Aa Jin, saya sering dibuat jengkel kalo diskusi ttg agama sama temen-temen saya. Saya gemes kenapa sih mereka masih bisa percaya kalo banjir Nuh itu bener-bener ada tepat seperti yang dituliskan dalam Alkitab. Mereka tetep percaya kalo Adam dan Hawa adalah sepasang manusia pertama tanpa ayah dan ibu yang di usir dari taman Eden. Kalo saya kasih liat bukti-bukti fosil manusia pra sejarah, mereka bilang, “tuhan itu maha kuasa, dia bisa melakukan apa saja yang tidak terpikirkan oleh kita. Kalo Alkitab menuliskan adanya banjir Nuh, berarti itu benar adanya, kalo Alkitab menuliskan Musa membelah Laut Teberau, berarti itu benar adanya. Otak kita itu terlalu kecil untuk memahami kemahakuasaan

 

Hmmmm kenapa tidak kamu tantang saja Dee teman-teman penjaja tuhan itu dengan pertanyaan seperti ini:

 

– bisakah tuhan menciptakan sebongkah batu yang besssssaaaaar sekali sampai-sampai dia sendiri enggak kuat mengangkatnya?

– bisakah tuhan menciptakan seekor bebek dari telur asin?

– bisakah tuhan menggambarkan segitiga dengan sudut 360 derajat?

 

 

Atau saya tantang mereka para spiritualis, sufis , makrifat, yang suka latah mengobral kata ‘tuhan’, ‘kasih tuhan’ , bersatu dengan tuhan’, ‘bercinta dengan tuhan’ :

 

 

– tolong tanyakan pada tuhan yang kalian temui, ajak ngobrol dan bercinta, apa yang harus dilakukan agar kaum Sunni dan Syiah berhenti berperang dan saling membunuh selama 15 abad ini.

 

 

– tolong tanyakan apa saja yang tuhan itu lakukan selama ribuan tahun ini melihat kaum agama senangnya berantem, berperang dan cakar-cakaran. Apa yang harus dilakukan untuk menobatkan para mujahid dan al qaeda supaya tidak bom sana-sini? Apa yang harus dilakukan supaya umat Kristen di Timur Tengah yang mengalami genosida secara struktural baik oleh kekerasan juga oleh system hukum yang ada, supaya bisa selamat.

 

 

– tolong tanyakan pada tuhan yang kalian sering puja-puji, bagaimana cara menyeimbangkan antara laju populasi penduduk dengan kemampuan bumi menopang kehidupan manusia. Apa teknologi yang bisa diaplikasi secara ramah lingkungan, cespleng, tanpa menimbulkan efek sampingan negatif.

 

 

– tolong tanyakan pada tuhan yang kalian sering cumbui itu, planet mana yang bisa manusia masa depan arungi untuk dijadikan koloni setelah bumi ini tercemar dengan limbah nuklir.

 

 

 

Dee, pemahaman orang beragama sering kali lucu, ironis dan miris. Kenapa? Karena logika orang beragama sering kali bukan di dasari oleh kebenaran faktual empiris melainkan pembenaran-pembenaran dari apa yang diyakini dan dirasakannya.

 

 

Mereka meyakini sesuatu, menetapkan presuposisi / sangkaan awal bahwa yang ini demikian adanya dan yang itu demikian adanya, kemudian merasionalisasikannya ke dalam analogi-analogi. Tapi ketika keyakinan itu tidak terbukti kebenarannya mereka tetap ngotot percaya bahwa keyakinannya benar-benar dan berada di luar rasio untuk dibedah. Mental semacam ini ada karena mereka tidak bisa membedakan antara perasaan dan fakta. Logika agama adalah logika perasaan, atau lebih tepatnya – logika orang yang lagi kasmaran.

 

 

Beginilah mental berpikir orang beragama :

 

‘ Saya merasakan kebahagiaan, sukacita, bangga, dan berpengharapan karena agama ini, maka apabila agama ini salah, ohhhhh tidak boleh salah. Tidak boleh ada ruang sedikitpun keraguan dalam diri saya akan agama saya, karena apabila itu terjadi maka saya tidak akan memiliki kebahagiaan, sukacita, kebanggaan dan keberperngharapan lagi. Intinya agama saya tidak boleh salah. Yang salah adalah otak mereka yang mengkritik agama.’

