Perang harus dimulai oleh satu penyebab yang namanya casus belli. Kemarin kita dikejutkan oleh serangan artileri Korea Utara ke satu pulau berpenduduk di wilayah Korea Selatan.

Jazirah Korea ditinggali satu bangsa dengan peradaban tinggi sejak jaman kuno. Jaman dulu Korea jadi bulan-bulanan 2 tetanggga yang lebih hebat yaitu China dan Jepang.

Ketika abad ke-20 menguak, armada kekaisaran Jepang mengalahkan armada kekaisaran Rusia pada di Asia Timur pada tahun 1905. Kemenangan Jepang atas bule Rusia itu membangkitkan psyche rendah diri orang Asia. Horee, horee, Jepang Asia menaklukkan bule Eropa. Semangat bangsa Asia terjajah tersulut.

Nah, dalam kemenangannya, Jepang mencaplok jazirah Korea. Waktu itu belum ada PBB sehingga caplok mencaplok boleh seenaknya terserah mana yang kuat.

Perang Pasifik berakhir dengan kekalahan kekaisaran Jepang tahun 1945. Wilayah negara taklukan boleh dibagi pemenang yaitu Sekutu yang terdiri dari blok Barat dan Uni Soviet, Begitulah, Jazirah Korea sebelah Utara ikut blok Soviet dan sebelah Selatan ikut blok Barat.

 

PBB yang lagi berjaya mengadakan pemilu bagi bangsa semenanjung Korea. Penduduk sebelah Utara tidak mau ikut pemilu. Nggak ada itu pemilu dalam sistem diktator proletariat, begitu barangkali kata mereka. Maka pihak Utara menyerang Selatan ya itulah Perang Korea.

Secara all out PBB membela pihak Selatan yang terdzolimi. Banyak negara PBB ikut berperang di bawah bendera PBB termasuk Filipina dari Asia dan Ethiopia dari Afrika. Pihak Utara dibela oleh Uni Soviet dan komunis China yang waktu itu bukan anggota PBB.

Ringkas cerita, PBB yang menang. Maunya Jendral MacArthur sebagai komandan menggilas terus pihak agresor sampai Pyong Yang tapi dilarang pimpinan politik di Washington yang tidak ingin perang dunia pecah kembali. Gencatan senjata di tandatangani di Panmunyom di 38 derajat Lintang Utara. Cuma gencatan senjata, bukan persetujuan damai. Jadi resminya pihak Utara masih dalam keadaan perang dengan Selatan.  

Agresi pihak Utara banyak. Yang besar adalah pembunuhan terhadap separuh kabinet Korea Selatan ketika presiden  berkunjung ke Rangoon awal dasawarsa 1980an Lalu peledakan pesawat Boeing 747 Korean Airlines di Samudra Hindia. Terakhir bulan Maret yang lalu, kapal perang Korea Selatan ditenggelamkan.

Sama-sama satu bangsa berperadaban lama, kita menyaksikan dampak 2 ideologi. Di Utara, mereka tak bergeming tetap memegang erat haluan diktator proletariat tak peduli oleh runtuhnya Tembok Berlin. Di Selatan dunia menyaksikan sebuah evolusi benign dictatorship Sing Man Rhee perlahan menjadi demokrasi sesungguhnya.

Di Utara kita saksikan penyimpangan sistem mencolok. Hanya di Utara ada sistem komunis yang dikuasai raja turun temurun, mulai Kim Il Sung lalu  anaknya lalu cucunya. Rakyat dicuci otak untuk menyembah sang raja. Semangat nasionalisme dipecut, kemelaratan kelaparan dilupakan. 

Bermula sebagai bangsa termiskin di Asia, sekarang Korea Selatan jadi negara maju. Apa rahasianya? Mulanya pemerintahan bertangan besi.demi kemajuan bangsa.  Mereka ditempa disiplin, otaknya dan kerja kerasnya. Anak kecil di sekolah diajari begini: "Hee anak-anak, ingat ya negara kita alamnya miskin banget. Agar kamu nanti tidak miskin, kamu harus rajin belajar dan bekerja keras." Negara berfungsi sebagai knowledge provider. Anggaran R&D 3.5 persen    dari APBN

Mari kita saksikan kelanjutannya.

 

RM

Jakarta, 24 November 2010