Judul asli: Dee The Truthseeker Girl Bagian 1 Apa Tujuan Keberadaan Kita di Bumi Ini ?) Prolog: Beberapa waktu lalu seorang gadis belia mengirimkan email dan bertanya apakah saya bersedia ditanyai beberapa hal yang menjadi perenungan hidupnya. Saya menyatakan kesediaan saya. Maka sejak itu bergulirlah korespondensi di antara kami. Ada banyak isu-isu penting yang menjadi topik bahasan kami, disamping curhat-curhatannya yang mengharu biru.

Ketika korespondensi ini saya terbitkan, beberapa hal telah mengalami editing sesuai dengan kelapangan waktu dan pendalaman topik di sana-sini dengan pertimbangan keluasan cakupan bahasan dan keindahan  bahasa penuturan. Tentu saja  hal-hal yang berkaitan dengan kisah pribadi tetap jadi rahasia pribadi.  Jika si penanya membacanya kembali, saya berharap beliau seperti baru pertama kali berkenalan dengan dirinya sendiri dalam tulisan ini. Inilah korespondensi kami: T: Selamat malam Aa. Saya ada beberapa hal yang ingin ditanyakan. Yah semacam pertanyaan-pertanyaan filosofis. Apa boleh ? J: Malam juga. Boleh saja, silahkan, asal jangan yang susah-susah hehehe. T: Tapi pertanyaan saya banyak, lagian sekalian curhat. Bolehkan? J: Kalau pertanyaan adik bisa saya jawab, akan saya jawab, Kalau tidak, ya maaf saja, saya bukan orang jenius yang tahu segalanya. Kalau dengan curhat kepada saya membuat adik merasa lega, silahkan saja. Kalau adik tidak keberatan, dan kalau topik bahasan kita memang berkualitas, saya minta ijin suatu saat korespondensi kita akan saya publish dan akan dijadikan sebuah buku. Hitung-hitung hadiah pengingat untuk adik. Boleh kan? Jangan takut kerahasiaan anda terjamin. T: Wah bagus juga. Tapi bahasa saya muter-muter pak. Gapapa? J: Tidak apa-apa. Saya akan edit. T: Hmmmm boleh deh. J: Nah sekarang silahkan ceritakan latar belakang anda dulu. T: Untuk apa, pak? J: Untuk kepentingan anda juga. Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan anda secara efektif apabila saya tidak tahu latar belakang anda? Misalnya saya dalam berdiskusi saya pakai guyonan orang sunda, padahal anda bukan orang sunda, tentu tidak akan nyambung. Atau saya memakai alegori seperti nelayan, jala, pancing, padahal anda tidak terbiasa dengan istilah-istilah itu. Jadi mengetahui latar belakang seseorang memungkinkan suatu komunikasi yang efektif. T: Oh gitu yah. Boleh deh.  Saya terlahir di keluarga Kristen. Sejak kecil dididik secara Kristen. Tapi sesudah besar saya merasa bahwa semua khotbah pendeta saya terlalu sempit untuk menjawab permasalahan dalam hidup ini. Dalam pergaulan saya bergaul dengan orang Islam, saya mencoba memahami islam,  ternyata sama saja. Saya pikir-pikir  Kristen  dan Islam sama-sama egois, pengen menang sendiri. Saya jadi bingung mana yang benar dan apa sih kebenaran itu.

J: Hmmm sungguh menarik pencarian anda. Ada pepatah Inggris bilang:

restlessness is the mother of invention –

perasaan yang gundah adalah ibu dari penemuan-penemuan baru.’