 

 

Yang tidak mereka tanyakan secara jujur adalah:

 

 

– Apakah kebermaknaan hidup sebagai manusia hanya ditopang oleh serangkaian dogma, yang ketika dogma itu terbukti tidak logis, keliru, tidak faktual dan salah – akhirnya kebermaknaan hidup kita sebagai manusia hancur begitu saja? Apakah makna hidup sebagai manusia itu benar-benar hanya melulu begantung pada agama saja? Yang jika agama itu salah maka makna sebagai manusia itu sama sekali tidak ada artinya, bagaikan layang terbang tinggi, sekali digunting benangnya maka layang-layang itu hilang terbang entah kemana?

 

 

– Tidak bisakah kita menjadi manusia yang sesungguh-sungguhnyanya, bermartabat, beretika, bermoral dan berintegritas, hidup dalam rasionalitas dan kebenaran yang faktual tanpa harus terus menerus dibebani dengan kepercayaan-kepercayaan yang tidak logis, tidak faktual, tidak menyejarah, tidak manusiawi dan hanya bertumpu atas asumsi-asumsi dan worldview manusia-manusia jaman dahulu yang masih tribalis, masih tersekat-sekat dinding primordial, diskriminatif dan belum melek sains?

 

 

 

Wah …. dua pertanyaan itu sungguh-sungguh menohok, Aa Jin? Bener-bener nendang. Saya rasa milyaran orang di bumi ini belum bisa sampai ke arah itu.

 

 

Baiklah Dee, mungkin dua pertanyaan diatas agak sukar dipahami. Memang demikianlah adanya.

Nah sebagai relaksasi, sekarang saya ajak Dee mendengarkan sebuah lagu yang indah dari Daniel Bedingfield, If You’re Not The One. Simak, nikmati dan selamilah lagu ini. Setelah itu kita akan mengupas tentang logika agama dengan lirik lagu ini sebagai rujukan inspirasinya.

 

{youtube|eurZUm5otVs[/tube]

 

 

If You’re Not The One – by Daniel Bedingfield

 

 

 

If you're not the one then why does my soul feel glad today?

If you're not the one then why does my hand fit yours this way?

If you are not mine then why does your heart return my call?

If you are not mine would I have the strength to stand at all?

 

I never know what the future brings

But I know you're here with me now

We'll make it through

And I hope you are the one I share my life with

 

I don't wanna run away but I can't take it, I don't understand

If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?

Is there any way that I can stay in your arms?

 

If I don't need you then why am I crying on my bed?

If I don't need you then why does your name resound in my head?

If you're not for me then why does this distance maim my life?

If you're not for me then why do I dream of you as my wife?

 

I don't know life so far away

But I know that this much is true

We'll make it through

And I hope you are the one I share my life with

And I wish that you could be the one I die with

And I'm praying you're the one I build my home with

I hope I love you all my life

 

I don't wanna run away but I can't take it, I don't understand

If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am

Is there any way that I can stay in your arms?

 

'Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away

And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today

'Cause I love you, whether it's wrong or right

And though I can't be with you tonight

You know my heart is by your side

 

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand

If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am

Is there any way that I can stay in your arms?

 

***

 

Saya memang senang lagu ini pak. Tapi belum paham korelasi lagu ini dengan logika agama.

 

 

 

Masa Dee masih belum mengerti sih? Lagu ini bercerita tentang seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta pada seorang perempuan. Ia merasakan betapa hidupnya menjadi bahagia, merasa begitu bersemangat, punya kekuatan untuk menjalani hidup, dan punya pengharapan agar suatu saat si gadis yang dicintainya itu mau hidup bersamanya membangun bahtera kehidupan, meneguk kebahagiaan bersama dan kalau bisa mati bersama-sama (bunuh diri barengan kaleee hehehehe).

 

 

Ketika dia mulai resah apakah si gadis yang dicintainya itu akan membalas cintanya, dia merasionalisasi perasaannya atau mengakal-akali perasaannya dengan ‘fakta-fakta’ yang nampaknya mendukung perasaannya itu.

