Aa Jin, sudah lama saya merasakan kegamangan dalam agama saya. Saya merasa ada yang keliru dalam agama saya. Ada yang salah. Tapi saya tidak bisa mengatakan apa yang harusnya yang benar. Bertahun-tahun saya hidup dalam keraguan. Tanya ini – itu sama pendeta, jawabannya gak nyambung, malah terkesan menutup-nutup dan membela-bela tuhan. Tanya sama teman, jawabannya malah, “jangan gitu loh, nanti lu kualat.” Jadi harusnya bagaimana Aa jin?

 

Hebat kamu Dee. Tidak semua perempuan berani untuk meragukan sesuatu dan mempertanyakan keraguan itu. Saya jadi teringat Rene Descartes <1596 – 1650>, seorang pemikir besar dari Perancis abad 16M yang disebut juga Bapak Filsafat Modern. Kata-katanya yang terkenal adalah:

        Omnibus dubitandum , dubito ergo sum, cogito ergo sum

Segala sesuatu meragukan, aku meragu maka aku ada, aku berpikir maka aku ada.

 

                                     

 

 

Saya tidak memiliki latar belakang akademis filsafat. Namun perjalanan hidup ini memapah saya ke dalam rimba pencarian kebenaran lewat filsafat barat dan timur disamping spiritualitas.  Ada banyak filsuf akademis yang telah mengupas kalimat terkenal dari Descartes  ini. Namun bagi saya sisi praktisnya, kalimat Descartes bermakna bahwa : keberadaan hidup kita di bumi ini ditandai dengan kemauan kita untuk meragukan dan memikirkan langsung kebenaran dan hidup itu sendiri. Bukan dari kata orang lain, bukan dari kata pendeta atau ulama atau biksu, bukan dari kitab-kitab yang katanya suci. Namun langsung bertindak untuk menggunakan otak dan pengetahuan yang kita miliki, yang juga  terus kita tambahkan, untuk menganalisa, menilai, dan membuktikannya sendiri. Dengan demikianlah hidup kita ini bermakna ada.

 

Ironisnya, sekalipun Rene Descartes di sebut Bapak Filsafat Modern, penyokong rasionalisme, ternyata kalimat yang sepadan dengan kalimat di atas justru sudah pernah dikatakan jauh-jauh hari sebelumnya oleh seorang pertapa dari India Utara 2000 tahun sebelumnya, yaitu oleh pertapa Gautama.

 

Janganlah kamu percaya sesuatu sebagai kebenaran hanya karena hal itu didesas-desuskan orang banyak, dikatakan oleh gurumu yang kau anggap suci dan bijaksana, tertulis dalam kitab-kitab suci, diturunkan oleh budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, di dasari atas rasio belaka, atau bahkan karena itu dikatakan dari bibirku sendiri.

 

Hendaknya kamu meragukannya, menilai, mencoba memahaminya dengan penalaran dan pertimbangan akal budimu. Apakah hal demikian memberi kebaikan dan bermanfaat bagi dirimu dan sesama. Dst

(Pemaparan hal ini telah saya tulis dalam note : Ubi Dibius Ibi libertas –  Dimana Ada Keraguan, Disitu Ada Kebebasan).

 

Hemat saya, inilah kebijaksanaan seorang spiritualis kelas wahid, yaitu mendorong setiap orang untuk berani mengambil keputusan menilai, menakar, mempertimbangkan, menguji dan membuktikan sesuatu  sebagai kebenaran; bukannya terus menerus mendakwahkan tentang ADA suatu tuhan yang mutlak, ADA seorang nabi yang sempurna, ADA suatu kitab yang sempurna dan terpelihara tanpa cacat dan cela, ADA suatu agama yang diridhoi oleh tuhan yang mutlak itu, ADA seorang juru selamat penebus. ADA, ADA dan ADA. Padahal ketika dibedah oleh kritik historis, kritik bentuk, kritik sastra dan  sains ternyata semua fundamental ajaran tersebut pada hancur berantakan dan terbukti hanya jargon belaka.

