Kewajiban berjilbab bagi seluruh siswi di semua sekolah negeri/ swasta—dari tingkat SD/MI, SLTP/MTS hingga SLTA/SMK/MA—di Padang berasal dari Instruksi Walikota Padang, Fauzi Bahar yang ditetapkan 7 Maret 2005. Sejak saat itu kontroversi pun meledak. Sebagaimana Perda-Perda atau aturan-aturan yang berbasis pada syariah di daerah-daerah lain, sasaran utama dari Instruksi Walikota Padang ini pada dua kelompok: perempuan dan non-muslim.

Jilbab yang merupakan pilihan pribadi dari perempuan yang ingin memakainya ataupun tidak, jilbab yang berhubungan erat dengan pemahaman pribadi seseorang terhadap agamanya, namun dengan Instruksi tersebut perempuan akan terpaksa memakai jilbab. Kelompok non-muslim pun di daerah-daerah yang menerapkan peraturan berbasis pada syariah, akan merasa terganggu, bahkan terancam kebebasannya, baik sebagai warga negara atau sebagai pemeluk agama yang berbeda dari Islam.

Alasan Walikota

Dalam acara Topik Minggu di SCTV, 9 Agustus 2006, Walikota Padang, Fauzi Bahar memberikan alasan-alasan yang konyol di balik penerapan kewajibab jilbab itu. Menurutnya, ada beberapa keuntungan yang didapat. Pertama, murid SD, SMP, hingga SMA terhindar dari gigitan nyamuk “Aedes aegypti” (jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah) dengan berbusana muslimah. Kedua, anak-anak gadis tidak gengsi masuk sekolah karena setelah mereka berjilbab tidak perlu malu karena tidak memakai perhiasan, baik kalung atau anting. Ketiga, sejak diterapkannya kewajiban jilbab, wilayah Padang telah aman dari penjambretan, karena perempuannya telah tertutup. Fauzi Bahar juga menambahkan dengan memberi contoh lain yaitu wilayah di Bukit Tinggi yang cuacanya dingin, maka perempuan yang naik motor tidak akan kedinginan atau masuk angin karena berjilbab!

Alasan Walikota ini jelas mengada-ada. Perlindungan dan pemberantasan terhadap nyamuk yang menyebabkan demam berdarah tidak ada hubungannya dengan busana muslim. Melalui program Departemen Kesehatan untuk memberantas nyamuk jenis ini dikenal langkah 3 M: Menguras, Menutup, dan Mengubur. Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang melekat pada dinding bak mandi. Menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur. Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan dan dijadikan tempat nyamuk bertelur.

Ternyata Walikota Padang ini menambahkan satu kata M: memakai busana muslimah! Alasan kedua juga jelas tidak pernah ada, siswi yang tidak masuk karena malu tidak memakai perhiasan. Jelas-jelas sekolah adalah tempat belajar, bukan pesta, atau mejeng sehingga tidak ada hubungannya dengan persoalan perhiasan dan busana. Sedangkan penjabretan adalah masalah kriminal, tidak ada hubungannya dengan busana perempuan. Kemiskinan dan pengangguran adalah sebab utama dari penjambretan, serta lemahnya penegakan hukum dari aparat pemerintah. Untuk menghindar dari penjambretan dengan mewajibkan perempuan harus berbusana tertutup sama saja dengan menyatakan penyebab pelecehan seksual terhadap perempuan karena perempuan berpakaian terbuka. Bukan pelaku pelecehan dan kejahatan yang dihukum, namun justeru perempuan yang terus disalahkan. Di sinilah perempuan menerima diskirimiasi dan kekerasan yang berlapis.

Dalam dialog Topik Minggu tersebut, Fauzi Bahar dengan penuh percaya diri, menyatakan tidak ada protes dari wali murid, karena aturan itu hanya diwajibkan untuk siswa muslim, sedangkan yang non-muslim tidak diwajibkan. Fauzi Bahar mengulang-ulang pernyataan ini hingga dalam wawancaranya yang terbaru dengan Tempo edisi 8, 14-20 April 2008. Menurutnya jika ada sekolah yang terbukti memaksakan pemakaian jilbab terhadap siswa nonmuslim, ia akan menindak tegas. ”Sebutkan dan akan kami copot kepala sekolahnya,” ucapnya.

Namun kenyataan di lapangan membuktikan yang berbeda dari pernyataan Fauzi Bahar. Melalui penelitian yang saya lakukan di Padang, Sumatera Barat selama seminggu, 31 Maret hingga 4 April 2007 membuktikan banyaknya siswi-siswi non muslim yang terpaksa berjilbab, bila tidak memakai mereka tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas. Fokus penelitian saya adalah, “Dampak Peraturan Busana Muslimah (Jilbab) terhadap Guru dan Siswi Non Muslim di Sekolah-sekolah Negeri Umum”.

Perda Syariah dalam Ranah Sumatra Barat

Penduduk Sumatera Barat adalah mayoritas muslim, mereka membanggakan diri dengan slogan, adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (adat yang bertopang pada syariat [Islam], dan syariat [Islam] yang betopang pada al-Quran). Melalui slogan ini pula, persepsi keislaman sangat kuat di ranah Minang itu, dan menganggap suku Minang dengan Islam seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam konteks Sumatera Barat secara umum, menurut penelitian yang dilakukan oleh Sudarto, seorang anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Sumatera Barat, telah ada sekitar 23 Perda berbasis Syariah yang terbagi menjadi empat macam. Pertama Perda yang masuk dalam kategori anti-maksiat. Kedua, Perda wajib bisa baca al-Quran. Ketiga Perda yang mewajibkan busana muslim. Keempat Perda zakat.

Dari jenis-jenis Perda tersebut yang sangat diskriminatif terhadap perempuan, selain Perda Busana Muslim adalah Perda anti-Maksiat, karena menganggap perempuan sebagai sumber maksiat, sehingga objek sasaran tangkapnya selalu perempuan. Sudarto mencontohkan dalam aksi-aksi sweping yang dilakukan baik oleh aparat keamanan atau Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), misalnya kalau terjadi penangkapan terhadap pasangan dari sebuah hotel yang selalu menjadi sasaran comooh dan korban adalah perempuan.

Islam sebagai simbol sangat kuat di Sumatera Barat, khususnya di Padang. Melalui survei sosial keagamaan yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Juli 2007 menunjukkan temuan-temuan yang mencengangkan dan mengkhawatirkan.

Secara mayoritas, Padang yang berpenduduk 787.740 jiwa (data tahun 2004) berafiliasi pada partai yang berdasarkan agama (Islam) 53.7%. Sedangkan partai nasionalis sekuler hanya mencapai 31.7%. Sementara perolehan suara Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) rata-rata sama di Padang.

Dalam masalah pandangan masyarakat Padang terhadap bentuk negara dan isu aturan-aturan negara dengan berdasarkan pada syariah memperoleh jawaban yang ambigu. Ketika ditanya “apakah Indonesia negara Islam atau bukan” jawabannya: 97% bukan, negara Islam 2.4%, namun ketika ditanya “setuju atau tidak setuju aturan-aturan berdasarkan ajaran Islam”, jawabannya: setuju (58.5%), tidak setuju (36.6%).

Dua isu berbasis syariah: wirid dan busana muslim juga memperlihatkan hasil yang mencengangkan. Ketika responden ditanya “perlukah Perda kewajiban wirid bagi siswa/i” jawabannya adalah: perlu (87.8%), tidak perlu (9.8%). Dan saat dilanjutkan dengan pertanyaan “tidakkan Perda ini diskriminatif terhadap warga lain yang tidak beragama Islam” jawabannya: tidak diskriminatif (87.8%), ya (7.3%).

Sedangkan kewajiban busana muslim (jilbab dan baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan: kecuali wajah dan dua telapak tangannga) hasilnya: perlu (92.7%), dan tidak perlu (4.9%). Ketika ditanya “apakah Perda tersebut tidak diskriminatif terhadap pemeluk agama lain” jawabannya: tidak diskriminatif (80.5%), diskriminatif (14.6%).

Meskipun sangat tinggi harapan dan dukungan masyarakat Padang terhadap Perda Syariah, namun ketika ditanya “siapa yang punya usul/inisiatif pertama kali Perda itu”, jawabannya adalah: pemerintah daerah (75.6%), sedangkan ormas/kelompok masyarakat (12.2%). Demikian juga ketika ditanya “draft Perda itu dibuat siapa”, jawabannya: Pemda (76.6%). Hal ini menunjukkan bahwa lembaga eksekutif (pemerintah daerah) memiliki peran yang sangat sentral dalam mengusulkan dan membuat peraturan yang berdasarkan syariat Islam.

Demikan dengan Peraturan busana muslim di Kota Padang yang berasal dari Instruksi Walikota Padang, Fauzi Bahar, nomor 451.422/Binsos-iii/2005. Instruksi tersebut ditujukan kepada: Kepada Dinas Pendidikan Kota Padan, kepada Kantor Departemen Agama Kota Padang, Ketua DMI Kota Padang, Camat se Kota Padang, Lurah se Kota Padang.

Instruksi Walikota itu berisi 12 poin. Aturan busana muslim termaktub dalam poin kesepuluh, “BAGI Murid/Siswa SD/MI,SLTP/MTS dan SLTA/SMK/MA se Kota Padang diwajibkan berpakaian Muslim/Muslimah yang beragama Islam dan bagi non Muslim dianjurkan menyesuaikan pakaian (memakai baju kurung bagi Perempuan dan memakai celana panjang bagi laki-laki)”.

Dari Instruksi tersebut, Kepada Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Padang, Dr. H. Mardjohan, M.Pd menyebarkan Instruksi tersebut melalui “Surat Pengantar Instruksi Walikota Padang” bernomor 1565/420.DP/TU.2/2005 tanggal 30 Maret 2005 yang ditujukan kepada Kepada SMP, SMA, SMK Negeri/Swasta dan Kacabdin Pendidikan berserta SD yang berada dalam jajarannya.

Sebagaimana yang termaktub dalam Instruksi tersebut, atau dalih Walikota melalui wawancara baik di media, atau pun komentar-komentar resminya, murid-murid non-muslim tidak diwajibkan berbusana muslim.

Temuan saya selama melakukan penelitian di Padang, siswi-siswi non-muslim di sekolah umum negeri dan swasta: SMP, SMU, SMK, SMP-SMU PGRI, SMP-SMU Pertiwi, dan lain-lain (kecuali di sekolah-sekolah Katolik) terpaksa memakai jilbab. Saya melakukan wawancara dengan beberapa siswi Kristen dan orang tua murid mereka. Demikian wawancara dengan pendeta dan pastor gereja yang merupakan tempat pengaduan segala keluh-kesah dari anggota jemaat mereka.

