Berdasar sidang Isbath,  pemerintah menetapkan 10 Dzulhijjah tahun ini adalah bersamaan dengan Hari Rabu tanggal 17 November 2010. Namun ada juga yang menyelenggarakan dan menggelar Shalat Idul Adha pada Hari Selasa tanggal 16 November 2010 dengan alasan merujuk pada Kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang menetapkan tanggal 9 Dzulhijah jatuh padah Hari Senin 15 Novermber 2010, sehingga Umat Islam yang menjalankan Ibadah Haji, melakukan wukuf di padang arafah pada Hari Senin, maka 10 Dzulhijjah jatuh pada Hari Selasa 16 November 2010. Dari segi keseragaman sungguh bagus umat islam tidak perlu meributkan atau konflik mengenai perbedaan waktu di lokasi yang sama. Masalahnya adalah secara geografis antara Arab Saudi dan Indonesia berjauhan, logikanya apabila ada selisih sehari merupakan hal yang wajar. Lagipula mengapa hanya momentum Idul Adha saja untuk menjadikan Arab Saudi sebagai rujukan, mengapa tidak menyeragamkan pula saat penentuan awal puasa Ramadhan dan Hari Idul Fitri ?? Semoga Umat Islam tidak selalu ribut dan meributkan persoalan penetapan hari besar agamanya sendiri setiap tahun.

 

 

SIAPAKAH YANG DIKORBANKAN NABI IBRAHIM DALAM PERISTIWA PENYEMBELIHAN ANAK ?.

 

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa terdapat ketidaksepakatan bagi Umat Kristen dan Umat Islam tentang siapa yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim dalam peristiwa penyembelihan anak. Sebagaimana diketahui Nabi Ibrahim merupakan Bapak moyang agama Yahudi, Kristen dan Islam memiliki dua istri yang pertama adalah Sarah seorang wanita merdeka berasal dari Syam (syiria) lama tidak dikarunia anak, sehingga atas anjuran istrinya Sarah, Ibrahim supaya menikahi budaknya yang bernama Hajar sebagai istri kedua  agar memiliki keturunan sebagai generasi pelanjut. Hajar adalah seorang perempuan budak (menurut riwayat berasal dari Habsyi atau Ethiopia, namun ada yang mengatakan berasal dari Mesir) yang merupakan hadiah dari Raja Mesir. Dari pernikahan dengan Hajar ini maka lahirlah Nabi Isma'il pada saat usia Nabi Ibrahim mencapai 86 tahun. Sang istri pertama Sarah dilanda cemburu berat maka terjadi konflik rumah tangga, maka Nabi Ibrahim memutuskan mengungsikan Istrinya Hajar beserta bayinya Ismail ke Mekkah di sanalah sang Istri Hajar dan sang anak Ismail ditinggalkan di Mekkah dan beranak pinak Bangsa Arab. Dalam berbagai riwayat tidak ditemukan penjelasan apakah Nabi Ismail pernah bertemu atau bertatap muka dengan adik tirinya (Nabi Ishak) yang terlahir di Palestina melalui ibunda Sarah pada saat Nabi Ibrahim berusia 100 tahun.

 

Ada hal menarik dari klaim dua penganut agama Kristen dan Islam tentang siapa yang dikorbankan Nabi Ibrahim saat peristiwa penyembelihan sang anak.

 

Menurut Bible secara tegas menyebutkan lokasi pengorbanan yaitu bukit Moria di Bersheba yaitu Palestina (sekarang dikuasai Pemerintah Israel) lengkap disebutkan nama sang anak yaitu Nabi Ishak sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian 22:2 yang berbunyi, "Ambillah akan anakmu yang tunggal itu, yaitu Ishak yang kau kasihi, bawalah ia ke Tanah Moria, persembahkanlah dia di sana akan korban bakaran di atas sebuah bukit yang akan kutunjukkan kepadamu kelak"

 

Perhatikan dalam kitab kejadian 22:2 tersebut, alasan penyebutan Nabi Ishak sebagai anak tunggal adalah karena Nabi Ismail yang terlahir lebih dulu selisih 14 tahun, karena sejak bayi sudah diungsikan ke Mekkah bersama ibunya Hajar oleh sang Ayahanda Nabi Ibrahim. Sehingga memang pada saat tejadi pengorbanan sang anak di bukit Moria adalah cuma Nabi Ishak saja tidak ada pesaingnya lagi maka disebut sebagai anak tunggal.

 

Bagaimana dengan penuturan menurut Al Qur'an mengenai peristiwa pengorbanan anak oleh Nabi Ibrahim, dapat dibaca di Qur'an Surat As Shaffat 37: 102 yang berbunyi, "Maka tatkala anak itu sampai ( pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

 

Perhatikan bunyi ayat Al Qur'an tersebut :

1) Dalam Al Qur'an memang tidak disebut nama secara tegas anak yang disembelih (dikorbankan) oleh Nabi Ibrahim, hanya disebut dengan kata ganti (Qur'an Surat as shaffat 37:102).

2) Namun ada petunjuk sifat dari anak yang akan disembelih tersebut (Qur'an Surat as shaffat 37:102) yaitu sifat "sabar".