 

Sayangnya rasionalitas dan skeptisisme pertapa Gautama tidak bisa dikejar oleh murid-murid dan umatnya. Banyak pengikut ajaran Gautama sendiri sudah mabuk dogma dan lupa diri untuk menganalisa dan mengritik agamanya sendiri, yaitu agama Buddha – ‘pokoknya karena itu tertulis di kitab suci, dijamin pasti benar’.  ‘karena Buddha bilang begini – begitu pastilah itu benar’. Mereka ini lupa bahwa tripitaka, kitab-kitab yang darinya mereka mengenal tokoh Buddha itu, sejatinya ditulis oleh manusia juga, yaitu para biksu dan pertapa yang hidup ratusan tahun setelah Buddha wafat, sehingga sangat memungkinkan adanya pembiasan, pembelokan, pencatutan, pengecilan dan pembesar-besaran di sana-sini. Begitu pula logika yang sama terjadi dalam penyusunan alkitab, dan penyusunan alquran serta kitab-kitab agama lainnya.  Kisah-kisah dalam weda, tripitaka, alkitab dan alquran sebaiknya tidak dipercayai sebagai kisah sebenar-benarnya terjadi secara factual dan historis, melainkan kisah-kisah mitologis inspiratif dimana si penulis mencoba menyampaikan suatu pelajaran moral ataupun idea dengan cara menampilkannya lewat komunikasi para tokoh mitologis mistik seperti Krishna dan Arjuna, Buddha dan murid-muridnya, Yesus dan para rasul, dan Muhammad dengan para sahabatnya. Itu semua adalah tokoh-tokoh bentukan dari para penulis sendiri yang digunakan untuk menjadi wadah dimana idea-idea yang sedang dipaparkan dibawakan secara lebih komunikatif. 

 

Semua bangunan-bangunan keangkuhan agama memang musti dibongkar-bangkir, agar jelas apakah terbukti atau tidak kejumawaannya. Mengapa ini perlu? Karena fakta memperlihatkan bahwa semakin rasional suatu masyarakat, semakin sedikit tingkat esktrimitas dan kriminalitas agama. Sebaliknya semakin kuat ekstrimisme dan fundamentalisme agama, semakin besar pula pelanggaran hak-hak asasi dan irrasionalitas serta kriminalitas yang dilakukan oleh piranti dan penguasa agama itu.  

 

Bukan berarti beragama itu dilarang, tetapi agama harus sadar bahwa ia tidak memiliki kuasa sebesar-sebesarnya untuk mendikte ini-itu terhadap masyarakat. Ia harus masuk dalam ruang privat, menjadi pilihan pribadi, tidak boleh masuk dan petantang petenteng di ruang publik.

 

Wah lama-lama saya ketularan kritis deh dari Aa. Saya dah lama pengen ngungkapin keraguan ini. Tapi bingung ke siapa, dan harus bagaimana. Saya ingin bebas menjadi diri saya dalam menilai apa yang bisa dipercayai dan tidak bisa dipercayai. Saya ingin bukti nyata dari suatu keyakinan, bukannya terus disuruh-suruh percaya ini-itu.

 

Dee, kamu suka musik rock? Ada lagu yang sangat inspiratif dan cocok untukmu saat ini. Numb – dari linkin park. Ini liriknya  dan alamat web-nya :

 

[tube]kXYiU_JCYtU[/tube]

 

Numb – by Linkin Park

 

 

I'm tired of being what you want me to be

Feeling so faithless lost under the surface

Don't know what you're expecting of me

Put under the pressure of walking in your shoes

(Caught in the undertow just caught in the undertow)

Every step that I take is another mistake to you

(Caught in the undertow just caught in the undertow)

 

[Chorus]

I've become so numb  (I can't feel you there)

Become so tired  (so much more aware)

I'm becoming this  (all I want to do)

Is be more like me  (and be less like you)

 

Can't you see that you're smothering me

Holding too tightly afraid to lose control

Cause everything that you thought I would be

Has fallen apart right in front of you

(Caught in the undertow just caught in the undertow)

Every step that I take is another mistake to you

(Caught in the undertow just caught in the undertow)

And every second I waste is more than I can take

 

[Chorus]

I've become so numb  (I can't feel you there)

Become so tired  (so much more aware)

I'm becoming this  (all I want to do)

Is be more like me  (and be less like you)

 

And I know

I may end up failing too

But I know

You were just like me with someone disappointed in you

 

[Chorus]

I've become so numb  (I can't feel you there)