Begitu pula dengan pencarian spiritualitas. Hanya mereka yang cukup berani untuk meretas mencari kebenaran dalam pencarian pribadi yang akan mendapatkan mutiara-mutiara baru. Sedang mereka yang masih terilusi, senang dibelenggu dengan kebenaran-kebenaran ‘katanya’ –  kata kitab suci, kata nabi, kata pendeta, kata adat dan budaya, mereka tidak akan pernah mengalami sukacita pencarian itu sendiri. Bagi orang jenis ini kebenaran adalah benar menurut si anu dan si anu, bukan benar menurut pengalaman, pemahaman dan pencarian mereka sendiri. Silahkan dilanjut tentang kehidupan anda lagi. T: Sudah beberapa tahun ini saya tinggal di China. Di sini orang gak pada ribut agama. Tapi kehidupannya jauh lebih terartur dan aman dari pada di Jakarta. Di satu sisi saya senang, di sisi lain saya merasa kesepian, tidak punya teman untuk curhat, apa lagi masalah-masalah agama atau spiritualitas. Bapak tahu khan orang-orang China, di sini orang lebih mengejar materi dari pada spiritual. J: Wah China? Ni hao (halo).  Suatu saat saya ingin pergi ke China. T: Hahahaha Ni hao. Ya di sini orangnya cuek pak, tapi lebih enak dari pada di Jakarta. J:. Okey, kelak kalau korespondensi antara kita memang memuat isu-isu berkualitas, saya akan kumpulkan dan jadikan sebuah buku dengan judul : DEE THE TRUTHSEEKER GIRL. T: siapa DEE, pak? J: ya anda. Saya baptis anda menjadi DEE. T: Yeeeee dibaptis, kayak apaan ajah. J: Loh itu kan kosa kata yang familiar buat anda. Coba kalau saya bilang , ‘saya sunat anda jadi DEE’, atau ‘saya gundulin kepala anda dan ditotok dupa 6 kali terus diberi nama DEE’, khan itu gak familiar. T: xixixixi boleh-boleh-boleh. Jadi nanti nama saya Dee. Hmmm gak jelek koq. Bagus. J: Baiklah Dee, sekarang silahkan tanya apa yang ada dibenak anda. Siapa tahu saya bisa menjawabnya. Mulai saat ini setiap kalimat Dee akan dicetak miring.

                       **

Bagian 1  – Tujuan keberadaan Kita di Bumi ini

Dee – Gadis Pencari Kebenaran

Mengapa kita, manusia ada di bumi ini? Untuk memenuhi tujuan apa?

Pertanyaan semacam itu tidak bisa saya jawab. Dan tidak ada seorangpun yang mampu menjawabnya dengan benar. Mengapa? Karena tidak ada kriteria yang tepat untuk menilai bahwa jawaban itu benar atau tidak benar. Kenapa? Karena pertanyaan anda sendiri sudah rancu. Pertanyaan “MENGAPA kita ada di bumi?” mengisyaratkan adanya suatu jawaban yang obyektif, padahal pertanyaannya sendiri tidak obyektif. Pertanyaan yang tepat harusnya adalah “BAGAIMANA kita bisa ada atau hidup di bumi?” Nah, pertanyaan yang demikian ini yang bisa dijawab secara obyektif. Jawaban dari pertanyaan ini bisa dijawab oleh sains. Dee bisa cari di google tentang asal muasal kehidupan di bumi, tentang evolusi kehidupan di bumi yang berusia setengah milyar tahun. Dee akan bertemu dengan beberapa skenario tentang hal ihwal adanya kehidupan di bumi seperti teori transpermia, abiogenesis dsb.

