Doktrinasi agama di masyarakat kita cenderung mengajarkan bahwa agama adalah satu-satunya sumber moral, satu-satunya sumber baik dan buruk. Sehingga bisa diasumsikan, jika seseorang tidak beragama, maka orang tersebut tidak mengenal moralitas; bejat, liar, dan akan bertindak sesuai hawa nafsunya. Benarkah demikian? DI SAAT sekelompok orang di Indonesia bersemangat dengan ide “agamaisasi negara” dengan asumsi bahwa hanya dengan cara itu segenap problematika moral akan bisa disembuhkan, pemerintah Swedia malah “mengharamkan” pelajaran agama di sekolah.

“The greatest tragedy in mankind's entire history may be the hijacking of morality by religion.” -Arthur C Clarke

 

Alasannya, agama dipandang cenderung membawa manusia ke dalam perpecahan dan konflik. Juga, klaim-klaim divinitas agama bukanlah klaim ilmiah yang terbukti secara positif, sehingga mengajarkannya dipandang tidak mendidik.

Beberapa point menarik yang bisa kita ambil dari kebijakan pemerintah Swedia tersebut adalah, apakah jadinya masyarakat tanpa pendidikan agama? Atau jika persoalannya dibalik, apakah manfaatnya memberi pendidikan agama pada anak-anak di sekolah?

 

Pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah masyarakat tanpa pendidikan agama akan menjadi “kurang bermoral?” Atau, apakah pendidikan agama dapat menjadikan masyarakat “lebih bermoral?” Apa itu moralitas? Bahwa dalam ajaran agama terkandung moralitas, benar. Tetapi, apakah agama adalah satu-satunya sumber moral?

Tentang moral

Secara etimologis, arti moral terkait wacana ini berasal dari istilah Perancis, morale, yang artinya adalah “suatu perilaku yang baik”, -a good conduct. Dari bahasa latin moralis, yang berarti "proper behavior of a person in society", atau “tingkah laku yang pantas  dalam hidup bermasyarakat”.

Moralitas berbeda dengan etika. Menurut Berten (Etika, 1997), moral adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk yang menjadi pedoman dari tindakan etik. Berbeda dengan etika yang berarti tata susila atau tata tindakan yang mengandung nilai-nilai moral. Bisa disimpulkan, bahwa moralitas, selain berbeda, lebih bersifat mendasar dari etika.

Selanjutnya, beberapa filsuf seperti David Hume, Imannuel Kant dan Jean-Paul Sartre memiliki perbedaan konsep mengenai moralitas.

Singkatnya saja, menurut Hume, moralitas adalah seperangkat tata nilai yang didasari dari fakta-fakta dan pengalaman empiris. Pengalaman itulah yang membentuk pengetahuan dan kecenderungan pada kita untuk dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan moral saat kita harus berbuat sesuatu. Tidak ada nilai-nilai mutlak di luar yang empiris tersebut.

Jadi mengikuti gagasan Hume, jika setelah seseorang membunuh maka ia menjadi dibenci oleh masyarakat, dikejar-kejar, bahkan menjadi terancam nyawanya dan hidup tidak tenang, maka bisa disimpulkan bahwa membunuh adalah perbuatan yang tak bermoral, tak disukai masyarakat, dan sebaiknya tidak dilakukan.

 

Kant berbeda. Menurut Kant, moralitas harus lepas dari pengalaman-pengalaman empirik seperti tersebut di atas. Moralitas semata harus didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan dari suatu “nilai” yang mutlak.  Artinya, tindakan seseorang yang bisa diterima sebagai bernilai moral adalah tindakan yang didasarkan atas nilai-nilai yang mutlak, yang lepas dari pengaruh-pengaruh kebiasaan, adat-adat dan kecenderungan.

 

Mengikuti gagasan Kant, apakah membunuh itu tindakan baik atau buruk, tidak mengacu pada pengalaman-pengalaman empirik sebagaimana digagas Hume. Melainkan sudah “terpatri” pada suatu “nilai mutlak” yang divine dan  abadi. Pendapat Kant selaras dengan pendapat kaum agamis pada umumnya, di mana mereka percaya bahwa hanya Tuhan sebagai sumber moralitas yang mutlak. Baik-buruknya suatu perbuatan, Tuhanlah yang menentukan melalui wahyu-Nya (kitab suci).

 

Lain dengan Sartre. Moralitas menurutnya, selain harus lepas dari pengalaman-pengalaman empirik, juga harus lepas dari “nilai-nilai mutlak” sebagaimana digagas Kant. Menurut Sartre, suatu tindakan atau keputusan dipandang memiliki nilai moral apabila dilakukan dalam suatu kehendak yang bebas dan tidak dipengaruhi oleh hal-hal lain di luar dirinya; seperti adat-tradisi, agama, atau apapun. Dalam gagasan ini, apabila seseorang berbuat baik semata karena tekanan atau tuntutan adat, tradisi, atau ajaran agama, maka ia tak bisa dikatakan telah berbuat baik/bermoral.

