Ini ringkasan  percakapan  dengan saudaraku yang lulusan Al Azhar Cairo, sekaligus juga tamatan salah satu Universitas terkemuka di USA, jurusan Politik.

Secara berkelakar dia berkata :

"Terus terang alat yang paling aman dan ampuh untuk revolusi atau lebih tepat menggulingkan satu pemerintahan, adalah "Islam" dalam hal ini tentu "Umat" atau "orangnya".

Dengan kaget saya bertanya :"Loh, Kok' bisa begitu, Mas ?"

"Begini, umat islam itu sebenarnya sama sekali "Tidak Memiliki Organisasi", yang bertugas atau bersifat melindungi".

Silakan dicari atau diamati, adakah "Organisasi Islam" yang benar-benar bertugas "Melindungi" umatnya ? Tidak ada, yang ada hanyalah Organisasi yang mengatas-namakan Islam dan lalu memanfaatkan celah-celah yang ada di Islam sendiri untuk mencari "Keuntungan" yang tentunya untuk dirinya sendiri dan kelompoknya.

Semua Organisasi yang mengatas-namakan Islam, tentu AD/ART nya berisi kata-kata yang muluk, namun pada kenyataannya "semua" tindak dan gerak, semata-mata hanya untuk kepentingan segelintir orang yang mendirikannya.

"Wah, kalau begitu kasihan dong, Mas' para saudara kita yang Muslim ?"

Tidak juga, toh" di dalam Islam banyak sekali "Orang-orang Pintar".

Nah, tugas "Orang-Pintar" inilah yang akan merumuskan termasuk menentukan "apa-apa" yang baik untuk umat secara umum dan sering "Tidak Tertulis".

Sebagai bukti, bisa kita saksikan sendiri, kan" dimana dalam sehari-hari "Umat Islam" tidak bermasalah, toh ?

Betul juga, pikir saya sambil manggut2 !!!

Karena memang lagi nganggur, saya melanjutkan bertanya !

Mas, bisa lebih spesifik gambarkan, kenapa tadi Mas mengatakan "Alat yg paling Aman dan Ampuh" untuk merebut kekuasaan ?

Begini kawan, umat islam sangat mudah digerakkan, cukup membawa "nasi-bungkus" plus "Kemampuan-orasi" yang berapi-api di Mesjid ataupun Musholah, dalam hitungan hari bahkan lebih ekstrim lagi hitungan jam manusia tersebut  langsung akan bergerak. Nah, apalagi jika "Orasi" (Khutbah Jumat) yang dilakukan sangat terarah dan tersusun rapi sedemikian rupa, dengan persiapan lapangan serta logistik yang sempurna disertai "Perencanaan Kerja" yg bagus.

Maka, jangan lah heran "Hosni Mubarak" lari terbirit-birit, demikian "Tunisia" dan negara-negara yang berbentuk "Republik" lainnya. Kalaupun ada "Pemerintahan" yang cukup solid seperti "Mohammad Qaddafi dan Bala Tentaranya", pasti akan "Terjerumus" kedalam "Perang-Saudara", nah, untuk yang satu ini sangat tergantung dari ada tidaknya

"Negara Kuat" yang bersedia memasok "senjata" kepada pihak "Reformis" atau "Pemberontak" menurut versi "Qaddafi".

Tadi, Mas' mengatakan negara-negara yang berbentuk "Republik" adakah maksud tertentu ?

Oh, ya " Negara-negara yang berbentuk "Republik-Demokrasi" tentu sangat berbeda dengan "KERAJAAN", negara yang berbentuk "Kerajaan" sudah jelas adalah milik "RAJA". Jadi bagi siapapun yang mencoba-coba mengganggu, dengan alasan  apapun itu namanya : "PEMBERONTAKAN" TERHADAP "RAJA" dan untuk hal tersebut ada hukumnya didalam Islam sendiri, yaitu : "HUKUMAM MATI".

Sedangkan negara yang berbentuk "Republik-Demokrasi", sangat banyak dalih dan alasan untuk menggulingkan pemerintahan yang "Sah" dan jika "gagal" masih bisa hidup dengan tenang tanpa perlu takut adanya "Hukuman".

Kok, bisa begitu, Mas ?

Okey, mari kita lihat kembali "Negara Kesatuan Republik Indonesia", 13 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1998, mungkin masih banyak rekan-rekan yang sulit melupakan, bagaimana ganasnya "rakyat" yang merampok dimana-mana.

Perampokan ini hanyalah salah satu pengalihan perhatian, sama dengan "Pembakaran" yang terjadi dimana-mana, ini juga merupakan "Pengalihan" perhatian. ( Nah, orang-orang yang digerakkan untuk mengalihkan perhatian ini, kita semua tahu dam maklum dari kelompok mana ).