Beberapa temuan:

1. Melalui pengamatan secara langsung terhadap beberapa sekolah negeri umum pemerintah dan swasta, dari SMP, SMU, dan SMK seluruh siswi-siswinya memakai jilbab. Jilbab bagi siswi disamakan dengan aturan baju seragam yang menjadi kewajiban siswi untuk masuk sekolah, seperti baju putih lengan panjang, dan rok warna abu-abu (untuk SMA), biru (untuk SMP) dan merah (untuk SD), sepatu hitam, kaos kaki putih, dan topi sekolah.
2. Pandangan umum sekolah-sekolah negeri telah berubah menjadi sekolah agama (madrasah) melalui busana muslimah yang dikenakan oleh siswi—sedangkan siswa berkewajiban memakai baju “taqwa” (koko) pada hari Jumat—sekolah-sekolah umum negeri juga dipenuhi dengan papan, baleho, dan simbol-simbol keislaman lainnya. Selain itu setiap jumat ada kuliah tujuh menit (Kultum) yang berisi ceramah agama yang tujuannya menguatkan keimanan.
3. Secara umum kondisi umat Kristen di Padang merasa tertekan dengan adanya Perda-perda dan aturan yang berdasarkan syariat Islam. Kondisi tersebut disampaikan oleh anggota jemaat Gereja Kristen Protestan atau pun Katolik pada gereja.
4. Instruksi tersebut yang telah berusia tiga tahun telah menyebabkan siswi-siwi non muslim terpaksa memakai jilbab.
5. Pengakuan tersebut bisa disimpulan sebagai kecenderungan umum di Padang, karena diperkuat juga oleh kesaksian para pendeta dan pastor yang menerima secara langsung keluhan anggota-anggota jemaatnya karena anak-anak mereka harus memakai jilbab ke sekolah
6. Alasan siswi dan orang tua murid yang tetap menyekolahkan putri-putri mereka di sekolah umum negeri: (a) sekolah umum negeri lebih murah (2) lulusan sekolah umum negeri lebih mudah diterima di Perguruan Tinggi terkenal di Jawa (3) ingin mengikuti lomba, olimpiade, dan kegiatan lainnya yang lebih diprioritaskan pada sekolah umum negeri (4) ingin mengenal kemajemukan suku dan agama.
7. Orang tua yang ingin menghindar dari aturan tersebut memindahkan anak-anak mereka secara langsung ke sekolah-sekolah Katolik/Kristen, atau menyekolahkan anak-anak mereka di luar daerah Sumantera Barat: Bengkulu, Riau, Medan, dan lain-lain. Sejak ditetapkan aturan tersebut, puluhan siswi Kristen pindah sekolah ke luar daerah Sumantera Barat.
8. Aturan tersebut tidak hanya memaksa siswi non muslim untuk memakai jilbab, namun juga siswi-siswi muslimah yang terpaksa memakai jilbab sebagai peraturan sekolah. Dari survei yang dilakukan oleh Sumatera Barar Intellectual Society (SIS) yang dipublikasikan di Padang Ekspres, Minggu 30 Maret 2008, 69 persen siswi-siswi sekolah dari SMP hingga SMU dalam sehari-harinya di luar sekolah tidak memakai jilbab, dan hanya 31 persen siswi yang sehari-harinya memakai jilbab.

Kondisi Kelompok Non-Muslim

Kewajiban busana muslimah pada siswi-siswi sekolah di Padang menyebabkan kekerasan psikis dan teologis terhadap siswi-siswi non-muslim. Hal ini terbukti pada Fransiska Silalahi, Siswi kelas 3 SMU 1 Padang yang terpaksa memakai jilbab ke sekolah selama tiga tahun. Sejak Siska—demikian ia biasa disapa—duduk di kelas 1 di tahun 2005 sewaktu aturan busana muslimah ditetapkan.

Awalnya Siska enggan memakai jilbab pada hari pertama ia masuk sekolah. Namun ia ditegur kakak kelasnya karena tidak memakai jilbab. Siska berkelit bahwa ia non-muslim. Siska tidak bisa lagi berkelit setelah ada pengumunan dari kepala sekolahnya siswi non muslim pun wajib memakai jilbab.

Meskipun dalam proses belajar dan kegiatan-kegiatan lain di sekolah Siska yang beragama Kristen tidak pernah menerima perlakuan diskriminatif, namun ia tetap menyesalkan adanya peraturan busana muslimah, karena mewajibkan siswi-siswi non muslim berjilbab (wawancara Siska di Box).

Seorang pendeta bernama John Robert Pardede dari Gereja Metodis Indonesia (GMI) menyatakan bahwa pemaksaan aturan-aturan yang berbasis pada syariat Islam telah membuat sakit hati kelompok non muslim, dan mereka juga terpaksa mengingkari hati nurani.

Menurut pengakuan Pendeta John, ia sering mendapat keluhan dari anggota jemaatnya, “tidak hanya anak-anak Kristen yang diwajibkan memakai jilbab di sekolah-sekolah, namun juga jemaat kami yang bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) terpaksa memakai jilbab,” katanya. Untuk menghindari dari peraturan tersebut banyak anggota jemaat Kristen yang memindahkan anak-anak mereka ke sekolah Kristen dan Katolik, “hal ini dilakukan agar anak-anak mereka terhindar dari pemaksaan itu,” tambahnya.

Sebagai kelompok minoritas, Pendeta John melihat posisi ini sangat rumit dan tidak berdaya. Ketika ditanya tentang penolakan dari kalangan Kristen, menurutnya Kristen tidak bisa melawan.

“Kami tidak bisa melawan, kami sadar inilah resiko menjadi kelompok minoritas, kami hanya terus introspeksi, kami melihat tidak ada jalan lain kecuali dengan mematuhi aturan ini,” kata Pendeta John.

Ketika Pendeta John menerma keluh-kesah dari anggota jemaatnya karena anak-anak mereka terpaksa memakai jilbab, Pendeta John hanya bisa membesarkan hati mereka dan berkata, “tidak apa-apa tutup kepala kalian dengan jilbab, tapi tutup hati kalian dengan iman kepada Allah kita.”

Bagi Pendeta John, jilbab tetaplah simbol agama tertentu yang sebenarnya tidak bisa dijadikan peraturan umum agar dipakai oleh seluruh anggota masyarakat yang berbeda dari agama itu. “kami melihat jilbab sebagai simbol agama (Islam) yang diharuskan dipakai oleh pemeluk agama lain (nonmuslim), dan kami (Kristen) sering mengingkari hati nurani kami, kami terpaksa memakai simbol-simbol yang tidak kami yakini,” tutur Pendeta John.

Memakai jilbab karena terpaksa harus dijalani oleh kalangan Kristen di Padang, meskipun menyakitkan perasaan. Rasa sakit ini juga dirasakan oleh anggota jemaat Pendeta John yang menceritakan keluhan mereka. “Mereka merasa sakit, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Pernah suatu ketika saya datang ke rumah jemaat, dan anak-anak mereka datang ke sekolah, yang perempuan memakai jilbab, saya agak kebingungan dan tidak enak hati, jemaat saya Kristen kok anak-anaknya pakai jilbab, hampir saja saya tidak mengenal mereka, karena memakai jilbab itu,” kata Pendeta John.

Sedangkan bagi seorang ibu dan guru sekolah di sebuah sekolah umum di Padang yang menganut agama Kristen Protestan dan seorang ibu dari dua siswi yang terpaksa pakai jilbab ke sekolah, baginya peraturan tersebut memberi kesan ingin menghilangkan komunitas agama Kristen dan agama lain di luar Islam. (lihat bagian wawancara dengan seorang ibu wali murid dan guru sekolah)

Dampak psikologis lain yang didapat oleh siswi-siswi non muslim adalah rendah diri. Hal ini diungkapkan oleh Romo Agus dari Keuskupan Padang. Menurut Romo Agus di atas kertas ia mengakui bahwa aturan tersebut diperuntukkan mengatur guru dan siswa yang muslim, namun kenyataannya di sekolah-sekolah siswi-siswi non muslim dipaksa untuk memakai jilbab.

Menutur Romo Agus perasaan siswi-siswi nonmuslim itu sebenarnya menolak untuk berjilbab, tapi mereka tidak mau dikeluarkan dari komunitas sekolah dan dijauhi teman-temannya karena tidak memakai jilbab.

“Secara psikologis, mereka sebenarnya menolak untuk memakai jilbab, tapi mereka juga tidak mau merasa ditolak oleh teman-temannya dan sekolahnya kalau tidak memakai jilbab,” tutur Romo Agus. “Perasaan itu juga muncul ketika teman-temannnya yang memakai jilbab tidak ikhlas untuk bergaul karena dianggap bukan bagian dari komunitas, dengan demikian mereka yang sebenarnya ingin menolak mau tidak mau harus melaksanakan peraturan ini, karena mereka mau ditolak oleh komunitasnya,” kata Romo menambahkan.

Romo Agus menyayangkan peraturan yang diskriminatif ini ada di sekolah. “Padahal seharusnya sekolah adalah komunitas pendidikan yang terbuka, satu sama lain saling menerima,” kata Romo Agus. Namun dengan adanya aturan tersebut, tujuan pendidik untuk mebuka karaktar siswa tidak tercapai karena adanya penyeragaman itu. “Dengan berlakunya penyeragaman uniform (semua harus berjilbab), ini berarti siswa tidak dididik untuk menerima kemajemukan dan pluralitas, sehingga mereka hanya mengerti bahwa kehidupan pendidikan hanya satu warna saja,” tambah Romo Agus.

Hal senada juga disampaikan oleh Pendeta Robert Marthin, Ketua PGI Sumatera Barat. Aturan kewajiban jilbab tersebut merupakan perlakuan yang tidak adil terhadap kurang lebih 22.000 pemeluk Kristen di Sumatera Barat. Menurut catatan yang dimiliki antara tahun 2005-2006, kurang lebih ada 22 siswi yang melanjutkan studinya di luar kota ini atau mereka kembali ke kampung meskipun orang tuanya berada di Padang. Menurut Pendeta Marthin, awalnya aturan jilbab di sekolah-sekolah tidak mengejutkan pemeluk Kristen, namun ketika siswi-siswi Kristen harus pakai jilbab mereka langsung tertekan.

“Memakai jilbab atau tidak memakai jilbab bukan hal yang mengejutkan, tetapi yang sangat berdampak dan membuat shock adalah ketika siswi-ssiwi Kristen juga harus memakai jilbab. Perlakuan dan komentar tidak adil tidak hanya behenti di sini, meskipun siswi-siswi Kristen sudah memakai jilbab, tidak lepas dari komentar. Misalnya keluar perkataan, orang Kristen kok pakai busana Muslim?” kata Pendeta Marthin dalam wawancaranya dengan Jurnal Perempuan ketika ditanya kondisi terakhir umat Kristen di Padang. Kondisi yang serba salah, apabila siswi Kristen tidak memakai jilbab maka mereka tidak akan bisa masuk sekolah dan mengikuti pelajaran, memakai jilbab pun tidak lepas dari komentar tadi: orang Kristen memakai simbol Islam.

Menghadapi situasi yang rumit ini, Pendeta Marthin telah berusaha untuk memberikan respon, baik terhadap pemerintah atau kepada jemaat gerejanya. “Ada dua cara yang kami tempuh. Pertama, gereja melalui PGI mencoba membicarakan hal ini kepada Pemerintah, dalam hal ini Walikota. Kedua, memberikan pemahaman tentang hal ini kepada para orang tua. Akhirnya kami berkata kepada para jemaat di Padang bahwa yang penting adalah keimanan, soal busana atau berpakaian hanyalah tampilan luar, tapi yang penting iman dan keinginan untuk belajar yang baik dari anak dan pemberian pemahaman kepada anak agar mengerti kondisi yang seperti itu. Mau bagaimana lagi, sebab jika kita tidak mengikuti, siswa-siwi kita mau bersekolah di mana?” kata Pendeta Marthin.

Peraturan kewajiban jilbab terus jelas-jelas sangat diskriminatif baik terhadap siswa perempuan dan kelompok non-muslim di Kota Padang. Namun Pemerintah dan anggota Legislatif tidak melihat adanya unsur diskriminasi ini. Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Walikota selalu tidak mengaku bahwa peraturan ini telah memakan korban siswi non-muslim. Demikian pengakuan dari Dra. Nurmaini Jamar, Sekretaris Fraksi PAN, DPRD Kota Padang, Komisi Pendidikan ketika ditanya peraturan tersebut ia mengatakan “wajar-wajar saja”.

“Aturan ini tidak masalah untuk siswa yang muslim, karena untuk sesama muslim memang ada aturan. Aturan-aturan yang dikeluarkan oleh Walikota Padang yang mayoritas penduduknya muslim menurut saya wajar-wajar saja asal peraturan ini tidak diberlakukan pada yang non-Muslim,” katanya.

Ketika ia disodorkan fakta dari lapangan peraturan itu juga dipaksakan juga ke siswi non-muslim, ia menjawabnya sebagai “kasus”. “Itulah yang saya sebut kasus, karena yang terjadi antara peraturan dan keyataan di lapangan tidak sama. Jika terjadi kasus-kasus seperti ini di lapangan, seharusnya kita carikan solusinya bersama. Pihak yang mengeluarkan peraturan tentu ada aturan-aturan yang mengatur hal ini. Kita yang mengetahui kasus-kasus di lapangan seperti ini, perlu melaporkan kasus ini kepada pihak-pihak yang mengeluarkan peraturan (penguasa) untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan karena tentu ada sanksi terhadap orang-orang yang tidak memiliki komitmen terhadap peraturan yang telah ditentukan ini,” tambah anggota DPRD yang berasal dari partai politik yang sama dengan walikota Padang.

