Beberapa di antara kita mungkin masih ingat serial silat Cina yang sempat booming di era 90-an, White Snake Legend. Kisah seekor siluman ular putih bernama Bai Su Zhen yang menikah dengan seorang anak manusia bernama Xu Xian. Singkat cerita, pasangan yang bahagia ini diusik ketenangannya oleh keluarga pejabat korup bernama Liang yang bekerjasama dengan seorang biksu sakti bernama Fa Hai untuk memisahkan Xu Xian dan Bai Su Zhen. Sebuah kisah cinta yang berakhir tragis, manakala Biksu Fa Hai berhasil menangkap Bai Su Zhen dan mengurungnya di sebuah pagoda.

 

Bagi sebagian orang, mungkin kisah ini hanyalah merupakan legenda atau dongeng pengantar tidur belaka. Bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai roman picisan cengeng. Bagi sebagian lainnya, kemunculan serial tersebut di era sembilanpuluhan (masa kekuasaan rezim Soeharto), ini merupakan sebuah ironi. Ketika kebudayaan Tionghoa ditekan dan ditindas oleh penguasa, masyarakat pribumi dipupuk kebenciannya terhadap etnis Tionghoa dengan politik belah bambu a la orde baru, justru serial ini seolah menjadi pemersatu. baik etnis tionghoa maupun masyarakat pribumi sama-sama menyukainya. Berbagai desain poster, T-shirt, sampai merchandise legenda ular putih dijual di mana-mana. Saya rasa, masih banyak pemaknaan personal terhadap fenomena meledaknya serial silat tersebut.

[tube]2ODu9Hd5hhE[/tube]

 

Saya pribadi memaknai fenomena ini dari sudut pandang yang mungkin sedikit berbeda. Bagi saya, kisah ini adalah simbol. Simbol suatu situasi dan kondisi yang dihadapi manusia dari masa ke masa.

Pasangan suami istri Xu Xian dan Bai Suzhen mewakili kelompok minoritas. Jelas, tidak banyak anak manusia yang bersedia memperistri siluman. Demikian pula di masa sekarang ini, perkawinan antar-etnis, apalagi antar-agama seolah menjadi suatu hal yang tabu. Biksu Fa Hai yang mewakili kelompok ulama atau agamawan menentang keras perkawinan semacam ini. Manusia dan siluman tidak boleh bersatu. Islam dan Kristen tidak boleh menikah, dan seterusnya. Kelompok minoritas yang keberadaannya diwakili kedua tokoh ini sesungguhnya tidak terbatas pada pelaku perkawinan campur saja, tetapi juga pada berbagai kelompok masyarakat yang termarginalkan. Sebut saja Jemaat Ahmadiyah, atau penganut ajaran Lia Eden. Demikian pula kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender yang oleh sebagian orang dianggap menyimpang dan dilabeli sebagai "orang berdosa" oleh para ulama. Adapun tokoh pejabat Liang yang bekerjasama dengan Biksu Fa Hai menggambarkan bagaimana pemerintah kongkalikong dengan para alim ulama untuk melanggengkan kekuasaannya, sekaligus menindas kaum marginal. Hal serupa terjadi juga terjadi di zaman Isa al Masih atau Yesus Kristus, di mana pemerintah yang dalam hal ini diwakili Pontius Pilatus bersekongkol dengan para ahli Taurat dan kaum Farisi untuk memojokkan Isa dan para Hawari. Rupanya fenomena serupa masih terjadi di negeri ini, negeri di mana demokrasi konon katanya dijunjung tinggi, tapi nyatanya… au ah, gelap! 🙂