http://ateisindonesia.wikidot.com/abiogenesis

http://www.youtube.com/results?search_query=the+origin+of+life&aq=f

Sekalipun sains ada kalanya tidak bisa memastikan sesuatu dengan tepat, apalagi ttg hal ihwal terjadinya kehidupan di bumi yang sama-sama kita tidak hadir pada saat kejadian itu, namun sains memberikan kerangka pemikiran yang empiris rasional tentang itu. Hal mana sudah jauh melebihi mitos-mitos agama yang didasari hanya oleh kepercayaan belaka – ‘jadi maka jadilah’. Pertanyaan ‘bagaimana’ mengisyaratkan jawaban tentang suatu proses yang empiris dan rasional. Sedangkan pertanyaan ‘mengapa’ sukar dicari kriteria kebenaran jawabannya. Apalagi dilanjutkan dengan pertanyaan ‘untuk memenuhi tujuan apa kita ada dibumi?’ Saya rasa siapapun punya hak untuk menjawab itu, namun apakah jawabannya bisa dipertanggung-jawabkan secara logis, empiris dan rasional tidak , itu hal lain. Dalam kajian filsafat dan teologi itu disebut teliologis, yaitu bahwa bahasan tentang ada tidaknya tujuan kehadiran manusia di bumi ini. Agama-agama biasanya menawarkan suatu keyakinan bahwa kehadiran kita di bumi ini  demi untuk memenuhi suatu tujuan tertentu yang telah digariskan oleh suatu ilah atau dewa tertentu, misalnya : –          Menjadi kilafah  atau wakil allah di bumi ini –          Untuk memuliakan allah –          Untuk menjadi hambanya yang baik –          Untuk meningkatkan kesadaran dan mencapai moksa dsb.   Semua itu sah-sah saja, tapi masuk dalam kawasan subyektif  yang gunanya untuk mencari makna hidup, bukan masuk kawasan keilmuan obyektif  yang bisa dianalisa keabsahannya oleh siapapun lewat disiplin ilmu tertentu. Namun kekeliruan dari kaum beragama adalah menjadikan hal-hal yang subyektif itu sebagai satu-satunya standar ukur untuk menilai realitas hidup yang memulti-wajah dan dunia keilmuan yang bersifat obyektif.  Mereka lupa bahwa alam semesta, sistematika dan gerak alam sudah ada jauh sebelum agama-agama ini ada.

-Alam sudah ada sebelum manusia ada.

-Manusia dulu ada baru agama-agama itu ada.

Jadi agama tidak bisa mengangkangi manusia seakan-akan hanya padanya  saja ada kebenaran dan pengetahuan yang mutlak benar, tidak bisa salah, tidak boleh disanggah, sempurna, terakhir dan tak bercacat cela.  Agama, per definisi, adalah kesepakatan-kesepakatan umum yang dibuat, ditemukan, dan disetujui oleh manusia dalam suatu kurun waktu tertentu, lewat kacamata budaya, pemahaman alam terbatas, kondisi kebatinan tertentu, dan lewat pembahasaan tertentu. Semua itu terbatas dan hanya memenuhi suatu fungsi tertentu, kebanyakan fungsi-fungsi pengendalian individu dalam masyarakat.

Agama tidak punya hak untuk mendikte ilmu pengetahuan. Bahkan banyak ajaran agama justru harus dibedah oleh pengetahuan demi memenuhi fungsi dan keberadaan agama itu sendiri dalam peradaban.

Mari kita analisa beberapa hal:

-Apa betul memang ada tokoh agama ini- itu sesuai dengan fakta sejarah atau cuman sekedar jargon-jargon agama demi meraup massa pengikut dan supremasi agama itu sendiri?

-Apa benar kejadian-kejadian bombastis dalam agama-agama yang sering kali berlawanan dengan hukum alam  itu benar-benar terjadi?

-Apa benar klaim-klaim kebenaran agama itu seperti surga dan neraka, kebangkitan tubuh, malaikat, kesempurnaan kitab sucinya, kesempurnaan nabinya terbukti rasional dan empiris?

Atau sebenar-benarnya itu semua hanya tuturan mitologis dan simbol-simbol psikologis pencarian makna hidup dalam tataran arketype kesadaran manusia itu sendiri?

Kita ambil satu sub topik bahasan : kesempurnaan sang tokoh pujaan.

Dengan adanya sesuatu yang dianggap standar sempurna, maka para pemercayanya diharapkan termotivasi untuk menjadi sempurna, tanpa mau memusingkan benar atau tidak ada standar si sempurna itu benar-benar sempurna, benar tidaknya si tokoh itu pernah hidup dan berprilaku sempurna seperti yang dipahami para pengikutnya. Pokoknya ‘sempurna’ ajah. Apa yang dimaksud sempurna? Apa kriteria dan batasan dari pemahaman sempurna? Mereka sendiri kebingungan dengan batasan-batasan istilahnya. Pokoknya sempurna. Titik.

Muhammad, Yesus dan Buddha dipercaya sebagai teladan sempurna. Dengan mempercayai teladan sempurna ini maka para pengikut mereka diharapkan termotivasi untuk belajar memperbaiki diri menuju kesempurnaan. Padahal benar atau tidaknya Muhammad, Yesus dan Buddha sempurna kita sendiri tidak pernah tahu.

