpa terlihat alur sebab akibatnya.

Contoh: saya tidak akan bertanya pada Dee  ‘percayakah Dee bahwa ada sebuah negara di benua Asia bernama China?’ Tentu saja Dee akan tertawa, sebab sebagai orang yang tinggal di China, pertanyaan ‘percayakah akan adanya negara China’ sudah tidak relevan lagi. Anda telah tinggal dan mengalami secara empiris keberadaan negara China itu.  

Namun ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak jelas keberadaannya secara empiris, maka kita mulai menggeserkan pertanyaannya menjadi ‘apakah anda percaya akan adanya…’

‘percayakah anda akan keberadaan mahluk asing di suatu planet lain selain bumi?’

‘percayakah anda akan kehidupan setelah kematian?’

‘percayakah anda akan jaminan keadilan universal?’ dst.

Dan memang kedua jenis pertanyaan inilah, yakni adakah dan percayakah, yang selalu menggelayuti manusia sepanjang jaman ketika mereka merenungkan tentang makna hidup, keadilan, penderitaan hidup dan tuhan.

Baik theisme atau atheisme tidak mampu membuktikan adanya atau tiadanya tuhan. Atheisme hanya mampu membuktikan kelemahan-kelemahan kepercayaan theisme, namun ia tidak mampu membuktikan ketiadaan tuhan, sebab bagaimana mungkin sesuatu yang tiada bisa dibuktikan ketiadaannya? Agar bisa dinegasikan sesuatu itu mesti ada terlebih dahulu, setidaknya dalam tataran idea atau konsep. Begitupula dengan tuhan dan keadilan. Karena ia tidak bisa dibuktikan ke’ada’annya maka kita menggeser tuhan dan keadilan bukan sebagai ‘sesuatu’ yang bisa dibedah dan dianalisa secara empiris, melainkan suatu idea. Karena ia adalah idea maka ia bisa dibedah, dianalisa dan dikritisi.

Dengan menempatkan idea sebagai idea, maka kita telah berada dalam rel yang benar dimana idea yang adalah persepsi dari suatu kelompok ditempatkan sebagai persepsi, sedangkan hidup yang memulti-wajah ini yang adalah realitas bersama yang kita sama-sama alami, ditempatkan secara realitas. Dengan menempatkan persepsi sebagai persepsi dan realitas sebagai realitas maka kita dapat keluar dari emosionalitas dan mulai memandang / theoria duduk permasalahannya dengan benar.   

 

Penderitaan  

Dalam percakapan kita sebelumnya saya paparkan bahwa kejahatan adalah bagian dari penderitaan yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Kita mengatakan suatu tindakan itu sebagai jahat (evil), atau suatu kejahatan (crime) karena ada sesuatu yang terambil dari kita, entah itu secara material, atau psikologis, atau paling tidak rasa nyaman yang dilakukan oleh manusia lain. Kejahatan berasosiasi dengan manusia itu sendiri. Kejahatan didorong oleh nafsu yang bersifat destruktif dalam diri manusia itu sendiri yang seharusnya bisa ia kontrol agar bisa menempatkan diri dalam suatu kehidupan berkomunal.

Berbeda dengan kejahatan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia, penderitaan bisa ditimbulkan dari bencana alam, malapetaka, sakit penyakit, kemalangan hidup pada manusia yang ditimpanya.

– Kita tidak mengatakan bahwa gunung itu jahat hanya karena ia meletus dan laharnya menghancurkan rumah dan ladang masyarakat di sekitarnya.

– Kita tidak menuduh alam ini jahat karena kita banjir bandang atau topan badai memporak-porandakan pemukiman nelayan di pinggir pantai. Kita hanya mengatakan fenomena tersebut sebagai bencana alam yang mengakibatkan penderitaan dan tragedi kemanusiaan. Jadi jelas bahwa kejahatan hanyalah bagian dari penderitaan.

 

Sekarang, dari manakah datangnya penderitaan?Pertanyaan ini sepertinya sama tuanya dengan peradaban manusia berpikir itu sendiri. Lewat mitos-mitos dan filsafat manusia mencari jawabnya. Dan tetap penderitaan adalah misteri tersendiri dalam hidup ini, bersama dengan misteri-misteri lainnya.

