Seorang teman yang berlatar balakang komunitas buddhis bertanya kenapa Buddha yang katanya telah mencapai kesempurnaan tetap saja sexist, lebih mengutamakan laki-laki dan memberi proporsi yang lebih pada lelaki dalam hal-ihwal kebiksuan. Sebagai perempuan dan sebagai umat buddhis, tentu saja hal ini menyisakan keraguan yang besar bagi teman saya ini.

 

Jawaban saya :

Benar tidaknya Buddha seorang yang masih sexist, kita tidak tahu pasti. Kenapa? Karena sutra-sutra, satu-satunya sumber dari mana kita mengenal tokoh Buddha, ditulis ratusan tahun setelah beliau wafat. Sebagaimana halnya kitab-kitab lain seperti Injil dan Alquran, sutra-sutra inipun bukanlah pelaporan langsung dari Tempat Kejadian Perkara, namun berupa tuturan-tuturan kisah yang sudah dibungkus legenda dan mitos yang ditulis dan dibakukan oleh biksu-biksu paling awal 200 tahun setelah wafatnya Pertapa Gautama yang disapa sebagai Buddha ini.     

 

Sutra-sutra bukanlah pengalihan verbatim kotbah dari mulut Buddha ke dalam bentuk tulisan, melainkan cenderung berupa kisah-kisah atau tuturan yang merujuk kepada semangat buddha dalam meralisasikan kebenaran yang Buddha pahami dalam perspektif para biksu penulis dan penghapal sutra.

Tentu saja akan ada bias makna, pengurang, pelebihan dsb dari ajaran asli Buddha ke pemahaman para biksu yang rentang waktunya ratusan tahun itu dan mengalami perbedaan karakter dan perbedaan jaman. Maka dari itu tidak heran apabila ada sutra-sutra yang to the point, ada juga sutra-sutra yang njelimet. Ada sutra-sutra yang sedikit banyak saling bersebrangan dalam penuturan dan juga semangat. Ada sutra yang mengatakan perempuan tidak bisa jadi buddha, ada juga sutra yang mengatakan jenis kelamin tidak ada hubungannya dengan kesadaran, jadi perempuan pun bisa jadi buddha. Untuk itu tidak perlu aneh, karena kesadaran manusia bergantung pada dialektika material si pengusung idea itu. Karakter, kebiasaan, rasionalitas, zeitgeist, keluasan spectrum si penulis sangat berpengaruh dengan semangat dan jiwa dari tulisannya.  

 

Nah sekarang kembali pada Buddha Gautama sendiri. Apakah ia masih sexist atau bias gender? sekali lagi jawaban saya kita tidak tahu.

 

Namun secara logis kita sadar bahwa dalam kemanusiaannya tetap Buddha adalah seorang lelaki India Utara 25 abad lalu, seorang pangeran yang dididik dalam lingkungan budaya yang sarat dengan ide-ide patriakal dan feodalisme. Tentu saja sedikit banyak ia juga terpengaruh dalam budaya patriakal dan feodalis tersebut.

 

Adapun tentang kisah keberatan beliau tentang pengangkatan biksuni awal, dalam pemahaman saya, jikalau itu benar, pastilah karena pertimbangan pada saat itu perempuan adalah kaum tak terpelajar dan lemah dalam posisi sosial. Perempuan di jaman itu, bahkan sampai jaman sekarang di beberapa budaya, sering hanya dianggap benda. Perempuan cantik seperti burung dalam sangkar emas, dijadikan istri utama atau selir. Sedangkan perempuan sederhana akan jadi pelayan dari suami dan keluarga suami. Posisi perempuan sangat rendah saat itu.

 

Mungkin saja buddha enggan mengangkat perempuan jadi pertapa atau biksuni karena takut para perempuan ini diperkosa ketika harus menyepi di pondok-pondok di hutan, atau takut kebiksunian ini menjadi jalan pintas bagi perempuan untuk keluar dari kungkungan budaya. Bayangkan bagaimana keberlangsungan suatu bangsa apabila para ibunya menjadi biksuni ! Pada jaman itu semua bangsa berlomba-lomba untuk menjadi bangsa yang besar baik secara populasi maupun secara geografis. Tujuannya adalah dengan populasi besar maka akan terbentuk pasukan yang besar untuk mempertahankan diri atau kalau bisa menginvasi kerajaan lain. Dan dengan geografis yang luas yang mencakup daerah-daerah produktif dan strategis maka perekonomian negara tersokong dengan stabil. Dan untuk cita-cita tersebut, diperlukan laki-laki dan wanita yang tangguh, mudah dibuai kekayaan meteri  dan tidak mudah menjadikan spiritual sebagai jalan pintas. 