-Apakah mengacung-acungkan pedang dan mengancam manusia dan neraka itu sempurna?

-Apakah mengaku-ngaku dirinya nabi terakhir itu suatu teladan manusia sempurna? Siapa yang mengukuhkan bahwa ia adalah nabi sempurna? Coba datangkan malaikat yang bilang seperti itu, biar kita saksikan beramai-ramai.

Nah anda sudah mengerti khan, bahwa semua jargon agama itu ya buatan para pemercayanya. Bukan suatu kebenaran yang historis, factual, empiris dan rasional.

Seandainya tokoh-tokoh pujaan milyaran manusia itu lahir saat ini, apa benar mereka memiliki kualitas kesempurnaan seperti yang pengikutnya percayai?

Jangan-jangan orang Kristen sekarang, jika mereka terlahir 2000 tahun yang lalu, mungkin saja mereka yang lantang berteriak, “Salibkan dia (Yesus) ! Salibkan dia.”

Bagaimana bila orang islam sekarang terlahir menjadi kaum yahudi di jaman Muhammad yang mengalami pengusiran dan penundukan hak-hak politik dan hidup, bahkan mengalami genosida? Apakah mereka akan tetap memujanya?

Sudah jelaskah bagi Dee sekarang?

Inilah masalah utama dalam agama, Dee. Dan saya ingin kalau bisa Dee melek pengetahuan agama, dengan tujuan bukan untuk menjadi hamba agama, namun untuk melihat agama sebenar-benarnya, sealami mungkin sebagai produk dari budaya dan jaman yang sedang berproses juga, tanpa perlu terus menerus mengikatkan diri kita pada dogma-dogma agama yang dipercayai begitu saja sebagai yang benar, mutlak, sempurna, dan tak bercacat.

Hmmmmm, menarik sekali Aa, jadi sekarang apakah memang ada tujuan dari kelahiran saya di bumi ini?

 

Sekali lagi baca dengan tenang penjelasan saya di atas. Masalah ada atau tidaknya tujuan hidup seseorang, biarlah dia sendiri yang mencarinya.   Apakah kehidupan semesta ini mempunyai tujuan? Secara sains jawabannya tidak ada. Kehidupan di alam semesta ini berjalan berdasarkan bahan-bahan dasar dan hukum-hukum dasar. Dari hal yang mendasar ini berevolusi menjadi serumit ini. Para fisikawan teoritis mulai menyadari bahwa seandainya bahan dasar alam semesta ini bukan seperti ini, maka mungkin alur evolusinya pun akan berbeda pula. Hukum-hukum fisikanya dan biologinyapun akan berbeda pula. Yang jelas  dan bisa dibuktikan adalah akhir dari suatu bentuk kehidupan adalah kematian. Dimana ada kelahiran pasti ada kematian.   Namun demikian, sekalipun kehidupan ini tidak punya tujuan yang definitif,  pasti dan jelas, tidak berarti kita harus jadi murung dan meniti kehidupan ini dengan tanpa arah. Ambilah suatu tujuan untuk dicapai dalam hidup ini, Dee. -Jikalau Dee mau jadi seorang filsuf, ya jadilah. -Dee ingin jadi pelaku bisnis seperti Donald Trump, ya jadilah. -Dee ingin hidup senang senang saja seperti Donald Duck, ya jadilah.   Adalah penting untuk memiliki tujuan dalam hidup. Dengan memiliki tujuan dalam hidup kita memiliki arahan untuk dicapai dan diusahakan. Dan itu sehat. Yang berbahaya adalah apabila tujuan dalam hidup ini diarahkan untuk mencapai suatu keadaan dimana anda bahagia, di atas ketidak bahagiaan orang lain.   Dan harus diingat, Dee, bahwa tujuan dalam hidup itu sendiri tidak berkonotasi langsung dengan kebahagiaan. Maksud saya begini : contoh ada seorang laki-laki yang punya keinginan memiliki istri yang cantik. Itu cita-cita yang wajar. Namun jika ia berpikir kebahagiaan hidupnya tergantung dari tercapai atau tidaknya memiliki istri yang cantik, nah itu salah besar. Kebahagiaan ya kebahagiaan. Istri cantik – ya istri cantik. Kedua hal ini berbeda. Ada orang yang berbahagia walau tidak menikah. Sebaliknya ada orang yang tidak bahagia sekalipun punya istri cantik. Ada orang hidup bahagia tanpa harta melimpah, sebaliknya ada orang yang menderita dalam kelimpahanan.

