Islam adalah sebuah agama perdamaian dunia. Jadi, perangi terorisme! Tolak kekerasan yang dilakukan atas nama Islam!

Teman-teman, Note berikut ini adalah sebuah respons saya terhadap sebuah pertanyaan seorang teman pada sebuah status saya dalam Facebook saya ini.

Pak K, terima kasih atas sebuah pertanyaan anda yang memang menarik: Mengapa umat Islam di banyak tempat umumnya memperlihatkan berbagai sikap reaktif agresif jika agama mereka atau Nabi mereka dipersoalkan?

 Saya kira ada banyak faktor global yang harus dipertimbangkan kalau mau menjawab pertanyaan itu: faktor psikologis, faktor sosio-ekonomis, faktor politis, faktor antropologis kultural, faktor historis dan faktor skriptural. Setiap faktor ini bisa dibeberkan dengan panjang lebar. Berikut ini hanya sebuah sketsa saja yang jelas sangat perlu dipersoalkan, dan saya sangat terbuka untuk mempersoalkannya. Tentu saja, ada banyak teman Muslim liberal dan Muslim moderat yang saya kenal, yang sudah bisa "mengatasi"  semua persoalan rumit yang saya paparkan di bawah ini. Di lain pihak, ada juga banyak orang Kristen saleh yang berperilaku lebih agresif dibandingkan dengan yang dapat ditemukan di kalangan Muslim. 

 

Islam adalah sebuah agama perdamaian dunia. Jadi, perangi terorisme! Tolak kekerasan yang dilakukan atas nama Islam!

Dari sudut psikologis, kelompok sosial yang terpinggirkan atau terkalahkan atau yang pamornya turun drastis, umumnya akan bereaksi negatif dan agresif terhadap kalangan yang mempertanyakan eksistensi dan fungsi mereka dalam masyarakat. Reaksi semacam ini dikenal sebagai "complex of inferiority". Mungkinkah bagian terbesar umat Islam sedunia mengidap kompleks ini? Kita tahu, dulu Islam pernah jaya di dunia, tetapi sekarang sudah termarjinalisasi oleh peradaban Barat modern yg menegakkan nilai-nilai modern yang bertolakbelakang dengan nilai-nilai Islami zaman kuno. Makanya, slogan anti-Barat, anti-Amerika, anti-Kristen, anti-Westernisasi, anti-demokrasi, sangat kuat diteriakkan oleh umat Islam.

 

Dari berbagai kajian antropologis lintas budaya, kita tahu bahwa kelompok-kelompok sosial yang termarjinalisasi, terkalahkan, atau merasa ditindas oleh kelompok mayoritas (ideologis atau pun demografis), akan melakukan perlawanan ideologis besar-besaran, sementara mereka tak mampu melakukan perlawanan fisik apapun. Dalam perlawanan ideologis semacam ini, biasanya kelompok sosial-religius yang termarjinalisasi ini akan menyusun ideologi-ideologi yang bisa membangun dan mempertahankan harga diri dan survival mereka, misalnya dengan membangun ideologi bahwa mereka adalah kelompok pilihan ilahi yang terbenar, kelompok yang diberi status istimewa, kelompok yang memiliki satu-satunya kebenaran, kelompok yang paling suci, kelompok yang kepada mereka dipercayakan masa depan dunia ini, kelompok satu-satunya yang memiliki suatu akses langsung ke dunia supernatural. Demi mempertahankan ideologi eksklusif triumfalistik ini, yang sama artinya dengan mempertahankan eksistensi mereka sendiri, kelompok ini rela mati, dengan cara apapun. Tak heran, jika terorisme dapat dihalalkan dalam komunitas berideologi semacam ini. Teks-teks kitab suci yang menopang penyusunan ideologi perlawanan semacam ini menjadi teks-teks terpenting, yang mengalahkan teks-teks lain yang bisa bertentangan dengan teks-teks terpenting ini.

