Tag

ImageAh Minangkabau.. Akhirnya singgah juga di tanah ini saya Habe, si Malin Kundang urang Ameriko kebanggaan orang Padang ini. Ba,a kabarnyo si Datak Maringgih ko? Waang masiah ajo suko melakukan sexual harrasment samo Uni Siti Nurbaya?Pantek! Kasian la saketek. Burung waang sudah waktunya diguntiang belah tigo..

Padang, Airportmu boleh jadi adalah airport paling bagus dan terbersih se Indonesia ( dengan menutup mata atas kebersihan toiletnya. Note untuk para Zainal dan Mansyah : Toilet duduk itu bukan buat jongkok ). Makananmu juga adalah makanan terlezat yang satu level dengan makanan Sunda. Sotomu tidak kalah mutunya dengan soto dari suku yang hampir punah disisihkan kemajuan peradaban, etnis yang tempoe doloe mengoeasai Batavia. Cuma disiplin manusianya dan kebersihan kotamu memalukan.Selain your angkot drivers cara menyetirnya membuat saya hampir mati kena serangan jantung. Tapi lupakanlah dulu soal kota Padang, mari kita berbincang soal kota Pariaman.

Hujan turun lebat sore itu ketika kak Elda, yang saya sendiri tidak begitu pasti hubungan kekerabatannya dari mana (Imam Bonjol the local Taliban? Satu kakek lain ibu lantaran kakek memiliki 17 istri? Satu Bako? Satu buyut beda kampuang? ) menjemput saya dari Airport dan membawanya ke kota Pariaman. Air hujan yang turun mengamuk dengan derasnya laksana fans kesebelasan PSP yang baru kalah judi bola. Hati saya kebat kebit lantaran wiper mobil yang tidak berfungsi dengan optimal ditambah jalan yang begitu gelap dan embun di windshield mobil tua yang saya tumpangi susah menguap karena tidak memiliki AC – membuat saya seperti disupiri secara paksa oleh Gus Dur melewati Puncak Pass atau Kelok 44 ( ampe puluah ampe ) dalam rangka mengetes nyali .Jelas saya sempat pasrah serta curiga jangan jangan Allah telah menakdirkan nasib Habe si anak durhako untuk tewas kecelakaan di sekitar Kampuang Toboh.

Image

Demikianlah saya menghabiskan malam pertama di Pariaman. Dalam sebuah rumah kecil berkamar 2 yang jaraknya dari pantai cuma 5 menit jalan kaki.Dalam satu jam Perut saya membuncit karena disuguhi makanan dan diservice bagai seorang Sultan Pagaruyung oleh Kak Elda yang masakannya memang luar biasa lezatnya. 
Pariaman adalah kota yang ketinggalan peradaban dari kota kota yang satu level di Indonesia sekitar 300 tahun kebelakang ( peradaban Indonesia ketinggalan sekitar 850 tahun dari Barat ) Penduduk kotanya terbagi antara para laki laki muda yang bermimpi kelak suatu saat bisa dibeli atau dibayar uang jemputan oleh keluarga berduit yang berminat mengawini anak perempuannya. Atau para perawan tua yang tidak tidak memiliki orang tua yang cukup punya harta untuk bisa mengawini anaknya. Perbedaan jumlah uang jemputan atau lempeng emas seorang laki laki seperti jenis beras, sapi, ayam, ikan cupang, tergantung dari gelar kesarjanaan, mutu dan latar belakang keluarga ,gelar kebangsawanan ataupun seberapa jauh anak ini merantau dan sukses di negeri orang. Untuk lebih memudahkan dibawah ini tabel resmi daftar harga terbaru yang dikeluarkan secara resmi oleh Pemda dibawah Bupati Pariaman.