Jadi kita memilih jadi apa kita baiknya, begitu kan Aa?

Ya tepat, tentu berdasarkan modal-modal kapasitas dan kapabilitas yang kita miliki.

Dan kita yang memilih perasaan dalam diri kita sendiri entah itu bahagia atau bahagia terlepas dari punya atau tidak punya?

Tepat seperti itulah maksud saya. Bahasa saya memang sering terlalu baku dan berputar-putar.

Namun Aa, saya dididik dalam keyakinan akan adanya tuhan yang maha kuasa yang telah menciptakan alam semesta sebelum segala jaman, kemudian menuliskan cetak biru naskah kehidupan di alam ini, dimana segalanya telah teratur dalam hokum yang rapih. Kita hanya memiliki kehendak bebas untuk mematuhi atau tidak rencana tuhan atas hidup kita itu. Bagaimana menurut Aa?

Hahahaha Kristen abizzzzzzz. Kalau anda menganggap semua itu benar dan bermakna dalam hidup anda ya silahkan. Tapi benar atau tidaknya keyakinan tersebut – adalah hal yang lain. Sebab keyakinan seperti itu sangat rentan dengan berbagai kritik. Saya hanya akan menuliskan dua hal saja yang menegasikan keyakinan itu.   Pertama: Keyakinan yang Dee sebut tadi itu memproyeksikan suatu tuhan yang raja tega, bebal, tidak beretika, bodoh dan sewenang-wenang. Lihatlah sejarah peradaban manusia yang penuh dengan tangisan, dan pertumpahan darah. Diatas semua kejadian yang memilukan hati ini, justru kita lihat bahwa agama2 besar yang mengagung-agungkan suatu tuhan berpribadi, yang terlepas dari alam, justru bermain dalam kekerasan itu. Lihatlah peperangan dan ketegangan2 antara Kristen dengan islam, islam dengan hindu, islam dengan islam. Benarkah tuhan itu maha kasih? maha mengetahui? maha segalanya? Ketika bom diledakan dimana-mana, ketika kaum Kristen di Timur Tengah mengalami penunudukan dan genosida secara sistematis baik secara kasar, yaitu dengan senjata, maupun secara structural, yaitu lewat hukum dan kekuasaan yang berada ditangan penguasa islam. Dimanakah tuhannya orang kristen? Koq dia tidak menangis dan langsung menghajar para mujahid yang membom gereja-gereja koptik dan orthodox di Mesir dan Irak? Sungguh-sungguh raja tega tuhan yang diproyeksikan agama samawi ini.   Kedua : Keyakinan bahwa ada suatu rencana sempurna dari tuhan yang kekal abadi, yang diciptakan segala jaman, menjadikan si pemercaya seorang yang neurosis. Setiap hal terus dicross-check dengan hukum-hukum yang tidak kelihatan itu. Ia takut apabila ia melenceng dari rencana tuhan yang sempurna itu. Padahal tuhan sendiri tidak pernah berteriak-teriak dari langit, “hey Dee, jangan pilih fakultas ekonomi, pilih fakultas kedokternan donk. Hey Dee. Jangan pilih si Boy, dia playboy, nantinya kamu kecewa,  pilih saja si Asiong anak enci toko sebelah. Dia sekalipun bego tapi tulus.”  Pernahkah tuhan teriak2 seperti itu? Tidak pernah bukan?   Seperti yang saya tulis di atas, bahwa kisah-kisah agama dan konsep-konsep keyakinan adalah perwujudan symbol-symbol psikologis pencarian makna hidup dalam tataran arketype kesadaran manusia itu sendiri? Konsep tuhan adalah penubuhan dari idea-idea tentang sumber, kesegalaan dan kesempurnaan. Konsep tentang Bunda Maria adalah penubuhan dari idea-idea pengayoman dan kelembutan. Konsep Jibril adalah penubuhan dari mediasi / duta antara sumber dengan cabangnya.  Konsep Kristus adalah penubuhan idea-idea satrio piningit / mesias dari budaya Israel. Dsb. Semua idea tersebut adalah getaran refleksif dari alam nirsadar untuk ditangkap oleh alam sadar kita. Dalam upaya untuk membahasakan ‘bahasa’ refleksif itu maka diwujudkanlah simbol-simbol yang kita temukan dalam agama-agama, such as, tuhan, jibril, bunda maria, kristus, Muhammad, bodhisattva dll. Tanpa perlu memusingkan ada atau tidaknya tokoh2 di atas.   