Seorang ibu mengirim surat kepada saya berbagi cerita tentang pengalaman hidupnya yang getir. Ia tuturkan bahwa ia terpaksa harus menempuh perceraian dari mantan suaminya ketika sang suami tertangkap sedang bermesraan bersama kekasih gelapnya. Dan maen belang-belangan itu ditengarai telah terjadi sudah bertahun-tahun sebelumnya. Tak ayal lagi sang istri meminta cerai. Ketika itu si ibu masih berumur 39 tahun dan ditinggali dua orang anak laki-laki yang masih bersekolah di SMP. (foto: http://iyangozza.blogspot.com/2010_07_01_archive.html)

Dan setelah itu maka berubahlah tatanan hidup keluarga sang ibu. Setelah pulang dari kantor sebagai pekerja level menengah, ia pulang ke rumah, mengurus anak dan kemudian bekerja lagi mencari sampingan sebagai penjual baju, lipstick, perhiasan lain ke kenalan-kenalannya. Dengan susah payah ia membesarkan kedua anaknya yang bersekolah di sekolah Kristen. Anda harus maklum bahwa sekolah2 kristen, konon adalah sekolah yang termahal.

Perlu waktu baginya untuk beranjak dari rasa sakit hati diperdaya oleh lelaki yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati. Di samping kesukaran financial, ia juga merasakan rasa rendah diri , kepahitan dan kekecewaan yang dalam. Ia merasa malu karena ternyata ia tidak mampu menempuh kehidupan keluarga yang ideal. Ia menjadi tertutup dan mudah emosional. Kalau bukan karena kebutuhan ekonomi, ia lebih suka mengurung diri di kamar dari pada pergi kesana-kemari untuk menjual kosmetik.

Kejadian itu telah berlalu hampir sepuluh tahun. Sekarang ia telah memiliki kehidupan sederhana yang stabil. Kedua anaknya telah lulus kuliah. Memang kedua anak ini bekerja sambil kuliah. Sekarang mereka sedang giat-giatnya menabung untuk masa depan mereka.

Satu hal yang menjadi kekhawatiran sang ibu adalah bagaimana nanti apabila kedua anak laki-laki ini menikah dengan perempuan-perempuan yang tidak cocok dengannya. Ketika ia sudah tua dan harus hidup sendirian, siapa yang akan jadi teman berbagi segala kesusahannya?

“Aa Jin,2 tahun lagi saya genap berusia setengah abad, dan saya takut menghadapi masa tua sendirian. Saya takut jadi beban kedua anak saya. Saya tidak mau ikut mereka karna takut tidak cocok dengan menantu. Malu rasanya jadi beban keluarga.”

 

 

Saya terdiam menghela nafas panjang.

Kepada ibu ini, seorang Kristen yang saleh, saya hanya bisa menyarankan untuk tidak mengkhawatirkan apa-apa yang belum waktunya terjadi, tentang menantu-menantu perempuan yang mungkin tidak cocok, tentang masa tua yang dijalani sendirian. Sudah mah itu masalah tidak enak, eh dipikirin terus. Yang perlu dilakukan adalah tindakan preventif. Saya menyarankan agar beliau ikhlas menerima hidup ini. Perjuangannya yang luar biasa mengurus kedua anaknya sendirian sudah nampak berbuah bukan? Tidakkah itu sesuatu yang patut disyukuri dan dibanggakan? Saya menyarankan beliau untuk berolah-raga dan mengurangi konsumsi gula dan makanan berminyak, hal yang tentu beliau lebih tahu dari pada saya, sebisa mungkin mempunyai asuransi jiwa.  Dan berusahalah terus melihat hidup dalam sisi positif. Dengan positif thinking tidak segalanya langsung jadi indah, baik dan mudah dijalani, namun setidaknya tabiat yang baik ini akan mempersiapkan diri kita untuk menghadapi apapun kemungkinan yang sukar. Dan jangan lupa, belajar memaafkan diri kita, untuk setiap kesalahan dan kehilafan yang pernah kita lakukan. Itu membuat kita lebih enteng menghadapi hidup.

 

Terakhir saya sisipkan ayat dari Bible yang pernah saya temukan bertahun-tahun lalu ketika mempelajari kekristenan.

 

 “Sampai masa tuamu Aku (maksudnya : Tuhan) tetap Dia (Tuhan) dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  Yesaya 46:4

 

Sehari setelah itu ia membalas.