Namun secara garis besar milyaran manusia memahami penderitaan dan keadilan hidup dalam dua mazhab besar:

  1. Pandangan yang didasari atas kepercayaan kepada kedaulatan suatu tuhan yang berpribadi, seperti dalam Yudaisme, Kristen dan Islam.
  2. Pandangan yang didasari atas keyakinan pada adanya sistem karmaik, seperti pada keyakinan Hindu, Buddhisme, dan agama-agama timur lainnya.

Pada kali ini kita akan secara khusus membahas pandangan golongan yang pertama, yaitu keadilan hidup dan penderitaan berdasarkan keyakinan umum agama-agama samawi.

 

Menurut mitos agama-agama samawi yang popular, penderitaan dalam kehidupan ini berasal dari kecerobohan sepasang manusia pertama di taman Eden / firdaus. Karena Adam dan Hawa mengambil buah terlarang itu maka baik manusia dihukum dengan kematian, bumi dikutuk menjadi tempat yang sukar untuk ditanam, ular dikutuk supaya berjalan melata (memang sebelum dikutuk ular berjalan dengan kaki?)  Itu menurut mitos Yahudi dan Kristen. Menurut mitos Islam, dengan  mencontek cerita itu dan mengadaptasinya secara lokal, Adam dan Hawa diturunkan dari Surga Firdaus ke dua tempat berbeda di tanah Arab, yaitu Safah dan Marwah. Terbayang tidak bagaimana mereka turun dari surga ke bumi tanpa pesawat terbang? Tidakkah mereka seharusnya mengalami hipotermia ketika menembus udara? Ingat loh pada waktu itu belum ada pakaian.

 

Bagi pemercaya mitos tersebut penderitaan hidup ini berasal dari ketidaktaatan Adam dan Hawa, dan kejahatan adalah berasal dari iblis, yang juga adalah ciptaan tuhan. Jadi secara tidak langsung tuhan bertanggung jawab penuh atas kecerobohannya menciptakan iblis dan membiarkan kejahatan itu terjadi. Tuhan berpribadi ini berdaulat penuh dan sempurna dalam segala ketetapan dan hukumnya yang tidak bisa salah dan menjamin suatu keadilan yang seadil-adilnya dalam bagi semua mahluk. Bahasan tentang keadilan tuhan dalam teologi agama monotheistic ini sering disebut theodise, konsep tentang keadilan tuhan.

 

Karena bahasan ini terlalu panjang, maka saya akan memfokuskannya pada pemahaman tentang keadilan, penderitaan dan kekuasaan tuhan dalam kisah Ayub.

 

XIR84999 Job (oil on canvas) by Bonnat, Leon Joseph Florentin (1833-1922)
oil on canvas
Musee Bonnat, Bayonne, France
Lauros / Giraudon
French, out of copyright Copyright (C) Bridgeman Art Library

<ket foto 2. lukisan Ayub oleh Leon Bonnat>

 

 

Ayub – manusia ringkih dalam kekuasaan tuhan, sang dalang yang sewenang-wenang

 

Tiga agama samawi, Yudaisme, Kristen dan Islam bersumber pada tradisi yang sama, yaitu pengalaman kebatinan bangsa Israel. Dalam khazanah berpikir 3 agama ini terdapat satu tokoh yang mau tidak mau selalu dijadikan rujukan ketika kita membicarakan topik penderitaan, kesabaran, kemahakuasaan tuhan, cobaan atau ujian,dan misteri kehidupan. Tokoh ini adalah Ayub. Karena kisah Ayub dalam islam hanyalah contekan dari kisah Ayub dalam Yudaisme atau agama Yahudi, maka adalah lebih baik kita langsung membedah kisahnya dari sumber utama yaitu kitab Ayub di Perjanjian Lama.

 

Kitab Ayub adalah kitab yang menakjubkan, baik dari segi sastra maupun dari latar belakang kemunculannya. Puisi-puisi yang menjalin kitab ini sangat tinggi kualitasnya, bahkan lebih tinggi dari pada kitab yang orang percayai sebagai yang kitab terakhir dan sempurna.

Kitab ini dibagi dalam tiga bagian: prolog, inti, dan epilog.

