Seorang teman menulis, sbb : 
 
"…  bagaimana supaya tahu Sumedang ketika dibawa ke dunia internasional jangan berganti namanya menjadi tahu yun yin. Klo perlu ada produk barat akan dikenal menjadi label indonesia, jangan dikuasai negara luar saja. Permasalahannya ada di stempel saja…"
 
 

 

 
Komentar saya : 
 
It's impossible. Kalau anda bawa tahu Sumedang ke luar negeri, orang akan tahu namanya "tofu". Itu makanan Cina dan bukan dari Sumedang.
 
Yang mula-mula bikin tahu di Sumedang itu orang keturunan Cina. Lalu ditiru, sehingga satu kota penuh dengan tahu. Biarpun namanya tahu sumedang, tetap saja itu tahu Cina. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai "tofu". Baik di Sumedang maupun di New York City, itu tetap diakui sebagai makanan Cina dan bukan makanan Indonesia. Maybe yg lebih orisinil itu oncom. Setahu saya oncom itu asli Indonesia. Sayangnya orang luar negeri gak doyan oncom.
 
Kalau tidak ada tionghoa Indonesia yg hijrah ke mancanegara dan memperkenalkan Indonesia dimana-mana, Indonesia akan lebih tenggelam lagi. Sama sekali tidak akan dianggap. Anda tahu tidak? Malaysia itu bisa berkibar di dunia internasional, walaupun negaranya kecil, karena ada Cina Malaysia, ada India Malaysia. Indonesia masih bisa dikenal di dunia Internasional karena ada Cina Indonesia. Sedangkan, kalau mengandalkan orang indonesia yg konon "asli", yaitu yg keturunan ras Melayu asli, semuanya amburadul. Orang-orang keturunan Melayu itu minder kemana-mana. Bikin malu!
 
Mungkin yg salah adalah darah yg mengalir di badan kita keturunan Melayu. Kita tidak punya rasa kebanggaan terhadap diri kita sendiri. Kita selalu menjatuhkan satu sama lain.
 
Saya beda, saya selalu berusaha untuk menaikkan self esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri. Siapa lagi yg mau menghargai kita kalau kita tidak mau mulai dengan menghargai diri kita sendiri?
 
Hargailah diri kita sendiri, kita semuanya manusia bebas, kita bukan budak. Bukan budak agama maupun budak negara. Bukan budak masyarakat. Kita semua punya hak. Kita bisa berbicara, dan itupun bicara apa adanya saja, dan bukan saling menjatuhkan dengan membawa-bawa Allah sebagai memedi yg terakhir dan sempurna.
 
Anda tahu gak? Bahkan yg lebih menghargai kita adalah orang-orang bule itu. Mereka menghargai orang Bali, orang Madura, orang Mentawa,… bahkan orang Papua. Tetapi, kita sendiri tidak menghargai orang-orang kita. Kita anggap orang kita lebih rendah dibandingkan para ulama dan antek-anteknya yg bawa-bawa Allah. Menjijikkan sekali, bukan?
 
Secara budaya, pengaruh Cina di Indonesia tidak terhitung. Tidak bisa diuraikan lagi. Cina dari ribuan tahun lalu sudah jadi superpower, makanya pantes kalo sekarang jadi superpower lagi. Yg ribet ini Indonesia, dari dulu belum pernah jadi apa-apa. For your info, saya tidak percaya legenda Majapahit menguasai begitu banyak wilayah. Itu kan cuma gaya tulisan istana. Melebih-lebihkan. Yg jelas, mental Melayu memang rendah sekali. Harus dipompa habis-habisan. Harus diberikan rasa percaya diri.
 
Kalau merasa tidak butuh agama yg menurut kita lebih rendah spiritualnya dibandingkan yg asli, maka buanglah agama itu! Itu hak kita. Kita harus bangkit untuk merebut hak kita sendiri. Tidak akan ada yg pernah datang memberikan hak kita di atas nampan perak. 
 
Bahkan Uni Eropa, AS, dan Jepang  juga tidak memperoleh segalanya dengan gratis. They worked hard. Very hard. Tidak ada yg gratis, tidak ada model pura-pura bego seperti SBY yg akan membawa perubahan. Kita harus berubah dengan kemauan sendiri, barulah kita bisa maju.
 