– kalau dia bukan cinta satu-satunya untukku, kenapa pula aku selalu merasa bahagia setiap kali memikirkannya?

– kalau dia bukan milikku, kenapa pula aku selalu memikirkannya?

– kalau dia tidak cinta aku, kenapa pula dia mau mengobrol denganku?

– kalau dia bukan jodohku, kenapa pula dia selalu ada di kepalaku?

– kalau aku bukan dilahirkan untuknya, kenapa hatiku selalu mengatakan ‘ya-ya-ya, kamu memang untuknya.’

– kalau dia bukan untukku, kenapa aku bermimpi ia menjadi istriku?

 

 

Dan klimaksnya ada pada kalimat : coz I love you whether it’s wrong or right.

 

 

Jadi bukan fakta benar atau salah yang menjadi kunci permasalahan ini, tapi perasaan cintanyalah pada si gadis itu.

Nah jadi semua rasionalisasi (baca : akal-akalan) ini semuanya berputar-putar di perasaan si laki-laki ini. Padahal satu-satunya cara untuk membuktikan perasaan kasmaran itu adalah : tanya si perempuan itu, apa dia memang benar-benar cinta padanya, apakah perasaan kasmaran si lelaki itu bersambut gayung atau tidak.

 

 

Begitu pula keyakinan-keyakinan agama, seringkali hanya berputar pada perasaan akan kebanggaan dan ketakutan apabila keyakinannya itu ternyata salah. Karena takut salah akhirnya logikanya berputar-putar di situ-situ saja. Padahal kalau mau tahu benar atau tidaknya, biarlah agama itu dibedah oleh sains, oleh metoda-metoda yang bersifat empiris rasional yang melibatkan berbagai cabang pengetahuan, diantaranya psikologi, filsafat, antropologi, sosiologi, sejarah dsb.

 

 

Dee, manusia itu, seperti yang saya pernah tuliskan, bukanlah mahluk rasional – melainkan mahluk emosi. Daya kerja emosi jika sedang bekerja dasyatnya luar biasa ketimbang daya kerja rasio. Dan agama dengan licik dan picik menanamkan dogma-dogmanya lewat perasaan, emosi sehingga nampak benar, factual, menyejarah, ilmiah, padahal ketika dianalisa hanya berakar pada keyakinan dan keterlibatan emosional atas keyakinan itu. Benar atau tidaknya keyakinan itu tidak dinilai dari keterlibatan emosional, melainkan dari fakta.

 

 

Seperti inilah contoh logika agama:

 

 

X: Manusia itu diciptakan oleh tuhan di taman eden, bukan hasil evolusi.

Y: Dari mana kau tahu?

X: Dari Alkitab.

Y: Bagaimana kau tahu bahwa alkitab itu mengatakan hal yang sebenar-benarnya tentang kejadian penciptaan / proses kemenjadian mahluk yang dinamakan manusia?

X: Karena Alkitab berasal dari tuhan, pastilah ia benar.

Y: Bukankah kau tahu konsep tentang tuhan itu sendiri berasal dari alkitab? Seandainya yang kau baca setiap hari adalah kitab-kitab hindu, pasti pemahaman ttg tuhan ala Kristen itu tidak akan muncul dalam pikiranmu.

X: Ah kenapa berputar-putar sih? Pokoknya tuhan itu maha kuasa, dan maha benar maka alkitabnya-pun mengandung kebenaran. Kalau kamu menyangsikannya, itu masalahmu. Bukan masalahku. Apapun yang dikatakan Alkitab pasti benar.

Y: Okey, jadi karena Alkitab mengatakan Yunus dimakan ikan besar – pastilah kisah itu benar dan kamu percayai. Sekarang, bagaimana kalau Alkitab mengatakan Yunus itu dimakan bulat-bulat sama seekor ikan teri?

X: pasti Alkitab sudah mengantisipasinya dengan memberikan catatan kaki bahwa si ikan teri itu berukuran raksasa, sebesar hiu biru. Suatu spesies ikan teri khusus yang tidak akan ditemui sebelum dan sesudah kejadian itu terjadi.

Y: jikalau tidak?

X: pakai otak donk, masa seekor ikan teri bisa menelan Yunus bulat-bulat?