 

“Saya menangis seketika membaca surat balasan dari Aa Jin. Trima kasih banyak. Saya memang masih terluka dan belum sepenuhnya ikhlas….  “

 

Yah memang segalanya membutuhkan waktu.

 

 

                                                                ****

 

Friends, hidup memang berat. Dan yang lebih berat lagi kita seringkali dituntut untuk memenuhi standar-standar ideal yang tidak semuanya mampu kita raih:

-Memiliki tubuh yang sehat dan wajah yang good looking.

-Mapan secara ekonomi.

-Berumah tangga dengan pasangan yang cantik / ganteng, setia dan langgeng.

-Memiliki anak-anak yang cakap, pintar dan mudah diatur.

-Memiliki tabungan hari tua yang cukup untuk bikin kita tenang.

 

Siapa yang tak ingin mencapai standar hidup demikian? Namun jika kita tidak mampu meraih semuanya itu, apakah kita yang salah atau hidup ini yang memang bermasalah?

 

Saya menyadari sang ibu tadi yang hidup dalam komunitas Kristen, harus menghadapi perceraian, rasanya seperti aib yang tak bisa ditutupi. Bagi Kristen fundamentalis menikah adalah sekali seumur hidup. Tidak ada ruang bagi perceraian yang disetujui oleh tuhan dan gereja. Itu ideal sekali. Pada prakteknya hidup ini tidak ideal bahkan sering kali miris dan tragis.

 

Saya kira ini yang harus kita tanamkan dalam benak kita:

 

Jikalau kita meyakini suatu ajaran, kita juga harus celik dengan batas-batas dan kelemahan dari ajaran ini.

 

Jangan menjadi budak dari suatu ajaran. Tapi gunakan ajaran itu sebagai pedoman terbatas dalam menatap, menjalani dan menyikapi hidup ini. Jangan menjadi budak dari idealisme, manakala kita tahu bahwa idealisme itu benar-benar tak mampu kita raih, sekalipun kita telah berjuang mencapainya.

 

Dalam kasus ini saya sangat setuju dengan keputusan si ibu yang meminta cerai setelah menimbang-nimbang dengan masak. Salahkah seorang wanita yang menuntut harga dirinya? Salahkah seorang ibu yang melindungi tubuhnya, hidupnya dan masa depannya dengan mengajukan perceraian apabila suaminya diketahui berselingkuh dan mungkin saja, karena keteledorannya, dalam tubuh sang suami justru mengandung bibit-bibit penyakit yang berbahaya?

Surveis aids terbaru memperlihatkan bahwa korban HIV –AIDS terbanyak adalah ibu rumah tangga yang terinfeksi karena suaminya melakukan seks bebas diluar lembaga perkawinan yang sah.

 

Mungkin ada teman yang bertanya kenapa saya memberikan hiburan lewat ayat Alkitab? Ini jawaban saya.

 

Sebagai seorang yang mempelajari agama-agama dari segi spiritual yang rasional,saya tidak mempercayai adanya suatu sosok tuhan yang berfirman ini itu kepada seseorang entah nabi, rasul, syeikh, imam dsb.

Bagi saya semua yang disebut wahyu, wangsit, penyingkapan dsb adalah hal yang wajar ketika seseorang mengkondisikan dirinya sedemikian rupa dalam suatu tafakur, kemudian kesadarannya menangkap suatu penembusan makna / insight dari kesadaran semesta. Kemudaian secercah kesadaran itu diterjemahkan oleh si manusia dalam rasionalitas dia, dalam lengkungan budaya, bahasa, kebatinan dan roh jaman (zeitgeist) pada saat itu. Jadi semua nubuat/wahyu bersifat alami, insani, relative dan terbatas, tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan kebenaran mutlak  bagi segala bangsa di segala tempat dan di sepanjang jaman.

 

Wahyu-wahyu itu sendiri layak dibedah oleh rasio dan prinsip-prinsip kebenaran lainnya. Tidak ada wahyu yang tidak berada di luar akal manusia. Lha wong semua wahyu yg tertulis juga, such as bible dan alquran, ditulis dalam bahasa manusia yang menggunakan logika dan prinsip2 kebahasaan. So it’s all about human activity themselves.