Become so tired  (so much more aware)

I'm becoming this  (all I want to do)

Is be more like me  (and be less like you)

 

I've become so numb  (I can't feel you there)

I'm tired of being what you want me to be

I've become so numb  (I can't feel you there)

I'm tired of being what you want me to be

 

Saya ingin Dee menikmati lagu ini, rasakan dan selami liriknya. Inilah lagu mereka yang sudah sumpek dengan segala pembodohan dan penodongan-penodongan keyakinan. Saatnya kita memberi kebebasan pada diri sendiri dan rasionalitas kita untuk memutuskan apa yang patut dan tidak patut diyakini sebagai kebenaran. Di sisi lain kita harus memiliki dasar bagi pencarian kebenaran itu sendiri. Silahkan dee selami lagu ini.  

 

 

Wah ini sih lagu gua banget, Aa jin. Makacih banged yah.

Nah, Dee. Sekarang mari kita beranjak dari suatu kritik kepada suatu konstruksi berpikir yang baru. Kalau hanya meragukan sih mudah. Semua orang juga bisa. Tapi setelah kita meragukan, kita harus bertanggung jawab pada peraguan itu. Jikalau kita ragu akan suatu kebenaran, maka pertanyaan berikutnya adalah apa yang membuat kita meyakini bahwa suatu itu benar-benar benar dan suatu itu benar-benar salah? Apa batasan dari pengetahuan kita tentang apa yang kita tahu dan apa yang kita tidak tahu.

 

Topik bahasan di atas dalam filsafat masuk ke dalam pembahasan epistemology. Sekali lagi saya bukan seorang berlatar belakang filsafat, dan tidak berpretensi bahwa tulisan saya bersifat akademis. Namun saya percaya bahwa filsafat sama sekali bukanlah sesuatu yang dijelaskan dengan gamblang atau ditunjuk dengan mudah ‘ inilah filsafat’. Bagi saya filsafat hanyalah alat untuk membedah dan memberi kerangka rasional dalam berpikir. Filsafat bukanlah baju, filsafat adalah gunting dan alat ukur. Ia bukan produk akhir, namun alat potong yang sangat bermanfaat.

 

Dalam mendapatkan pengetahuan, manusia memiliki 3 alat pengetahuan, yakni : Indera, Rasio dan Intuisi.

 

Indera

 

Indera adalah fungsi-fungsi organ dalam tubuh kita yang darinya kita mengenal dunia lewat penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, pencicipan dan perasaan.  Lewat indera ini kita bersentuhan, mengenal, mengkoleksi data, menilai, mengkonsepsikan dan  membandingkan pengalaman-pengalaman kita.

 

Jadi kesepakatan yang paling mendasar adalah jika sesuatu itu bisa dibuktikan oleh inderawi.

 

Gula rasanya manis. Tebu masak rasanya manis. Api rasanya panas. Ditonjok rasanya sakit. Disakiti rasanya tidak enak, dsb. Sekalipun makna kata ‘manis’, ‘enak’, ‘panas’  bisa relatif bagi setiap orang, misalnya kopi dengan satu sendok gula bagi si A rasanya terlalu manis, sedangkan bagi si B tetap kurang manis;  namun  jelas kita tidak akan menyetujui bila orang mengatakan gula itu rasanya pahit, atau cuka itu rasanya manis.  Kenapa? Karena cuka yang rasanya manis dan garam yang rasanya asam  bertentangan dengan pengalaman pengindraan kita.  Lewat indera-lah suatu kesan itu dibuktikan. Pembuktian seperti ini disebut metoda empiris.

 

 

Rasio

Rasio adalah cara kerja otak kita dalam mengolah data dari apa yang ditangkap oleh indera, kemudian dioperasikan lewat perbandingan-perbandingan informasi-informasi lain dalam gudang penyimpan data di otak kita.   Rasio menjadi alat bantu berikutnya manakala kita secara inderawi tidak mampu meraihnya. 