 

 

<Ket. gambar 3. Setan berkunjung ke surga untuk menghadap tuhan. Penggambaran tuhan sebagai ia yang bertahta di surga, lahir dari masyarakat dalam kungkungan monarki dan feodalistik, dimana raja berkuasa penuh atas kerajaannya, begitu pula tuhan. Sekarang di jaman demokrasi dimana pemimpin dipilih oleh rakyat dan bisa digulingkan jika sewenang-wenang, bisakah tuhan diibaratkan sebagai presiden???>

 

Prolog:

 

Dalam bagian prolog secara singkat tertulis dalam kitab ini bahwa Ayub dijadikan ajang uji coba oleh dua kekuatan adikodrati yaitu tuhan dan iblis. Dalam gaya tutur bahasa saya, demikianlah kisahnya:

Diceritakan bahwa suatu saat iblis  beranjangsana ke surga. Dan saat itu tuhan bertanya pada iblis, “tidakkah engkau melihat hambaku yang setia Ayub? tidak ada hamba yang sebegitu taat  di bumi ini seperti Ayub.” Maka iblis mencemooh,” Ayub taat karena ia hidup dalam ketenangan, kelimpahan dan kelapangan. Coba seandainya ia hidup dalam kehilangan, kemiskinan dan kedukann, akankah ia tetap setia ?”  Tuhan menyambut tantangan si iblis dengan berkata, “baik. Perlakukan semaumu asal jangan kau ambil tubuhnya.” 

 

Maka iblis mendatangkan angin besar yang merubuhkan rumah dimana anak-anak Ayub sedang berpesta. Seketika itu juga matilah semua anak-anak Ayub. Begitu pula semua ternak mereka dijarah oleh gerombolan Kasdim sehingga habis ludes tak bersisa. Namun dari semua kemalangan dan kedukaan yang datang serempak itu Ayub tetap tidak bergeming.

Dalam kekagetan dan rasa terpukul yang mendalam, Ayub justru mengatakan

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi tuhan yang mengambil, terpujilah nama tuhan.”

 

(mungkin dari kisah ini maka budaya Islam selalu mengatakan ‘inna lillahi wa inna ilahi rojiun’ – Qs Albaqaroh 156 – mengingat islam juga mengambil mutiara-mutiara keyakinan agama-agama sebelumnya)

 

Melihat ketabahan Ayub, maka iblis kembali lagi menghadap tuhan. Sambil tersenyum bangga, tuhan menjebi kepada iblis. “Lihat hambaku yang paling tabah dan setia. Sekalipun harta dan anak-anaknya diambil dari padanya, ia tidak mengeluh dan menyumpahi hidup.” Iblis merasa terbakar egonya, kemudian ia menantang lagi, “Itu karena ia tidak mengalami penderitaan fisik. Ia masih sehat dan kuat. Beri kesempatan padaku untuk mencobainya kembali”

“Silahkan, asal jangan kau ambil nyawanya.” tantang tuhan kepada iblis.

 

Maka saat itu pula iblis turun dari surga menuju bumi dan menulahkan kepada Ayub suatu jenis penyakit kulit yang maha dahsyat. Borok dan nanah keluar dari seluruh kulit di badan Ayub. Gatal dan nyeri terasa diseluruh tubuh Ayub hingga ia menggaruk-garuknya sampai berdarah-darah. Bahkan pada saat seperti itupun tidak ada satu kata keluhan dan sumpah serapah keluar dari mulut Ayub.

 

Sang istri dengan perasaan hancur dan mendongkol, berkata, “lihat, sesembahan yang selama ini kau sembah, ternyata tidak turun untuk menolongmu dari kesusahan ini. Mengapa tidak kau sangkal dan kutuki saja tuhanmu itu dan setelah itu kau mati?”

 

Mendengar berita tentang kesusahan yang ditimpakan pada Ayub, maka ketiga temannya, Elifas, Bildad dan Zofar menjenguk.  Mereka bermaksud untuk menghibur dan menasehatinya. Namun begitu dahsyatnya penderitaan Ayub sehingga mereka hampir tak mengenalinya lagi. Mereka menangis dan mengoyakkan baju jubahnya dan menaburkan debu ke kepala sebagai tanda berkabung. Tujuh hari tujuh malam mereka duduk bersama-sama tanpa sepatah katapun terucap.  Demikianlah isi dari bagian epilog kitab Ayub ini.

 

Inti kitab:

 

Dalam bagian inti dikisahkan tentang keluh kesah Ayub dan kedatangan tiga temannya yang datang untuk menghiburnya.

Ayub berkeluh kesah dan mengutuk hari kelahirannya.