 

Buddha sangat memahami  kondisi jaman dan potensi-potensi dimana ajarannya akan mudah disusupi untuk motivasi di luar spiritual. Untuk itulah Buddha menentukan syarat yang berat pada perempuan apabila ingin jadi biksuni, yaitu agar pilihannya itu bukan menjadi jalan keluar pintas dari kungkungan budaya yang memberatkan perempuan.

 

Buddha seorang diri, tidak bisa merevolusi budaya seperti membalik telapak tangan. Bahkan Yesus sendiri, seorang yang egaliter dengan isu-isu femininisme, tidak bicara banyak tentang pembebasan para budak yang pada saat itu dianggap lazim. Jadi tokoh-tokoh ini bertindak dalam kebijaksanaan dalam batas-batas yang paling memungkinkan pada saat itu di dalam budaya itu.

 

Namun fakta bahwa perempuan dalam ajaran Buddha diperbolehkan, adalah suatu terobosan besar yang tidak ditemui secara massif dalam budaya-budaya atau ajaran-ajaran lain pada jaman itu.

Mungkin para biksu penulis sutra ada yang masih sexist sehingga mencari alasan-alasan dibalik pemberian ijin Buddha atas biksu perempuan ini, maka ditulislah kisah tentang Buddha yang enggan mengijinkan perempuan jadi biksu, tentang permintaan Ananda yang sampai 3 kali, tentang syarat-syarat yang berat yang dikenakan pada biksuni, tentang ramalan bahwa karena ada biksuni maka ajaran Buddha yang asli hanya akan bertahan 500 tahun bukannya 1000 tahun.  Tentu saja kisah-kisah tersebut kita yakin sekali sudah melenceng dari kenyataan, karena faktanya 2500 tahun setelah Buddha wafat, toh ajarannya masih ada pada kita. Asli atau tidak asli mana ada yang tahu pasti? Mana ada penjual kecap yang bilang kecapnya no 2? Mana ada agama yang bilang agamanya tidak asli, penuh dengan keraguan di sana-sini?

 

Jadi kita harus tahu bahwa suatu ajaran itu dipengaruhi oleh budaya dan pola pikir orang pada jaman itu. Yang lucu adalah ketika ajaran itu terus menerus dipelihara tanpa pengetahuan yang benar tentang latar belakang dari ajaran tsb. Ketika fungsi-fungsi utilitas suatu ajaran sudah tidak cocok dengan roh dari jaman yang ada maka seharusnya tidak perlu terus menerus dibela mati-matian. Ajaran seharusnya terus berubah dan merubah dirinya sendiri.

 

Seandainya Buddha, Yesus, Muhammad  dsb, lahir saat ini maka mau tak mau mereka harus egaliter, tidak bias jender, melek sains dan HAM. Tokoh-tokoh ini wajib belajar filsafat, psikologi analisa, fenomenologi agama, evolusi, astronomi, neurosains dsb.

 

Nah karena tidak mungkin mereka lahir kembali, maka yang memungkinkan belajar ialah para pengikut mereka agar bisa keluar dari kungkungan emosionalitas agama dan belajar menjadi manusia seutuh-utuhnya. Manusia yang mencari kebenaran dan makna hidupnya di dunia ini.   

 



 

(Penjelasan gambar: Maha Prajapati, ibu tiri Buddha, dan beberapa wanita lain memohon ditahbiskan menjadi bikhuni, hal mana Buddha pada awalnya tolak. Buddha mengijinkan pendirian padepokan bikhuni setelah Ananda, murid dan sepupunya memohon dengan sangat 3 kali. Benar atau tidaknya ini terjadi siapa yang tahu? Yang jelas perempuan dibolehkan jadi bikhu- hal mana merupakan suatu lompatan revolusioner saat itu)