Tahukah anda bahwa Belanda menguasai Indonesia tidak dengan senjata tapi dengan "BAHASA". Belanda mempelajari struktur ikatan-ikatan kontrak suksesi, Belanda mempelajari sastra-sastra yang berkembang di seluruh Nusantara ia mempelajari sejarahnya dengan begitu ia masuk ke dalam definisi alam sadar manusia Indonesia dan menguasainya secara absolut selama ratusan tahun.

Apa yang dilakukan Belanda merupakan sebuah fase pertama dalam membangun kekuasaan. Sebuah hukum Revolusi Tingkat Pertama yaitu : "Kuasai Bahasanya, sebelum menguasai orangnya". Karena dengan bahasa alam pikir bisa terbentuk dan tindakan-tindakan bisa diarahkan. Inilah sebabnya kenapa intelektual-intelektual kita tidak pernah menggunakan bahasa Jawa atau bahasa lokal sebagai alat penggerak tapi menggunakan hukum-hukum grammar Belanda yang kemudian mengejewantah dalam bahasa Indonesia. Grammar Belanda inilah yang digunakan Sukarno untuk menciptakan peluru revolusinya : Pidato-Pidato. 

Mengapa Habibie, Megawati atau Gus Dur jatuh dengan sangat cepat. Karena ketiga orang ini tidak menguasai bahasa, mereka asik bermain dengan sistem entitas, mereka asik dengan konstelasi tapi lalai menembak bahasa sebagai pembentuk landasan kekuasaan. Begitulah yang terjadi dengan Susilo Bambang Yudhoyono. SBY asik bermain dengan pencitraan, ia bermain dalam kulit paling luar bahasa yaitu : Persepsi tapi tidak berani masuk ke dalam substansi. Apa yang dilakukan adalah : Kebohongan Pencitraan sehingga pemerintahan dan tata kelola yang dihasilkan sepenuhnya artifisial, ia membangun pemerintahan etalase, barang ada di kaca pamer, tapi stok barang belum tentu ada : Itulah gaya pemerintahan SBY. Hanya dua orang yang paling berhasil membangun kekuasaannya lebih dari umur kekuasaannya : Pertama Sukarno dan kedua, Suharto. 

Dua orang ini bermain dalam wilayah bahasa. Sukarno membangun bahasa optimisme, bahasa penuh mimpi, bahasa yang menggelegar tapi juga punya isi, bahasa yang membuat orang berani menggadaikan nyawanya : Bahasa Sukarno adalah bahasa motivasi, ia tumbuh dalam diri manusia, ia bisikan hati nurani yang membangkitkan emosi untuk bergerak. Sementara Suharto kebalikannya : Ia menciptakan bahasa dari arah luar diri manusia dan menyerang manusia lalu membangkitkan ketakutan manusia untuk kritis. Bahasa Suharto seperti : Hantu PKI, Tapol, Gerakan Pengacau Keamanan, Organisasi Tanpa Bentuk, Penyesuaian Harga, dan segala macam bentuk redaksional Orde Baru menjadi bentuk penciptaan hipnotis yang menggiring manusia Indonesia ke alam bawah sadarnya agar menuruti apa keinginan Orde Baru. 

Bahasa Sukarno hidup di kalangan anak-anak muda ia menjadi ikon perlawanan, setiap bentuk perubahan selalu menoleh kepada bahasa-bahasa Sukarno, sementara Suharto membentuk ikon kemapanan, kemunafikan dan pembenaran untuk hidup mewah tanpa harus peduli apa yang digunakannya maling duit negara atau bukan. Tapi yang jelas produksi bahasa kedua orang ini mampu menjelaskan bahwa untuk membangun kekuasaan yang langgeng tidaklah cukup hanya menang Pemilu, berhasil membangun ketahanan logistik dan segala macam rupa indeks ukuran-ukuran model BPS, tapi : Kuasai Bahasanya Dulu. 

Bahasa Sukarno dan Suharto yang hidup serta menyediakan sungainya membentuk dijamannya lahir sastra-sastra yang mumpuni, lahir kebudayaan raksasa pada jaman keduanya. Tapi setelah masa kedua orang ini, yang muncul adalah kedangkalan, manusia dibuat bingung dengan sebuah masa yang kerap masa disebut : "Masa Jeda Yang Terlalu Lama" Pertanyaannya : Apakah masa Reformasi ini bisa disebut mirip dengan masa Republik Weimar di Jerman yang membuka jalan bagi kediktatoran Fasisme? atau hanya sebuah masa yang membingungkan saja? 

Jawaban itu justru dijawab oleh kita sendiri. Kita beruntung karena ternyata rezim SBY terlalu dungu untuk memanfaatkan ruang bahasa yang terngaga lebar di depan matanya itu. Ruang bahasa itulah yang harus direbut oleh generasi muda sebelum direbut oleh kelompok-kelompok demagog yang sadar bahwa bahasa menjadi alat paling murah untuk merebut kekuasaan. Siapakah kelompok yang sedikit banyak sudah sadar pada alat bahasa sebagai senjata untuk menguasai keadaan, percaya atau tidak mereka adalah kelompok fanatik berbasis agama.

ANTON, 15 JANUARI 2011