 

Saya tidak anti kitab-kitab ‘suci’, saya hanya alergi pada mereka yang percaya buta bahwa ADA satu kitab yang sempurna tidak berisi kesalahan dan kecacatan, ADA nabi yang terakhir dan yang sempurna, ADA ajaran agama yang sempurna, ADA penebus dosa seluruh umat manusia, yang mana bagi mereka yang tidak percaya tersedia hukuman kekal. Semua ADA-ADA itu bagi saya suatu bentuk kebodohan. 

 

Alkitab adalah serangkaian buku yang ditulis oleh manusia dari beragam latar belakang profesi dan karakter, dalam  bentangan waktu ratusan bahkan ribuan tahun dari awal idea-idea ketuhanan / kedewaan ditemukan oleh bangsa Sumeria dan Mesir sampai idea-idea tersebut berkembang sedemikian rupa, memiliki keunikan tertentu, dianut oleh kaum tertentu, dalam hal ini bangsa Israel, dan dibakukan pada jaman Ezra abad 4 SM. Dan untuk Perjanjian Baru kanonisasi berlangsung bertahap sampai abad 4 M dan diteguhkan lagi di Muktamar Florence 1441, dan Trente 1456. (Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Kanon_Alkitab)

 

Jadi singkatnya Alkitab itu idea-nya ditemukan oleh manusia, dikembangkan oleh manusia, ditulis oleh manusia, dibakukan oleh manusia, dipercaya buta oleh manusia. So pure and simple.

 

Emang ada kitab yang tidak ditulis oleh manusia? Pake bahasa apaan tuh kalau tidak ditulis oleh manusia? Pake bahasa jin? Dijatuhin langsung dari langit – gedebuk … hahahaha.

 

Begitu pula Alquran yang ditengarai ditulis mulai abad 7 –  9 masehi yang banyak mendapat kontribusi redaksional dari bahasa Aramic Suriani dan teologi Kristen Siriah, tradisi Kristen-kristen sempalan yang dianggap bidah oleh Katolik Roma, Talmud, Zoroaster dsb. Maka dari itu di dalamnya terdapat mitos-mitos yang pada waktu itu tersebar di jazirah Arab dan Palestina, semacam kelahiran Isa dimana Mariam berpegang pada pohon kurma, kisah 7 orang saleh yang tertidur di gua bertahun-tahun, Yesus yang tidak disalib,dll. Semua itu kisah2 yang dibuat, dimunculkan, ditambal sulam, oleh manusia sendiri dan dipercaya sebagai sempurna oleh orang-orang yang tidak mau tahu sejarah insani dari proses peng-kitab-an itu sendiri.

 

Dan karena semua kitab-kitab yang disucikan oleh para pengikutnya ini ditulis oleh manusia dan dalam bahasa manusia, maka kitab-kitab ini layak diperbandingkan keindahan bahasa, kehalusan tutur kata, kedalaman kebijaksanaan dan filsafat hidupnya, keluasan spectrum perspektif-nya. Bagi saya pribadi, dengan memakai pertimbangan-pertimbangan  tersebut kitab-kitab terindah yg pernah saya baca berasal dari agama-agama timur, spt uphanisad, Vedanta, Baghavad Gita, Surangggama Sutra, Prajna Paramita, Dhamapada, Tao Te Ching, Su Shi, kemudian kitab-kitab agama-agama Timur Tengah.

 

Kalau anda dapat memisahkan mitos dan mengambil pesan inti yang para penulisnya  coba sampaikan – nah anda sudah tercelik menikmati daging dari kitab itu, bukan sekedar kulitnya. Memang demikianlah seharusnya dari ahli-ahli agama, yaitu memisahkan mana yang mitos dan mana moral ceritanya. Dan maaf-maaf saja saya tempatkan Alkitab dan Alquran ditempat yang rada-rada buncit. Saya hanya berusaha jujur dengan rasionalitas saya, dan emoh untuk memanjakan emosionalitas milyaran pengusung kepercayaan samawi ini.

 

Sekalipun saya kadang memakai kata 'Tuhan', namun bagi saya makna ini bukan tuhan ala agama2 samawi. Tuhan bagi saya adalah kata yang terbatas untuk merujuk pada totalitas kehidupan itu sendiri, dimana kita adalah bagian tak terpisahkan dari samudra kehidupan ini. Tuhan hanyalah penamaan belaka, seperti halnya kata-kata: Tao,  Brahman, atau Tatagatha Garba atau Substantia. That’s it. Begitu simple. Yang ada di balik penamaan itu adalah totalitas kesegalaan yang ada.

