AA Jin, mau tanya nih. Begini: kenapa orang-orang muslim (saya muslim katepe) selalu beranggapan bisa membaca Quran itu penting dan berpahala. karena (mungkin) quran adalah kitab suci.

rasanya kalo orang udah bisa membaca alquran dengan bahasa arab-nya itu mereka merasa "suci" dan "tinggi" Bahkan banyak yang sudah tamat bisa membaca alquran,masih harus belajar lagi soal cengkoknya yang harus benar. Padahal mungkin dengan bisa membaca bahasa arab itu mereka belum tentu memahami artinya. bahkan banyak yang menafsirkan artinya secara literal aja.

Bukankah mempelajari bahasa arab di alquran itu sama saja dengan kita mempelajari bahasa asing lainnya? tapi kenapa kok mereka begitu "meninggikan" dan "mensucikan" kebisaan membaca dalam bhs arab itu? Bagaimana menurut Aajin?

satu lagi nih pertanyaaan klasik, kenapa sih orang islam gak boleh makan daging babi? rasionya apa sih?? rukun iman dan rukun islam itu dari mana datangnya?

 

Jawab:

They’re all about human's mind game. Itu semua cuman permainan pikiran.

Apa yang anda tanyakan semua berkisar tentang permainan pikiran manusianya sendiri, dalam hal ini, si manusia yang saya maksud adalah pengusung agama islam itu sendiri.

– mereka yang menetapkan standar keyakinan,

– mereka yang mensyaratkan kepatuhan mutlak atas keyakinannya itu

– mereka yang menetapkan bahwa keluar dari keyakinan itu akan diganjar azab dan neraka

– mereka yang menaruh labuhan pengharapan bahwa jika mereka setia, taat dgn keyakinannya itu, akan diganjar surga

– mereka membuat seperangkat juk-lak / petunjuk pelaksanaan yang apabila mereka patuhi akan membawa kebanggaan bagi mereka sendiri.

– mereka membuat hierarki permainan pikiran bahwa pada tahap tertentu, penguasaan bahasa dan tafsir tertentu adalah lebih tinggi dan suci sifatnya dll.

 

Jadi itu semua berputar-putar dalam otak dan kebiasaan mereka.

 

 

 

 

Pertanyaan yang mendasar di sini adalah apakah yang mereka yakini itu bermakna bagi orang lain yang tidak meyakini dan mengikuti permainan pikiran mereka? TIDAK. Orang di luar islam, tidak shalat, makan babi, tidak puasa, hidup fine-fine aja tuh.

 

Agama itu bagaikan medan magnet permainan pikiran yang menyedot kita kalau terlalu dekat. Sekali anda tersedot maka anda akan dibuat bingung. Untuk itu jangan dekat-dekat dengan permainan pikiran tsb. Maksud saya, anda boleh saja menjadi bagian dari komunitas agama, namun pikiran anda harus tetap rasional, jangan primordialis, jangan mau kemanusiaan kita disekat-sekat oleh dinding mazhab, agama, dan kesukuan. Kita adalah manusia tokh.

Sebisa mungkin jangan memberi kontribusi berupa harta dan buah pikiran kepada mazhab agama yang hanya mengagung-agungkan narcisme agamanya dan merendahkan kemanusiaan. Kalau mau bantu orang, bantulah secara langsung, tidak perlu via organisasi keagamaan, soalnya mereka selalu punya agenda tersembunyi, yaitu menambah besar jumlah keanggotaan dan menambah banyak pundi-pundi keuangan untuk organisasi dan rohaniwannya.

 

Bagi yang Kristen, saran saya, dari pada anda perpuluhan ke gereja, lebih baik kasih ke sanak saudara yang membutuhkan atau organisasi-organisisasi kemanusiaan lainnya. Lebih lanjut lagi, jangan membeli produk-produk yang dijual oleh ritel / produsen yang nyata-nyata dimodali dan untungnya digunakan oleh suatu badan keagamaan tertentu. Kenapa? Dengan berkurangnya pendapatan mereka, berkurang juga sengat-sengat irrasionalitas dan narsisme mereka.

 

Nah, sekarang pertanyaan berikutnya adalah: jika semua ini adalah permainan pikiran manusia, apakah yang berada dibalik aktivitas permainan pikiran ini? Jawaban sederhananya adalah karena evolusi otak kita yang fantastis ini memberi kita stimulasi untuk kita mencari makna hidup ditengah-tengah kesukaran  hidup, chaos, ketidak teraturan dan ketidak terjaminan hidup, harapan, ketakutan  dan idea-idea, seperti halnya idea tentang adanya kesempurnaan, keabadian, keadilan, kebahagiaan mutlak,  dsb. Idea-idea itu diabstaksikan dalam seperangkat konsep dan dicoba dikomunikasikan lewat  imagi, symbol, mythos. Demikianlah agama itu muncul dalam kesadaran manusia dengan beragam level kesadaran si manusia pengusung idea itu. Ini semua alami pencarian manusia yang juga bersifat trial and error, artinya konsep / perspektif yang manusia pegang selama ini lewat agama bisa benar, bisa juga salah. Kemampuan untuk menerima bahwa kita bisa salah, atau sama sekali keliru dan kemudian berinisiatif untuk membuang kekeliruan itu ke tong sampah irrasionalitas, di situlah kedewasaan itu terlihat.