 

biarlah hilang lenyap hari kelahiranku …

biarlah kegelapan dan kekelaman menutupi hari itu

awan-gemawan menudunginya dan gerhana matahari mengejutkannya

ya, biarlah pada malam itu tidak ada yang melahirkan, dan tidak terdengar suara kegembiraan

mengapa aku tidak mati waktu aku lahir?

atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?

mengapa pangkuan menerima aku?

mengapa ada buah dada sehingga aku dapat menyusu?

jikalau tidak, aku sekarang berbaring dengan tenang ….

 

Mendengar keluh kesah Ayub, yang ditangkap sebagai kekerasan hati Ayub kepada allah, maka ketiga temannya mulai berbicara. Bagi mereka seharusnya penderitaan level berat seperti yang ditimpakan pada Ayub adalah contoh nyata bahwa Ayub pastilah telah melakukan suatu pelanggaran hukum kepada tuhan. Yang Ayub harus lakukan adalah mengaku kesalahannya dan bertobat, bukan merasa benar dan malah mengutuki kelahirannya, sebab suatu penderitaan tidak mungkin datang tanpa benih-benih sebab dosa dan pelanggaran yang pernah ayub tabur di masa lalu.  

 

Demikianlah kutipan-kutipan nasehat mereka:

 

Elifas:

mungkinkah seorang manusia benar di hadapan allah?

mungkinkah seseorang tahir di hadapan penciptanya?

sesungguhnya berbahagialah manusia yang ditegur allah

sebab itu janganlah engkau menolak didikan yang maha kuasa

karena dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat

dia yang memukul tetapi yang tangannya menyembuhkan pula.

 

Bildad:

masakan allah membengkokan keadilan?

masakan yang maha kuasa membengkokan kebenaran?

jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa, maka pantas bagi allah untuk menghukum mereka.

tetapi engkau, lekaslah mencari allah dan memohon belas kasihan dari yang maha kuasa.

 

Zofar :

apakah orang harus diam terhadap bualmu?

katamu: pengajaranku murni, dan aku bersih dimata tuhan.

dapatkah engkau memahami hakekat allah dan menyelami batas-batas kekuasaan yang mahakuasa?

jikalau engkau menyediakan hatimu dan menadahkan tanganmu kepadanya ….

maka kehidupanmu akan lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang pada siang hari.

 

<ket foto 4. Ayub dan teman-temannya. Nasehat yang tepat adalah bagaikan air yang dibutuhkan tanaman yang kering. Namun nasehat moralis yang tidak melihat suasana, malah membuat orang tertimpa bencana menjadi kecut dan semakin menyalahkan diri. Ketika kita down, kita tidak butuh para moralis. Kita butuh teman curhat yang mendengar keluh kesah kita.>

 

 

Inti dari nasehat ketiga teman ayub adalah : apa yang terjadi denganmu, Ayub, pastilah karena suatu pelanggaran yang pernah dilakukan olehmu entah sengaja atau tidak, karena tidak mungkin tuhan salah menimpakan penderitaan. Tuhan, dalam kemahakuasaan dan kesempurnaannya, tidak mungkin salah dalam bertindak.

 

Setiap kali temannya memberi nasehat demikian, setiap kali itu pula Ayub membela dirinya. Ia yakin bahwa ia tidak bersalah, dan penderitaanya bukan karena sebab-sebab dosa yang dilakukannya. Intinya tuhan telah salah menjatuhkan penghukuman dan ayub menjadi salah target. Ia merasa dibenci dan dimusuhi oleh allah yang selama ini ia cintai dan sembah.

 

Dituduh telah melakukan dosa, Ayub tidak bisa menerimanya. Sebab ia merasa tidak pernah melakukan pelanggaran yang melayakkan dia untuk menerima hukuman seberat itu.

 

ah, hendaklah kiranya kesalahan hatiku ditimbang,

dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca.

maka beratnya akan melebihi pasir di laut.

 

aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku,

aku hendak berbicara dalam kepahitanku.

aku akan berkata kepada allah: jangan mempersalahkan aku;

beritahukanlah aku, mengapa engkau berperkara dengan aku.

 

ia tahu jalan hidupku,

seandainya ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

aku menuruti jalan-nya dan tidak menyimpang

perintah dari bibirnya tidak kulanggar,

dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-nya

 

padahal engkau tahu bahwa aku tidak bersalah

panggilah, maka aku akan menjawab;

atau aku akan berbicara dan engkau akan menjawab.

berapa besar kesalahan dan dosaku?

beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.

mengapa engkau menyembunyikan wajah-mu dan menganggap aku musuhmu?