Rekomendasi

Melalui fakta yang terjadi di lapangan, kewajiban jilbab terhadap siswi-siswi di Kota Padang dan Sumatera Barat ada beberapa hal yang bisa dijadikan rokemendasi.

Pertama, mencabut instruksi Walikota itu yang jelas-jelas merupakan bentuk diskriminasi terhadap siswi perempuan secara umum, siswi muslim, dan non-muslim yang terpaksa memakai jilbab secar khusus. Dalam konteks Islam, hukum jilbab masih memiliki perbedaan pemahaman, ada yang mewajibkan dan ada pula yang tidak mewajibkan (seperti almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid, KH Abdurrahman Wahid, dan ahli tafsir Prof. Dr. Quraish Shihab). Hukum jilbab tidaklah seperti kewajiban dasar-dasar Islam seperti syahadat, salat, puasa, zakat dan haji. Jilbab bukanlah persoalan pokok (ushul).

Oleh karena itu aturan yang mewajibkan jilbab maka telah menafikan keragaman tafsir dalam Islam dan sebagai bentuk pemaksaan satu pendapat atau satu pemahaman terhadap pemahaman dan pendapat yang lain. Lebih-lebih dalam konteks ini siswi-siswi non-muslim pun harus mematuhi aturan ini. Dan bagi siswi-siswi non-muslim aturan jilbab ini merupakan memaksakan satu simbol agama kepada penganut agama yang lain dengan menggunakan dalih aturan-aturan sekolah.

Dalam konteks Sumatera Barat sendiri, slogan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah bukanlah satu-satunya slogan yang dikenal dan ditaati—slogan ini baru populer setelah adanya kecenderungan Islam Politik. Sedangkan dua ujaran lain adat salingka nagari (adat menurut wilayah) dan Sakali aia gadang, sakali tepian berubah (Sekalia air pasang, maka tepian akan berubah) masih menjadi pegangan dalam masyarakat Minang. Dua pepatah ini menunjukkan keberagaman dan kelenturan adat yang dipegang di masing-masing nagari, dan juga aturan tersebut tidak bersifat jumud, selalu ada kesempatan untuk berubah. Namun dua pepatah bijak ini kurang populer dibandingkan dengan slogan yang pertama karena adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah telah menjadi ideologi politik.

Kedua, mengembalikan fungsi sekolah umum negeri kepada fungsi awalnya, sebagai sekolah pemerintah yang disubsidi oleh negara dan disediakan untuk anak negeri Indonesia terlepas agama, suku, dan bahasanya. Di sekolah umum negeri, tunas-tunas muda bisa belajar kebhinnekaan suku, agama dan adat-istiadat. Oleh karena itu tidak diperbolehkan satu agama, satu suku, dan satu adat menguasai sekolah umum negeri. Karena sekolah tersebut disediakan dari, oleh, dan untuk rakyat Indonesia tanpa memandang agama, suku, dan bahasanya.

Mohamad Guntur Romli

Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan edisi 60, November 2008

Wawancara dengan Fransiska Silalahi, Siswi kelas 3 SMU 1 Padang (2008)

Bagaimana perasaan Siska ketika pada tahun 2005, masuk sekolah SMA 1 Negeri, harus memakai jilbab?

Siska masuk SMA di tahun pertama kali peraturan ini diberlakukan (tahun 2005). Terkejut lah. Kok kayak begitu sih, kan dulu nggak ada! Enak kali yang sudah tamat-tamat itu, bisa bebas gitu, eh malah kita yang kena. Awalnya kan nggak mau, terus masuk hari pertama juga nggak pake. Terus kakak senior bilang, “eh kok kamu enggak pakai jilbab?” , Siska jawab, “saya non-muslim kak”, “non-muslim, muslim harus pakai!” Ya itu senior kok galak, kirain cuma bercanda aja. Akhirnya waktu itu rapat, dan setelah itu Kepala Sekolah ngasih pengumuman yang non-muslim juga harus pake jilbab. Diwajibkan menyesuaikan untuk memakai jilbab, itu peraturan dari sekolah. Ya udah lah terpaksa pake.

Pernah enggak Siska itu ke sekolah enggak pake jilbab? Terus gimana respon pengurus sekolah pada waktu itu?

Enggak pernah. Kalau ke sekolah, kalau belajar enggak pernah enggak pake jilbab, pasti pake, kecuali yang masuk pertama. Cuma kalau ke sekolah ada ekskul, kayak misalnya ekskul pelajaran biologi, atau apa, baru enggak pake jilbab.

Bagaimana sikap pengurus sekolah terhadap Siska waktu itu?

Karena itu bukan jam belajar yang biasanya diadakan hari Minggu, enggak apa-apa. Kecuali kalau dari hari Senin sampai Sabtu pas jam-jam belajar terus datang ke sekolah tanpa jilbab, mungkin ya ditanya gitu, kenapa enggak pake jilbab? Kan udah ada peraturan di sekolah harus pake jilbab!

Siska sendiri melihat jilbab itu sebagai apa waktu itu?

Karena saya non-muslim, saya enggak tahu dan enggak peduli apa artinya jilbab. Pokoknya ini peraturan, ya udah lah pake aja. Apa artinya saya enggak perduli.

Waktu itu kan Siska sebenarnya punya pilihan untuk bias masuk ke sekolah yang Katolik, seperti SMK apa, SMP Siska yang tidak memberlakukan peraturan itu. Tetapi kena Siska ingin di SMU itu?

Pertama kalau di SMA Negeri untuk nyambung ke universitas kan lebih gampang. Yang kedua, dari kecil, Siska sekolahnya di Katolik. Kata mama kalau sekolah di Katolik terus kapan bisa beradaptasi dengan orang yang beda. Yang ketiga ketika SMP ada acara olimpiade-olimpiade, Siska enggak pernah ikut, karena SMP Siska sekolah swasta. Jadi kesannya waktu itu olimpiade cuma buat sekolah negeri saja. Jadi ya udah lah masuk negeri aja, supaya tahu gimana rasanya sekolah di negeri. Ternyata emang iya, sekolah di negeri bisa ikut olimpiade, bisa ikut banyak lah, lebih enak aja di negeri.

Pernah enggak ada diskusi dengan teman-teman Siska sendiri yang Kristen misalnya obrolan dan curhat tentang keharusan pake jilbab, ada perasaan risih dan sebagainya?

Di SMU 1 saya aja cewek yang Kristen, jadi obrolan itu enggak ada. Tapi kalau teman satu gereja ada. Kita tuh cerita-cerita kalau kesel banget pake jilbab ini. Masa kita harus pake jilbab, kita kan non-muslim. Ya pengennya tuh kita apain itu Pemda, ya kayak gitu-gitu lah! Ya kesel-kesel gitu, ya cuma di hati aja. Apa yang bisa kita lakuin sebagai siswa, gitu kan?

Pernah diungkapkan kekesalan Siska pada guru, atau ke pengurus sekolah? Kenapa sih Siska ini kan non-muslim, kenapa Siska juga harus pake jilbab?

Ke pengurus sekolah sih enggak pernah, soalnya paling ntar kalau misalnya saya tanya gitu, paling mereka bilang “ya kamu ini kan anak SMU 1 juga, maka wajiblah mengikuti peraturan sekolah, ini sudah peraturan sekolah” Paling itu yang jawabannya, tambah kesel aja kan. Ya udah lah saya sadar sendiri aja kalau saya itu pertama harus mengikuti peraturan sekolah, terus kedua jilbab sekedar busana apalah artinya gitu.

Selama tiga tahun dengan memakai jilbab, perasaan Siska gimana?

Kesel aja, kenapa sih pas saya SMA ada peraturan kayak gini. Itu aja kesalnya. Pokoknya itu aja sih perasaan kesalnya.

Sebagai siswi Kristen apakah pernah merasa dibedain di sekolah?

Enggak, soalnya mereka enggak pernah beda-bedain, mentang-mentang dia Keristen. Enggak keliatan gitu saya juga Keristen, saya juga aktif di sekolah, saya juga ikut OSIS, bahkan saya ketua biologi. Jadi walaupun Keristen, tapi tetap aktif. Walaupun cewek Kristen, tapi tetap diakui juga. Lihatlah itu yang Keristen. Misalnya kalau anak-anak yang lain pada bandel-bandel, saya itu orangnya biar Kristen dibilang baik lah. Jadi guru-guru itu sering bilang tirulah Fransiska yang Kristen itu, dia Kristen, tapi dia kayak gini. Jadi teladan di sekolah.

Ada hal yang dituntut dari jilbab, misalnya aturan-aturan Islam yang lain terhadap Siska di sekolah selain Jilbab, peraturan lain yang berkaitan dengan Islam?

Enggak ada, mereka kan cuma nyuruh pakai berbusana muslim, itu aja, enggak ada yang lain. Kayak misalnya ada doa-doa Asmaul Husnah itu kan enggak diwajibkan untuk mengikuti itu. Terus biasanya hari Jumat kan ada Kultum, saya juga enggak pernah ngikutin, karena memang enggak diwajibkan. Pernah saat ada acara kultum saya di kelas aja, kepala sekolahnya datang, ‘loh kamu kenapa enggak masuk? Enggak ikut kultum?’, ‘saya non-muslim pak’,’oh non-muslim’ ya udah, gitu aja. Jadi yang mereka wajibkan itu Cuma pake busana muslim, pake jilbab. Kalau yang doa-doa, Asmaul Husnah, kultum itu mereka enggak pernak mewajibkan.

Pernah ngomong ke orang tua tentang kegelisahan dan kekesalan Siska memakai jilbab? Gimana respon orang tua?

Kata mama sih, ini kan cuma busana, anggap aja enggak ada. Pokoknya ini kan cuma peraturan aja, pertama sebagai siswa kita harus ngikutin juga, kecuali kalau misalnya kita guru, kita bisa marah-marah gitu sama Pemda-pemda. Tapi kalau kita siswa kita mau berbuat apa, jadi ya udah lah sebagai siswa turutin ja, Cuma yang penting jadikanlah jilbab ini sebagai busana aja, jangan diimani. Malah kan kalau kita pake jilbab itu kesannya iman kita semakin ditantang gitu. Iman kita itu kuat enggak dengan berbusana kayak gini ini, terus hidup di tengah orang-orang yang beda agama sama kita. Kuat enggak sih imannya, kan di uji juga.

Jilbab dianggap sebagai ujian dan bisa semakin mempertebal iman gitu?

Iya, semakin mempertebal iman gitu

Harapan Siska ke depan gimana, dengan aturan kayak gini dan sebagainya? Ada harapan khusus enggak?

Kalau bisa yang agamanya non-muslim tidak perlu pakai jilbab. Bahkan kalau bisa menurut saya, yang muslim pun seharusnya terserah, diberikan kebebasan untuk pakai atau enggak, soalnya banyak tuh contoh-contoh di zaman sekarang ini mentang-mentang pakai jilbab gitu, kesannya baik. Eh ternyata dia juga jahat, pacarannya tuh kayak tabu-tabu gitu, kayak melanggar norma-norma agama, padahal di luarnya pake jilbab. Padahal kesannya jilbab itu suci, tapi malah kayak gitu sih yang pake jilbab. Jadi bagusnya tuh yang muslim juga terserah di kasih kebebasan, pake jilbab atau enggak

Ada enggak teman-teman cewek Siska yang muslim yang merasa keberatan dengan jilbab dan sebagainya?

Ada, buktinya dia aja kalau di rumah enggak pernah pake jilbab. Bahkan kalau di rumah aja dia itu bajunya juga kebuka-buka. Jadi cuma di sekolah aja pake jilbab.

Wawancara dengan Pdt John Robert Pardede, GMI (Gereja Metodis Indonesia)

Bagaimana respon anda sebagai Pendeta terhadap aturan-aturan yang diberlakukan di Kota Padang yang berdasarkan agama tertentu?

