Beberapa orang teman masih kukuh bertanya : apa Aa Jin suka minum minuman beralkohol seperti wine?

 Hmm inilah pikiran, selalu ingin mencari sesuatu untuk digenggam dan dikonsepkan dengan tegas dan jelas.

(pesan SK: kalau anda punya akun Facebook, silakan klik http://www.facebook.com/pages/Forum-Apakabar-Majalah-Superkoran/152166293967 ) Terima kasih)

Hmm inilah pikiran, selalu ingin mencari sesuatu untuk digenggam dan dikonsepkan dengan tegas dan jelas.

Baiklah  saya jawab.

Saya tidak suka minum-minuman beralkohol.

Mengapa tidak? Apakah karena dianggap haram? Bukan. Saya tidak minum spt itu karena saya pernah mencobanya dan tidak menyukainya. Begitu pula dengan rokok. Saya pernah coba tapi memang saya tidak menyukainya. Kalaupun bisa dikatakan 'kebiasaan buruk’, kebiasaan buruk saya adalah minum kopi.

Bukan karena beralkohol atau tidaknya saya tidak mengkonsumsi wine atau beer. Saya suka tape ketan. Saya suka durian mateng. Saya suka bolu dengan rum. Itu semua ada alkoholnya. Apanya yang haram? Haram atau halal itu tidak   melekat pada obyeknya, tapi dari pemahaman si subyek.

Ada banyak kebaikan minuman beralkohol. Tapi kalau saya gak suka mau diapain ayo?

Merokok ada kalanya seperti shock breaker yang meredam ketegangan. Tapi kalau saya tidak suka mau diapain? Lagian memang merokok lebih banyak memberi efek negatifnya pada orang lain secara langsung ketimbang minuman beralkohol.

Seorang yang dewasa membatinkan semua nilai itu dalam kesadaran dan pertimbangan akal sehatnya sendiri, tidak tergantung dari fatwa ini dan itu. Ia melakukan sesuatu dalam pemahaman dan kesediaan menerima buah dari perbuatannya.

Saya pernah baca tulisan Paulus, seperti ini kira-kira:

Tidak ada yang haram bagiku untuk dimakan dan diminum, namun tidak berarti segalanya patut untuk dimakan dan diminum. Makanan adalah untuk tubuh dan bukan sebaliknya. Ibadah yang sejati adalah hidup yang berpada.

Silahkan teman-teman tanya orang Kristen alamatnya. Rasanya itu tidak dalam satu alamat tapi saya ambil dari beberapa tempat. That’s it. That’s the key : hidup yang berpada. Tahu takaran yang tepat buat kita sendiri. Sebab terlalu banyak adalah tidak baik.

-mie baso pake cuka dan sambal yang puedes dan asem banget adalah tidak baik untuk usus kita. Kenapa yang sperti itu MUI tidak fatwa haram?

-terlalu banyak internetan tidak baik untuk mata. Kenapa MUI tidak fatwa haram?

-terlalu lama fb-an jadi lupa kerja.

 

Jadi yang baik apa? Yah yang sedang-sedang saja, kata Vety Vera.

Jalan tengah – kata Buddha.

Tiong – yong – tengah sempurna kata Lao Tze. Dan itu memang yang paling wajar.

Hukum-hukum itu ada dalam diri kita sendiri yang mencari makna dalam hidup ini. Tidak perlu mencari keluar, tanya ulama, pendeta, biksu dll untuk urusan hidup kita.

Jadilah sewajarnya kita. Emang hidup musti diapain?

Seorang muda yang enerjik dan kritis suatu saat bertanya kepada seorang biksu tua:

“bikksu apakah ajaran menuju pencerahan itu?”

Dengan santai sang biksu tua menjawab, "kalau lapar – makan, kalau haus –minum, kalau ngantuk – tidur.”

“Oh itu sih pelajaran anak TK . Dharma macam apa itu?”

“Begitukah? Bukankah seringnya manusia makan pada waktu mereka tidak lapar? Mereka tidak minum pada waktu mereka haus. Mereka terjaga pada saat tubuh mereka harusnya beristirahat. Mereka sibuk dengan kegiatan dan pencarian fisik dan pikiran yang tidak ada habisnya. Dan menjalani kehidupan dalam ketergesa-gesaan dan kekhawatiran.”

Ya memang kita sering hidup dalam kekhawatiran dan ketegangan. Ada yang khawatir miskin, ada yang khawatir tidak dikasihi, ada yang selalu hidup dalam ketegangan karena hati nuraninya selalu tertuduh dengan tuntutan-tuntutan agama yang tidak wajar. Kebanyakan orang beragama sering hidup tertuduh dengan hati nuraninya sendiri. Padahal hati nurani itu bukan di hati atau lever,  bukan di jantung, tapi di otak. Hati nurani adalah kata lain dari cara kerja dan sistematika otak ditempat dimana nilai-nilai tentang yang baik dan buruk, yang harus dilakukan dan tidak dilakukan yang ditanamkan dari sejak kita lahir sampai sekarang diendapkan dalam alam nirsadar dan merefleksikan dirinya dalam wujud keputusan dan pertimbangan dan juga idea-idea moral.

Ketika suara hati nurani, yang di antara kerjanya menilai dan menghakimi,  terlalu kuat, maka kepribadian anda jadi lemah. Anda jadi mudah tertuduh; selalu merasa seperti berjalan di atas seutas pita ‘yang boleh dilakukan’ yang terbentang di atas jurang ‘yang tidak boleh dilakukan’ – maka anda menjadi neurosis. Keadaan itu tidak sehat. Superego – idea-idea yang baik dan tidak baik yang diwujudkan dalam masyarkat dan aturan agama, harus ditentang dengan penguatan si ego, yakni daya nalar dan individuasi – bahwa ada jarak real antara diri kita dengan hukum-hukum itu.

Itulah kenapa kita harus memperkuat sisi-sisi rasionalitas kita. Sisi ego kita. Sehingga semua fungsi psikologis dalam diri ini berjalan seimbang dan dinamis. Bukan statis, takut jatuh ke kanan dan ke kiri. Karena semua pemahaman akan hidup dan dunia ini berasal dari apa yang dicerap oleh indra dan otak kita, maka dari sinilah perjalanan spiritual harus diawali. Bukan dunia yang harus dibenahi, persepsi akan dunia ini dan persepsi akan diri inilah yang mesti kita benahi.  

January 08, 2011.

[keterangan foto: menurut Sigmund Freud, shalawat dan salam turun atasnya, kepribadian manusia terdiri dari 3: id, ego dan superego. Pribadi yang dinamis adalah pribadi dengan keseimbangan ketiga fungsi ini]