Kecerdasan berbahasa merupakan sesuatu yang membedakan kita dari hewan. Kecerdasan berbahasa telah memisahkan leluhur homo yang cerdas dari kelompok primata.

 

Evolusi bahasa tidak terlepas dari evolusi individu dalam suatu kelompok populasi yang menjadi kendaraannya. Ada banyak teori mengenai asal mula manusia berbahasa, salah satu yang paling terkenal adalah teori Hocket-Ascher. Teori Hocket-Ascher mengatakan bahwa sebelum manusia berevolusi menjadi genus homo, leluhur primata kita menggunakan sistem komunikasi tertutup (closed system). Sistem call tidak memiliki ciri pemindahaan (displacement). Leluhur primata kita hanya dapat membicarakan sesuatu yang terletak di pandangannya. Mereka tidak dapat berbicara sesuatu yang jauh daripada itu, seperti membicarakan masa depan-lalu, berimajinasi dan belum dapat membedakan antara fiksi dan fakta.

 

Menurut Hocket-Asher evolusi sistem call tertutup menjadi sistem call terbuka memerlukan waktu ribuan tahun. Salah satu faktor yang mempengaruhi jalannya evolusi adalah sikap badan yang semakin tegak mempengaruhi bunyi-bunyi yang dihasilkan dari alat ucap.

 

Para evolusionis modern memperkirakan bahwa proses evolusi menjadi genus homo setelah leluhur kita mulai berjalan tegak memerlurkan waktu setidaknya 2 juta tahun. Setelah leluhur kita Australopithecus memisahkan diri dari leluhur simpanse 6 juta tahun yang lalu, mereka sudah berjalan dengan dua kaki selama 2 juta tahun lebih. Mereka terpaksa cara jalan dengan dua kaki karena pepohonan sudah mulai berjarak jauh satu sama lain. Berbeda dengan sebelumnya, ketika leluhur mereka masih bergelantungan dan berayun dari satu pohon ke pohon yang lain, kendati pun mereka masih tidur di pepohonan seperti kera-kera yang lain.

 

Australopithecus belum dapat dimasukan ke dalam genus homo walaupun mereka telah berjalan dengan kedua kaki (bipedalisme). Faktor penting pembeda genus homo dengan leluhur primatanya adalah kebudayaan. Spesies homo pertama setelah Australopithecus berevolusi menjadi homo Erectus. Homo Erectus telah memiliki kebudayaan yang ditandai pengecilan ukuran gigi, menandakan mereka banyak makan daging dan tumbuhan yang dilunakan dengan cara dimasak. Kebudayaan adalah salah satu ciri masyarakat yang berbahasa. Ini menandakan bahwa homo erectus telah dapat berbahasa walaupun susunan sintaksisnya masih sederhana. Perubahan leluhur primata menjadi genus homo juga mempengaruhi evolusi sistem call tertutup menjadi sistem call yang terbuka.

 

Bahasa bukan hanya penggunaan cara yang terorganisir dari pengkombinasian kata-kata, melainkan juga memikirkan tentang hal-hal dan proses-proses yang saat itu tidak dilihat, didengar, rasakan, sentuh dan cium.

 

 

Bahasa Ciri Khas Manusia.

 

 

Walau kita sering menggunakan kata “bahasa” bagi sistem penyebaran informasi pada hewan, seperti “bahasa lebah”, sebenarnya semua sistem itu hanya berupa pertukaran sinyal. Untuk bisa disebut bahasa, suatu sistem komunikasi harus punya sintaksis dan tata bahasa. Selama setengah abad para ahli psikologi berusaha mengajar simpanse berbicara tapi sia-sia. Nampaknya simpanse tak punya perlengkapan syaraf untuk menggunakan sintaksis. Oleh sebab itu, simpanse tidak bisa berbicara mengenai masa lalu atau masa depan. Setelah menemukan bahasa, para leluhur kita dapat mengembangkan tradisi lisan, jauh sebelum ditemukannya tulisan dan percetakan. Perkembangan kemampuan berbahasa juga menimbulkan tekanan seleksi yang mendorong pembesaran otak, khususnya pada bagian-bagian yang mengurusi penyimpan informasi  (ingatan). Otak yang besar memungkinkan perkembangan seni, sastra, matematika, dan sains (Ernst: 2010).