 

Contoh: ketika kecil, untuk memahami pelajaran operasi pertambahan, 3 + 4 kita memakai jari-jari di tangan kita. {inderawi – pengalaman}

 

Namun ketika kita menyelesaikan soal 34 + 59 apakah kita perlu mengumpulkan sejumlah orang agar jari-jarinya sama dengan angka di atas? Tentu tidak bukan? Dengan seiringnya pengetahuan inderawi, data-data yang ada kita simpan, kemudian kita endapkan pemahaman tentang bilangan basis  sepuluh, kita memakai analogi-analogi sederhana sehingga tidak perlu repot-repot mengumpulkan orang untuk kita pinjam jari-jemarinya agar bisa menyelesaikan soal dan membuktikan bahwa 34 + 59 = 93. Itulah cara kerja rasio atau penalaran <reasoning> , yaitu memerikan atau menerangkan suatu kebenaran manakala secara inderawi kita tidak mampu lagi membuktikannya karena dipandang tidak efektif.

 

Contoh lain: air adalah benda cair, titik didih air adalah 100 derajat Celcius. Besi adalah benda padat. Titik didih besi, secara rasional, pastilah harus lebih  dari 100 derajat Celcius. Tanpa perlu dibuktikan, rasanya orang sudah paham akan hal itu. Itulah fungsi dari rasio.

 

Namun apabila pertanyaannya : pada berapa derajat besi bisa mendidih bila dipanaskan?  Untuk menjawab ini perlu pembuktian lansung yaitu panaskan besinya, tambahkan derajat panasnya.  Dan secara empiris jawabannya adalah titik lebur besi 1538 derajat C dan titik didihnya 2861 C. Itupun dengan syarat besi murni, bukan campuran.

 

Perlu dipahami bahwa indera saja, bisalah keliru karena keterbatasan-keterbatasannya. 

-Kereta api dari kejauhan akan terlihat kecil. Tentu bukan kereta apinya yang menjadi kecil tapi karena  jarak obyek yang dilihat dengan mata yang jadi menjauh.

-Sendok yang dicelupkan ke dalam air akan nampak  melengkung.

-Bakteri tidak bisa dikatakan tidak ada hanya karena tidak terlihat oleh mata telanjang. 

-Bintang pastilah kecil karena nampak kecil oleh mata kita.

-Bumi yang kita pijak tidak terasa melayang dalam kehampaan dan mengitari matahari. 

 

Untuk itu perlu bantuan dari rasio dan alat lainnya untuk membantu indera mata, misalkan telescope, periscope, mikroskop. Dan banyak alat bantu pengetahuan lainnya.  Lewat alat-alat bantu pengetahuan ini kita terus menerus melengkapi pengetahuan kita mendobrak batas-batas empirisme dan penalaran yang ada.  Lewat penalaran maka kita sekarang percaya bahwa kita hidup di sebuah planet yang berbentuk bulat lonjong, bergantung dalam kehampaan, mengitari matahari sebagai pusat tata suryanya bersama dengan beberapa planet lainnya.  Dengan ini maka kemampuan analisa empirisme kita bertambah bukan hanya berdasarkan indera saja melainkan dgn bantuan alat. Demikian pula rasio kita terus berkembang menjelajah pengetahuan semesta. Kita mulai sadar bahwa alam semesta yang kita lihat saat ini sangat memungkinkan untuk memiliki sejarah evolusi semesta yang panjang, yang berada dalam proses kelahiran dan kematian, kemudian ada kelahiran dan kematian berikutnya yang dalam setiap fasenya membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Secara empiris tidak ada di antara kita yang hadir pada waktu evolusi manusia terjadi, namun lewat serangkaian pembuktian fosil manusia purba kita yakin bahwa pembentukan manusia oleh alam, tidaklah singkat seperti yang kitab Kejadian katakan. Proses pembentukan manusia menjadi seperti sekarang memerlukan jutaan tahun. Kita bukanlah mahluk yang terakhir dan sempurna, ajeg dan tidak memerlukan lagi suatu evolusi. Kita telah, sedang dan akan terus berevolusi seturut dengan dialektika material yang menopang dan mengelilingi keberadaan kita.  We are on the ever going process of evolution.

Dari indera, rasio dan alat-alat sainslah ilmu pengetahuan kita dibangun, dan dikembangkan. Namun demikian ada satu lagi alat pengetahuan yang bersifat lebih pada psikologis manusia, yaitu intuisi, yang kadang orang menyebutnya sebagai ‘hati’.  