Y: kenapa kamu juga tidak pake otak menganalisa cerita itu? Mana mungkin ada manusia ditelan ikan besar bulat-bulat selama 3 hari ada di perut ikan dan dia dalam keadaan sadar? Bagaimana ia bernafas? Bagaimana ia mempertahankan suhu tubuhnya? Bagaimana ia bisa beradaptasi dengan tekanan udara di tubuh ikan itu?

X: ingat donk prinsip awal : karena tuhan maha kuasa dan ia punya kuasa yang melebihi pemahaman dalam otak kita.

 

 

' Andaikan Alkitab menuliskan Yunus ditelan seekor ikan teri pun saya akan percaya. '

 

 

Hahaha saya gak kuat ketawa Aa Jin. Yah memang kayak gitu debat saya sama teman2 saya. Benar-benar menyebalkan debat sama mereka.

 

 

 

Ya kalau begitu jangan diteruskan debatnya. Hindari berdebat dengan orang semacam itu. Saya pun sering tidak menanggapi orang yang mau ngajak debat. Karena tahu kalau pemikiran mereka masih cupet. Maunya mereka kita ditarik dalam cara berpikir mereka yang masih sempit, seperti mau lomba marathon tapi kita ditarik-tarik ke ring tinju.

Saya sekarang memahami kenapa Gautama paling enggan menjawab pertanyaan seputar tuhan. Bukan karena dia tidak tahu, tapi apabila pertanyaan tersebut dikupas, si penanya tetap saja berputar-putar dalam kotak pemikirannya yang masih sempit. Setiap pemaparan yang diberikan oleh Buddha akan dipahami lain dan hanya akan dipelintir demi memuaskan ego dan keyakinan si penanya sendiri, kemudian dengan lantang ingin menyeret semua orang dalam kotak berpikirnya yang sempit.

 

 

Jadi Dee, logika itu apa sih? Orang muslim punya logika agama sendiri, orang Kristen punya logika agama sendiri demikian pula orang beragama lainnya.

 

 

Buat saya logika itu bisa diibaratkan satu putaran dalam suatu putaran lomba balap. Seberapa panjang / jauh satu putaran itu tergantung dari berapa jarak keliling arena itu. Keliling lapangan sepak bola berbeda dengan keliling arena balap Formula One. Ketika seseorang selesai mengitari lapangan sepak bola, ia akan mengatakan “Finish, saya sudah mengitarinya.” Itu sama dengan mengatakan “Buat saya keyakinan ini logis.”   Nah buat mereka yang mengitari arena Formula 1, mereka akan mencibir “Finish gundulmu, baru saja beberapa ratus meter koq, sudah bilang finish. Di arena kami masih tersisa beberapa kilometer yang harus diselesakan.” Itu sama dengan “logis apanya? Lihat dong cara kamu berpikir masih sempit, hayo perluas lagi kotak berpikirmu. Jangan menyerah dan bilang – iman agama saya sudah terbukti.”

 

Itulah kenapa dalam topik kita kemarin, saya menyisihkan wahyu dari alat pengetahuan. Karena bagi saya wahyu adalah alat pembenaran para pengusungnya sendiri, bukan alat untuk mencari kebenaran. Sesuatu itu benar jika terbukti kausalitasnya secara empiris dan rasional, jika tidak, biarkan itu hanya jadi persepsi subyektif. Bukan realitas.

Dee, apakah kamu siap untuk menerima apabila bangunan keyakinan manusia, bisa saja salah, keliru dan sering hanya bersandarkan pada sinkronisasi subyektif

 

Saya sedang mencoba menerima fakta itu Aa. Tapi apa itu sinkronisme subyektif

 

Sinkronisme subyektif adalah pendekatan subyektif dari si pengamat untuk men-singkron-sinkronkan dua hal yang berbeda agar nampak sama sesuai dengan presuposisi atau sangkaan awal si pengamat.Karena dari awal si pengamat sudah menetapkan sangkaan awal, sederet keyakinan yang dianggap benar, maka logikanyapun akan muter-muter hanya untuk mendukung keyakinan itu.