 

Hanya untuk memenuhi fungsi-fungsi penjabaran, maka diadakanlah idea suatu tuhan yang terpisah dengan kita, terpisah dengan alam sehingga terjalin komunikasi aku dan kau, manusia dan tuhan, kawula dan gusti. Namun sejatinya tidak ada pemisahan itu pada tataran hakekat. Brahman tat vam asi.   

 

Saya tidak pernah ragu bahwa alam semesta yang maha rahmani dan rahimi ini memang akan terus menopang kita sampai kematian kita, seperti halnya penulis kitab Yesaya menandaskan     

 

“Sampai masa tuamu Aku (maksudnya : Tuhan)tetap Dia (Tuhan) dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

 

Kita lahir karena suatu sebab-sebab yang diadakan oleh kehidupan semesta ini, pula kita akan mati karena sebab-sebab yang diadakan oleh kehidupan semesta ini secara alami. Dan selama kita hidup rayakanlah hidup ini susah senangnya. Ikhlaskanlah kedatangan dan kepergian ini. Tidak perlu diresahkan.

 

Selama kita menyadari bahwa kita bagian yang tak terpisahkan dari ketuhanan/kehidupan/ alam semesta ini maka susah senang kita coba terima apa adanya. Kita adalah abadi, bukan sebagai kita adanya dalam identitas ilusif ini, namun sebagai hakikat yang tak terpisahkan dari alam semesta.

 

 Tuhan yang menggendong kita, yang menopang kita sampai masa tua kita:

-bukanlah tuhan bersosok atau berpribadi yang mengatur ini itu sekehendak umat yang memintanya,

-bukan pula tuhan ala agama yang mengasihi suatu bangsa dan menyuruh memusnahkan bangsa lain,

-bukan pula tuhan yang turun ke dunia hanya untuk menyelamatkan mereka yang percaya padanya saja,

-bukan tuhan yang suka memback up suatu bangsa atau clan, yang menyuruh-nyuruh seluruh umatnya mendatangi suatu tempat setiap tahunnya, minta dijenguk dirumah sang tuhan dengan mengeluarkan uang yang tak sedikit dan hanya jadi ajang bisnis bangsa itu,

-bukan pula tuhan yang sibuk dengan mengeluarkan hukum-hukum tentang apa yang haram dan halal, apa yang wajib dan tidak wajib dilakukan,

-bukan tuhan yang haus pujian dan disembah-sembah serta didoakan dengan bahasa tertentu,

-bukan tuhan yang neurosis, suka  mengancam-ancam memasukan manusia yang tidak suka melakukan ritual agamanya ke dalam neraka yang menyala-nyala, dan mengiming-imingi lelaki yang soleh dengan 72 bidadari selalu perawan dan berdada montok yang siap digauli siang dan malam,

-bukan pula tuhan yang sembrono menetapkan nabi terakhir, kitab terakhir, agama terakhir dan sempurna, padahal kehidupan manusia sepanjang jaman akan terus lebih rumit dan bervariasi ketimbang jaman dimana si nabi terakhir itu hidup,

bukan… bukan tuhan-tuhan terdistorsi semacam itu, 

 

namun Tuhan yang adalah kehidupan itu sendiri, yang mengejawantahkan daya ciptanya lewat kesegalaan yang ada termasuk anda dan saya. Isvara sarva buthanam – Tuhan menetap dalam segala yang ada.

 

Dalam penerimaan hidup yang lapang, dan usaha untuk memperbaharui diri dalam meraih kehidupan yang layak dan sederhana, disitu kita melihat bahwa segala yang adalah bentukan-bentukan yang rumit, insane sekaligus ilahi dari sang hidup itu sendiri.    

 

Terakhir, untuk para lelaki / suami:  ingat anda bisa saja gonta-ganti istri, tapi anda tidak akan bisa gonta-ganti ibu. Ini pribahasa saja, jangan dipraktekin ya gonta-ganti bini. Intinya : buatlah ibu kita tetap merasa special dan bangga pernah melahirkan kita dari rahimnya.

 

Dan sekali lagi untuk ibu penulis surat dan seluruh ibu di seluruh dunia, saya ucapkan:  

 

                               Selamat Hari Ibu dan Selamat Natal

Iklan