Tadinya "Pembakaran dan Pejarahan" yang terjadi di seluruh Indonesia, bentuk awalnya hanyalah "Kecil – Separatis".

Artinya "Tidak Besar-besaran", sesuai dengan tujuannya pun' yang kecil, yaitu :

Ingin menunjukkan "Kegagalan" seorang penanggung-jawab keamanan negara, dikala Presidennya tidak-ada, atau sedang berkunjung keluar negeri. Sasaran Pertama dan Utama : "PANGLIMA ABRI".

Namun dengan berjalannya waktu, "Game" ini diketahui oleh kelompok yang lain dan kelompok ini yang mempunyai jaringan yang amat luas, bahkan sampai ke daerah-daerah secara merata dan yang lebih hebat lagi, kelompok ini memiliki  "Pemimpin" yang amat siap dan memang sedang bertugas di "Istana".

Maka, yang tadinya "Permainan" dengan Scoop terbatas, berubahlah menjadi "The Big Game", yang kita semua tahu, akhirnya : "Bapak Presiden Soeharto", turun dari jabatan beliau yang sudah 32 tahun mendudukinya.

Apakah bapak Presiden Soeharto mengetahui, siapa yang bermain dan siapa yang memanfaatkan situasi lalu memperoleh jabatan kepresidenan ?

Haqul yakin, Bapak Presiden Soeharto, yang luar-biasa pintar dan lihai, "Mengetahui" segala sesuatunya dari A s/d Z siapa- siapa, bagaimana, serta segala kebohongan, kepura-puraan, kelicikan yang telah dilakukan oleh anak-buah beliau, yang tadinya adalah:"Putra-Putra Bangsa Kesayangan Pak Harto, yang memang Sudah Dipersiapkan Sejak jauh hari guna tiba saatnya nanti,"Akan Menggantikan Beliau, "Menjadi Pemimpin Negeri ini!"

Inilah yang sering Pak Harto maksudkan sebagai arti kata : "KADERISASI'.

BAPAK PRESIDEN SOEHARTO, yang terlalu amat sangat mencintai dan menyayangi "NKRI" beserta seluruh "RAKYAT- INDONESIA" didalamnya, mempunyai keinginan agar dalam setiap "Peralihan" kekuasaan "Jangan" sampai terjadi "PERTUMPAHAN-DARAH".

Oleh-sebab itu pula, beliau amat sangat "Concern" mencari dan mempertimbangkan "Bagaimana" yang terbaik bagi bangsa ini, supaya bisa seperti yang beliau inginkan:

"Negara Kesatuan Republik Indonesia" dengan Dasar Negara Pancasila dan UUD 45, beserta seluruh Rakyat Indonesia, didalam setiap "Peralihan-Kekuasaan" dapat terlaksana dengan "DAMAI" dan "SEJAHTERA'.

Betapa sedihnya beliau, ternyata bahkan anak-anak bangsa yang beliau siapkan sendiripun ternyata "Tidak" bisa berbuat seperti apa yang beliau inginkan.

Jadi, menurut Mas' bagaimana ya' baiknya kita sebagai Bangsa harus berbuat, dimana kita tahu bahwa mayoritas bangsa kita adalah pemeluk agama Islam.

Bukankah ini menjadi buah simalakama ? Dimakan ayahnya mati, tidak dimakan ibunya yang mati ?

Disatu sisi "Negara dan Bangsa" kita Indonesia sangat "Membutuhkan" kontribusi- sumbangsih tenaga dan pikiran dari seluruh saudara-saudara Muslim kita.

Disisi yang lain, "Saudara Muslim" kita ini seakan-akan menjadi momok yang menakutkan, yang mana setiap saat bisa dimanfaatkan oleh "Kelompok orang" yang "Tidak-Bertanggung-jawab" untuk berbuat (terlepas positif ataupun negatif), segala  sesuatunya untuk kepentingan mereka. Didalamnya termasuk juga "Perbuatan Negatif", seperti melawan "Pemerintahan- Nasional" yang Sah, bahkan untuk menggulingkan satu "Pemerintahan" yang walaupun terpilih secara "Demokratis" dan sangat "SAH". (Sebagai contoh, ada seorang pejabat teras dari Ormas Islam, yang secara terbuka "Mengancam" akan menggulingkan Pemerintahan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono).