 

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, bisa dikatakan bahwa secara umum, seseorang dapat dikatakan bermoral jika ia berperilaku baik di masyarakat; taat pada aturan, etis, dalam arti berperilaku selaras dengan lingkungan masyarakat.

 

Moralitas dan agama

 

“Dari sisi ini kita melihat, bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia. Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan”.  – H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar

 

Doktrinasi agama di masyarakat kita cenderung mengajarkan bahwa agama adalah satu-satunya sumber moral, satu-satunya sumber baik dan buruk. Dikatakan dalam suatu kajian keagamaan, bahwa agama tertentu diklaim sedemikian “lengkap”, mengatur manusia dari A sampai Z. Sehingga bisa diasumsikan, jika seseorang tidak beragama, maka orang tersebut tidak mengenal moralitas; bejat, liar, dan akan bertindak sesuai hawa nafsunya.

 

Moralitas dalam agama juga dipandang sebagai sesuatu yang mutlak, divine, dan suci. Dalam pandangan yang demikian, moralitas adalah sesuatu yang “ditempelkan” ke dalam kehidupan manusia melalui wahyu agama, dan bukan sesuatu yang bersifat naluriah. Ini selaras dengan gagasan moral Kant. Bahwa manusia, dalam pandangan ini, tidak memiliki “kehendak bebas” untuk memiliki penilaian atas suatu perbuatan. Segala pengalaman empirik, juga adat-tradisi pun tak bisa menjadi landasan dalam menentukan baik atau buruk. Semua mengacu pada suatu “nilai mutlak”, yaitu wahyu Tuhan.

 

Dengan doktrinasi yang demikian, wajar jika masyarakat agamis berpikir bahwa tanpa agama maka tak ada moralitas. Tak ada moralitas, berarti manusia diasumsikan akan berperilaku bejat. “Berperilaku bejat”, dan oleh karena itu Tuhan Yang Maha Kasih menurunkan sejumlah tata moral melalui wahyu-Nya, untuk mengatur manusia.

 

Tetapi, benarkah demikian?

 

Sebenarnya, menilik gagasan ketiga filsuf yang disebut di atas, gagasan bahwa agama merupakan satu-satunya sumber moral jelaslah bukan satu-satunya gagasan tentang moral. Sekurangnya, ada dua gagasan lain tentang moralitas yang “non-wahyu”, sebagaimana telah dinyatakan oleh Hume dan Sartre. Hal ini didukung pula oleh sejumlah penelitian bahwa moralitas sesungguhnya telah dikenal oleh hewan-hewan tertentu, meski dalam tingkatan yang sederhana.

 

"Some animals are surprisingly sensitive to the plight of others. Chimpanzees, who cannot swim, have drowned in zoo moats trying to save others. Given the chance to get food by pulling a chain that would also deliver an electric shock to a companion, rhesus monkeys will starve themselves for several days". –Artikel di New York Times

 

Seorang ahli primata dari Universitas Emory, Frans de Waal, sebagaimana dikutip dari situs New York Times, telah melakukan penelitian terhadap sekawanan simpanse. Dari penelitiannya, beliau menyimpulkan bahwa moralitas sebenarnya adalah sesuatu yang naluriah, bukan semata bentukan agama atau filsafat. Hal ini terlihat dari perilaku seekor simpanse yang rela menyeberangi parit –di mana ia sendiri akhirnya tenggelam karena tidak bisa berenang– hanya untuk menyelamatkan temannya. Atau rela tidak makan jika dengan mengambil makanan dapat membuat rekannya tersakiti.

 

Jadi, “moralisme” –dalam bentuknya yang primitif- sebenarnya telah ada pada makhluk yang belum berpikir secara rasional, pada era “pra-agama”.

 

“Orang beragama pura-pura tak tahu bahwa tanpa dalil-dalil agama sekalipun, manusia menciptakan aturan yang kompleks untuk mengatur kehidupan mereka agar tidak kacau. Ribuan hukum diciptakan di dunia ini tanpa keterlibatan agama atau wahyu”. -Ulil Abshar-Abdalla

 

Selama ini, kita sering menjumpai moralitas dan agama selalu dalam “satu paket”. Segala propaganda moral seringkali dikemas, atau disatukan dengan merk agama tertentu. Seolah-olah keduanya tak bisa dilepaskan.

 

Bagi saya, "agama" itu sendiri adalah "moralitas yang diberi kemasan". Seperangkat konsep atau tatanan moral, do and don’t,  yang dibakukan, diberi merk, kemudian dijual dengan bumbu teologi dan keselamatan surgawi. Lebih jauh, agama pada akhirnya tampak memonopoli moralitas itu sendiri. Seolah, di luar agama tak ada moralitas.