 

 

Intuisi

 

Intuisi adalah cara kerja dari otak kita yang mengetahui / meraba sesuatu karena kondisi yang membatasinya. Dibatasi oleh apa? Dibatasi oleh keterbatasan waktu, tempat, analisa, alat-alat dll. Contoh misalnya seorang istri mempunyai firasat bila suaminya berselingkuh. Dari manakah intuisi itu hadir? Tentu dari kedekatan psikologis dengan sang suami. Namun benar tidaknya intuisi tersebut harus dibuktikan oleh fakta, bukan perasaan.  Intuisi hadir karena adanya komunikasi yang intens dengan hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang kemunculannya, yang mana dalam hal ini adalah tentang kedekatan psikologis antara istri dan suami.

 

Seorang pebisnis yang tangguh memiliki intuisi yang kuat dalam bisnis. Seorang broker saham yang handal memiliki ketajaman intuisi untuk membeli dan menjual saham. Dsb. Intuisi itu datang dari pengalaman empiris dan mekanisme rasional yang mengendap dalam otak kita.  Intuisi seorang dokter tidak bisa diterapkan pada bisnis saham, begitu pula intuisi seorang pelaku pasar modal tidak bisa diterapkan pada dunia konseling. 

 

Intuisi tidak bisa dijadikan alat pengetahuan yang obyektif. Ia hanya sebatas ‘merasakan’, suatu pengetahuan mentah yang bersifat ‘laten’, tersembunyi dan hanya kadang-kadang saja muncul. Pengetahuan yang didapat dari intuisi harus melalui tahap pembuktian empiris dan rasional .

 

Dalam bidang moral sebagian dari intuisi ini disebut hati nurani, yang fungsinya memberikan penilaian dan penghakiman atas apa yang baik dan tidak baik, layak dan tidak layak untuk dilakukan.Hati nurani adalah eksekutor penilaian terhadap sesuatu, sedangkan rasio adalah penyuplai logika, pemberi alasan dibalik penilaian benar salah si hati nurani. It's all about brain function and world of human psychology.

 

Dalam beberapa hal intuisi ternyata berkaitan erat dengan kesadaran kolektif manusia sepanjang jaman. Dan kesadaran itu mewujud dalam mitos dan legenda.

 

Ambil contoh tentang imagi seperti halnya naga, mahluk setengah manusia – setengah kera dan hobbit atau manusia cebol.

 

Saya percaya bahwa mitos-mitos tersebut terbawa dalam kesadaran universal manusia turun temurun, yang sebenarnya adalah suatu lubang intip kepada suatu fakta yang suatu saat akan ditemukan oleh manusia lewat teknologi dan sains. Tidak bisakah kita menganggap bahwa naga adalah intuisi manusia jaman dahulu tentang adanya mahluk-mahluk reptile besar yang pernah hidup dahulu kala  yang kita sekarang sebut dinosaurus? Tidak bisakah gambaran-gambaran tentang mahluk setengah manusia- setengah kera, seperti halnya Hanoman, adalah intuisi manusia yang dalam subkesadarannya membawa ingatan akan kehidupan nenek moyang pra sejarah kita yang berasal dari ras kera besar? Mungkinkah mitos-mitos tentang raksasa menunjuk pada intuisi manusia tentang adanya suatu ras manusia purba yang perawakannya sedikit lebih besar dari pada kita namun peradabannya masih liar ataukah justru itu adalah ‘hint’  tentang adanya ras kera besar lain seperti halnya gorilla yang ditanamkan oleh nenek moyang kita dahulu yang berasal dari ras semacam simpanse?  Begitu pula dengan mitos kurcaci, atau hobbit, mungkin saja mengacu pada memori keberadaan ras-ras manusia kera berjalan tegak yang ditanamkan dalam gen kita?

 

Karena kesukaran bahasa dan metoda pembuktian maka memori-memori itu terbenam secara laten dan menjadi pengetahuan samar yang muncul dalam mitos-mitos dan legenda kemudian dibesar-besarkan dan dianggap benar adanya oleh manusia jaman dahulu.

 

Namun tentu saja cara berpikir ini tidak bisa dibalik, maksud saya, bahwa saya mengajukan suatu pemikiran bahwa dalam mitos terselip intuisi manusia yang menunggu disibak fakta historinya, tidak berarti bahwa semua legenda dan mitos memiliki kebenaran factual yang harus disinkron-sinkronkan. Itu keliru benar. Mitos ya mitos. Fakta ya fakta. 