 

Setelah ketiga kawan ini berdebat dengan Ayub, maka berbicaralah orang keempat, yaitu Elihu yang tidak diketahu kapan datangnya. Ia dari tadi diam saja karena merasa paling muda di antara mereka. Elihu menyalahkan ketiga teman Ayub yang mendesaknya untuk mengakui kesalahan dan dosa Ayub, yang Ayub sendiri merasa tidak pernah lakukan. Namun di sisi lain Elihu-pun menyalahkan Ayub mengapa ia mempersalahkan allah dan merasa layak untuk mempertanyakan misteri allah.

 

aku masih muda dan kalian sudah berumur tinggi,

namun bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat

oleh sebab itu aku berbicara :

mengapa engkau, ayub, berbantah dengan dia bahwa dia tidak menjawab perkataanmu?

jauhlah dari allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada yang maha kuasa untuk berbuat curang.

malah ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami kelakuannya

 

sesungguhnya allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahun-nya tidak dapat diselidiki.

allah itu mulia dalam kekuasaannya, siapakah guru seperti dia?

 

Setelah Elihu berbicara, lalu sang penulis menutup suasana debat itu dan memunculkan figure allah / yahwe dalam amukan badai dan berbicara langsung kepada Ayub.

 

siapakah manusia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?

bersiap-siaplah engkau, ayub, sebagai seorang laki-laki. aku akan menanyai engkau supaya engkau member tahu aku.

dimanakah engkau ketika aku meletakkan dasar bumi?

siapakah yang telah menetapkan ukurannya?

engkaukah yang pernah turun sampai ke sumber laut, atau berjalan-jalan melalui dasar samudera raya?

siapakah yang menggali saluran bagi hujan deras dan jalan bagi kilat guruh?

apakah hujan itu berayah? atau siapakah yang menyebabkan lahirnya titik air embun?

apakah engkau mengetahui hukum-hukum bagi langit? atau menetapkan pemerintahannya di atas bumi?

oleh pengertianmu-kah burung elang terbang dan mengembangkan sayap-sayapnya menuju selatan?

atas perintahmu-kah rajawali terbang membubung dan membuat sarangnya ditempat tinggi?

 

Didera pertanyaan-pertanyaan tentang kemaha-dahsyatan alam dan keterbatasan manusia dalam alam semesta ini, Ayub terdiam, terpekur dan tak mampu menjawab.

 

Aku tahu bahwa engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencan-mu yang gagal

Itulah sebabnya tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.

Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.

 

Epilog:

 

Dalam bagian ini sang penulis menceritakan bagaimana kehidupan Ayub dipulihkan kembali. Harta yang terhilang darinya dikembalikan oleh tuhan dua kali lipat, kecuali istri. Dia tetap mendapat satu istri saja. Dan lahirlah anak-anak lelaki dan perempuan untuk mengembalikan anak-anak yang mati terdahulu. Setelah kejadian itu Ayub masih hidup 140 tahun, ia masih melihat anak dan cucunya sampai keturunan keempat dan setelah itu matilah Ayub dalam usia lanjut.

                                                                             ***

Sejarah Dibalik Pemunculan Kitab Ayub

Umat Kristen awam percaya bahwa kitab Ayub ditulis oleh Ayub sendiri. Ia menuliskan kisah hidupnya dalam kitab Ayub. Ayub bukanlah seorang dari kaum Israel. Ayub dipercaya sebagai seorang saleh yang hidup pada masa para patriakh, atau paling tidak sejaman dengan Abraham / Ibrahim.

Namun tidaklah demikian dengan para sarjana teologia. Para ahli kitab telah menyelidiki dengan seksama lewat kritik sejarah dan linguistik / bahasa. Mereka menemukan bukti-bukti yang mengarah pada thesis yang kuat bahwa kitab Ayub ditulis, atau paling tidak menemukan bentuk terakhirnya dari evolusi kisahnya, kira-kira abad 4 SM. Tentu saja bukan oleh Ayub, tetapi oleh seorang / beberapa orang pujangga Yahudi yang mencoba berkontemplasi atas perjalanan sejarah bangsa Israel dan atas kejadian getir yang sering menimpa bangsa ini.