Indonesia ini sebenarnya bangsa indo, campuran segala macam. Kalau lebih kuat elemen asingnya, seperti Eropa, Cina, Arab atau India, maka akan lebih maju. Sebaliknya, kalau lebih kuat elemen Melayunya, maka akan lebih mundur. Tinggal pilih saja, kita mau pakai elemen yg mana, yg memang sudah ada di semua orang Indonesia. Kalau masih tetap mau jadi "Melayu", maka takdir kita adalah budak. Semoga pada sadar dan lihat sendiri kenyataan ini.
 
Yang saya maksud "Melayu" adalah ras manusia antara Aceh sampai Maluku. Ini mentalnya sama, mental budak. Kalau sudah masuk Papua sudah beda, mereka ras Melanesia. Berdasarkan pengamatan, mental Melayu memang parah sekali. Belanda saja jungkir balik untuk membebaskan orang-orang "Melayu" dari para pemimpin mereka sendiri. Orang-orang "Melayu" (baca: Indonesia) bukan diperbudak bangsa lain, tetapi diperbudak oleh para pemimpin mereka sendiri. Yg menyelamatkan ras "Melayu", baik di Indonesia maupun di Malaysia, adalah cukup banyaknya keturunan Cina dan India. Tanpa itu habislah semuanya.
 
Sunda, Jawa, Minang, Madura, Dayak, Bali, Menado, Batak, Makassar, Lombok, Flores sampai Maluku termasuk orang "Melayu". Ciri-cirinya sama, mentalnya juga sama lemahnya. Dan itu sebenarnya sama juga dengan orang-orang "Melayu" yg ada di Philipina. Tetapi Philipina terbantu karena banyak indo juga, yaitu hasil kawin campur dengan orang Cina dan Eropa. Kalau Melayu diperintah Melayu, jadinya asli seperti tempe diinjek-injek. Liat aja kelakuan SBY dan konco-konconya. Pembodohan lagi, pembodohan lagi. Dan orang diam. Diam karena tidak mengerti, tidak mau tahu, tidak perduli, atau diam karena mereka tahu bahwa mereka memang budak. 
 
Mental budak itu mental "Melayu".
 
Sudah dikasih tahu, bahwa semua orang Indonesia dari Aceh sampai Maluku adalah "Melayu". Yg bukan "Melayu" cuma orang Papua saja. Mental Melayu ini mungkin salah satu mental terparah di dunia. Orang-orangnya diperbudak oleh para pemimpinnya sendiri. Dari dahulu sampai sekarang seperti itu modus operandinya. Kalau kita tidak bilang STOP dan bertindak, maka akan terus-menerus diulangi. Bahkan, Megawati itu apa kalau bukan menjalankan peran sebagai pemimpin "Melayu", yaitu pemimpin dari orang-orang yg menjadi budak. Buktinya apa? Lihat saja PDIP, walaupun sesumbar membela "rakyat kecil", tapi prakteknya apa? Sama aja. Itulah mental "pemimpin Melayu", yg memimpin "budak Melayu".
 
Anda harus mempelajari mental manusia Indonesia dari Sabang sampai Merauke untuk bisa menuliskan seperti saya. Bahkan, orang-orang yg anda bilang kebelanda-belandaan seperti Manado dan Ambon itu tetap orang "Melayu". Semuanya bermental budak, kecuali yg sudah dengan sadar membuangnya. Yg sadar itu, justru yg pakai cara berpikir orang Belanda, orang-orang barat. Kalau masih pakai cara berpikir asli, maka tetap saja akan jadi budak.
 
Polynesia itu "Melayu", dan Melanesia itu Papua. Rasnya beda. Tapi yg saya tuliskan bukan soal ras. Tidak rasis, melainkan observasi tentang mental manusia Indonesia. 
 
Yg dulu suka membangkitkan percaya diri kita adalah Bung Karno. Setelah Bung Karno mokat, tidak ada lagi. Paling jauh cuma ada Gus Dur, tetapi Gus Dur juga tidak kuat. Harus kita sendiri yg bangkit, yg bilang bahwa diri kita berharga dan kita bukan budak.