Jadi di sini kita melihat bahwa intuisi bisa saja memberikan suatu gambaran kasar, bisa juga memberikan suatu gambaran yang keliru. Intuisi tidak bisa selamanya dijadikan alat pengetahuan.

 

Seorang penempuh jalan spiritual, lewat suatu laku tertentu seperti halnya meditasi,  memungkinkan memiliki intuisi yang tajam, namun intuisi itu lebih kepada arahan pembimbingan untuk memilih suatu pilihan hidup dsb. bukan sebagai alat untuk mencari penjelasan-penjelasan rasional empirisi. Seorang yang menempuh jalan spiritual harus tahu benar batas-batas dari kemampuan intuisinya. Jangan sekali-kali intuisi dipakai untuk menilai sesuatu diluar kawasannya seperti misalnya meramal atau mendahului sains.

 

Hal ini saya tuliskan karena begitu banyak kekeliruan manusia tentang spiritual ataupun mistik. Kebanyakan dari kita menganggap bahwa hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan subyektif intuitif dalam spiritualitas mampu menjawab semua permasalahan hidup. Ini kebodohan belaka. Spiritualitas bukanlah tempat dimana segala pertanyaan bisa dijawab. Bahkan selalu saya tekankan dalam note-note terdahulu bahwa spiritual modern bukan berbicara tentang pengetahuan-pengetahuan pseudosains yang glamor dengan puja-puji pada suatu ilah, dewa, tuhan atau guru spiritual manapun. Spiritualisme modern harus berjejak dengan pengetahuan yang empiris rasional dan berintegritas. 

 

Tidak akan pernah keluar dari tulisan saya tentang pengalaman-pengalaman subyektif intuitif  yang didasari oleh romantisme psikologis agama-agama yang menceritakan tentang alam-alam khayal, beserta dengan mahluk-mahluk khayalan yang beterbangan ke sana kemari sambil mendendangkan madah khayalan. Sudah saat manusia Indonesia berpikir rasional dan menendang semua metoda cuci otak tempo doeloe. Biarkan segala bidang ilmu pengetahuan membantu memecahkan permasalahan manusia.  Sudah saatnya manusia meniti hidupnya dalam rasionalitas dan integritas.

 

 

Oh ya Dee, bagi sebagian orang – selain Indera, Rasio dan Intuisi, ada lagi alat pengetahuan lain, yaitu Wahyu, yang kadang juga dimasukkan ke dalam cakupan Intuisi. Namun tentu saja hal ini saya singkirkan jauh-jauh dari bahasan kita, sebab wahyu bukanlah alat pengetahuan, tapi alat pembenaran para agamawan. Wahyu hanyalah kata lain dari insight atau penembusan atau ketersambungan frekwensi alam sadar dan alam tidak sadar / universal conscious yang berkomunikasi dalam bentuk citra atau imagi yang harus dikonsepkan lagi oleh rasio. Setiap orang dengan kapasitas intuisi yang beragam dan dalam pengkondisian tertentu dapat mengalami pewahyuan atau wangsit ini. Tapi tidak berarti semua itu an sich suatu pengetahuan yang benar, factual, menyejarah, konstruktif dan empiris.  

 

Saya tidak mempercayai adanya suatu wahyu dari suatu tuhan berpribadi yang maha begini dan begitu. Bagi saya semua pengetahuan yang kita dapati adalah pencarian manusia dengan cara trial and error. Kalau terbukti benar – ya bagus, berarti orang itu intuisinya tajam, tapi kalau terbukti salah, ya tinggalkan saja.  Wahyu absolut  dari suatu tuhan berpribadi seperti Yahweh, allah bapa, roh kudus, allah ta’ala  hanyalah kartu terakhir para agamawan untuk melanggengkan mitos bahwa hanya keyakinan mereka sajalah yang eksklusif par excellent. Kelebihan para nabi di banding dengan kita adalah mereka hidup di jaman dulu, dimana orang-orang masih berpikir sederhana dan percaya saja kibulan orang-orang sebelumnya. Dalam banyak hal manusia modern telah banyak tahu alam semesta dan pengetahuan ketimbang para nabi dan guru-guru spiritual di jaman dulu. Bersyukurlah kita Dee untuk anugrah hidup di jaman ini.