Mengapa alam sadar kita  menerima isyarat-isyarat refleksif dari alam nirsadar? Bagi Carl Gustav Jung, seorang psiko-analis abad 19- 20, karena kita, manusia, terlahir dengan keadaan ‘terbelah’, keadaan sadar yang terbelah ini tanpa sadar terus menerus mencari pemenuhannya. Hasrat pemenuhan ini sendiri diransang oleh idea-idea dalam yang tersimpan dalam alam nirsadar kita.   Berbeda dengan Sigmund Freud yang mempercayai alam nirsadar sebagai tempat dimana  hasrat-hasrat hidup /libidinal direpresi, bagi CG Jung alam nirsadar adalah kesadaran kolektif, dimana idea-idea pencarian makna hidup manusia itu tersimpan secara laten. Bagaimana nirsadar ini berkomunikasi dengan alam sadar adalah dengan cara libidinal dan refleksif. Semua hasrat dalam diri kita adalah hasrat untuk bertahan hidup. Hasrat-hasrat yang dipenuhi akan hilang dengan sendirinya. Namun apa bila hasrat itu tidak terpenuhi, maka suatu saat alam nirsadar mengirim pesan-pesan berupa imagi kepada si alam sadar dalam bentuk mimpi.   Sedang lewat refleksif alam nirsadar ini mengirim idea-idea yang diterima oleh alam sadar sebagai suatu yang harus digali, semacam idea kesempurnaan, keagungan, estetika, keabadian dll. Kesadaran kolektif ini menjadi sumber inspirasi dari pencarian manusia akan idea-idea spiritualitas, estetika, pencarian makna hidup dsb.   Jadi singkatnya agama dan segala idea di dalamnya adalah penubuhan dari gejolak-gejolak bawah sadar yang harus dikelola dengan baik oleh sang sadar tadi, karena tidak semuanya gejolak itu baik, atau tidak semuanya gejolak itu buruk.  Idea tentang kesempurnaan, keteraturan, dan keabadian, diwujudkan dalam seni musik gambar, cerita, abstraksi-abstraksi idea dll.  Maka terbentuklah mitos-mitos tuhan, kisah-kisah asal muasal kehidupan, kisah-kisah setelah kehidupan, keabadian dsb. Hal-hal tersebut dikelola oleh para pujangga dan rohaniwan jaman dulu menjadi mitos-mitos yang oleh agama dijadikan standar baku yang tidak boleh diotak-atik dan dikritik karena dipercaya sempurna dan tiada cacat.   Jadi Dee, singkatnya, silahkan anda percayai teologia agama anda, kalau itu bermanfaat dan memperkembangkan kepribadian anda. Namun apabila anda menjadikannya sebagai kebenaran factual maka anda tidak ubahnya dengan seorang yang memiliki masalah keterbelahan jiwa, skizofrenis. Seorang skizofrenis hidup dalam dua atau tiga atau lebih dunia yang dia anggap ajeg dan real. Dan memang demikianlah orang yang selama ini menganggap agama sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa disanggah. Mereka seperti skizofrenis yang kesehariannya hidup di jaman modern yang logis dan rasional, tapi otaknya masih dipenuhi dengan khayalan-khayalan agama yang dianggapnya sebagai benar, menyejarah dan pasti tidak pernah salah. Kalaupun sains membuktikan kesalahan kisah-kisah agamanya, mereka tetap percaya bahwa tuhannya maha kuasa dan sainslah yang salah.   Bagaimana mungkin kisah-kisah tentang tuhan dan nabi-nabi dalam agama-agama bisa dibuktikan sebagai yang benar? Keyakinan adanya tuhan yang berfirman ini itu pada seorang nabi lewat perantaraan jibril atau malaikat manapun, bagi saya adalah mitos. Sebab kalau diminta supaya jibril hadir dan bersaksi bahwa dia benar-benar pernah muncul dan menitipkan firman pada si nabi itu, pasti dia tidak akan pernah muncul. Kenapa? Lha memang dia tokoh fiktif koq. Mau mengharapkan kemunculan macam apa dari tokoh fiktif?