Pada abad 4 SM di Persia terjadi gerakan massive dari bangsa Yahudi di bawah kepemimpinan Ezra untuk kembali ke tanah leluhur mereka yaitu Kanaan. 70 tahun sebelumnya kerajaan Yehuda dihancurkan oleh bangsa Babel di bawah pemerintahan Raja Nebukadnezar dan sebagian besar umat Yahudi di tahan dalam pembuangan di Babel, yang mana kemudian Babel dikalahkan oleh persekutuan 2 kerajaan yaitu Media dan Persia dan bangsa Yahudi pun berada dalam protektorat kerajaan Persia.

 

Selama pembuangan ini bangsa Yahudi telah kehilangan rasa percaya diri sebagai bangsa terpilih. Banyak dari antara mereka yang meninggalkan adat kebiasaan serta iman leluhur mereka. Dalam suasana kebathinan terpuruk begitu dalam, bangsa ini berkontemplasi tentang perjalanan sejarah kebangsaan dan keimanan mereka. 

 

Para pujangga ini merenungkan mengapa bangsa Israel selalu menjadi bangsa yang ditaklukan oleh bangsa-bangsa besar. Mulai dari penjajahan Mesir, rongrongan dari bangsa-bangsa sekelilingnya, ditundukkan oleh Siria, dijajah oleh Babel, dibuang ke tanah Babel, kemudian setelah Babel kalah oleh Persia, mereka terpaksa hidup di bahwa belas kasihan kekaisaran Persia. Apa dosa Israel sehingga ia layak diperlakukan secara tidak adil terus menerus? Bukankah dari segala bangsa yang orang Israel pahami saat itu, hanya Israel yang memuja tuhan yang satu? Bukankah bangsa Israel ini bangsa pilihan tuhan? 

 

Banyak pujangga yang menitik-beratkan kausalitas penderitaan bangsa ini kepada kebebalan leluhur mereka. Leluhur mereka dianggap telah begitu menyeleweng dari perintah-perintah yahwe -tuhan israel. Mereka telah menolak dan membunuh para nabi utusan yahwe, karena itulah bangsa Israel harus dihukum oleh tuhan dan dibiarkan dijajah bangsa-bangsa lain agar bertobat dan berbalik padanya.

 

Berbeda dengan pujangga-pujanga ini penulis kitab Ayub tidak memberikan jawaban yang sama, melainkan ia melemparkan misteri penderitaan itu kepada sosok yahwe, tuhan yang maha berkehendak, dimana kehendak-nya ini mengatasi nilai baik dan buruknya menurut manusia. Mengapa Israel selalu menderita? Jawaban dari penulis kisah Ayub adalah karena yahwe, tuhan yang maha kuasa, berkehendak demikian lewat pertimbangan dan kedaulatannya yang sukar dipahami oleh manusia. Dan dalam usaha untuk memperkenalkan keyakinannya itu ia memakai / mereka-ulang kisah Ayub. Jadi Ayub adalah tipologi dari bangsa Israel itu sendiri, sedangkan ketiga temannya itu mewakili 3 mazhab yang memiliki pandangan yang sama tentang penderitaan, yaitu bahwa penderitaan pastilah berasal dari pelanggaran dosa orang tersebut.

 

Ayub dalam bahasa ibrani adalah ‘iyobh’ yang berarti ‘yang dibenci’. Kata ini berasal dari akar kata ‘ayyabh’ yang berarti yang dimusuhi. Dari etimologinya saja, jelas bahwa Ayub, sangat memungkinkan bukan seorang figur nyata, namun personifikasi dari suatu idea, yang dalam hal ini adalah personifikasi bangsa Israel sebagai yang tertindas, dibenci dan dimusuhi bangsa-bangsa lain,  yang dihadirkan untuk dalam suatu kerangka cerita untuk memenuhi motif tertentu penulisnya. Ada thesis lain bahwa kisah ayub itu sendiri diambil dari kisah-kisah serupa dari bangsa Siria dan Babel yang dituturkan kembali dalam nuansa pemikiran bangsa Yahudi saat itu.

http://en.wiktionary.org/wiki/Job

Dalam pemahaman Penulis Kitab Ayub, usaha manusia untuk memahami hal-ihwal keadilan tuhan dalam hidup dipandang negatif, manusia begitu lemah, terbatas, bodoh untuk memahami misteri yang luar biasa ini. Tuhan dipandang sebagai agen di seberang kehidupan yang tak terselami, berhak untuk sewenang-wenang, senang menutup diri, dan tiran dalam keadilan-nya.