Kami masih menganggap Sumatra Barat masih wilayah Indonesia, mana nasionalisme yang dipakai adalah nasionalisme Indonesia yang berdasarkan UUD 45 dan Pancasila. Dalam undang-undang tersebut telah diakui kebebasan beragama. Dengan terbitnya Perda-perda yang berdasarkan satu agama tertentu yang ada di Sumatra Barat, khususnya di kota Padang, jemaat Kristen tidak setuju dan sangat berkeberatan. Sewaktu Peraturan tersebut terbit, kami dari Gereja menyatakan keberatan kepada pihak pemerintah. Dan waktu itu, Pemerintah dalam hal ini Walikota menjelaskan bahwa Peraturan Busana Muslimah hanya diberlakukan pada umat Islam saja. Namun kenyataan di lapangan, jemaat kami juga diharuskan bahkan diwajibkan mematuhi aturan-aturan itu. Banyak anak-anak jemaat kami yang sekolah di sekolah-sekolah negeri umum yang tidak bisa masuk kelas kalau tidak memakai jilbab. Di sini kami melihat ada perbedaan antara yang disampaikan oleh Walikota dengan apa yang terjadi di lapangan. Saya tidak tahu, di mana letak persoalan sebenarnya.

Apakah anda sering menerima keluhan dari jemaat anda?

Iya, saya sering menerima keluhan dari anggota jemaat atas kejadian ini. Tidak hanya anak-anak Kristen yang diwajibkan memakai jilbab di sekolah-sekolah, namun juga jemaat kamu yang bekerja sebagai PNS terpaksa memakai jilbab. Akhirnya banyak anggota jemaat yang memindahkan anak-anak mereka ke sekolah Kristen dan Katolik, agar mereka tidak merasa terpaksa

Apakah ada penolakan resmi atau perlawanan?

Kami tidak bisa melawan. Kami sadar inilah resiko menjadi kelompok minoritas. Kami hanya terus introspeksi. Kami melihat tidak ada jalan lain kecuali dengan mematuhi aturan ini. Mau gimana lagi? Ketika saya sering mendapat keluhan dari jemaat, saya hanya bisa membesarkan hati mereka dengan perkataan, “tidak apa-apa tutup kepala kalian dengan jilbab, tapi tutup hati kalian dengan iman kepada Allah kita.”

Bagaimana anda melihat jilbab itu sendiri, apakah sekedar aturan seragam atau ada unsur agama?

Tentu saja kami melihat jilbab sebagai simbol agama yang diharuskan dipakai oleh pemeluk agama lain. Dan kami sering mengingkari hati nurani kami, kami terpaksa memakai simbol-simbol yang tidak kami yakini.

Apakah anda pernah bertanya pada jemaat anda yang terpaksa memakai jilbab?

Sakit. Mereka merasa sakit, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pernah suatu ketika saya datang ke rumah jemaat, dan anak-anak mereka datang ke sekolah, yang perempuan memakai jilbab. Saya merasa bingung. Anggota jemaat saya Kristen kok anak-anak mereka pakai jilbab. Hampir saja saya tidak mengenal mereka, karena memakai jilbab itu. Saya hanya bisa berkomentar dan menyapa “ohh kalian ya, hampir saya tidak mengenal”.

Wawancara dengan Pdt. Robert Marthin, Ketua PGI Sumatra Barat

Pendeta saya ingin mengenal lebih dahulu bagaimana kehidupan jemaat Kristen di Kota Padang ini?

Saya hanya bisa memberi keterangan bahwa hanya terdapat dua puluh tujuh (27) gereja besar dan kecil di kota Padang dari PGPI (Persatuan Gereja Pantekosta Indonesia) terdapat 24 gereja dan pada umumya kecil-kecil, berupa rumah dan ruko, sementara PGI terdapat 11 jemaat. Dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikatakan dalam segala hal mereka (para jemaat Kristen) sangat tertekan. Misalnya, para PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang beragama Kristen merasa tidak diberikan kesempatan, lalu dalam kehidupan sehari-hari, umat Kristen di Padang memang sepertinya“tidak bisa diterima dengan sepenuh hati” oleh masyarakat Padang pada umumnya dan masyarakat Minangkabau khususnya.

Jangankan masyarakat Kristen, masyarakat yang tidak sesuku pun diperlakukan secara tidak adil, ini yang terlihat. Di kota Padang ada kurang lebih 22.000 umat Kristen, Katolik dan Protestan, berarti ada 22.000 jiwa. Anda bisa bayangkan 22.000 umat Kristen dengan kondisi-kondisi yang saya katakan tadi, belum lagi umat Hindu, Budha, dan penganut kepercayaan kesukuan dan etnis tidak mendapatkan tempat yang benar-benar seharusnya dianggap bagian dari masyarakat di sini.

Ditambah lagi, siswa-siwi SMP dan SMA non-Muslim yang diharuskan memakai jilbab. Beberapa kasus, siswi-siswi umat Kristen yang bersekolah di sekolah negeri karena tidak siap untuk memakai jilbab, maka mereka pindah ke luar kota. Dalam catatan kami, tahun 2005-2006, kurang lebih ada 22 siswi yang harus keluar dari kota ini untuk bersekolah atau mereka kembali ke kampung meskipun orang tuanya berada di Padang. Secara khusus, sebenarnya bagi umat Kristen, memakai jilbab atau tidak memakai jilbab bukan hal yang mengejutkan, tetapi yang sangat berdampak dan membuat shock adalah ketika siswi-ssiwi Kristen juga harus memakai jilbab. Perlakuan dan komentar tidak adil tidak hanya behenti di sini, meskipun siswi-siswi Kristen sudah memakai jilbab, tidak lepas dari komentar. Misalnya keluar perkataan, orang Kristen kok pakai busana Muslim?

Sehingga banyak siswi-siswi di SMP dan SMA negeri yang mengeluhkan hal ini pada orang tua dan orang tua mengeluhkannya pada kami. Ketika Walikota masuk menjelaskan hal ini di PGI beliau menjelaskan bahwa tidak ada paksaan siswi-siswi non-Muslim untuk memakai jilbab, sayangnya penjelasan ini hanya disampaikan kepada umat Kristen, seharusnya dijelaskan juga kepada Komunitas Kota Padang secara umum dan akan lebih bijak lagi jika disampaikan kepada khalayak ramai (seluruh masyarakat), bukan hanya kepada kaum minoritas Kristen.

Dalam tanggung jawab pemerintah untuk memberikan pembinaan kerohanian untuk umat Kristen, dapat dikatakan pemerintah sama sekali tidak ada perhatian untuk itu. Umat Kristen untuk memohon perhatian saja harus “mengemis”. Saya belum pernah tahu bahwa pemerintah kota Padang secara sah memberikan bantuan untuk pembangunan rumah-rumah ibadah yang ada di Sumatera Barat, minus Mentawai tentunya.

Bagaimana cara Gereja merespon aturan yang diskriminatif ini?

Ada dua cara yang kami tempuh. Pertama, gereja melalui PGI mencoba membicarakan hal ini kepada Pemerintah, dalam hal ini Walikota. Kedua, memberikan pemahaman tentang hal ini kepada para orang tua. Akhirnya kami berkata kepada para jemaat di Padang bahwa yang penting adalah keimanan, soal busana atau berpakaian hanyalah tampilan luar, tapi yang penting iman dan keinginan untuk belajar yang baik dari anak dan pemberian pemahaman kepada anak agar mengerti kondisi yang seperti itu. Mau bagaimana lagi, sebab jika kita tidak mengikuti, siswa-siwi kita mau bersekolah di mana?

Karena bagi mereka yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik, karena biaya untuk masuk sekolah Katolik ini mahal, maka alternatifnya adalah bersekolah di luar Padang, misalnya di Jawa, Palembang, Bengkulu untuk menghindari peraturan ini. Orang tua pun tidak akan memaksa anaknya jika memang anaknya tidak mau menggunakan busana seperti itu. Kami sangat menghormati umat Muslim, tapi ketika label-label agama dijadikan patokan untuk semua orang, maka hal ini bukan lagi menjadi sebuah kehidupan agama yang baik karena atribut-atribut keagamaan menjadi ukuran untuk melihat sebuah masyarakat. Ini kenyataan yang dilihat dari keadaan siswa-siswi Kristen yang ada di kota Padang.

Selain aturan jilbab di sekolah-sekolah umum, adakah aturan lainnya yang diskriminatif terhadap kaum minoritas di sini?

Sebenarnya ada banyak tindakan diskriminatif yang diterima umat Kristen, walau bahasa diskriminatif terlalu terkesan kasar, tetapi memang kenyataannya seperti itu. Misalnya para PNS Kristen yang memiliki prestasi yang bagus dan seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama sesuai dengan keahlian dan kemampuannya, tetapi ternyata tidak pernah naik pangkat, lalu keluar kata-kata jika Anda Muslim, Anda pasti sudah naik pangkat atau jika Anda mau duduk di posisi ini, Anda ucapkan dulu dua kalimat Syahadat. Inilah yang membuat saya tidak habis pikir. Saya beberapa kali mencoba bicara dengan beberapa teman dari tokoh-tokoh agama, tetapi tanggapan mereka sebagai tokoh agama tidak bisa memveto hal ini karena hal ini berada di wilayah pemerintahan Kota Padang. Yang kedua, menurut teman-teman dari tokoh-tokoh agama, mereka tidak pernah meminta veto ini kepada Walikota Padang. Mereka mengatakan bahwa hal ini adalah tekanan dari Pendeta.

Apakah selama ini tidak ada tindakan perlawanan?

Ada keinginan, namun persoalannya adalah moralitas dalam kekristenan yang tidak menghendaki hal-hal seperti itu dilakukan dengan kekerasan, jadi yang kami lakukan selama ini hanya menanyakan dalam pertemuan-pertemuan resmi, lalu mencoba untuk mencari jalan keluarnya, tapi instruksi itu tetap berlaku. Untuk di tingkat SD, hal ini tidak terlalu menjadi kendala, tapi ada keharusan memakai jilbab untuk tingkat SMP dan SMA.

Uniknya, siswi-siswi kami yang berjilbab, sepulang sekolah harus belajar agama di lingkungan gereja, tetap menggunakan jilbab sampai masuk ke gereja. Hal ini pun disoroti, mengapa banyak orang-orang memakai busana muslim masuk ke gereja? Padahal mereka adalah siswa-siswi Kristen yang di sekolah-sekolahnya tidak disediakan pembinaan kerohanian Kristen, hampir semua SMA negeri di Padang memang tidak menyediakannya, akhirnya mereka ke gereja masing-masing. Jadi, ketika mereka pulang sekolah dan langsung mengikuti pelajaran agama dengan busana seperti itu. Itu pun menimbulkan pertanyaan, kok banyak orang-orang yang berbusana muslim masuk gereja, padahal mereka siswa-siswi Kristen yang harus mengikuti pendidikan agama.

Bagaimana anda melihat respon orang tua yang anak-anak mereka harus memakai jilbab?

Pada umumnya, orang tua-orang tua yang anak-anaknya masuk ke sekolah negeri memang awalnya bertahan untuk tidak memakaikan anaknya jilbab, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena hal itu adalah instruksi dari Kepala Sekolah dan jika siswi tidak memakai jilbab, maka akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Bahkan ada beberapa siwi yang bersekolah di sekolah negeri yang menyampaikan kepada orang tuanya, kemudian orang tuanya menyampaikan kepada kami mereka dipuji-puji, itu bagus jika kamu mau menggunakan busana muslim, supaya di sekolah ini tidak terlihat ada yang non-Muslim. Kami melihat hal ini menunjukkan bahwa sekolah hanya diperuntukkan bagi agama tertentu saja. Secara pribadi, saya tidak setuju, apalagi sebagai penduduk Indonesia, hal-hal seperti ini sangat tidak wajar.

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana interaksi orang Islam dan Kristen di sini?