3) Ayat tentang sifat sifat "sabar" pada diri anak yang akan disembelih tsb dapat diverifikasi atau dicek pada ayat quran lain. Siapa saja nabi-nabi yang digolongkan dalam kelompok sifat sabar, yaitu Isma'il, Idris dan Zulkifli. Hal ini dapat dijumpai pada Qur'an Surat Al Anbiya' 21:85 yang berbunyi, "Dan (ingatlah kisah) Isma'il, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar". Nah dari sudut pandang Al Qur'an ini amat jelas berpihak pada Nabi Isma'il bukan nabi Ishak, karena nabi Ishak lebih melekat dengan sebutan anak yang "sholeh" sebagaimana disebutkan pada Qur'an Surat As Shaffat 37:112 yang berbunyi, "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang Nabi yang termasuk orang-orang sholeh".

4) Lokasi penyembelihan juga tidak disebutkan dalam Al Qur'an, mayoritas umat islam (jumhur) meyakini peristiwa pengorbanan atau penyembelihan sang anak oleh Nabi Ibrahim adalah di Mekkah Saudi Arabia, tetapi sekali lagi pendapat ini tidak didukung oleh text kitab suci dalam Al Qur'an, pendapat ini hanya dapat ditemukan dalam hadits atau tarikh islam. Keyakinan tsb didukung oleh terpeliharanya tradisi ritualitas Ibadah Haji dengan kegiatan menyembelih hewan korban setiap momentum Idul Adha setiap tahun sepanjang masa (sekarang dan sampai masa yang akan datang) adalah untuk mengenang peristiwa penyembelihan Nabi Isma'il oleh Nabi Ibrahim yang kemudian digantikan oleh Domba. Begitu pula dalam salah satu rangkaian ibadah Haji, Umat Islam juga mempertahankan ritual melempar jumrah dengan batu kerikil ke tugu juga untuk mengenang peristiwa penyembelihan Nabi Isma'il oleh Nabi Ibrahim yang diganggu iblis agar mengurungkan niat menyembelih anak, dipandang sebagai ide gila dan melanggar HAM dengan cara melempari Iblis dengan batu oleh keduanya, nah perlambang syetan (iblis) itu ditampilkan tugu sebagai sasaran jumrah aqabah para jamaah haji se-dunia. Rangkaian lain dalam ritual Ibadah Haji yang disebut sa'i berjalan mondar-mandir dari Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali juga merupakan upaya mengenang sang Ibunda Hajar yang kebingungan saat sang bayi Ismail yang masih jabang bayi menangis kehausan maka naluri sang ibu mencari air ke Bukit Shafa ternyata hanya sebuah fatamorgana kemudian berpindah ke Bukit Marwa karena seolah-olah melihat air tidak juga ditemukan sehingga mondar-mandir tidak juga ditemukan karena memang fatamorgana semakin menguatkan keyakinan umat islam bahwa penyembelihan anak oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Isma'il bukan Nabi ishak.

 

Nah berdasarkan uraian di atas, boleh jadi klaim kedua belah pihak umat kristen dan umat islam sama-sama benar, karena boleh jadi nabi Ibrahim melakukan penyembelihan (pengorbanan) anak di dua tempat yang berbeda, yaitu di tanah Moria (Palestina) adalah Nabi Ishak, sedangkan di tanah Mekkah (Arab Saudi) adalah Nabi Isma'il.

 

Sebenarnya ada yang lebih penting daripada meributkan soal nama siapa yang dikorbankan Nabi Ibrahim, tanpa bermaksud meremehkan arti penting sebuah nama, yaitu pesan moral yang berlaku universal dari peristiwa berkorban, yaitu jangan terlalu terikat dengan materi entah itu harta, anak, atau uang, pangkat dan berbagai status sosial dan ekononomi. Boleh jadi itu semuanya penting dan menentukan bagi hidup dan kehidupan, tetapi semuanya tidak lebih merupakan titipan atau amanah, bahkan nyawa juga merupakan titipan yang sewaktu-waktu akan diminta oleh yang menitipkan. Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak berbuat ikhlas "memberikan" tanpa perlu terikat lagi karena suka atau tidak, materi yang ada pada diri setiap manusia toh akan berpisah. Karena itu ikhlaslah berkorban, tidak penting apa dan siapa yang kita korbankan, semakin posesif terhadap materi akan semakin kehilangan kemerdekaan, karena hati yang ikhlas itulah yang akan memberikan makna hakiki. Sebagaimana kita menyembelih daging hewan korban yang sampai kepada "Allah" sang Maha Pemilik, bukan darah dan daging yang serba materi melainkan ketaqwaan yakni spiritualitas kita yang sampai kepada Allah yang Maha Kuasa. Karena itulah Allah menyebutkan yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa.

 

Nah kalau kita meributkan klaim siapa yang dikorbankan Nabi Ibrahim, antara Nabi Ismail dan Nabi Ishak, maka kita seperti berebut tulang belulang, apa mau kita meniru perilaku (maaf) Anjing ?, kalau ternyata klaim kedua belah pihak kaum muslim dan kaum nasrani sama benarnya, lantas so what ? Selamat Idul Adha, selamat berkorban secara ikhlas semoga damai di bumi dan kita raih kemaslahatan bersam-sama.

 

Wallahu a'lam bis Shawab (hanya Allah yang Maha Tahu, kebenarannya)

Iklan