Saya bertanya kepada Saudaraku yang Brilliant lagi: Mas, sekarang saya ingin tanya, menurut pendapat Mas dan berdasarkan ilmu-ilmu yang sudah Mas peroleh, kenapa rata-rata negara yang berbentuk "Republik-Demokrasi" (yang rakyatnya meyoritas muslim), dibandingkan negara-negara yang  berbentuk "Kerajaan" bahkan banyak yang jelas-jelas menyebut diri "KERAJAAN ISLAM" seperti Malaysia, tampak sekali perbedaan, bahkan sangat mencolok ?

Sekarang kita membandingkan yang dekat saja: Antara negara kita Republik-Indonesia dan negeri Jiran, tetangga kita "Kerajaan" Malaysia.

Ketika saya kecil (anak-anak) dan tinggal dekat perbatasan Indonesia-Malaysia, kami sering juga menggunakan mata-uang Malaysia, "RINGGIT" dan masih ingat juga saya bahwa SATU RINGGIT MALAYSIA = DUA SETENGAH RUPIAH.

Nah, bisa kita bayangkan, sekarang : SATU RINGGIT MALAYSIA = TIGA RIBU RUPIAH.

Dulu di tahun 66 keatas sampai 70 an, bahkan 80 an, saya masih ingat bagaimana rakyat Malaysia sangat menghormati rakyat dan bangsa Indonesia, bahkan saya masih ingat persis dimana banyak guru-guru yang berasal dari Indonesia mengajar di Negeri Jiran Malaysia.

Di Malaysia sesudah kejadian kerusuhan SARA di awal tahun Enam-puluhan, sampai sekarang "Kerajaan Malaysia" hidup penuh dengan "Kerukunan" dan mereka sangat-sangat mempraktekkan saling Asah, Asuh, dan Asih.

Disana China, India dan suku-suku bangsa lainnya semua dapat hidup rukun dengan "Suku Melayu" nya dalam kondisi yang sangat "Harmonis". Kondisi ini jugalah, yang menjadi "Modal-Dasar" bagi Negara Malaysia Membangun negerinya, sehingga bisa seperti sekarang, "Makmur".

Didalam perjalanan hidup bukan tidak pernah terjadi gesekan, dan itu pasti ada' yang hebat adalah "Kemampuan" ataukah "Kemauan" dari "Pemerintahan-Nasional" Kerajaan Malaysia yang mampu dan mau menyelesaikannya.

Ada satu peristiwa, dimana "Kelompok China Malaysia" yang hendak mendirikan "Tempat Sembahyang", sejenis "Klenteng" kalau di Indonesia. Konon semua persyaratan dan ijin-ijin yang dibutuhkan sudah selesai dan telah diterbitkan oleh instansi yang berkompeten (Orang China Malaysia, terkenal patuh hukum), pada saat pelaksanaan pembangunan dilakukan, datang sekelompok "Pemuda" (kalau disini ya seperti FPI-FBR lah) yang mengaku Muslim dan langsung meminta dihentikannya pembangunan "Klenteng" tersebut denga alasan bahwa pembangunan Klenteng tersebut dapat mengganggu "Aqidah" atau "Apapun" yang maksudnya "Keimanan Islam" mereka terganggu.

Tadinya para pelaksana/pekerja serta penanggung-jawab pembangunan Klenteng tersebut langsung berdialog dengan pemuda-pemuda tersebut. Sebenarnya "konon" masalah sudah dapat diselesaikan, karena pemuda-pemuda tersebut datang ke tempat tersebut hanya untuk minta "RINGGIT", dan pihak panitia pembangunan Klenteng pun sudah siap memberikan  permintaan tersebut.

Masalah menjadi lain, ketika "Police" anti huru-hara tiba di TKP.

Tanpa ba- tanpa bu,  semua Pemuda yang ada ditempat tersebut (maaf pemuda Melayu semua, bahkan ada cerita yg mengatakan bahwa didalam kelompok pemuda tersebut ada WNI nya), diperintahkan naik truk polisi yang memang sudah disiapkan aparat penegak hukum yang datang tersebut.

Pihak panitia dipanggil kekantor Polisi untuk dimintai keterangan, dan tahu apa yang terjadi ?

Sekelompok pemuda tersebut ditahan di kantor Polisi, Di BAP dan di ajukan ke Mahkamah Seksyen I, kalau disini ya' Pengadilan Negeri, dengan tuduhan, ha' ini baru hebat"…….:"Menghinakan Agama Islam, dimane mengkutip uang, yang tidak hak" atas Name Islam", yang mana disana perbuatan ini termasuk menghina Agama Islam dan Negara yang Berdasarkan Islam yaitu Malaysia ikut terhina". Dengar-dengar hukumannya masing-masing 5 bulan kurungan dan selamanya tidak diperkenankan menjadi "Pegawai Negeri Kerajaan Malaysia".