Maaf Aa Jin, saya pusing. Butuh waktu bagi saya untuk memahami tulisan Aa. Sepertinya saya dihempaskan dari langit dan disuruh berjalan sendirian di bumi ini, tanpa ada suatu yang pasti yang bisa dipegang. Meskipun penjelasan Aa bisa saya pahami tapi saya masih belum mau merasa sendirian tanpa ada yang bisa dijadikan pegangan.

Dee, hidup ini sukar. Namun yang lebih repot lagi ketika hidup yang sukar ini harus terus menerus disingkron-singkronkan dengan seperangkat hukum tidak nyata yang dibentuk oleh komunitas dan agama, tanpa persetujuan dari kita, dimana kita ditempatkan pada suatu posisi yang tidak bisa menganalisa dan memilah dan memilih seturut dengan kesadaran kita. Saya mendorong Dee untuk berani mempertanyakan semua itu dan berani untuk menilai baik buruknya menurut Dee sendiri.   Hukum moral itu perlu Dee, namun bukan yang dikenakan dari luar kepada kita, melainkan dari dalam kesadaran diri kita sendiri. Tentu saja prinsip ini baiknya untuk mereka yang sudah dewasa, bukan manusia-manusia dengan peradaban yang masih kasar.   Baiknya bagaimana menjalani hidup ini? Ya apa adanya saja. Tidak perlu terus dalam keadaan tegang menganalisa diri sendiri, menuduh-nuduh apakah kita sudah hidup seturut dengan rencana tuhan atau bukan, lha wong si tuhan juga tidak bicara apa-apa koq. Lihatlah bahwa dunia ini indah, dan kesempatan untuk kita hidup sebagaimana kita adanya saat ini tidak mungkin datang dua kali. Maka dari itu rayakanlah. Buatlah hidup kita merasa bahagia kini dan di sini, dalam apa adanya hidup kita.   Nah, sebagai refreshing saya ingin Dee mendengar sebuah lagu   dari band Kotak. Entah Dee tahu atau tidak, mengingat Dee mungkin sudah lama di China. Di Indonesia ada sebuah band papan atas yang beranggotakan dua laki-laki, dan dua perempuan cantik. Namanya Chua, basis, dan Tantri, vokalis.   Tantri dan Chua memiliki kecantikan yang alami Indonesia. Tantri memiliki suara khas yang serak-serak basah yang menjadikannya benar-benar cocok sebagai vokalis rock dan memiliki aksi panggungnya yang luwes dan memukau. Pokoknya Dee, jadiin hidup ini hepi, jangan bikin suasana keqi, lantangkan suaramu dan teriakan : penindasan berpikir rasional dan pembodohan sudah gak jaman. https://www.youtube.com/watch?v=_7zjseCPyrA

Keterangan foto : Tantri adalah profil wanita Indonesia yang cantik, mandiri, kreatif, brilian, suci sesuci-sucinya Siti Mariam, dan soleh se-soleh-solehnya Siti Aisyah, tanpa perlu pake jilbab-jilbaban segala. Memang demikianlah keagungan dan kemolekan perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia bukan perempuan bodoh dan liar yang musti dikekang oleh jilbab dan niqab agar kelihatan suci. Tentang cara berpakain, kan kita juga tahu dong batas-batas kesopanan, kaga perlu sederet hukum agama yang gak rasional tapi dimutlak-mutlakan seenak perut sendiri.

Iklan