 

 

Contoh: sudah lama beredar kisah tentang Injil Barnabas dan Injil yang menuliskan bahwa Yesus pernah melanglang buana ke Mesir, India dan Tibet selama 18 tahun. Masa-masa kehidupan Yesus yang tidak dicatat di Injil synopsis Matius, Markus dan Lukas dianggap latar belakang pembenaran dari kisah liar ini. Maka diadakanlah kisah-kisah tentang perjalanan Yesus ke berbagai tempat pusat mistisme saat itu.

 

 

Sekalipun saya tertarik dalam spiritualisme, namun saya tidak mau buta dalam mempercayai kisah ini. Saya lebih senang memakai analisa dan kritik sejarah, kritik bentuk dan kritik sastra dalam menilai kisah-kisah serupa di atas.

Secara kritik sastra, baik injil tentang perjalanan yesus ke Mesir, India dan Tibet, ternyata tidak valid. Bahkan tidak ditemukan dari bahasa apakah injil itu aslinya ditulis. Sesamar-samarnya suatu injil, paling tidak ia ditulis dalam bahasa Ibrani, Aramic, Latin Vulgate atau Yunani Koine, nah injil yang menceritakan Yesus pergi ke Mesir, India dan Tibet justru dirujuk dalam teks berbahasa Inggris. Begitu pula dengan injil barnabas yang ditulis dalam bahasa Arab. Lucu sekali khan? Kelihatan sekali kecerobohan para ideolog tersebut.

 

Secara kritik sejarah, kedua injil ini memuat kekeliruan dan ketidak akuratan yang fatal tentang penyebutan nama orang dan nama tempat di tanah Israel. Begitu pula peristiwa-peristiwanyanya ditulis secara serampang dan melompat-lompat dari satu isu ke isu lain ,tidak ditulis secara kronologis. Injil ini seperti cocktail of text. Kenapa kisah-kisah semacam itu begitu populer? Karena memberikan perasaan nyaman kepada mereka yang ingin mempercayai apa yang ingin mereka percayai

 

~ you only see what your eyes want to see

how can life be what you want it to be

your frozen when your hearts not open ~

 

 

Demikianlah yang dilantunkan oleh Madonna dalam Frozen. Dan memang begitulah mereka yang selalu dirundung oleh presuposisi dan sinkronisme subyektif, hanya ingin mempercayai apa yang mendukung sangkaan awal mereka sendiri dan sebaliknya menolak mentah-mentah fakta dan kemungkinan yang paling mungkin apa bila itu semua tidak sesuai dengan sangkaan awalnya.

Jadi benarkah selama 18 tahun menghilang itu Yesus berpergian ke penjuru dunia untuk mendalami mistisme? Jawaban saya adalah kita tidak tahu persis. Bisa iya, bisa juga tidak. Secara empiris kita tidak hadir di sana dan menyaksikan bagaimana Yesus tumbuh dan berkembang.

Bahkan justru saya menanyakan sesuatu yang lebih mendalam lagi, benarkah Yesus seperti yang digambarkan oleh Injil benar-benar pernah hidup? Jikalau ia memang pernah hidup, apakah ia benar-benar melakukan ini – itu sesuai dengan kisah-kisah Injil?

Namun sekalipun kita tidak dapat mendekatinya secara empiris, kita masih dapat mendekatinya dengan cara rasional dengan merujuk pada fakta-fakta sejarah yang terekam dalam dari berbagai sumber di luar komunitas agama ini, atau setidaknya yang mendekati mengelilingi kehidupan tokoh ini.

Jikalau kita memegang proposisi bahwa Yesus memang pernah hidup (terlepas dari benar atau tidaknya penuturan dalam kisah-kisah injil itu tentang mujizat yang ia buat nya), apa bukti bahwa ia pernah melanglang buana ke Mesir, India dan Tibet? Sebab keempat injil dalam kanon dan injil-injil lainnya yang disebut apokrypa tidak pernah memuat suatu tempat atau kosa kata diluar pemahaman bangsa yahudi dan palestina saat itu. Yesus nampak begitu familiar dengan kehidupan lokal jaman itu. Ia berbicara tentang nelayan, ikan dan jala. Ia berbicara tentang srigala dan lubangnya, ia berbicara tentang benih sawi dll. Bahkan ia berbicara dalam bahasa lokal, yaitu bahasa aramic, yang mana bahkan bangsa yahudi yang tinggal diluar Palestina belum tentu memahami bahasa Aramic ini.