 

Untuk itu kita mulai berani mempertanyakan :

 

Benarkah bulan pernah terbelah hanya karena doa Muhammad?  Kita yakin bahwa kisah-kisah semacam itu hanya mitos saja. Sebanyak apapun ayat-ayat dan pembenaran-pembenaran yang disodorkan pada kita bahwa bulan pernah terbelah, kita yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa kisah itu cuma cerita kibulan.

 

 

 

Benarkah matahari tidak kembali pada peredarannya hanya karena Yosua berdoa agar siang lebih panjang dari pada malam sehingga Yosua dan pasukannya dapat memenangkan peperangan melawan bangsa Amori? Kita yakin sekali bahwa tidak mungkin matahari berhenti dari peredarannya seturut dengan doa Yosua. Lagian memang bukan matahari yang mengelilingi bumi, namun bumi yang mengitari matahari. Orang jaman dulu masih berpikir bahwa bulan, matahari dan bintang adalah aksesoris langit yang diciptakan tuhan untuk menunjang kehidupan manusia di bumi. Karena bulan hanya aksesoris, maka bulan terbelah duapun tidak pernah akan ada masalah buat bumi. Tentu saja bagi kita yang melek sains saat ini, jika terbelah bulan, maka dengan sendirinya bumi akan mendapat malapetaka hebat. Ombak dan badai akan mendasyat di bumi karena efek gravitasi bumi dan bulan yang selama ini telah setimbang menjadi terkacaukan. Kemudian garis edar bumi pada matahari akan berubah dan nantinya berimbas pada perubahan suhu global dsb.

 

Begitu pula sangat absurdnya apabila matahari ‘ditahan dari peredarannya terhadap bumi’  yang secara empiris keyakinan ini terbukti salah. Apakah hal demikian terpikir oleh para ideolog agama saat itu?  Kenapa pula tuhan dan jibril tidak memberitahu fakta ilmiah ini kepada para nabi? Hal ini karena baik tuhan yang berfirman atau jibril sang pembawa pesan hanyalah figure pelengkap, bukan suatu tokoh real di luar kesadaran manusia itu sendiri. Mereka dihadirkan demi kepentingan ideology agama.

 

 

 

Atau bagaimana mungkin laut Teberau terbelah dua atas perintah Musa karena kuasa yang diberikan tuhan kepadanya? bagaimana mungkin air laut terbelah dua  sedangkan bangsa Israel berjalan ditengah-tengahnya? ahhhhh sungguh-sungguh kreatif kibulan orang jaman dulu.dan sungguh bodoh manusia moderen yang mempercayai kisah itu sebagai fakta sejarah, yang kemudian dicari akal-akalan, disingkron-singkronkan 'fakta'  sebagai bukti bahwa tuhan agamanya adalah tuhan yang super. 

 

 

 

Atau bagaimana pula penjelasan rasional tentang kisah ini ? ahhhhh anda sajalah yang bikin komentarnya hahahahaha .

 

 

 

 

Ada begitu banyak mitos-mitos dalam kitab suci agama-agama dan teologianya yang dipercayai begitu saja dan dianggap sebagai kebenaran yang tidak boleh diganggu gugat. Demikianlah para agamawan dan umatnya hidup dalam dunia skizofrenisnya. Di satu pihak hidup dalam dunia yang ajeg, real dan empiris. Di satu pihak tetap mempercayai hal-hal yang tidak bisa dibuktikan akal sehat dan empirisme.

 

Sudah saatnya manusia-manusia Indonesia berpikir bebas dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak boleh lagi manusia disekat-sekat oleh agama dan factor-faktor primordial lainnya seperti kesukuan. Biarlah manusia bebas mempertanyakan dan mengkritisi fundamen-fundamen kehidupannya, karena dengan meragu dan berpikir barulah manusia itu bernilai, bermakna ada dan menjadi. 

 

Sekali lagi Dee saya ingatkan ini :

Omnibus dubitandum, dubito ergo sum, cagito ergo sum

Segala sesuatu meragukan, aku meragu maka aku ada, aku berpikir maka aku ada

 

Friday, January 28, 2011 at 6:56pm