Terkait dengan note saya yang terakhir, ada orang-orang yang bertanya seperti ini : “kalau manusia itu hasil evolusi dari monyet, kenapa masih ada monyet-monyet yang tetep jadi monyet?”

 

Saya coba jawab lewat pengetahuan saya yang terbatas :

 

1. Bedakan antara monyet <monkeys> dengan kera <apes>. Kera adalah monyet yang tidak berbuntut. Kera adalah produk evolusi dari monyet. Nah manusia berasal dari evolusi kelas kera, bukan dari kelas monyet secara langsung.  

2.  Kita tidak semestinya mengatakan manusia berasal dari kera. Tepatnya manusia sekarang adalah sepupu dari kera-kera sekarang. Dalam artian, leluhur kita dulu, adik kakak dengan leluhur kera-kerat tsb. Dalam zoology, manusia digolongkan dalam ras kera besar bersama dengan simpanse, bonobo, gorilla, dan orang utan. Tentu saja ada ras-ras yang sudah tidak ditemukan lagi keberadaannya sekarang, dan beberapa diantaranya telah di temukan fosilnya. Beberapa  diantaranya kemungkinan adalah leluhur langsung dari manusia sekarang.

3. Kenapa kera-kera yang ada sekarang tidak berevolusi menjadi manusia? Semua hal di dunia ini mengalami evolusi, tidak ada yang tidak mengalaminya. Itulah hukum dialektika material alm semesta. Perubahan kuantitas mempengaruhi kualitas dan perubahan kuantitas mempengaruhi kualitas. Dan perubahan-perubahan besar itu hanya secara signifikan bisa kita lihat dalam skala ribuan bahkan jutaan tahun, bukan satu dua tahun.

Contoh:

-karena nenek moyang kita mempunyai hobi yang baru yaitu berburu, selain memakan daun-daunan, maka daging yang mereka makan memberi asupan nutrisi yang lebih besar ke dalam otak mereka <peningkatan kuantitias>

 

-karena nutrisi yang banyak ini pula memberi lompatan evolusi dalam otak mereka sehingga terbentuklah jaringan-jaringan sinaps dalam neocortex otak leluhur kita yang lebih besar dan rumit. Pada gilirannya ini akan memampukan mereka mencerap pemahaman baru seperti halnya abstraksi idea-idea besar such as keterjaminan hidup, keadilan, perhatian yang mendalam, dll. <inilah peningkatan kualitas otak>.

 

Peningkatan kualitas otak inipun membantu meningkatkan kuantitas volume tubuh manusia. Dengan volume otak yang besar dan cara kerjanya yang lebih sophisticated maka penyerapan nutrisi dari makanan akan lebih besar, dan tubuh kita semakin tinggi dari kera-kera lainnya. Dengan kualitas otak yang prima ini maka ras manusia bisa berjalan lebih tegak, bulunya mengecil dan semakin jarang, koordinasi gerakan ototnya  lebih luwes, wajahnya semakin tampan dan cantik, kemudian kemampuan aksinya lebih canggih spt berkomunikasi dan berburu, mencipta,  memelihara dan meningkatkan hasil karyanya.

 

Peningkatan kualitas otak ini nantinya di dalam evolusi agama memberi ruang kepada manusia untuk mewujudkan idea-idea besar ttg misteri alam semesta ke dalam abstraksi-abstraksi idea-idea agama seperti halnya  surga dengan kebahagiaan abadi, neraka jahanam, 72 bidadari berdada montok, figur-figure ketuhanan dsb.

 

4. Evolusi manusia bisa begini gegap gempita karena kemungkinan, jutaan tahun yang lalu, ada perubahan iklim besar yang membuat perubahan mendadak atas keberlangsungan hidup mereka. Mungkin Afrika Timur yang sebelumnya subur menjadi tanah yang kering dan tandus, sehingga leluhur kita dengan enggan turun dari pepohonan dan mencari mangsa di sabana. Generasi demi generasi mereka berpindah-pindah dari satu sabana ke sabana yang lain demi makanan.  Begitulah akhirnya perjalanan evolusi kera besar ini menghasilkan kita.

 

5. Evolusi suatu ras hewan dari satu tempat ke tempat lain, bisa berbeda secara signifikan tergantung dengan keadaan materil dari tempat di mana si hewan ini hidup. Kita bisa lihat ini dalam kasus simpanse dan bonobo. Sampai pada tahun 1929 tak seorangpun menaruh perhatian tentang perbedaan simpanse dan bonobo, mereka berpikir keduanya adalah spesies  yang sama, sampai Ernst Schwarz mempublikasikan penemuannya bahwa simpanse dan bonobo adalah spesies yang berbeda.

 

Bonobo hanya ditemukan di Sungai Kongo. Jutaan tahun sebelumnya sungai itu adalah danau besar yang mengering dan menjadi sungai. Aliran sungai tersebut kemudian menjadi garis marka dua ras simpanse yang sama, satu di utara dan satu di selatan. Setelah jutaan tahun terpisah, simpanse di utara tetap memiliki kurang lebih kesamaan sifat dengan simpanse2 di tempat lain di Africa, sedangkan simpanse yang di selatan yang kita sebut bonobo memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari saudara-saudara mereka di utara.

