Seorang Buddhis bertanya pada saya, “Aa Jin, sepertinya sukar deh buat saya jadi seorang Buddha. Soalnya saya jauh dari sempurna. Mungkin perlu berkali-kali kelahiran kembali, maka saya bisa jadi seperti Buddha.

Jawaban saya:

Itulah masalahnya, kita sering memakai standar yang berasal dari legenda dan mitos, yang jauh dari keseharian dan segi-segi insaniah kita, untuk mengukur dimensi-dimensi hidup kita yang nyata, terbatas dan logis. Kita disodorkan begitu saja kisah-kisah bahwa Buddha itu begini begitu, selalu begini dan begitu, tidak pernah begini dan begitu, yang sering sama sekali tidak menyejarah dan berada di luar kerangka historis dan logis keseharian kita, dan semua itu ditanamkan dalam kesadaran kita untuk dijadikannya sebagai kebenaran yang tidak bisa dipertanyakan lagi. Begitu pula dengan kisah Yesus, Muhammad, nabi-nabi dan avatar-avatar lainnya.

 

Adalah lebih baik menempatkan kisah-kisah tersebut sebagai narasi-narasi mitologis inspiratif yang dibuat oleh para pujangga jaman dahulu untuk kepentingan-kepentingan pengajaran moral dan etika tertentu. Tidak perlu memandang kisah-kisah tersebut sebagai catatan-catatan pelaporan yang memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik : akurat, tajam, terpercaya, dan dilaporkan langsung dari Tempat Kejadian Perkara. 

 

Justru mereka yang telah sedikit memahami Higher Criticism, akan memiliki cara pandang lain lain ketika membaca kitab-kitab.

 

– Ketika saya membaca Bagavad Gita, saya justru terpesona dengan kejeniusan sang penulis, yang konon adalah Bagawan Abyasa. Bukan Krisna dan Arjuna dan yang menyita keterpanaan saya, tapi Bagawan Abyasa ini, karena berkat Bagawan Abyasa inilah kita bisa mendapat penerangan spiritual yang diwujudkan dalam percakapan Krishna dan Arjuna.

 

– Ketika saya membaca Injil Yohanes, saya justru terhanyutkan dalam pemahaman kemanunggalan penulis injil itu, yang sederhananya dipanggil Rasul Yohanes, padahal belum tentu yang menulis itu Rasul Yohanes murid Yesus. Dari kerangka pemikirannya, terlihat bahwa sang penulis anonimus tersebut terdidik dalam, atau setidaknya terbiasa tentang, filsafat Yunani Neoplatonisme, semangat monastic Stoa dan Epikurianisme. Begitu pula dengan kemahiran berbahasa Yunani-nya yang memberi petunjuk bahwa beliau ini seorang yang terpelajar.  Melihat hal demikian sukar rasanya  apabila injil ini ditulis oleh Rasul Yohanes, seorang nelayan Yahudi yang kerjanya hanya menangkap ikan di danau galilea.

 

– Pula ketika saya membaca kitab Taurat dan kitab Perjanjian Lama lainnya, terpatri dalam pikiran saya bahwa kitab-kitab ini ditulis dan dibakukan bukan pada jaman Musa, Samuel dan Elijah, melainkan pada jaman Josiah sampai masa Ezra,  400 tahun sebelum Yesus lahir. Adalah para pujangga2 Yahudi pada abad-abad tersebut yang menuliskan  kitab Raja-raja, Ayub, Pengkhotbah, Kidung agung, Yesaya dan Yeremia, serta mengkompilasi perkamen2 dan melengkapinya menjadi Taurat. Semua itu dilakukan untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan keberagamaan Yahudi yang telah tercabik-cabik paska pembuangan di Babilonia dan Persia.  

 

– Ketika saya membaca al quran, sunnah dan sirat nabi saya menelisik cara berpikir sarjana-sarjana muslim abad ketujuh sampai dan kesembilan masehi yang mencoba melepaskan identitas berpikir ala yahudi, kristen ortodoks , Zoroaster dan hukum positif Romawi dan meramunya dalam semangat keagamaan baru yang diberi nama Islam. {Anda bisa membacanya di risalah-risalah buku-buku kajian islam modern seperti Wansbrough, Crone, Luxenberg, Puin dsb}

 

– Ketika saya membaca sutra-sutra Buddha, saya melihat dengan jelas usaha para biksu abad 3 dan 2 sebelum masehi (untuk tripitaka Pali) dan abad 1 M (untuk tripitaka Sanskrit) untuk membakukan ajaran Gautama, namun terperangkap dalam mitos dan legenda seperti halnya saudara-saudara tua mereka lakukan ratusan tahun sebelumnya, yaitu kaum brahmana.