Umat Kristen sebenarnya sangat senang bergaul dengan siapa pun, tidak pernah memandang latar belakang sosial seseorang dalam bergaul, dan hal itu terjadi sejak umat Kristen ada di daerah ini. akan tetapi, kemudian umat Kristen diperlakukan seperti ini. artinya, seolah-olah umat Kristen bukan lagi bagian dari masyarakat itu. Kami sering memberikan saran kepada gereja-gereja dan pendeta-pendeta, bahwa baiklah jika memang anak-anak kita harus menggunakan busana-busana seperti itu, sarankan saja mereka mengenakannya. Hal ini bukan berarti kami setuju dengan penggunaan busana itu, tetapi jika mereka tidak menggunakannya, akan berdampak negatif. Yang kedua, bagaimana anak-anak akan berbaur jika mereka dipaksa menghadapi situasi yang seperti itu dan tidak diterima bila ingin bergaul dengan cara ke-Kristenan mereka, busananya saja harus disamakan. Secara nasional, Menteri P dan K (Mendiknas) seharusnya mencabut SK seragam untuk SMP dan SMA ini. Lalu, berikan kebebasan daerah-daerah untuk menentukan kebebasan seragam putih-abu-abu karena beberapa daerah yang mengeluarkan Perda-Perda untuk berbusana muslim, berlaku di sekolah-sekolah. Karena itu sebaiknya, adakan peninjauan kembali SK Menteri in supaya daerah-daerah dapat mengatur keseragaman untuk anak-anak sekolah dan daerah-daerha tidak menentang keputusan yang lebih tinggi. Jika kasus yang terjadi seperti ini bukankah berarti telah menentang keputusan yang lebih tinggi.

Apakah aturan tersebut menciptakan ketegangan antar orang Islam dan Kristen di sini?

Itu yang kami usahakan untuk diredam dan bahasa yang kami gunakan adalah bahasa kompromi. Karena awalnya saat instruksi ini keluar, umat Kristen berusaha melakukan kegiatan yang demonstratif, tapi kami berusaha memberikan pemahaman bahwa demonstrasi tidak akan menyelesaikan masalah. Kami berusaha menyelesaikannya dengan diskusi, bertanya kepada pemerintah, dan jika hal ini tidak menghasilkan sesuatu, toh kita sudah bersuara. Umat Kristen tidak ingin dianggap menentang Perda ini, silahkan saja tapi pelaksanaanya diawasi, Perda itu untuk siswa muslim saja.

Anda menyebut tadi ada langkah kompromi, bagaimana langkah itu ditempuh?

Kompromi memang harus ditempuh, dan kami mengimbau umat Kristen melalui surat edaran untuk mengajarkan anak-anak kita untuk tekun dalam doa, tekun dalam iman, tidak usah ragu untuk memakai jilbab. Budaya Indonesia sebelum Islam datang pun memang sudah memakai tutup kepala, kerudung bahasa Indonesianya, dan itu hal yang wajar karena setiap perempuan Indonesia dari zaman dahulu memang menggunakan kerudung. Jadi, ketegangan yang terjadi adalah ketegangan kompromi.

Wawancara dengan Romo Agus

Saya ingin tahu kondisi psikologis jamaat Katolik di Padang secara umum sejak tahun 2005 atau sebelumnya dengan timbulnya perda-perda yang mengatur dalam masalah busana dan peraturan yang lain yang juga menerapkan sanksi dalam hal tersebut?

Sejak tahun 2005 kondisi di Padang untuk siswa yang beragama Katolik dan bersekolah di sekolah-sekolah non-Katolik (sekolah negeri umum atau swasta) menjadi minder ditambah dengan adanya perda-perda yang diskriminatif ini yang sebenarnya diperuntukkan mengatur siswa atau guru yang muslim. Tapi pada kenyataanya, siswa-siswa yang non-muslim di beberapa sekolah dipaksa untuk memakai jilbab. Secara psikologis, mereka sebenarnya menolak untuk memakai jilbab, tapi mereka juga tidak mau merasa ditolak oleh teman-temannya dan sekolahnya kalau tidak memakai jilbab. Perasaan itu juga muncul ketika teman-temannnya yang memakai jilbab tidak ikhlas untuk bergaul karena dianggap bukan bagian dari komunitas, padahal seharusnya sekolah adalah komunitas pendidikan yang terbuka, satu sama lain saling menerima. Dengan demikian mereka yang menolak mau tidak mau menerima peraturan ini, maka mereka akan ditolak oleh komunitasnya. Pada kasus kedua, ada siswa yang bersikeras untuk menolak. Seperti kasus yang terjadi pada tahun 2006, satu tahun setelah Perda diberlakukan, di SMP 35, seorang anak ditegur oleh pihak sekolah karena tidak mau berjilbab, sampai orang tuanya datang dan menjelaskan bahwa anaknya beragama Katolik dan tidak wajib berjilbab.

Padang masih bagian dari Indonesia, pada kenyataannya di sekolah negeri umum hanya memberlakukan satu agama saja. Bagaimana tanggapan dari masyarakat dan Gereja Katolik?

Sekolah sebenarnya adalah tempat kehidupan sosial berlangsung kemajemukan, entah itu suku, latar belakang atau agama. Seharusnya sekolah memupuk kemajemukan ini, sehingga setiap siswa dapat menerima satu sama lain baik kelebihan maupun kekurangan. Dengan berlakunya penyeragaman uniform (semua harus berjilbab), ini berarti siswa tidak dididik untuk menerima kemajemukan dan pluralitas, sehingga mereka hanya mengerti bahwa kehidupan pendidikan hanya satu warna saja. Padahal dalam pendidikan agama Katolik sendiri, dalam pelajaran-pelajaran ada yang diminta untuk terbuka pada orang lain, pada suku lain, terbuka dengan pribadi lain. Dengan kondisi ini, apa yang kita minta sebagai umat bertentangan untuk anak, membuat anak menjadi paradoks, di satu sisi diminta untuk terbuka pada orang lain, disisi lain di tempat dimana anak seharusnya mendapat keterbukaan jstru harus bertentangan dengan orang lain.

Adakah keluhan dari jemaat sendiri, anggota jemaat atau orang tua siswi terhadap hal ini yang disampaikan kepada Romo sendiri?

Keluhan langsung yang disampaikan kepada saya tentang pemakaian jilbab tentu saj ada meskipun tidak sering, tetapi efek dari itu seperti yang sudah saya katakan tadi adalah banyak yang malu menjadi Katolik di hadapan teman-temannya, dengan sendirinya ada beberapa orang tua yang membiarkan anaknya belajar agama Islam.

Sikap Gereja Katolik bagaimana?

Sikap resmi dari Gereja Katolik tidak ada, tetapi melalui Yayasan Prayoga tahun 2005, kita meminta supaya Perda itu dilihat kembali karena menyangkut sekolah kita (Sekolah Katolik). Bukan karena menentang, tapi supaya komunitas yang plural itu dijamin.

Bagiamana upaya pihak gereja agar jamaat tidak menjadi malu dalam arti apakah gereja memberikan pembekalan-pembekalan?

Dalam pelajaran agama, tidak ada, karena mengikuti kurikulum. Tetapi untuk pembinaan para pemuda disebut OMK, kita tetap dampingi teman-teman, bukan hanya di kota Padang, tapi di mana saja. Pertama kita harus bangga terhadap identitas agama, yang kedua bahwa apa pun dan siapa pun bukan lawan, tetapi teman. Sehingga pelan-pelan merasa bahwa orang lain bukanlah ancaman untuk dirinya, tetapi adalah teman walaupaun kadang-kadang tidak sependapat dengan dia. Walau pun tidak sependapat, kita tidak boleh mengucilkan dia.

Apa selama ini ada respon dari gereja, atau gereja merasa keberatan?

Ya, waktu penetapan perda itu. Bukan dari gereja, tetapi dari institusi, dari Yayasan Prayoga itu yang langsung menangani pendidikan. Yayasan langsung menghadap Walikota untuk menyampaikan keberatan terhadap Perda yang menyangkut di sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Parayoga yang juga diminta untuk memakai jilbab.

Bagaimana respon Walikota setelah ada keberatan itu?

Waktu itu pernah di sampaikan dalam wawancara di televisi dan media-media, walikota hanya menyatakan bahwa Perda itu hanya berlaku untuk warga muslim.

Apa ada perlawanan atau protes dari jamaat dengan kondisi seperti ini?

Protes secara terbuka tidak ada, tapi protes yang mereka sampaikan biasanya langsung memindahkan anak-anaknya. Dan umumnya kalau dia orang Batak, punya kecenderungan mereka tidak ingin menyekolahkan anaknya di daerah ini. Mereka memulangkan anak-anaknya ke kampungnya, mereka merasa bahwa sekolah di sini anaknya terancam, maka lebih baik dipindahkan.

Wawancara dengan Dra. Nurmaini Jamar, Sekretaris Fraksi PAN DPRD Kota Padang, Komisi Pendidikan

Anda duduk di Komisi Pendidikan DPRD Padang, bagaimana tanggapa anda tentang terbitnya instruksi Walikota tentang pemakaian busana muslim di sekolah umum?

Menurut saya, aturan ini tidak masalah untuk siswa yang muslim, karena untuk sesama muslim memang ada aturan. Aturan-aturan yang dikeluarkan oleh Walikota Padang yang mayoritas penduduknya muslim menurut saya wajar-wajar saja asal peraturan ini tidak diberlakukan pada yang non-Muslim.

Kenyataan di lapangan berbda, banyak siswi non-Muslim yang tidak boleh masuk ke sekolah kalau tidak memakai jilbab, bagaimana tanggapan anda?

Itulah yang saya sebut kasus, karena yang terjadi antara peraturan dan keyataan di lapangan tidak sama. Jika terjadi kasus-kasus seperti ini di lapangan, seharusnya kita carikan solusinya bersama. Pihak yang mengeluarkan peraturan tentu ada aturan-aturan yang mengatur hal ini. Kita yang mengetahui kasus-kasus di lapangan seperti ini, perlu melaporkan kasus ini kepada pihak-pihak yang mengeluarkan peraturan (penguasa) untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan karena tentu ada sanksi terhadap orang-orang yang tidak memiliki komitmen terhadap peraturan yang telah ditentukan ini.

Apakah dari Komisi Pendidikan pernah meminta penjelasan hal ini pada Walikota?

Sebenarnya kami dari Komisi Pendidikan sangat menerima baik peraturan itu, hanya saja kasus yang tadi belum pernah kami terima laporannya. Jika memang kasus ini ada, kami dari Komisi D akan membawa kasus ini ke tingkat yang lebih tinggi. Saya sendiri secara pribadi akan menyampaikannya ke anggota-anggota Komisi akan melaporkan kasus-kasus kalau memang hal ini terjadi. Jika ini ada, kami akan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi, terutama Dinas Pendidikan. Kami akan melihat bagaimana Dinas Pendidikan menanggapi kasus ini dan kami pun akan membawanya kepada pembuat peraturan ini, yaitu Walikota Padang.

Sekolah umum (negeri) itu bukankah terkenal dengan sekolah yang tidak hanya memiliki satu agama atau satu adat-istiadat saja. Bagaimana pandangan Komisi D menanggapi bentuk sekolah umum yang hanya memberlakukan satu agama atau adat saja?

Sekolah umum atau sekolah negeri memang mengatur secara keseluruhan, Muslim ataupun non-Muslim, dalam semua bidang studi, tetapi terkait dengan masalah budaya atau adat, wajar-wajar saja kita memberikan aturan-aturan seperti ini mengingat anak-anak didik kita sudah tidak ingat lagi akan budayanya. Jika ada regulasi budaya seperti ini paling tidak akan mengingatkan anak-anak didik kepada budayanya. Saya pikir peraturan ini sangat positif. Hanya saja karena hal ini peraturan yang belum menjadi Perda, tetapi hanya instruksi dari Bapak Walikota, maka akan kita lihat bagaimana perkembangan peraturan ini. Jika memang perkembangan peraturan ini baik, tidak terjadi diskriminasi yang ditakutkan oleh satu kelompok, maka wajar-wajar saja diteruskan instruksi ini. Akan tetapi, bila memang terjadi hal yang tidak diinginkan di lapangan, tentu akan kita telusuri mengapa hal ini terjadi.

Apakah Anda akan melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak Gereja terkait laporan ini?