Status Akademis/ harga jual laki laki di Kabupaten Pariaman periode 2011-2013 dibawah keputusan adat/ninik mamak No: 2781 

lulusan SD : 2 karung beras
lulusan SMA : satu motor Yamaha Mio bekas
lulusan sekolah kepolisian dengan pangkat Sersan : Uang tunai 30 juta rupiah
S1 : uang tunai 40 juta plus rumah type 45/60
S2 : satu Honda Jazz dan sebuah ruko
S3: setengah kota Pariaman
S14 : Angkot dari Lebak Bulus -Petukangan via Bintaro

Keputusan adat No.672A tentang harga jual laki laki di Kabupaten Pariaman menurut lokasi daerah perantauan periode 2011-2020

Pakanbaru : uang tunai 2 juta rupiah saja
Medan: 3 juta rupiah ( persyaratan muka tidak membatak )
Jakarta/Jawa : 10 juta rupiah
Malaysia : 30 juta rupiah
Jepang : 60 juta rupiah
Jepang plus S1/Pengajar bahasa Indonesia di nagari urang seperti sanak Edizal : 1 milyar rupiah plus satu percetakan nan rancak di Payakumbuh.
Eropa : 150 juta rupiah plus 1000 saham PT Semen Padang
Amerika/West Coast : 180 juta rupiah plus 2 hektar sawah adat
Amerika/Las Vegas, Nevada : Uang muko 600 juta rupiah plus sapuluah franchise restorant Salero Bagindo.

Tentu tidak semua hal buruk terdapat pada Pariaman. Temperatur kotanya walaupun berada di pesisir pantai jauh lebih sejuk dari Purwakarta.Sate bikinan mereka juga tidak bisa dibantah sebagai sate yang terenak di seluruh galaksi Milky Way. Pantainya juga lebih menarik dari Pantai Kota Padang. Tapi setelah genocide yang pernah terjadi di Rwanda antara suku Hutu yang meng- ethnic cleansing orang Tutsi, mungkin cuma Pariaman di bumi ini kota yang pantas menyandang gelar sebagai Sister City of Kigali. Di Pariaman kabarnya setelah insiden pembantaian etnis Cina sekian dekade yang lalu yang selalu disebut penduduknya sebagai hari kebanggaan daerah, kota ini steril dari orang orang bermata sipit. Cina boleh jadi dengan leluasa merambah bisnis di Padang atau Bukittinggi, tapi di sini entar dulu. Berani masuk ke Pariaman wahai Kokoh Lim, berarti harus kokoh juga harus berani menanggung untuk menjadi seorang laki laki Tionghoa yang pennyless dan penisless. Tidak heran akibat kebijaksanaan yang rasis dan idiot tersebut bisnis dan perekonomian kota ini jadi mati suri. 

Image

Salah satu ritual kebanggaan mereka adalah Tabuik. Walaupun penduduk memeluk Islam Sunni, tapi secara tololnya mereka mengikuti ritual orang Shiah yang memperingati gugurnya Imam Husein di perang Karbala ( perang tolol antara pengikut keponakan melawan istri nabi Muhammad ) dimulai setiap tanggal 10 Muharram sejak jaman kolonial Belanda. Dalam salah satu acara Tabuik adalah perang perangan antara satu kampung mewakil Yazid berperang melawan kampung lainnya yang mewakili Husein. Mereka saling merangsak, menggebuk bahkan pernah seorang Ayah ditusuk anaknya sendiri lantaran anaknya tinggal dikampung lawan.Esoknya begitu tutur si Ludi, sepupu saya mereka berbaik baikan walaupun sang Ayah sempat dirawat dan dijahit di Rumah Sakit. Acara ini bagi sebagian keluarga besar saya di Jakarta adalah acara yang tidak bisa dilewati bagai penduduk Vienna dulu terhadap konser Beethoven atau Mozart. Bedanya adalah jika orang Austria memberikan apresiasi terhadap nilai art berupa balance, rhytm dan harmony. Maka penonton yang datang berbondong bondong dari segala penjuru Indonesia datang ke Pariaman untuk menyaksikan dan menikmati Ashura, hari dimana orang baku hantam dan saling kepruk keprukan.

Kakek saya dengar dengar adalah orang besar yang amat disegani dan dihormati di Pariaman. Tapi saya khawatir walaupun boleh jadi dia kaya raya, seperti halnya penduduk Pariaman pastilah dia mengalami gejala dekadensi moral dan krisis intelektual. Sebab cuma orang orang terbelakang saja yang masih mempercayai mitos mahluk bernama Buraq.Atau mengkasta kastakan orang dari gelar akademis dan kebangsawanan. Dan jika saja dia dia masih hidup saya ingin tanyakan apa arti syair lagu ini,

"Pariaman.., tadanga langang, batabuik mangkonyo rami…"

Kalau syair ini bercerita soal kerinduan pada budaya orang Pariaman, ini menandakan Kiamat sudah dekat. Budaya dan adat yang mana?

WTF ?

Feb 8, 2011