 

Agama boleh jadi tak bisa dipisahkan dengan moralitas. Tetapi, berdasarkan uraian di atas, moralitas jelas bisa dipisah dari agama. Moralitas bersifat independen dari agama atau wahyu. Seseorang bisa hidup dengan pantas dan bermoral, meski tak menganut suatu agama apapun, bahkan meski tak percaya kepada Tuhan sekali pun.

Komentar Penyanyi Jazz:

Pertama, sudah ada kemajuan sekarang, mengawali sesuatunya dari kata dan bahasa.

Kedua, ada yang janggal dari tulisan anda di atas yaitu, tidak mengambil referensi “moral” dari perspektif agama, teologi. Yang Anda ambil hanya dari penyair dan filsuf. Jadi, saya kira tidak objektif. Dengan perbandingan yang kurang ini, maka bisa disimpulkan bahwa hasilnya pun subjektif.

Ketiga, sepertinya anda sangat familiar dengan Hume, Kant, dan Sastre, terlihat dari cara uraiannya. Tapi, baik Hume dan Kant pun sama-sama mempunyai pemahaman yang kontradiktif mengenai moral.
Semisal contoh yang diuraikan ;

“Jadi mengikuti gagasan Hume, jika setelah seseorang membunuh maka ia menjadi dibenci oleh masyarakat, dikejar-kejar, bahkan menjadi terancam nyawanya dan hidup tidak tenang, maka bisa disimpulkan bahwa membunuh adalah perbuatan yang tak bermoral, tak disukai masyarakat, dan sebaiknya tidak dilakukan”

David Hume, yang hanya mengandalkan data-data empirik, sebenarnya sudah sangat lucu, ketika semua orang bersandar pada moral yang hanya berdasarkan pengalaman empiris. Sekarang, pertanyaannya adalah, apakah semua orang mempunyai pengalaman empiris yang sama? Semisal; membunuh, membunuh bisa dikatakan baik, tapi belum tentu benar. Itu pun jika dilihat dalam mempertahankan diri (faktor tidak sengaja). Dan nilai baik dan benar pun adalah dua hal berbeda.

Immanuel Kant, pernah diajukan pengkritiknya; “Apa yang akan dilakukan oleh seorang Kant, ketika ada temannya sedang dikejar oleh pembunuh, dan ketika itu temannya bersembunyi di dalam rumahnya. Tak lama kemudian, seorang pembunuh itu pun datang kepada Kant, dan menanyakan: “Apakah anda (Kant) melihat sesorang yang lari di sekitar sini?”.

Sangat jelas, melihat sikap Kant di sini menjadi dilema dan ambigu. Karena di satu sisi; dia harus “jujur” dan di sisi lainnya dia harus “berbohong” (moral buruk) untuk menyelamati nyawa temannya itu. Jujur adalah salah satu moralitas yang baik pada diri seseorang, sedangkan menyelamati nyawa seseorang pun termasuk sebuah moralitas yang lebih utama (nilai).

Maka, jelas pula, apa yang diuraikan anda di atas mengenai pemahaman moral oleh Kant sendiri sudah berbeda. Kant, hanya mengajukan moralitas yang harus bertanggung jawab terhadap akal budi (jiwa kemanusiaanya) sebagai contoh kecilnya adalah contoh kemarin, yang pernah diurakan oleh anda; “Ketika kita melihat ada seseorang hanyut di sungai minta tolong, kita akan refleks menolong. Sekurangnya, kita akan panggil orang yang bisa menolongnya. Nah, "refleks" itu sudah merupakan fitrah manusia dan tak ada urusan dengan percaya kepada tuhan atau tidak, atau percaya dengan imbalan pahala dan surga.” By Rinaldi.

Untuk Sastre, dia pun sebenarnya sudah sangat aneh, karena jelas jika dia mengikuti; “kehendak bebas” maka ada sebuah “nilai” yang dibelanya. Semisal, kita ambil contoh di atas, apakah Sastre menolong temannya ketika dalam pengejaran pembunuh itu, tanpa ada nilai yang dibelanya?

Di sini, Sastre dengan “kehendak bebasnya” adalah mustahil lepas tanpa nilai mutlak dan pengalaman empiris. Sastre akan menolong temannya karena berdasarkan “nilai kemanusiaan”. Artinya, Sastre sendiri sudah sangat kontradiktif, ketika melakukan perbuatan moral dengan “kehendak bebas”. Padahal, jelas ada sebuah “nilai mutlak” yang dibelanya, yaitu kemanusiaan sendiri.

Keempat, sebelum memasuki substansi tentang moral dan agama. Ada baiknya, meluruskan tentang moral menurut filsuf, yang saya kira masih simpang-siur.