Kenapa Yesus baru muncul pada umur 30 tahun? Karena konsensus masyarakat yahudi yang mengijinkan seorang rabbi / guru agama yahudi baru boleh mengajar, atau cukup dewasa, apabila ia berumur sekurang-kurangnya 30 tahun. Lihatlah tokoh-tokoh bangsa Israel, adakah nabi yang menjalankan tugasnya pada waktu mereka remaja? Tidak ada. Samuel sendiri hanya diceritakan pada waktu bayi, dan kanak-kanak. Kemudian ia dikisahkan kembali ketika sudah berusia lanjut. Itulah pola-pola penuturan kisah kehidupan tokoh-tokoh Israel.

Fakta bahwa Yesus bisa mengajar dengan bebas di sinagog-sinagog memberi kita suatu kemungkinan yang paling memungkinkan yaitu bahwa Yesus adalah seorang rabbi terdidik dari salah satu mazhab terbesar saat tu sebelum ia memutuskan untuk menjadi murid seorang pertapa gurun yaitu Yohanes Pembaptis. Bahkan apabila benar Yesus ini mengajarkan Doa Bapa kami, hendaknya Dee tahu bahwa doa ini bukanlah asli pengajaran dari Yesus, melainkan telah petikan ajaran dari Rabbi Hillel (60 SM- 20M)yang hidup hampir sejaman dengan tahun-tahun dimana Yesus didgua pernah hidup (4 SM – 30M). Mungkinkah Yesus pernah diajar oleh Rabbi Hillel? atau lebih jauh lagi, mungkinkah suatu fragment kehidupan Rabbi Hillel ini menjadi bahan dasar bagi suatu penokohan mitologis Yesus?

 

http://theteachingsofjesus.blogspot.com/2006/09/jesus-was-rabbi-on-hillel-side.html

http://www.ambs.edu/LJohns/Hillel&Jesus.htm

Jika Yesus bukan seorang rabbi, bagaimana mungkin ia mempunyai akses untuk mengajar di sinagog? Yesus mengajar, menafsirkan dan membaca kitab taurat dan para nabi yang ditulis dalam bahasa Ibrani kuno setidaknya empat tahun sebelum ia lahir. Bagaimana mungkin ia fasih berbahasa Ibrani kuno dan Aramic apabila ia sibuk berkelana selama 18 tahun? Bagaimana ia dapat kesempatan untuk mengajar dengan leluasa jika ia bukan seorang rabbi?

 

Sangat mungkin bahwa Yesus pernah dididik dalam mazhab Farisi, karena ia mengakui akan adanya kehidupan setelah kematian, hal mana tidak diyakini oleh mazhab Zaduki. Jikalau Yesus adalah seorang rabbi, maka hal yang paling mungkin adalah ia menghabiskan masa remajanya di madrasah yahudi, belajar torat, hukum Musa dan kitab para nabi. Sungguh aneh apabila bangsa Israel, sarangnya para nabi, justru mengimpor nabi yang dibesarkan di India.

 

 

Saya tidak menolak fakta bahwa ada beberapa kisah dalam injil yang parallel dengan kisah-kisah dalam buddhisme, dan itu wajar. Kenapa wajar? Karena semua kitab adalah tulisan para pujangga. Para pujangga ini lebih tahu banyak tentang sastra dan kitab-kitab lain dari pada umat awam. Mungkin saja para penulis Injil ini terinspirasi dari kisah-kisah dalam buddhisme. Karena saat itu buddhisme telah dikenal sampai ke kota Aleksandria, Mesir. Para penulis ini ingin meninggikan tokoh Yesus sejajar atau bahkan lebih tinggi dari pada dewa-dewa Mesir dan Yunani dan tokoh-tokoh panutan agama-agama lain, sehingga Yesus dikisahkan begitu rupa hampir sama dengan modus-modus kisah para dewa. Semakin melambungnya tokoh Yesus ini, semakin beralasanlah posisi agama Kristen untuk menyanjung-sanjung Yesus bentukan iman ini, sehingga makin tertutuplah bagi kita untuk melihat kemanusiaan yang wajar dari tokoh ini.