http://news.softpedia.com/news/How-Our-Brains-Create-God-103754.shtml

 

 

Sedangkan ketidakdewasaan manusia, bahkan kekanak-kanakan manusia, terlihat dari betapa kukuhnya mereka memegang konsep yang secara factual sudah sama sekali keliru dan tidak sesuai dengan fakta sejarah dan kemajuan berpikir manusia. Memercayai adanya suatu kebenaran mutlak dalam agama, dalam bentuk nabi sempurna, kitab sempurna, agam sempurna, juru selamat penebus dosa, guru sempurna, dan melemparkan sauh rasionalitas kita jauh-jauh ke lumpur  kecetekan cara berpikir – jelas adalah kekanak-kanakan.

 

Yang nyata dan factual adalah kita, manusia, selalu diperhadapkan pada kompleksitas hidup, pada realitas yang terus berubah sesuai dengan dialektika material yang ada di sekitar kita. Untuk itu kita mencari makna hidup dalam menjalani makna keberadaan kita sebagai manusia baik itu secara personal maupun posisi kita dalam komunitas. 

 

Apa perlu kita menakar kompleksitas hidup kita dengan ajaran cetek yang menyatakan bahwa kaum tertentu berhak atas kehidupan yang layak tetapi  kaum yang lain harus jadi dhimmi dan dipajaki dengan berat? Namun ketololan semacam itu justru yang dicoba dikobar-kobarkan di Indonesia, seakan-akan kalau Indonesia menganut system syariah, maka semua permasalah langsung, ces-pleng terselesaikan semua. Betapa naïf, dan konyol mereka. Padahal realitas yang ada adalah tidak ada negara yang bersistem syariat islam benar-benar adil, makmur dan menjamin HAM karena syariat islam itu sendiri.

 

Begitu banyak kaum muslim di Iran dan Irak ingin keluar agama dari islam namun takut dengan hukuman yang akan ditimpakan. Kenapa mereka ingin keluar? Karena mereka sudah mengecap pahit dan getirnya hidup dalam kungkungan rejim agama. Syariat Islam tidaklah semanis, seindah, semenggiurkan, sehebat, seluar-biasa, sefantastis, seagung  dan seabreg sifat-sifat mulia  yang selalu disodor-sodorkan oleh para PSK – Pengasong Sistem Kalifah.

 

Dalam banyak note saya selalu mendorong setiap individu untuk memperkembangkan kesadaran mereka agar mampu menembus semua lapisan-lapisan kesadaran yang artificial dan hanya merupakan  permak-permak budaya dan pembiasaan komunitas saja. Ketika kesadaran kita sudah semakin berkembang dan dewasa, kita akan melebihi kesadaran agama itu sendiri dan melihat natur dari agama itu sendiri yang begitu terbatas, dan manusiawi, sebagai cara-cara trial and error dalam menghadapi hidup.

 

Tidak ada suatu pihak di seberang sana yang berinisiatif untuk mengangkat nabi-nabi tertentu, membisiki mereka dengan firman ini-itu, memback-up agama tertentu, menunjuk suatu juru selamat tertentu, guru teragung tertentu, menetapkan suatu nabi terakhir dengan ajaran adi luhung, tak bisa salah, terakhir dan sempurna. Semua itu hanya permainan suatu kelompok manusia jaman dulu, yang senang berkubang dalam permainan pikiran mereka sendiri, yang justru dipelihara oleh kebanyakan orang yang malas berpikir dan takut mengakui kekeliruan yang mereka pegang selama ini, atas nama romantisme psikologis.

 

Yang ada adalah kita, manusia dan segala mahluk hidup yang ada di alam semesta ini, terlibat dalam aktif dalam kisah semesta yang tidak kita ketahui ujung awal dan akhirnya. Jika kita tidak tahu ujung awal dan akhirnya, kenapa kita tidak kita maknai saja keberadaan kita kini dan disini dalam kesewajaran bersama dengan orang-orang terdekat, dan yang kita kasihi? Kenapa kita tidak berusaha memaknai kehadiran kita kini dan disini dengan memberi sumbangsih kepada generasi-generasi di bawah kita lewat pendidikan dan sains dan rasionalitas seperti nenek moyang dulu pernah lakukan?

 

And the truth ? …………….. the truth is out there

 

 

Iklan