Hal ini sangat tergantung pada perkembangan kondisi di lapangan. Jika frekwensinya tinggi, maka hal ini akan kami lakukan. Akan tetapi, sejauh yang saya lihat frekwensi ini belum tinggi, hanya terjadi kasus demi kasus. Kasus-kasus ini pun tidak semuanya bisa terampung, seperti saya pribadi baru tahu kasus seperti itu secara mendetail baru tadi.

keterangan foto-foto: (sayang link ke foto foto sudah tidak berjalan lagi)

1. Cover Jurnal Perempuan edisi 60 “Awas Perda Diskriminatif”
2. Siswa dan siswi sekolah di Padang Sumatera Barat sedang mengikuti ucapara bendera hari Senin, lihat siswi-siswi yang seluruhnya memakai jilbab. ini sekolah umum negeri bukan sekolah swasta agama atau madrasah
3. Foto kenangan alumni 2003-2004 dari sekolah menengah umum negeri di Padang, karena belum diterapkan kewajibab busana muslimah, sisiwi-siswinya banyak yang tidak memakai jilbab
4. Berada di sekolah umum negeri yang dipenuhi tulisan-tulisan Arab, petikan dari ayat aquran, hadis atau pepatah Arab
5. Siska siswi kelas 3 dari SMU I Padang, beragama Kristen dan telah tiga tahun memakai jilbab setiap masuk sekolah. Kini ia mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Jawa dan bisa terbebas dari aturan jilbab
6. Petugas ucapara bendera dengan jilbab dan topi sekolah. Jilbab sudah masuk dalam aturan seragam sekolah negeri/swasta yang harus dipatuhi.
7. Siska baru keluar sekolah
8. Pdt John Robert Pardede
9. Pdt. Robeth Martin (Ketua PGI Sumatera Barat)
10. Romo Agustinus
11. Dra. Nurmaini Jamar

 

Komentar komentar sejak terbit:

 

  • Anonymous

    hal ini perlu diekspos lebih luas di kalangan media; terus terang saya masih tidak percaya kalau siswi non-muslim sampai terpaksa memakai jilbab. bagaimana … reportase tvone? transtv? metro?

  • Anonymous

    Tingkah yg ginian tuh udah ga aneh….. Kalo ke injek kelingking tereaknya luar biasa , terus temen2nya ikut2an nge bela in… Tapi kalo nginjek kepala orang…..semua diem2, belaga masa bodoh….. Makanya ga maju maju…..

  • Anonymous

    dalam Islam. Islam boleh melakukan apapun terhadap non-muslim, kalau sebaliknya yang terjadi langsung koar-koar didzolimi dsb. Para muslim ini tidak sadar bahwa dengan ajaran Islam yang terpatri di sub-conscious muslim seperti, kebencian ( terhadap Yahudi / non-muslim, muslim pasti benar dan selalu di ridhoi Alloh, dsb. menjadikan para muslim sebagai zombie-zombie yang berkutat pada pemikiran yang Islami alias salah kaprah dan akhirnya menjadi miskin prestasi. kalau sudah “kere” dalam prestasi jawaban para muslim ini pasti satu yaitu “Didzolimi kafir”. Apakah masih tidak sadar juga ?

  • Anonymous

    Kalau saya warga kota Padang, malu rasanya punya Walikota yang cara berpikirnya konyol begitu. Kenapa harus ngarang2 dalih gak masuk akal, bilang aja terus terang kalau jilbab diwajibkan sebagai upaya menuju penegakan Syariat Islam di Padang. Untung saya bukan warga kota Padang..

  • Anonymous

    Islam..Islam, di Eropa dan Amerika dimana mereka minoritas mereka menuntut persamaan hak, perlakuan khusus dll, giliran mereka mayoritas mereka memaksakan aturan mereka dasar umat yang kekanak-kanakan dan mau menang sendiri

  • Anonymous

    Dengan banyaknya perda syariah ini seharusnya banyak orang Minang yang pulang dari rantau tetapi nyatanya pada ogah tuh. Heran mereka bikin aturan2 yang nggak masuk akal dinegerinya sendiri, akhirnya nggak betah lalu pergi merantau. Mereka sebenarnya sadar bahwa hidup dirantau itu lebih nyaman dari pada hidup dinegerinya kenapa suasana rantau yang menyenangkan itu tidak diadopsi dinegerinya sendiri. sehingga tidak perlu lagi merantau untuk mencari kenyamanan, ketentraman dan kebahagiaan dalam hidup ini. Gitu aja kok repot.

  • Anonymous

    Kalau menjadi golongan mayoritas, manusia cenderung merasa hebat sendiri dan menindas sifatnya. Kasihan golongan minoritas di sumbar. Manusia yang normal harus berusaha menghentikan kekurangajaran ini. Yang jelas, hal ini tidak hanya muncul di sumbar, tapi juga di daerah lain. Terlalu banyak budak arab di indonesia ini.

  • Anonymous

    Perda-perda Syariah yang diskriminatif itu telah menjadikan kota Padang menjadi peteng (gelap). Kegelapan rasio sudah menyelimuti pikiran Walikota dan jajarannya dan seluruh warga Muslim di kota Padang. Bermula dari Padang, lama-lama menjalar ke seluruh Sumatera,Jawa dan seluruh Indonesia akhirnya sampai ke Jakarta, maka tuntaslah perjuangan untuk mengembalikan Piagam Jakarta ke dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik (Islam) Indonesia.

  • Anonymous

    Pak Fauzi Bahar, Walikota Padang, sudah menerapkan Al Quran dan Hadis secara baik dan benar dalam instruksinya mengenai kewajiban berjilbab bagi siswi sekolah negeri. Dalam penjelasannya yg tidak sesuai dg kenyataan, beliau juga sudah sesuai dengan pedoman untuk bertaqiya. Jadi para siswi non-muslim yang mau tak mau, suka tak suka harus pakai jilbab ketika bersekolah, pakai saja jilbab itu dengan tulus, dan lepaskan jilbab itu pada saatnya dengan cerdik. Memang hidup itu tidak “fair” tetapi kamu harus hadapi itu dengan tegar. Pakai jilbab walaupun itu bukan budaya kalian kan tidak akan bikin kalian mati? Sesuatu hal yang menyulitkan kita tetapi tidak membuat kita mati hanya akan membuat kita menjadi lebih kuat. Selamat berjilbab dengan tulus dan cerdik!

  • Anonymous

    Good bye Indonesia..welcome arab…Allahu Akbar…

  • Anonymous

    buseeet dah,,jadi ini yang namanya Negara Indonesia yang dikenal dengan negara DEMOKRASI? ckck.. kalo ternyata otonomi daerah disalahgunakan seperti ini, hapus aja.. mau jadi kayak ACEH? kalo semua kayak Padang, buat apa ada 5 agama yang diakui? sekalian aja apus semua,,suruh pindah ato gimana gitu.. payah..

  • Anonymous

    Perda yg lahir dari batok kepala manusia yg Mabok tobat. sebagaimana orang yg mabok,apaun yg dilakukannya pasti gak akan ada yg baik/Benar. dari sudut pandang kesehatan saja sudah bertentangan terlebih dari kacamata estetika masa badan udah dikondomin gitu masih dipakaiin topi lagi…..:( nunggu perda cowok bersorban + impor onta dan pasir gurun sekalian dari arab sono

  • Anonymous

    Kalau ada penyimpangan dari Perda atau pelaksanaannya silahkan tempuh jalur hukum dan ekpos melalui media masa yang kompeten, tapi kenyataannya tidak ada tuntutan hukum dari siapapun dan tidak suara dari media masa nasional yang kompeten. Slogan “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” sudah dari dulu-dulu menjadi azas orang Minangkabau (jaman kakek nenek saya kecilpun azas tersebut sudah ada). Slogan itu adalah gambaran dari sikap orang Minang yang jelas mengambil sikap, bandingkan dengan orang yang MENGAKU-NGAKU bernama Muhammad tapi menghujat Islam. Kalau orang Minang bangga dengan apa yang dipakai dan dianutnya adalah suatu kewajaran daripada rendah diri, minder dan kurang nyaman dengan apa yang dianut dan dipakainya. Kalau ada Non Minang kurang nyaman dengan slogan tersebut saya cuman bisa bilang .. kalau gue dingin kenapa elo yang panas !!!

    • dna cinta

      Manusia mayoritas yang normal mesti melindungi kaum minoritas dan tidak memaksakan cara berpakaian agamis mereka. Ini penghinaan terhadap pluralisme dan kemanusiaan. Bagaimanapun juga banyak perantau minang yang berhasil menjadi “minang” dan yang tertinggal di sumbar banyak yang menjadi “kabau” yang berbau arab.

  • Anonymous

    Its not a good publicity, why…..we are not an Arab country, by using those arabic letters, words written on directions boards at school. We have a National Language is Bahasa Indonesia, dengan huruf latin biasa, Mengapa dihuruf/arabkan?……Tuhan Maha Kuasa mengerti semua bahasa yang ada didunia ini, Tuhan Allah Maha Tahu, Maha Penyayang, Tidak akan membeda-bedakan mahlukNYA. Sayang oknum Pendidikan/Kep. Sekolah buang-buang uang untuk menunjukkan bahwasanya mereka mempunya daya mampu menulis serta berucap arab…..ini biaya siapa?, negara ataupun kantong sendiri, atau dari bangsa arab yang banyak berkeliaran di Indonesia untuk mencari gadis-gadis muda kita sebagai pelayan mereka atau melampiasan binatang mereka…….our beautiful Indonesia MUST remain beautiful, and highly moral………

  • Anonymous

    wah… ternyata common sense itu memang udah nggak common yaaaa…. buat pemda yg bikin aturan2 yg inappropriate, coba tolong introspeksi, meninjau ulang dan mengevaluasi diri… kalo bisa ya tolong dipelajari lagi Pancasila, dasar negara kita, dan butir2nya… dari sila ke 1 sampai sila ke 5 semuanya relevan loh… are you humble enough to admit and correct your mistake? :) Indonesia, ayo menuju keMERDEKAan!!!

  • Anonymous

    dari kalimatnya saja, ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ … itu kaitannya dengan adat istiadat, yaitu adat minang. nahhh … sekarang yang dipersoalkan, peraturan sekolahan, yang dikeluarkan si walikota. emangnya di padang orang2-nya minang semua???

  • Anonymous

    Kalau penulis menganggap ada perda melanggar UU silahkan saja ajukan uji materil kelembaga terkait, tapi masalahnya adalah penulis kelihatannya tidak menyukai berbagai aspek yang berbau Islam di Ranah Minang. Penulis juga coba mengaburkan fungsi “Adat basandi Syarak ….” dan coba mengganti dengan “Adat Salingka …”. Disini jelas terlihat bahwa penulis mempelajari adat Minang untuk kemudian coba mengubah sendi-sendi ke Islaman dengan hal lain yang tidak prinsipil. Disisi lain penulis juga membenturkan pendapat Jilbab antar pemuka agama Islam, kalau bukan mengail diair keruh apa istilah yang layak untuk hal ini ??. Kalau penulis keberatan dengan perda atau pelaksanaannya silahkan tempuh jalur hukum yang ada, apa esensinya penulis merasa perlu ikut merecoki adat suatu daerah atau mempertentangkan pendapat dalam suatu agama. Itu masalahnya bosss …

  • Anonymous

    Suka2 Lu! Maju buat Lu, Mundur buat Lu! Emangnye Gue pikirin!

  • Anonymous

    Pakne Joy, Perda Syariah di Padang itu bagian dari Grand Design untuk menjadikan Indonesia sebagai Darul Islam, formalnya Negara Islam Indonesia (NII). Setelah gagal memasukkan kembali Piagam Jakarta ke dalam UUD ’45 maka para pengusung gagasan pembentukan NII mengubah strategi. Strategi baru itu diberi nama “Makan Bubur Panas Mulai dari Pinggir Piringnya” maka dimulailah pembuatan Perda-Perda Syariah di daerah-daerah yang jauh dari Jakarta, sasaran terakhir adalah Senayan! Logikanya nanti dibalik jadi begini, karena semua Perda di daerah-daerah sudah sesuai dengan Syariah, maka Undang-Undang Dasar NKRI harus disesuaikan dengan Syariah, Piagam Jakarta masuk lagi menjadi bagian Mukadimah UUD, dan nama negara diubah menjadi Negara Islam Indonesia. Daerah-daerah yang menolak menerima Hukum Syariah akan diserbu oleh Laskar NII dan dipaksa untuk menerimanya. Gitu Pakne Joy, jadi jangan EGP ya.

