Osama Kristus? Semuanya hasil ideological conditioning process Hampir semua orang Kristen saleh akan dengan yakin menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret bukan sekadar suatu figur masa lampau yang sudah meninggal, melainkan sang Tuhan yang hidup, yang hingga sekarang terus hadir dalam kehidupan setiap orang yang mempercayainya sebagai sang Tuhan dan sang Juruselamat yang sudah menebus mereka dari dosa-dosa mereka. Karena kebangkitannya dari antara orang mati, maka, Yesus, dalam pandangan orang Kristen umumnya, tetap hidup hingga sekarang bahkan sampai akhir zaman nanti, dan tetap menyertai gerejanya sampai dunia berakhir dan setiap hari memberi gerejanya kekuatan, penghiburan dan firman-firmannya.

Keyakinan-keyakinan Kristen semacam ini sudah ditanamkan ke dalam diri orang Kristen umumnya sejak mereka kanak-kanak. Keyakinan-keyakinan ini bukan hanya ditanamkan ke dalam benak orang Kristen sebagai ide-ide keagamaan Kristen melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran gereja (misalnya, sekolah Minggu, kelas pembelajaran Alkitab, kelas persiapan untuk menerima ritual baptisan, khotbah-khotbah Minggu, dll.), melainkan juga dirayakan dan diungkap bersama dalam ritual-ritual gereja (seperti sakramen perjamuan kudus memakan roti dan minum anggur yang menyimbolkan tubuh dan darah Yesus yang dikurbankan, sakramen baptisan dan pengakuan percaya), dan diakui bersama sebagai suatu komunitas dalam bentuk pengikraran bersama Syahadat Iman Rasuli, serta dirutinisasi di dalam waktu-waktu doa yang teratur dari setiap orang Kristen di rumah masing-masing yang dilengkapi dengan pembacaan dan perenungan teks-teks Kitab Suci. 

 

Ketika seseorang sudah menjadi bagian dari gereja Kristen yang menjalankan semua kegiatan tersebut di atas, bertahun-tahun lamanya, maka setiap orang Kristen umumnya akan menyatakan bahwa mereka memiliki berbagai pengalaman spiritual bersama Yesus. Mereka mempersaksikan bahwa Yesus hidup dalam kehidupan mereka. Bahwa Yesus mendengar doa-doa mereka dan menjawab doa-doa ini dengan kongkret. Bahwa Yesus hadir menguatkan mereka ketika mereka sedang lemah. Bahwa Yesus kerap berbicara langsung ke telinga mereka di saat mereka membutuhkan kata-kata yang menguatkan. Bahwa Yesus terasa hadir di sisi mereka ketika mereka bersama mengangkat puji-pujian dalam ibadah bersama di gereja. Bahwa Yesus dialami sebagai sang Tuhan yang bisa berempati ketika mereka sedang menghadapi persoalan berat. Dan banyak lagi kesaksian orang Kristen yang mau menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup dengan riil dalam kehidupan mereka.

Pertanyaan kritis saya: Apakah betul semua pengalaman spiritual orang Kristen itu terjadi karena Yesus dari Nazaret tetap hidup selamanya di segala zaman dan di segala tempat lewat kebangkitannya dari antara orang mati? Jawaban saya: Tidak betul!

Jika dalam semua buku ibadah/liturgi gereja, dalam semua bahan pembinaan rohani gereja, dalam semua dokumen Perjanjian Baru, dalam semua buku pelajaran agama Kristen (mulai dari tingkat sekolah Minggu sampai bahan pelajaran untuk kalangan yang lebih dewasa), dalam semua buku doa gereja, dalam semua ritual gereja, dalam semua syahadat gereja, dalam semua kegiatan sosial gereja, dalam semua buku nyanyian gereja, dalam semua buku berbagai jenis kebaktian gereja (kebaktian pernikahan, kebaktian kedukaan, kebaktian syukur, kebaktian rumah tangga, dll), dalam semua simbol dan gambar Kristen, nama Yesus Kristus dihapus dan diganti dengan nama-nama lain, misalnya nama Kwam Im, nama Kwan Kong, nama Konfusius, nama Siddharta Gautama, nama Khrisna, nama Lao Tsu, nama Dewa Horus, nama Dewa Zeus, nama Dewi Athena, Dewi  Amaterasu, nama Sai Baba, nama Mahatma Gandhi, nama Martin Luther King, nama Mother Teressa, dan nama-nama lain yang masih banyak, apa yang akan terjadi dengan diri orang Kristen? 

Yang akan terjadi adalah ini: orang Kristen, yang bertahun-tahun telah memanggil dan berdoa kepada nama-nama pengganti Yesus itu, akan merasakan suatu fakta spiritual bahwa Kwam Im, atau Kwan Kong, atau Konfusius, atau Siddharta Gautama, atau Khrisna, atau Lao Tsu, atau Dewa Horus, atau Dewa Zeus, atau Dewi Athena, Dewi Amaterasu, atau Sai Baba, atau Mahatma Gandhi, atau Martin Luther King, atau Mother Teressa, hadir dalam kehidupan mereka sebagai suatu kehadiran spiritual, menguatkan mereka dan berbicara kepada mereka serta menjawab doa-doa mereka.

Dengan kata lain, pengalaman spiritual dihadiri oleh Yesus dalam diri orang Kristen terjadi karena orang Kristen telah bertahun-tahun lamanya masuk ke dalam suatu ideological conditioning process di dalam suatu komunitas epistemik Kristen yang di dalamnya nama Yesus Kristus telah membentuk impresi-impresi neuorologis dalam otak mereka, impresi-impresi yang tertanam dalam di dalam korteks-korteks otak mereka, sehingga mereka merasa Yesus Kristus itu hidup dan menjawab doa serta hadir dan menyatu dalam kehidupan mereka. Jika dalam ideological conditioning process ini nama Yesus diganti dengan nama Martin Luther King atau dengan nama Mahatma Gandhi atau dengan nama Kwan Kong atau dengan nama Osama bin Laden, maka, setelah proses pengondisian pengganti ini berlangsung bertahun-tahun lamanya, yang orang Kristen akan rasakan hadir, hidup, menyatu, dan menjawab doa serta menguatkan, bukan lagi Yesus Kristus, tetapi Martin Luther King, atau Mahatma Gandhi, atau Kwan Kong, atau malah Osama bin Laden. 

Pengalaman spiritual timbul bukan karena adanya intervensi dari suatu allah di dunia supernatural ke dalam pikiran seorang beragama, melainkan muncul sebagai suatu akibat proses pengondisian ideologis yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya dan telah membentuk impresi-impresi atau gambar-gambar neurologis di dalam organ otak manusia. Tuhan hadir dalam kehidupan seseorang lewat reaksi-reaksi kimiawi neurologis dalam neuron-neuron otak manusia, bukan dari surga yang lokasinya di dunia supernatural, dunia yang tidak ada.