Manusia dianggap bagai wayang golek yang bisa diperlakukan apa saja oleh dalangnya, dalam hal ini tuhan, demi kemuliaan sang tuhan. Segala upaya pencarian manusia untuk memahami dan menyelami kausalitas hidup menjadi tak bermakna, dan sia-sia.

Alih-alih sang tuhan ini berterus terang kepada Ayub bahwa rentetan pengujian yang melibatkan kematian anak-anaknya, kematian hewan ternaknya, dan penderitaan fisiknya ini semata-mata adalah konspirasi antara tuhan dan iblis, ia / tuhan malah menantang Ayub dengan berkata :

“Di manakah engkau ketika aku mencipta langit dan bumi?”

“apakah engkau mengetahui jalannya bintang Kartika, Mintakulburuj dan bintang Biduk?”

“Berkuasakah engkau memberi makan singa-singa kelaparan di padang? dll”

 

Penulis buku Ayub tadinya ingin memberi penghiburan kepada bangsa Israel yang selama beratus-rastus tahun mengalami kehilangan identitas kebangsaan, bahwa bukan karena dosa mereka dan dosa orang tua mereka sehingga bangsa Israel terjajah dan dibuang, namun karena kedaulatan dan kemahakuasaa tuhan yang tak terselami. Tuhan berhak merencanakan perang, tuhan berhak menggerakan raja babel untuk menghancurkan bait tuhan di Yerusalem, tuhan berhak membiarkan bangsa Israel dibuang ke Babel dan Persia, tuhan berhak. Dan mencari jawab tentang alasan tuhan menggunakan hak prerogatifnya dalam memplotkan rencana yang berdarah-darah itu adalah kesia-siaan karena terlalu bodoh manusia dan terlalu luas dan dalam rencana tuhan.

 

Bagi penulis kitab Ayub dan orang sejamannya, pemahaman tentang keadilan tuhan semacam ini mungkin saja sudah memuaskan- tetapi jelas tidak bagi kita.

 

Alih-alih memberikan penghiburan kepada bangsa Yahudi bahwa penderitaan yang mereka alami bukanlah karena dosa-dosa mereka semata, penulis Kitab Ayub justru menyisakan pertanyaan tentang ketidakbermoralan tuhan yang mendalam. Kita bisa bertanya kepada sang penulis :

“Bagaimana mungkin manusia masih bisa menyembah tuhan dengan segala atribut kemaha-adilannya apabila dalam kedaulatannya ia bertindak sewenang-wenang terhadap ciptaannya?

Mengapa demi diakui sebagai yang maha kuasa dan maha besar tuhan berkonspirasi dengan iblis, setan,  atau agen-agen penderitaan, sakit penyakit dan lain sebagainya untuk membuat manusia mengakui keberadaannya? Bukankah ini tidak bermoral?

 

Jikalau pun kita mengambil kisah Ayub sebagai kisah nyata, maka lihatlah bagaimana anak-anak Ayub yang mati seketika hanya untuk mendukung plot dari sang tuhan dan iblis. Tidakkah ini tindakan kesewenang-wenangan allah?

 

Dalam Perjanjian Baru dikisahkan tentang seseorang yang bertanya kepada Yesus, “Guru, dosa dari siapakah yang harus ditanggung orang itu sehingga ia terlahir dalam keadaaan buta? Dosa orang tuanyakah?”  (seandainya orang yahudi percaya reinkarnasi, mungkin pertanyaannya menjadi – ‘apakah itu dosa dari kelahiran sebelumnya?’).

 

Dan Yesus menjawab, ‘Bukan. Bukan dosa orang tuanya, bukan pula dosa orang itu sendiri, melainkan kemuliaan allah akan dinyatakan atasnya.”  Kemudian Yesus menyembuhkan mata orang itu hingga celiklah ia.

 

Lha, bagaimana ini? Demi menunjukkan kemuliannya maka tuhan berhak menjadikan seseorang buta dari lahir? Dimana keadilan tuhan? Padahal dari jaman ke jaman tidak sedikit orang terlahir dengan buta, lumpuh dan sakit parah namun mereka tidak disembuhkan oleh suatu mujizat. Dimanakah keadilan tuhan yang maha berdaulat itu?