  • Anonymous

    @ #13 & #17: Anda enak saja menyarankan kepada yang keberatan thd Perda Syariah untuk mengajukan uji materiil. Anda sudah seperti Pak Harto saja pada masa jayanya. Beliau dulu selalu bilang kalau ada yang keberatan silakan tempuh jalur yang konstitusional

  • Anonymous

    Diam semua….ini tulisan keliatannya memang sengaja dibuat untuk menjatuhkan adat minang,…kalo lu semua pda ngak senang dengan aturan jilbab, suruh tu lu semua punya sodara pake bikini…yang jelas peraturan ini sangat bagus, saya sebagai orang minang sangat mendukung kebijakan ini…..

  • Anonymous

    Salut dengan tulisan Pak Romli. Saya sebagai muslim juga sedih melihat hal tersebut. Islam adalah agama rahmat bagi umat manusia, termasuk non-muslim.

  • Anonymous

    @ Diam semua! Kok nyuruh orang pake bikini? Persoalannya bukan jilbabnya sebenarnya tetapi Perda atau Instruksi Walikotanya yang diskriminatif. Anda bilang anda suka, itu peraturan bagus. Bagaimana pendapat anda tentang larangan memakai burqa di Prancis?

  • Anonymous

    Ini yang namanya kefanatikan mmemang bikin orang sinting dan bodoh. Kelihatan banget kebodohan dari peraturan ini. Masih mau ngelak bahwa islamisasi itu cuma isu? Kasian deh musti maksa2 orang lain make2 atribut2 islam supaya merasa islam itu besar?

  • Anonymous

    Aneh ….muslim skrg semakin terlihat berlomba2 untuk membuat seragam 1 tradisi agama, padahal indonesia dikenal bermacam2 agama saling toleransi bebas menentukan kebiasaan kepercayaan2nya. Padahal Allah justru sengaja menciptakan keaneragaman di alam semesta. Aneh..sebagian manusia islam kok maunya memaksa harus sama. Aneh..apa gk bertentangan dg Maha Pencipta, tapi setahu saya agama selain islam gak pernah mengurusi agama lain karena selain menambah masalah juga membuat tugas baru ngurusin agama lain shg malah lupa dengan kewajiban utama membangun bangsanya agar maju dan membangun rasa persaudaan sebagai 1 negara

    • sampeyan baca soal agama dimana? dan buku apa ?., kalau umat islam tidak bertoleransi ngapain ikut dirikan negara yang tidak berazaskan alquran.

      ingat dulu 96% penduduk RI adalah muslim., dan dengan kenegarawanan para tokoh islam jaman kemerdekaan dulu, mereka bersepakat untuk memakai pancasila.

      sejarah sudah menulis peran umat islam membiayai berdirinya negeri ini. kalian gak bisa hapus itu dari catatan sejarah.

      sekarang kalian memperolok islam di negeri ini. memangnya kalian sudah memberi apa untuk negeri ini ?

      bikin malu saja !.

  • Anonymous

    gila ni perda ya..tapi emang kaya nya ngga punya otak semua tu barisan pendukung onta..ini ni jadi nya kalau semua mau di samain ama arab sana,,,ni Indonesia bung…dengan berbagai pluralitas nya..dasar onta biadab

  • Jilbab bagi Kristen no problem lihat patung Bunda maria kan berbaju brukut dan bertutup kepala kayak Muslimah,padahal Dia Ibunya Yesus,jadi kudu ditiru.

    MWidjoyo

  • YOMAR

    Saya Kristen. Namun saya tidak keberatan wanita kristen memakai jilbab. Sebab Jilbab itu sebetulnya bukan milik Arab atau Muslim saja. Coba kita pergi ke Israel, disana pakaian wanitanya juga mirip jilbab kok. Jadi umat kristen jangan”alergi”. Justru Jilbab itu melindungi wanita dari resiko pelecehan. Sebab dengan berjilbab tidak akan nampak seksi. Jadi hal ini bukan masalah bagi umat kristen. Wanita Kristen di Palestina juga pakaian mirip wanita muslim. yang jadi masalah adalah bahwa orang kristen juga kurang paham mengenai agamanya sendiri, yaitu bahwa asal muasal kristen itu ‘kan dari tanah Yahudi. Dan cara berpakaian wanita mereka juga mirip wanitua Muslim. jadi tidak masalah mengenai Jilbab ini. yang pasti, umat Kristen juga harus banyak belajar mengenai sejarah agamanya sendiri. jangan melankolislah.

  • Maryo

    @YOMAR, yang ngaku-ngaku kristen, padahal bukan tuh, malu dengan agama loe.? Bukan masalah kristen Yahudi atau Palestina pakai jilbab, yang ditentang itu, pemaksaanya, harus pakai jilbab, menurut HAM tidak seorang pun boleh memaksakan kehendak harus memakai jilbab, baik buat ISLAM maupun BUKAN ISLAM itu saja, jangan bedogol loe ah..

  • pemaksa

    berpura pura sbg kristen tapi sangat kurang tahu mengenai agama kristen.

    Siapa saja mestinya tahu bahwa dalam agama kristen, tidak ada aturan yang memaksa umatnya untuk berpakaian seperti orang Yahudi atau bicara dalam bahasa yahudi. Hanya agama Islam yang punya aturan yg memaksa semua umatnya berdoa dalam bahasa Arab, berpakaian pakaian Arab dan berpikir seperti orang Arab dan meniru mentah mentah tingkah laku nabinya.

    Janganlah memalsu identitas – mudah ketahuan oleh masyarakat superkoran yang pinter pinter – tidak seperti …

  • adinda

    indonesia memang budak budak arab asli.. selain bejat biadab juga tidak menghargai HAM…..walikotanya goblok komisi pendidikan DPRD nya juga goblok……memang kalau islam kafir harbi anjing anjing arab tidak bisa menjadi manusia cerdas….harus nya mereka ngungsi ke arab biar dibantai sunni dan syiah disana

  • Fauzan

    Hanya Tuhan yang tahu mana yang salah dan benar. menutup aurat menaikan harkat dan derajad wanita, sekarang paha anak gadis lebih murah dari pada paha ayam!!! Ketika pemerkosaan dan protitusi meningkat siapa yang salah? Ikan menawarkan diri ke kucing atau kucing yang tak kuat menahan nafsu?

  • the slam

    saya kira mas Yomar bukan ngaku2 jadi kristen krn kl dia islam ngaku kristen maka di telah kafir, org islam sejati tidak mungkin ngaku2 kristen…pendapat dia sangat bijak bagi org yang beragama…@anony mouse…org yg beragama tdk mungkin mulutnya keluarkan hinaan thdp org lain…justru anda yg berpura2 agama kristen krn mulut anda tdk mencerminkan org beragama dgn baik.

  • Ike

    DImana2 Muslim kelakuannya sama kok. Di UK, siswa non-Muslim di sekolah negeri yang mayoritas Muslim juga DIWAJIBKAN utk pake jilbab. Yah, begitulah Islam: selagi lemah, janji tidak akan maksa apa2. GIliran dapat angin, waduh … gak tahu malu deh! http://en.wikinews.org/wiki/New_policy_at_Madani_High_School_requires_non-Muslim_girls_to_wear_hijabs

  • Ike

    http://www.dailymail.co.uk/news/article-1317393/The-British-Muslim-schools-EVERY-pupil-forced-to-wear-veil.html

    At least THREE Muslim faith schools are forcing girls as young as 11 to wear face-covering veils with the blessing of Ofsted inspectors, it emerged yesterday. One of the schools insists that fees are paid in cash and warns parents against speaking to the local education authority. (OFSTED gila apa???)

    All three schools have been approved by education watchdog Ofsted, which inspects private faith schools to ensure they prepare pupils for life in modern Britain and ‘promote tolerance and harmony between different cultural traditions’.

    The schools’ dress codes yesterday provoked anger among mainsteam Muslims, who warned that pupils were in danger of being ‘brainwashed’. The three schools causing concern were Madani Girls’ School in Tower Hamlets, East London, Jamea Al Kauthar, in Lancaster and Jameah Girls’ Academy in Leicester.

  • Bingung

    Pertanyaan simple aja, mau ga umat muslim dipaksa pake atribut agama lain? Kalo ga mau, ya jangan memksakan kehendak sendiri aja…trimalah bahwa manusia ini memiliki kebebasan, termaksud beragam….

  • Beggy Giyok

    semua bisa bener dan semua juga bisa salah, nih pendapat saya ya kalau nggak salah semua Nabi/Rosul itu kan berasal dari timur tengah/daerah arab, mungkin budaya arab/bahasa kitab suci itu wajar kalau masih kebawa sampai ke seluruh dunia karena ya nenek moyang/kakek moyangnya dari sana,Nabi dan Rosul tidak ada yg berasal dari BARAT/EROPA, ini pendapat pribadi ya diterima atau tidak diterima ya nggak apa2,tapi kan negara INDONESIA kan negara HUKUM ,ya kalau nggak setuju dengan UU produk Daerah, apa nggak bisa di ajukan ke MAHKAMAH KONSTITUSI ….!!!

  • jngn biling agama mu yang paling bnar
    klo udah mati tau mna yang bnar dan mna yang salah

  • Kancono R. Warsito

    Perlu diketahui, kalau dirunut dari adab dan budaya, menutup badan itu nyaman dan elok bagi orang yang menjaga susila. Menutupi badan dalam hal ini tidak berarti mengikuiti agama apapun, tidak. Maka ada beberapa rujukan yang penutup badan yang disebut baju dengan syarat-syarat yang memenuhi kenyamanan diri sendiri maupun orang lain yang ikut melihat sengaja ataupun tidak, agar tidak menimbulkan berbagai persepsi yang mengusarkan emosi dan rasa naf-naf, rasa sungkan maupun ewuh-pakewuh, dan juga untuk keindahan dan modis (fashion).

    Dari berbagai rujukan tentang paklaian itu ternyata model penutup yang cukup elegan dan cukup representatif untuk kita di daerah tropik dan subtropik, ternyata memang seperti model pakaian seperti jilbab atau hijab (dalam bhs.arab-nya).
    Dan ternyata memang juga pas untuk dihubung-hunbung dengan ajaran-ajaran agama, umat nasarani yang perempuan juga aslinya disarankan berjilbab, namun modelnya sudah dimodif sedemikian rupa mengikuti kepentingan yang sedang berjalan (politik dan ekonomi), sehingga seolah-olah umat yang bukan muslim, dalam hal ini umat perempuan nasarani (kriten dan katholik) tidak mengenal dan jauh dari jilbab/hijab.

    Dalam perjalannya waktu jilbab atau hijab memang disadari atau tidak sudah menjadi budaya dan bukan menjadi milik suatu kaum atau bangsa, apalagi untuk pakaian penyeragaman agama tertentu. Hal ini sudah menjadi “budaya masyarakat” untuk adab sopan-santun dan keindahan.

    Hanya dalam kehidupan harian, demi keleluasaan pemakaiannya memang menggunakan jilbab atau hijab tidaklah perlu dengan suatu aturan, namun perlu disosialisasikan secara persuasif setiap orang, pada generasi ke generasi agar terbentuk karaklter yang protektif, dengan kesadaran atas dasar kebutuhan dan azas fungsinya.

    Kebebasan berpakaian adalah hak individu, namun kebebasan berpakaian yang bertanggung-jawab menurut norma sosial kemasyarakatan, tidak menimbulkan kerusakan moral dan tidak vulgar serta tidak asusila. Apapun namanya jilbab, hijab, ataupun kerudung tidaklah masalah, jangan menimbulkan sentimen agama, apalagi menimbulkan islamophobia.

    Islam adalah agama atau aturan dunia dan akherat bagi semua manusia yang ada sejak jaman awali hingga jaman ajali, bahkan termasuk manusia yang ingkar (menolak-nya) sekalipun. Hanya manusia sajalah yang mengkotak-kotakan menjadi majusi, yahudi, nasarani dan lain-lainnya sesuai tata-caranya masing-masing. Tingkat pemahaman tentang islam pada setiap manusia sesuai dengan tingkat kefaham dan kesadaran masing rohaninya, sebagai hidayah dari yang Maha Kuasa. Islam juga sebagai ajaran filosophis menjadi rahmat untuk anda, untuk kita dan untuk alam semesta.