 

Ketika kita membaca suatu buku, apalagi kitab-kitab agama yang berusia ribuan tahun lalu. Pertama-tama harus cari tahu siapa pembuatnya, kepada siapa tulisan ini ditujukan, dalam bahasa apa, apa maksud penulisannya, memakai genre apa kita ini: narasi, eksposisi, epos kepahlawanan, puisi atau madah dsb  kemudian cari tahu latar belakang kebudayaan penulisnya dan kebudayaan si penerima tulisan itu, adakah pemahaman si penulis dan si penerima yang sudah masih berlaku jaman ini atau sudah tidak berlaku karena perkembangan pengetahuan manusia, sains dan peradabannya.   

 

Dan setelah banyak melalui lorong analisa kritik sejarah dan budaya, ternyata semua kitab adalah nyata-nyata pandangan subyektif dari si penulis dalam suatu kurun waktu, dalam suatu lengkungan budaya dan worldview yang terbatas dan hampir tidak bisa diterima lagi dalam cara berpikir manusia modern kecuali semangat-semangat kemanusiaan yang inti seperti halnya pencarian makna hidup, pergumulan mencari keadilan, peningkatan citra diri, pembentukan karakter diri dan komunitas. Dan semua itu normative ada dalam setiap jaman dan setiap budaya, baik di dalam maupun di luar komunitas tersebut, karena hal-hal demikian adalah universal, tertanam dalam kesadaran manusia itu sendiri.

 

Dengan lain kata, kita sebaiknya memandang semua kitab-kitab itu sebagai karya manusia yang bisa salah, tidak menyejarah, tidak akurat, berisikan legenda dan mitos demi sebuah pembangunan kerangka keimanan tertentu yang mereka anggap benar.

 

Dengan demikian kita melatih diri bukan untuk terus menyama-nyamakan diri kita dengan Buddha, Yesus, Muhammad, para nabi ataupun avatar lainnya yang tentang bagaimana mereka sendiri hidup – sudah disalut dengan mitos, legenda, dan idea-idea fantastis yang sudah tidak manusiawi lagi. Be ourselves – but better and better. Jadilah diri sendiri, tapi dengan versi yang lebih dan lebih baik lagi.

 

Saya berkesempatan mengenal beberapa orang yang pengetahuan intuisinya berada dalam batas-batas  normal manusia. Namun tetap saja mereka juga bisa salah, tetap saja mereka bisa emosi, tetap saja   mereka bisa salah mengerti orang lain, dan tentu merekapun masih memerlukan pengetahuan skolastik dalam memutuskan masalah-masalah keseharian. Saya berpikir betapa beruntung apabila seseorang memiliki pengetahuan skolastik yang luas dan ketajaman intuisi yang handal.

 

Kecenderungan kita untuk mempercayai sesuatu begitu saja harus diimbangi dengan semangat  kritisime dan pragmatisme. Tujuan kita bukan untuk mempercayai ini dan itu, membuktikan ini dan itu, namun untuk menjalani hidup ini dengan makna yang lebih dalam, kini dan di sini bersama dengan orang-orang yang kita cintai, keluarga, teman dan handai taulan, lewat cara-cara sederhana yang bisa kita lakukan.

 

Jika memang anda telah bertekad memberi diri untuk hal-hal berguna bagi diri anda dan sesama seturut dengan kapasitas dan kecenderungan bathin anda,  dengan demikian anda sendiri telah mewujudkan diri menjadi seorang boddhisatva. Dunia ini memerlukan manusia-manusia yang memberi hal-hal positif bagi peningkatan nilai-nilai kemanusiaan dan kesadaran. Siapa tahu kalau karya anda ter-rekam dalam sejarah, banyak orang terinspirasi oleh anda, kelak ratusan tahun dari sekarang bisa saja anda dikisahkan sebagai seorang suci yang lahir dari rahim seorang perawan, sering pulang pergi bumi – sorga, dibisiki oleh Jibril atau ditampaki oleh Brahma Sahampati atau Bodhisatva Manjusri, dsb. Hehehehe enggak deng – orang masa depan pasti lebih cerdas dan gak suka kibul-kibulan lagi.  

 

Terima kasih.



Iklan