 

Kalau betul bagian terbesar rakyat Indonesia yang miskin adalah kalangan Muslim, dan kalangan ini sudah tersadarkan (lewat pendidikan ataupun lewat indoktrinasi para ideolog Muslim syariah) bahwa kemiskinan mereka bukan suatu takdir, tetapi suatu bentukan dan akibat sistem sosio-ekonomi yang tak adil yang berlaku dalam masyarakat, yang kini malah mereka lihat sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda dulu, maka, ketimbang bersikap pasrah, kelompok ini akan dipenuhi sangat banyak kemarahan dan akan membangun suatu perlawanan kuat terhadap sistem sosio-ekonomi yang dipersepsi mereka sebagai sistem yang tak adil dan yang telah mengorbankan mereka. Tak heran, jika kelompok semacam ini membangun suatu semangat berperang habis-habisan terhadap apa yang mereka persepsi sebagai sistem sosio-ekonomi neo-liberal bentukan Barat.

 

Karena kondisi sosio-ekonomi tak pernah terpisahkan dari politik dalam suatu negara, tentu saja perlawanan mereka terhadap ketidakadilan ekonomi harus juga mengambil bentuk suatu perlawanan politik, politik riil dengan turun ke jalan-jalan untuk demo dan melakukan violence, dan politik ideologis berupa usaha-usaha keras untuk menjadikan negara mereka suatu negara khilafah, suatu negara teokratis yang berlandaskan hukum-hukum agama mereka dan yang sistem ekonominya dijalankan dengan berpedoman pada akidah-akidah dan syariah keagamaan mereka. Teks-teks skriptural yang mendukung perjuangan politik ideologis ini akan menjadi teks-teks terpenting yang mereka pandang inspiratif dan autoritatif.

 

Karena politik religius apapun biasanya bersifat totalitarian (karena Allah dipersepsi mereka sebagai sang penguasa tunggal atas segalanya), maka perjuangan mereka pun masuk ke ranah-ranah lebih luas dalam masyarakat, misalnya ke ranah moralitas masyarakat, dengan akibatnya berupa pengharaman segala macam bentuk moralitas yang tak sejalan dengan moralitas yang digariskan dalam kitab suci dan dipelihara dalam tradisi-tradisi keagamaan mereka. Maka feminisme mereka tolak, kalangan LGBTIQ mereka musuhi, bikini mereka haramkan, dan lain sebagainya. Bahkan mereka pun dapat  melakukan berbagai pembajakan ilmu pengetahuan dengan sebisa mungkin memasukkan perspektif-perspektif skriptural ke dalam dunia sains, yang tak ada dasar ilmiahnya atau tak ada bukti empirisnya; bahkan juga mereka berupaya untuk membangun suatu sistem sains skriptural yang tak akan pernah didukung oleh para ilmuwan sejati yang sekuler. Begitulah, kalau sebuah agama mulai menguasai suatu masyarakat, agama ini akan mau menguasai segalanya. Agama-agama monoteistik apapun dengan kuat memiliki karakteristik semacam ini.

 

Nah, hal terpenting yang mereka akhirnya perlukan adalah suatu figur autoritatif yang dapat efektif mempersatukan mereka dalam suatu perjuangan bersama di berbagai arena yang telah diulas sangat singkat di atas. Selain figur-figur karismatis zaman kini, mereka menegaskan bahwa sang Nabi Muhammad adalah sang Pemimpin tunggal mereka satu-satunya, yang mereka beri kedudukan tertinggi dari antara semua manusia dulu maupun kini. Sang Nabi ini menjadi begitu di-elevasi, ditinggikan, sehingga tak bisa dikritik dan tak bisa ditandingi. Kebetulan sang Nabi ini dulu adalah seorang pemimpin perang, the prophet in a war, atau the war prophet, dan seorang Nabi yang konon sudah masuk ke langit ketujuh tertinggi, lewat Isra Miraj-nya.

 

Begitu saja dulu. Silakan sketsa pendek di atas dihancurkan.