 

 

Jadi menurut Aa Jin, Yesus yang sebenar-benarnya bisa jadi tidak seperti kisah-kisah yang dituturkan oleh Injil-injil ini?

 

 

 

Ya, begitulah. Injil-injil ini, dan juga semua kitab agama yang katanya ‘kitab suci’, tidak dibuat dalam rangka pelaporan suatu fakta sejarah yang mengikuti kaidah-kaidah jurnalisme modern. Kitab-kitab itu ditulis dalam gaya sastra dalam kisah-kisah inspiratif. Ketika kita membaca kitab dan teks-teks relijius manapun juga kita harus menganalisa, menembus kata-kata dan kerangka cerita, mengambil idea dari maksud penulisan kisah tersebut dan merekonstruksinya dalam perspektif kekinian yang lebih luas. Jauhkan iirasionalitas dan emosionalitas dalam membaca kitab-kitab yang katanya suci itu. Pakailah rasionalitas dalam memahaminya. Sebab kitab-kitab itu ditulis oleh akal manusia, maka untuk memahaminya harus dengan akal juga, bukan dengan emosi dan kepercayaan yang membabi-buta.

 

 

Para tokoh agama, seperti halnya Yesus, Buddha, Rama, Krishna, Muhammad dll bisa diibaratkan sebagai bahan-baku mentah ditangan para pembuat roti. Dengan keahliannya si pembuat roti ‘menyulap’ tepung, ragi, gula, mentega dan telur dll menjadi roti yang enak dipandang mata dan sedap dinikmati, begitu pula kita telah melihat para tokoh agama ini yang sejatinya adalah manusia biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya, menjadi tokoh-tokoh superstar, tidak bisa salah, sempurna, tidak bercacat, ditangan para pujangga. Dan dengan membabi buta milyaran orang memuja dan menyanjung-sanjung tokoh-tokoh agama ini. Mereka menggantungkan integritas hidup mereka pada ‘kebenaran dan kesahihan’ kisah-kisah fiktif yang mereka percayai, takut apabila kisah-kisah tersebut sangat memungkinkan keliru, tidak menyejarah dan menyesatkan.

 

(Sengaja saya menyisihkan dahulu kritik historitas eksistensi mereka. Sebab para pakar bahkan lebih jauh lagi meyakini bahwa sangat memungkinkan baik Yesus, Buddha, Muhammad, dan Krishna tidak pernah hidup. Mereka hanyalah tokoh-tokoh fiktif belaka ditangan para pujangga. Para pujangga ini menuliskan ‘biografi’ kehidupan mereka dengan rujukan-rujukan ke tempat yang terpencil dan masa yang jauh di belakang jamannya agar sukar dilacak kebenarannya.)

 

Dee apakah kamu kecewa dengan segala jawaban saya yang apa adanya ini? Apakah kamu merasa selama ini telah dibodoh-bodohi oleh agama, didorong untuk mempercayai ini dan itu yang ternyata tidak terbukti benar

 

Tentu saja, tapi mudah-mudahan tidak terlalu kecewa sebab dari dulupun saya sudah curiga.

 

 

 

 

Begitulah harapan saya juga Dee. Kedewasaan kita ditandai bukan hanya dengan semangat menghancurkan segala bangunan kebodohan yang ada, namun juga ditandai dengan penerimaan bahwa yahhhhh ….memang tidak semua orang ingin cerdas, dewasa dan menerima hidup ini apa adanya. Kebanyakan masih senang menghisap candunya masing-masing. Ada candu agama, ada candu spiritual, ada candu hedonism, ada candu materialistik, dsb. Mereka masih percaya bahwa dengan ‘pegangan’ yang mereka peluk erat itu, hidup akan terasa aman, nyaman dan tentram.

 

 

Mungkin realitas hidup ini memang terlalu sukar untuk diterima apa adanya Dee, sehingga sebagian dari kita sering berlari pada candu-candu perasaan dan romantisme psikologis keagamaan, untuk meredam ketegangan dan ketakutan akan betapa liarnya dan betapa sukarnya hidup ini kita konsepsikan, sehingga ada kalanya kita tanpa sadar akan menyenandungkan lagu di atas :

 

I don’t want to run away

but I can’t take it I don’t understand….

 

 

January 29, 2011. 22:20