 

Tiga agama samawi telah terlalu jauh memuliakan suatu sosok tuhan mereka dan begitu dini mematok keterbatasan manusia. Demi tuhan yang serba maha itu, manusia harus disunat intelektualitasnya dalam mencari rasa keadilan.

Demi mengagung-agungkan tuhan, para rohaniwan mem- fait accompli / menodong manusia dengan fakta-fakta akan keterbatasan manusia. Tidakkah ini sama dengan istilah ‘untuk membuat dirinya terlihat putih, si bule selalu berdekatan dengan orang afrika berkulit hitam legam’?

 

Sungguh betapa naïf dan possessifnya tuhan yang berpribadi itu. 

 

Para ideolog agama telah terlalu dini mematok cicular reasoning, sehingga pencarian manusia akan kehidupan dari awal telah dibuat tidak berarti.

  1. Tuhan itu maha kasih, maha berdaulat, maha adil dan bla..bla…bla.. dia tidak mungkin bersalah dalam kesempurnaannya.
  2. Kalau realitas dunia memperlihatkan bahwa ada ketidak-adilan, ada kesewenang-wenangan? oh tentu tidak, itu hanya pendapatmu saja. Ingat hukum no. 1 tuhan maha benar sedang manusia maha terbatas. Titik.

Saya jadi teringat keluhan seorang teman dahulu, “kalau sesuatu yang baik terjadi, itu berarti tuhan maha baik, kalau sesuatu tidak baik terjadi, itu berarti tuhan sedang menguji ketabahan kita, lha kapan gagalnya tuhan? Padahal realitasnya kalaupun ada tuhan, ia telah gagal koq. “ 

 

Tuhan berpribadi adalah tuhan yang melelahkan, selalu diproyeksikan sebagai tuhan yang tidak bisa salah. Segala keputusasaan pencarian manusia dikembalikan lagi kepada manusia sebagai yang kalah, lemah, terbatas dan tak berdaya. Dari kitab Ayub, tidak salah kalau kita katakan, ‘salah satu sifat tuhan adalah maha konspirator”.

Sebagus apapun kitab ayub dan teologi agama-agama samawi tentang keadilan, ujung-ujungnya hanyalah pembelaan kepada sosok adikodrati yang tidak pernah menyingkapkan keberadaannya sendiri secara langsung pada manusia. Mengapa? Karena tuhan berpribadi hanyalah konsep, idea dalam benak mereka yang mempercayainya. Itulah konsep, itulah perspektif.

 

Hidup yang kita jalani adalah realitas, bukanlah konsep. Realitas tidak boleh dicocok-cocokan dengan konsep. Justru yang terjadi seharusnya konsep yang terus ber-evolusi, berdialektika demi memandang hidup (theoria) yang sebenar-benarnya.

 

Saya yakin topik ini melelahkan Dee. Untuk itu saya sarankan Dee membaca ulang dari atas sambil mendengarkan lagu Life dari Des’ree.

[tube]V5Ej_WQhKSI[/tube]

Hidup …. Oh hidup….. mengapa engkau begitu sukar untuk dijalani dan dipahami?

Mengapa kehidupan ini begitu sukar untuk dikonsepkan sehingga aku bisa mudah menggenggamnya dalam meniti hidup yang sukar ini?

 

LIFE

 

Chorus:

Life, oh life, oh life, oh life,

doo, doot doot dooo.

Life, oh life, oh life, oh life,

doo, doot dooo

 

I'm afraid of the dark,

'specially when I'm in a park

And there's no-one else around,

Ooh, I get the shivers

 

 

I don't want to see a ghost,

It's a sight that I fear most

I'd rather have a piece of toast

And watch the evening news

(Repeat Chorus)

 

I'm a superstitious girl,

I'm the worst in the world

Never walk under ladders,

I keep a rabbit's tail

 

I'll take you up on a dare,

Anytime, anywhere

Name the place, I'll be there,

Bungee jumping, I don't care!

(Repeat Chorus)

 

life, doo, doot dooo

doo, doot dooo

 

So after all is said and done

I know I'm not the only one

Life indeed can be fun, if you really want to

 

Sometimes living out your dreams,

Ain't as easy as it seems

You wanna fly around the world,

In a beautiful balloon

Iklan