 

Dawkins di dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene (1978), memberikan nama meme untuk sebuah gen sebagai item evolusi budaya. Gagasan, gaya berpakaian, cara makan, dan apa pun yang yang temasuk ke dalam item evolusi budaya dikategorikan sebagai meme. Kendaraan meme adalah gambar, tulisan, dan ucapan. Bahasa merupakan kendaraan meme relatif tahan terhadap hukum Termodinamika Kedua walau sifat bahasa arbitrer. Bahasa akan bertahan selagi kendaraan utamanya masih ada; yaitu manusia yang berbahasa.

 

Pemikiran Plato dalam buku Republic bertahan selama ribuan tahun. Walau papirus dari teks Plato sendiri mengalami fragmentasi kerusakan kimiawi, namun karya Republicnya telah banyak dicetak ke dalam buku. Gagasan Plato dalam Republic akan punah ketika tidak ada lagi buku yang mencetak tulisan itu dan tidak ada satu pun manusia yang terkontaminasi dari pemikiran karya itu. Begitu pun bahasa, bahasa masih akan tetap ada selagi manusia sebagai pengguna bahasa masih ada.

 

 

Apakah Alien Juga Memiliki Kecerdasan Berbahasa?

 

 

Alien kerap digambar berkepala besar. Kepala yang besar menggambarkan bahwa mereka adalah sosok makhluk yang super-cerdas. Padahal, tidak selalu volume otak yang besar menunjukan bahwa ia memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Manusia Neanderthal memiliki ukuran otak mencapai 1.600cc, namun kecerdasan mereka masih kalah jauh dibandingkan homo sapiens yang memiliki ukuran otak rata-rata 1.350cc.

 

Kemungkinan adanya makhluk hidup selain di bumi sangat besar. Bumi hanya merupakan salah satu dari sembilan planet lainnya yang terdapat dalam tata surya kita. Matahari kita hanya merupakan salah satu bintang dari milayaran bintang dalam galaksi Bimasakti. Bimasakti hanya merupakan salah satu dari milyaran galaksi dalam alam semesta ini. Menurut Hawking dalam bukunya The Grand Design (2010) alam semesta kita ini hanya merupakan salah satu alam semesta dari sekian banyak alam semesta lainnya. Ini membuat peluang akan adanya planet mirip bumi lainnya sangat besar.

 

Kita tidak berbicara tentang alien dalam film-film holywood atau sejumlah penampakan piring terbang yang sering digambarkan pada Beta Ufo Megazine. Di sini, kita akan berpikir, seandainya mahluk luar angkasa itu benar ada, apakah kita dan mereka dapat saling bekomunikasi? Apakah kita dapat memahami bahasa mereka dan begitu pula sebaliknya.

Evolusi bahasa manusia sangat tergantung dengan evolusi individu. Kita tahu evolusi bakteri menuju manusia melalui proses yang sangat panjang dan rumit. Sangat mungkin jika kehidupan awal di bumi muncul berkali-kali lewat peluang kebetulan dan keberuntungan. Perjalanan evolusi kehidupan, bahkan sejak semesta ini lahir amat dipengaruhi oleh sistem chaos. Walau seandainya kita dan makhluk luar angkasa memiliki bahan kehidupan yang sama seperti di bumi, tidak menjamin bahwa sistem bahasa mereka memiliki sintaksis dan semantik layaknya manusia.

 

Peluang mereka memiliki sistem sintaksis dan semantik dalam berbahasa seperti kita sangat kecil. Mungkin hanya ada di dalam film Knowing (2009) yang diperankan oleh Nicolas Cage, alien dapat berkomunikasi dengan manusia, memberikan peringatan akan adanya kejadian berbahaya. Namun, bila suatu saat nanti kita memang bertemu dengan makhluk luar angkasa yang dapat berbahasa layaknya manusia, maka klaim yang mengatakan kecerdasan berbahasa hanya milik manusia perlu dipertimbangkan lagi.