Nah, untuk di Indonesia, tentu "Fenomena" ini tidak akan pernah kita jumpai, kenapa ?

Sebab di Indonesia "Tidak-Ada" satu Organisasi pun, yang didirikan baik oleh umat awam, Ulama atau Negara, yang benar-benar berfungsi: "Melindungi Nama baik dan Nama Besar Islam", dan di dalam  kehidupan sehari-hari dapat berfungsi membantu umat untuk Berpikir, Berucap dan Bertindak yang baik, yang tepat yang sesuai ajaran Sang Nabi Besar Muhammad. SAW.

Yang terjadi di Indonesia, justru banyak Ormas yang alih-alih membela Islam, tetapi perbuatan dan segala tindak-tanduknya justru "Mempermalukan" Islam, yang di dunia begitu dihormati, tetapi disini dipakai untuk melindungi para kriminal.

Kondisi yang carut-marut ini, memang kadang beberapa "Pemuka Masyarakat kita Yang Muslim dan juga Cendikiawan", secara terbuka memberi pendapat, atau katakanlah memberi teguran. Tetapi teguran ini sama-sekali tidak akan ada manfaatnya. Bahkan kita kuatir, justru akan "Kontra-Produktif", kenapa ? Para kriminal akan merasa dapat  angin, dimana mereka melihat bahwa Manusia sekaliber A atau B , ternyata "Tidak Bisa Apa-apa".

Masih ingatkah pernah sekali dipinggiran kota Jakarta Wali kesepuluh kita Almarhum GUS DUR dilecehkan oleh salah satu Ormas yang sampai detik ini masih sangat sombong pemimpinnya ?

Oleh sebab itulah, atas dorongan kawan-kawan, maka penulis berani mengajukan kepada "Pemerintahan-Nasional" kita agar berinisiatif untuk segera membentuk, satu Badan, yang berfungsi mengkaji segala-sesuatunya yang berhubungan antara "ISLAM" dan "NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA'.

Badan ini benar-benar bekerja "Mempertimbangkan" segala sesuatunya yang satu sisi demi "Kepentingan" Islam sendiri, dan disisi lainnya "Kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia".

Badan ini mesti memiliki "Otoritas" sekaligus "Otonom".

Otonom disini dalam arti, badan didanai oleh negara Non Budgeter/ Badan dibiayai oleh Negara melalui SEKNEG.

Sehingga segala keperluannya, Badan ini tidak boleh terhalang karena kurang dana atau apapun alasan lainnya.

Badan ini bekerja untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, didalam perjalanannya tentunya "bisa" bekerja bersama atau disinergikan dengan Departemen-Departemen terkait, seperti Departemen Agama dan/ atau Departemen lainnya. Namun posisi Badan ini "Tidak" berada dibawah Departemen manapun. Badan ini bekerja untuk Negara dan dibawah kendali Presiden Republik Indonesia.

Otoritas, disini memiliki arti segala keputusan yang diperoleh Badan ini, yang mana juga adalah "Hasil" keputusan yang dibuat setelah memperoleh masukan-masukan, pandangan-pandangan, laporan-laporan resmi milik aparat penegak hukum termasuk didalamnya "Badan Intelejen Negara" (BIN), harus segera ditindak-lanjuti dengan dikeluarkannya

"KEPPRES", yang mana "Keppres" inilah yang akan menjadi "Landasan-Hukum" bagi pihak Polisi dan Jaksa untuk bertindak atas nama Huklum dan kepentingan Keberlangsungan Hidup Negara Republik Indonesia yang kita cintai bersama.

Nah, jika sudah ada "Badan" sekaliber ini terbentuk di Indonesia, maka hal-hal yang sering membuat kita khawatir, percayalah satu-persatu akan sirna, dan hilang dengan sendirinya.

Selain Kehidupan Masyarakat yang akan makin kondusif, ketenangan investasi terjamin, Pemerintahan-Nasional yang sudah memiliki patner sekaligus Penasehat dan pembantu yang "KEKAR", sehingga bisa tenang dan mantap dalam melaksanakan Pembangunan Berkelanjutan, Negeri aman dan sentosa.

Kita pun akan disayangi oleh "ALLAH" karena benar-benar melindungi umatnya dari segala kemungkinan kejahatan yang dapat menimpanya.

Barang siapa yang hendak menjadikan "Umat Islam" sebagai alat untuk berbuat yang "TIDAK BAIK" akan kecewa, karena sudah "TIDAK-BISA", sebab "Umat Islam Indonesia" sudah mendapat perlindungan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. melalui : "BADAN PERTIMBANGAN PUSAT KEISLAMAN NEGARA".