 

-Bonobo memiliki raut wajah sedih, tidak seperti simpanse yang ceria.

-Bonobo memiliki karakter yang lembut dan bersahabat satu sama lain dalam kelompoknya. Bedakan dengan simpanse yang terbiasa dengan keributan dan persaingan.

-Koloni bonobo diketuai oleh bonobo betina atau matriakal, berbeda dengan simpanse yang patriakal.

-Dalam koloni Bonobo jarang sekali ditemukan kasus-kasus perkosaan terhadap betina-betina, hal ini kontras dengan koloni simpanse yang male chauvinistic, dan sering memperlakukan betina dengan kasar.

 

http://en.wikipedia.org/wiki/Bonobo

 

Sekali lagi ini membuktikan kesahihan Dialektika Material, bahwa semua aspek dalam kehidupan ini mengalami dialektika, dialektika itu tidak tunggal melainkan tak terhingga, serempak dan mutli dimensi. Dengan ini dialektika ala Hegel yang ideal digantikan dengan Dialektiak Material ala Karl Marx danFrederick Engelsch. Zeitgist, roh jaman, dalam pemahaman Hegel bukanlah kuasa semesta yang menggerakkan sejarah ke dalam sinkronisme suatu cetak biru sejarah semesta atau teolologis yang sebelum segala jaman telah diatur oleh suatu ilah dengan segala kedaulatannya, melainkan semata-mata adalah nteraksi material itu sendiri.

 

Peningkatan kuantitas mempengaruhi kualitas dan peningkatan kualitas mempengaruhi kuantitas. Dialektika dipengaruhi dengan materi-materi yang mengitarinya. Tidak mungkin dipengaruhi oleh materi yang tidak ada pada sekitarnya.

 

Nah tidakkah anda lihat bahwa kepribadian, budaya dan worldview mereka juga ditentukan oleh materi-materi yang mengelilingi mereka?

 

 

Hal ini juga terjadi dengan manusia. Sedari kecil kita ditanamkan bahwa ras kita adalah bla-bla-bla; agama yang kita anut adalah bla-bla-bla; mereka yang tidak seagama dengan kita adalah bla-bla-bla.

 

Identitas palsu demikian membekas dalam subkesadaran kita dan membentuk kita menjadi seperti ini.  Adalah tugas kita untuk memaparkan bahwa identitas-identias demikian adalah ilusif.

 

Seandainya Ahmad Dinejad, Rizieq Shihab, Tifatul dan konco-konconya terlahir jadi Yahudi, apa mau mereka melihat orang-orang dengan beringas mengatakan “bunuh Yahudi, hapuskan dari peta dunia, kami akan jadikan Hollocaust kedua!” Seandainya anak-anak mereka yang sedang bersekolah kemudian dilempari roket oleh Hammas, apa mereka akan diam?

 

Sebaliknya seandainya para warga Israel ini terlahir jadi anak-anak di pengungsian Palestina, bukankah mereka juga sama –sama akan berteriak meminta keadilan?

 

Kita adalah manusia yang terjebak dalam identitas-identitas ilusif ini.  Dan sayangnya justru agama-agamalah yang menanamkan identitas palsu ini. Para agamawan telah buncit perutnya menikmati keuntungan materil yang didapat dari membodoh-bodohi kaum awam yang sederhana cara berpikirnya. Otak para rohaniwan sudah terlalu debil untuk belajar lagi, karena mereka takut semakin cerdas mereka, semakin sadar bahwa keyakinan mereka berdasar atas asumsi-asumsi dan mitos.

 

Melihat bahwa hidup ini penuh dengan identitas artificial, maka apa yang kita bisa lakukan adalah bersikap bahwa mau tak mau memang kita beridentitas ini dan itu, namun dalam skala kemanusiaan yang lebih luas sesungguhnya tidak ada pembeda yang ajeg, tetap dan mutlak. Mereka yang sering mengagung-agungkan dan mendirikan tembok-tembok pemisah kemanusiaan itu, layak kita lucuti, telanjangi, permalukan dan hancurkan, bukan dengan kekerasan, namun dengan memperlihatkan kesalahan pandangan mereka yang sumpek, cupet, diskriminatif irrasional, dan tidak membumi.

 

Dengan menyadari bahwa kita adalah bagian dari evolusi semesta sekaligus bagian dari alam semesta yang satu padu, maka adakah suatu entity yang tetap, ajeg, tanpa mengalami perubahan dan kekal yang bisa kita pegang? Adakah suatu ajaran, agama, kitab, tokoh, dan suatu figure ilahi yang mutlak benar, tanpa cacat cela, sempurna dan tidak bisa dikritik lagi?  

 

"Sesungguhnya segala sesuatu itu tidak kekal, tiada inti yang sejati, dantidak menjamin kepuasan sejati. Semua bentuk kehidupan itu bercirikanannica, annata dan dukkha. "demikianlah inti mata kuliah Spiritualitas 101 dari Prof. DR. Gautama PhD 2500 tahun yang lalu.   



Iklan