 

 

Kecerdasan Berbahasa Pada Teknologi Masa Depan.

 

Beberapa minggu yang lalu, saya mendengar kabar bahwa Department of Defense Advanced Research Projects Agency  (DARPA) mulai November 2010 menjalankan proyek empat tahunan ke depan, akan membuat robot yang memiliki kecerdasan seperti kecerdasan manusia. Hal ini tentu saja termasuk kecerdasan berbahasa.

 

Kecerdasan buatan yang akan diaplikasi pada robot akan mengikuti cara kerja evolusi makhluk hidup. Robot-robot itu diharapkan dapat beradaptasi dan belajar sendiri seperti layaknya manusia. Jika dalam evolusi biologis ada dua kata kunci, yakni: gen dan seleksi alam. Maka evolusi mesin pada robot menggantikan kedudukan gen dengan algoritma genetik. Agar robot dapat memiliki kesadaran layaknya manusia, tampaknya para ilmuan harus menggunakan teori kuantum sebagai dasar pemrosesan informasi yang jauh lebih kuat dibandingkan komputer konvensional.

 

Menciptakan sebuah kecerdasan buatan berbahasa seperti layaknya manusia bukan merupakan hal baru. Pada tahun 1966 Joseph Weizenbaum, seorang ilmuan komputer dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), menciptakan ELIZA, sebuah program yang didesain untuk meniru “psikoterapi tak langsung”, merespon pertanyaan masukan dari pasiennya. Banyak orang yang berinteraksi dengan ELIZA membentuk semacam ikatan emosi, bahkan beberapa di antara mereka percaya mereka benar-benar bercerita dengan seorang manusia. Tapi yang dilakukan ELIZA sebenarnya hanya menganalisis pertanyaan pasien dan menghasilkan pertanyaan langsung berdasarkan pertanyaan itu. ELIZA bukanlah program yang dapat belajar bahasa sebagaimana layaknya manusia. Program ELIZA masih memanfaatkan  pernyataan-pernyataan bersyarat, “IF… THEN” (“Bila… Maka”).

 

Sebuah komputer diprogram untuk mengindentifikasi fungsi kata, dalam kalimat memanfaatkan proses yang disebut penguraian (parsing). Semua kalimat dapat diuraikan menjadi frase-frase terpisah, dan masing-masing frase diuraikan menjadi bagian-bagian kecil dan lebih kecil lagi, sampai untuk mengindentifikasi setiap kata dalam kalimat. Namun, menguraikan suatu kalimat tidaklah sama dengan memahaminya.

 

Program Autonomous Robotic Manipulation (ARM) yang tengah dibuat DARPA diharapkan bukan hanya dapat menguraikan kalimat, kata, dan frasa, tetapi juga mampu memahaminya. Pulsa-pulsa elektronik tidak hanya mewakili sintaksis, melainkan juga dapat memahami semantik. Bila program ini berhasil, menciptakan robot yang memiliki kecerdasan berbahasa seperti layaknya manusia, maka klaim kecerdasan berbahasa hanya milik manusia perlu ditinjau ulang.

 

 

 

RLT

 

Referensi

Bachari, Andika. D. 2010. Kajian Kecerdasan Linguistik. Bandung: UPI Press.

Burne, David. 2003. Evolusi. Jakarta: Erlangga.

Challoner, Jack. 2003. Kecerdasan Artifisial. Jakarta: Erlangga.

Chomsky, Noam. 1957. Syntactic Structures. Mouton & Co.

Darwin, Charles. 1859. On The Origin of Species. London: John Murray.

Darwin, Charles. 1871. The Descent of Man. London: John Murray.

Dawkins, Richard. 1978. The Selfish Gene. London: Granada Publishing.

Department of Defense Advanced Research Projects Agency  (DARPA). Autonomous Robotic Manipulation http://www.thearmrobot.com/

Ernst, Mayr. 2010. Evolusi. Jakarta: Gramedia.

Hawking, Stephen. 2010. The Grand Design. New York: Bantam Books.

Hocket, Charles & Robert, Ascher. “The Human Revolution”, current Anthropology, vol. 5 No. 3, June 1954.

Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.