Bukan karena terjebak euphoria, saya lalu menulis tentang Sepakbola. Sejak lama, saya adalah pelaku, penikmat dan mudah-mudahan tak lama lagi berlisensi pelatih sepakbola pula.

Mengalahkan isu-isu politik, kegerahan terhadap penyimpangan penyelenggara negara dan berita bencana yang silih berganti. Penampilan Timnas di Piala AFF hingga melaju ke babak final menjadi kebanggaan bersama milik bangsa. Bicara kebanggaan, kita memang terpuruk, mungkin sudah berada pada titik nadir. TKI yang berulang kali mengalami tindak kekerasan tanpa pembelaan berarti, petugas negara yang ditangkap aparat serumpun dan tidak diperlakukan sebagaimana mestinya, penyerobotan wilayah, penggeseran batas negara hingga pengeroyokan wasit karate yang sedang menjalankan tugas cuma sedikit dari contoh lemahnya bangsa ini (baca: pemimpin bangsa).

Belakangan, kebanggaan akan perjuangan Timnas mulai pula mendapat ‘klaim’. Ada yang bilang ini adalah hasil Kongres Sepakbola Nasional yang digagas SBY. Ada pula yang berkilah, ini adalah hasil kerja keras Badan Tim Nasional, di masa kepemimpinan Iman Arif. PSSI? Tentu tidak mau kalah. Di TV One, kita mendengar pernyataan manajer Timnas, Andi Darussalam bahwa keberhasilan tersebut adalah berkat kerja keras PSSI. Lebih memalukan lagi, keberhasilan Timnas tersebut dimanfaatkan Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid (NH) untuk kepentingan politik pribadi dan partainya. Ah, sebenarnya kegemaran suka ‘klaim sana-sini’ itu bukan Cuma punya Malaysia saja. Elit PSSI dan bangsa ini pun berhobi sama.

Baik, kembali kepada judul catatan kecil ini. Saya ingat beberapa waktu lalu, Nurdin Halid pernah dituntut untuk mundur sekaligus tidak mencalonkan diri lagi terkait statusnya yang pernah dan sedang tersandung kasus hukum. Sontak, NH dan kroninya meradang. Di sebuah tabloid olahraga pun dia sampai berujar, “Sampai ke ujung dunia pun akan saya kejar” ketika disodorkan fakta bahwa tuntutan tersebut tepat dengan AD/ART KOI yang memang tidak membolehkan individu dengan rekam jejak seperti NH memimpin organisasi olahraga. Saya Cuma membatin, “Entah apa yang mau dikejar pria yang akrab disapa Puang ini ke ujung dunia sana.”

Masih berkaitan dengan hal yang sama. NH pun mencontohkan atau lebih tepat menyamakan dirinya dengan Nelson Mandela. Pemimpin kharismatik asal Afrika Selatan itu, menurut Puang tetap diberikan kesempatan untuk memimpin meski pernah dipenjara. Saya bingung sekaligus makin mahfum mengapa PSSI tak pernah bisa maju. Logika berpikir Puang tersebut jelas salah kaprah. Madiba, demikian Nelson Mandela kerap disapa dipenjara karena perjuangannya melawan politik rasis bernama Apartheid. Madiba adalah ikon perlawanan terhadap kesewenangan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Apresiasi terhadapnya begitu besar. Bukan hanya dari dari rakyat Afrika Selatan tapi juga dari seluruh dunia. Bahkan, ajang sepakbola akbar World Cup 2010 pun bisa sukses karena urun karisma milik Madiba.

Sementara NH dipenjara karena tersangkut kasus korupsi. Tindakan yang jelas merugikan orang banyak dan menunjukkan lemahnya integritas sebagai individu yang mengabdi pada kepentingan orang banyak. Hebatnya, meski berada di balik jeruji besi sekali pun, NH tetap bisa memimpin PSSI dan ‘dipatuhi’ pula awak organisasi tersebut. Ketika masa jabatannya berakhir, NH pun mati-matian berjuang untuk dipilih kembali. Baginya, PSSI adalah jembatan untuk menunjukkan eksistensi pribadi. Sepakbola bukan yang utama karena yang paling penting setelah terpuruk akibat kasus korupsi dan batal menjadi anggota DPR, Puang tetap punya jabatan, apapun caranya. NH adalah protipe kebanyakan politikus di negeri ini. Terlibat dalam organisasi olahraga semata untuk kepentingan praktis bukan benar-benar untuk meningkatkan prestasi.

Maka jangan salahkan jika kemudian mereka yang peduli dengan nasib sepakbola nasional membangkang dengan caranya sendiri. Apapun penyebab dan caranya, maka kegagalan Timnas adalah kesalahan PSSI. Sebaliknya keberhasilan Timnas bukan karena kerja PSSI. PSSI boleh meradang dan menyatakan bahwa publik tidak fair karena tak mau mengakui hasil kerja PSSI. Faktanya, keberhasilan Timnas menembus final Piala AFF 2010 sebenarnya terletak pada faktor kemampuan Alfred Riedl sebagai pelatih Timnas. Riedl, yang sewaktu dipilih sempat diragukan kemampuannya oleh pengurus PSSI mampu memberikan pendekatan yang berbeda.

Penerapan disiplin tinggi dan pemahaman karakter pemain adalah kunci keberhasilan Riedl. Konon, Manajer Timnas, Andi Darussalam (ADS) pun sempat meradang karena Alfred Riedl melarang dokter pribadinya ikut dalam rombongan Timnas. Meski kemudian mereda, ADS bilang, “Riedl harus menyesuaikan diri dengan kebudayaan Indonesia”. Saya tertawa sekaligus malu, membaca komentar ADS. Apa pula hubungan penerapan disiplin dan budaya dalam sepakbola? Jika memang berbudaya mengapa pula tak jauh-jauh hari undur diri mendukung NH sang ketua yang korup itu. Bukankah korupsi bertentangan dengan nilai-nilai budaya?

Akhirnya, Pembangkangan Sepakbola Nasional memilih jalannya sendiri. Tidak mengakui sumbangsih PSSI, teriakan menuntut NH mundur dan reformasi kepengurusan di tubuh PSSI tidak akan berhenti hanya karena Timnas masuk final AFF atau bahkan menjadi juara sekalipun. NH dan kroninya boleh saja buta hati-tuli telinga tapi pada akhirnya akan menerima kenyataan bahwa mereka memang tak lagi patut berada di sana. Akhirnya, publik sepakbola nasional adalah otoritas tertinggi yang akan menjadi juri untuk menentukan siapa yang pantas diapresiasi atas keberhasilan Timnas. Terimakasih Riedl, Terimakasih Firman Cs, Terimakasih pendukung Timnas. Garuda pantas berada di dada kalian. Sama pantasnya dengan pembangkangan terhadap NH dan kroninya.

(pesan SK: kalau anda punya akun Facebook, silakan klik http://www.facebook.com/pages/Forum-Apakabar-Majalah-Superkoran/152166293967 ) Terima kasih)