    Kancono R. Warsito,-

  • ss

    Berdasarkan penelitian apa bisa memutuskan memakai jilbab cocok untuk iklim di Indonesia? Parameter2nya apa saja? Jilbab atau penutup kepala itu cocok di daerah gurun karena dapat membantu mengatasi panas matahari dan menghindari dehidrasi, tapi tidak ada kecocokannya buat iklim tropis seperti di Indonesia. Tingginya tingkat kelembaban malah akan membuat kepala mudah berkeringat dan berbau.

    Bangsa ini telah memiliki tingkat kebudayaan yg cukup baik, tidak perlu mengadopsi kebudayaan2 dari tempat lain, apalagi dari daerah padang gurun yg lebih miskin kebudayaannya.

    Sudah saatnya di Indonesia menerapkan kembali asas2 dasar negara yg sdh digariskan pendiri bangsa ini, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Jangan selalu memandang rakyat ini bodoh selalu…

  • sedemir

    Saya Muslim.Walikota Padang telah melebihi kapasitas bahkan sudah melebihi Tuhan.

    Jilbab dalam Islam pun masih diperdebatkan. Jika pun Tuhan (betul) memerintahkan memakai Jilbab, Tuhan tidak pernah memaksanya.

    Walikota sudah mulai memposisikan diri melebihi Tuhan….

    Muslim maupun non muslim harusnya dibebaskan mau atau tidak memakai Jilbab.

    • Ahmad Kurniawan

      Allah SWT mewajibkan perempuan muslim untuk memakai jilbab,,pakaian yang memanjang dan menutup auratnya.,,,baca qur’an surah an nisa,,al baqarah..pemimpin wajib menerapkan perintah Allah…

  • Kancono

    Memakai pakaian yang santun, sesuai adat-istiadat dan budaya kemajuan, itu perlu, demi untuk memuliakan harkat kemanusian bersama. Karena hanya karakter binatang atau hewanlah yang liar tanpa rasa keindahan (estetik)yang susila dan malu untuk ber-seksi-ria, seperti para presenter TV-TV belakangan ini, karena jelas ada kepentingan dibalik itu (merusak moral dan mental bangsa dari program kapitalist liberal dan zionist). Perda itu, tidak ada salahnya, yang salah adalah manusia-manusia dengan kepentingan dan persepsinya sendiri. Pakaian berkerudung yang menutup aurat (hijab) atau istilah bahasa Arabnya jilbab pada asal-muasalnya juga dikenakan bagi umat nasarani, namun karena pengaruh new world order yang dikoar-koarkan kapitalist zionist yang konon sangat kuat berpengaruh itu, kekuatan penganut agama-agama nasarani yang dulu itu luntur, demi survive, seolah berpakaian super seksi dan mengumbar syahwat menjadi syah adanya.

  • Bhinneka Tunggal Ika

    Jilbab itu budaya arab. memang tidak memandang agama. Tapi jelas itu budaya arab. Orang Indonesia koar2 generasi mudanya kebarat2an, tapi justru skrg malah dibikin kearab2an. Tuhan dalam Al Quran tidak ada menyuruh semua org Islam bertingkah laku seperti orang Arab. Tuhan menciptakan manusia berbeda2 ras dan kebudayaan agar kita semua saling mengenal, anda bisa temukan itu di Quran. Jadi Kalo ada org Islam bilang Islam = Arab, atau budaya Islam = budaya arab, tlg pelajari lagi Al Quran. Tuhan ngerti smeua bahasa di dunia ini, bahkan bahasa planet lain kalupun itu ada. Kalo anda berpikir Tuhan hanya akan menerima doa anda dlm bhs Arab, anda sungguh mengkerdilkan Tuhan.

    Sebagai org Islam, sudah lama saya kecewa dengan sikap2 org Islam. Ini bukan salah agamanya, tapi salah org Islam dan para ulama yg telah salah dalam menyebarkan pengertian Islam. Kalo di dunia saat ini ada pemikiran negatif ttg Islam, jgn hanya menyalahkan org lain atau pihak lain. Intropeksi diri ttg kelakuan “oknum2″ Islam.

    Sebagai contoh pengeboman Bali. Banyak yg bilang mengutuk dsb, tapi hanya sekedar seperti itu (bahkan beberapa org mrncari pembenaran bahwa mereka hanya membalas Amerika). Coba saja jika pelakunya adalah kaum minoritas? Anda tidak hanya akan mengutuk, tapi sodara2nya yg entah sesuku atau seagam pasti juga akan kena getahnya walaupun tidak terlibat.

    Dimana2 kaum mayoritas WAJIB menghargai dan melindungi kaum minoritas. Itulah sikap ksatria. Mungkin kita harus belajar tentang filosofi2 nusantara lagi.

    NB. Org indonesia tak perlu merisaukan Israel *sbg negara, bukan yahudi sebagai agama. bedakan itu!) atau amerika. justru risaukan paham2 arab yg coba di masukan ke Indonesia. Ingat musuh dalam selimut lebih berbahaya. musuh yg mirip/menyerupai kita lebih gampang menghancurkan dari dalam.

    • Ahmad Kurniawan

      tuhan yang ,mana loh…si gembel yesus,,,yesus aja ngajak umatnya beriman kepada agama yang dibawa Muhammad SAW…berjilbab itu kewajiban setiap muslim perempuan..kecuali kalo perempuan kafir..baca Qu’ar yang bener makanya..jgn asal baca….

      • nath

        Nahh itu kmu bilang sendiri: ‘…berjilbab itu kewajiban muslim perempuan..kecuali kalo perempuan kafir…’
        Non.muslim kan kalian anggap kafir, trus kenapa maksa maksa dipakein jilbab?

        Come on lah…be a smart moslem…

        Oya, satu lagi… saya agnostic, tadinya berfikir bhw benar Islam adalah Rahmatan lil alamin… tnyt ngga juga, bahkan Islam juga belum berhasil mendidik anda sbg umatnya sendiri untuk menjaga lidah. Hmm…’si gembel yesus?’ Menarik….. kira kira ada kejutan apa lagi dalam islam ya?

  • sapto

    Coba baca serat Darmagandhul …… salah satu sebab negara kita susah untuk maju …. eh, malah di ulang oleh walikota padang …. intinya hidup bukan dari sisi luar tapi ajarkan kebaikan hati …… munafik menjadikan hidup baik diluar busuk didalam ….. kayak kuburan …

  • sapto

    bukannya mau merendahkan ….. jakarta, surabaya, cilacap, balikpapan …. ada pelacur yg berjilbab …. so, sudahlah urusan baik n tidak baik urusan Tuhan dgn umatNya …..

  • amelia

    masa siy? kok beritanya cuma dari satu sumber yah? ga ada pernyataan dari kepala sekolah bersangkutan? maaf saya gak percaya berita dari M Goen ini, dia suka melintir berita. Kalau bener, maka walikota itu harus bersikap tegas kepada kepala sekolah yg bersangkutan, krn tidak berhak dia memaksa non muslim untuk ikut syariat islam, tapi dia boleh saja memaksa muslim untuk ikut syariat islam, itu klo tulisan si M goen ini bener, tapi saya sangsi, karena M goen ini dan temennya orang yg paling anti dgn penerapan syariat islam buat muslim. Sorry but I dont buy it.

    • admin

      Amelia
      di jaman internet ini anda mau ngecek samgat mudah. Jejak informasi ada di Google. Dan walaupun anda sangsi, mudah saja melenyapkan kesangsian anda lewat Mas Google. Semoga kehidupan anda lebih cerah!

      • Adrian

        saya orang minang sumbar, kota kecilnya bernama padang panjang yang dikenal juga dengan serambi mekah, dan saya dapat katakan kalau apa yang ditulis oleh admin adalah bohong besar..!! untuk anak-anak nonmuslim tidak ada peraturan yang memberlakukan ataupun mewajibkan mereka untuk memakai jilbab/ tudung kepala, yang ada hanya memakai baju kurung, itu saja !! jangan hanya memabaca tanpa melihat, dalam islam tidak ada pemaksaan kepada umat yang berbeda agama.

  • amelia

    @ sapto: maaf ya serat darmogandul itu buatan pendeta yg benci islam, so wajar aja tulisannya nyeleneh, malu2in aja.

  • amelia

    @bhin tugl ika: lah bukannya cultur barat lebih kental di indonesia ? plis deh, arab ga pernah ngejajah indonesia, barat tuh dgn gold ospel glory nya..ok

  • amelia

    maaf, koreksi, maksud saya tulisan guntur romli bukan m goen.

  • okan

    Amelia@ good comment amelia…

  • Nabi Cabul

    Pak Kancono R. Warsito, perlu diketahui bahwa adat istiadat dan budaya tiap-tiap daerah/negara berbeda. Termasuk budaya dalam berbusana. Anda tidak bisa mengatakan bahwa yang tertutup itu lebih sopan ketimbang yang buka-bukaan. Ini anggapan yang dipengaruhi oleh kepercayaan (agama) Anda semata. Anda bisa lihat gadis-gadis di Bali pada masa sebelum Indonesia merdeka, mereka semua bertelanjang dada. Demikian juga laki-laki di Papua yang hanya mengenakan koteka. Tidak ada yang mengatakan bertelanjang dada atau mengenakan koteka itu sesuatu yang memalukan atau tidak sopan. Malah mungkin jika saat itu ada wanita yang datang dengan berjilbab, justru wanita itu lah yang dianggap tidak sopan, aneh atau lain sendiri.

    Berbusana hendaknya disesuaikan dengan situasi, tentu tidak sopan mengenakan pakaian tidur saat datang ke pesta. Demikian juga busana wanita untuk berenang adalah bikini, bukan jilbab. Berbusanalah sesuai dengan tempat dan waktunya.

    Inti tulisan saya adalah, sopan tidak sopan bukan ditentukan dari apakah busananya tertutup atau buka-bukaan? Melainkan apakah sesuai dengan tempat & waktunya atau tidak?

  • Sabdopalon

    walikota goblok, otaknya dipantat… tidak bisa membedakan budaya arab dan nusantara, sama persis Bonjol yang menjajah pagaruyuang dengan penindasan dan pemerkosaan…(baca tuanku rao) gitu kok bisa hidup sih walikota ini….

  • rollox

    lama2 INDONESIA hancur karena politik dan agama dicampur-adukkan seperti ini…..sok2-an pake perda syariah….padahal banyak yang nggak sadar bahwa orang2 non-muslim banyak yang ikut bertempur demi kemerdekaan INDONESIA…. namun sekarang banyak islam fanatik yang bilang bahwa demokrasi dan PANCASILA adalah buatan kafir dan haram…..harusnya jika pemerintah INDONESIA berani ……tangkap semua orang yang berani bilang indonesia bukan negara pancasila,bukan negara demokrasi,dll……..GOD BLESS INDONESIA!!!!

  • Rahman

    @rollox, saya pernah lihat spanduk di Bandung bertuliskan sbb. “Negara Indonesia adalah negara Pancasila, bukan negara demokrasi”

    nah lho, maksudnya apa ya? :)

    • nath

      Karena demokrasi intinya berlandaskan membela kepentingan orang banyak dahulu, sementara you know lah…orang banyak itu mayoritas…yang udah udah aja, mayoritas di negeri ini selalu merasa hebat, dan menindas minoritas. Jadi keberadaan minoritas di Pancasila lebih terjamin hak hak azasi nya dibandingkan di demokrasi yang bias. Btw, saya orang Bandung dan saya sangat setuju dengan spanduk tersebut…

  • ngakak

    Serat darmogandul bikinan pendeta,,???!!! Wkwkwkwkwkwk,wooiii,,belajar trima kenyataan,biarkan sejarah yg bicara,jgn ditutup2i..btw, ttg pakaian jilbab ini, apakah padang mau dihantam gempa lagi,,???!! Buat non muslim skolah di swasta aja malah lbh berkualitas swasta dibanding negeri(payah),,

  • Indonesia, dengan islamnya benar2 menjadi negara Aperheteid seperti Afrika Selatan dengan kulit putih dan kulit hitamnya.
    Saya heran kenapa dengan kalau islam berbuat begini ada perlakuan SARA tidak pernah Badan Dunia seperti PBB atau Komnas HAM internasional turun tangan ?
    Sementara di negara2 maju, bangun mesjid saja bebas sebebasnya bahkan membeli gereja atau kuil.
    Apakah islam itu agama atau semacam PAHAM komunisme baru?

  • lg

    Sedangkan dalam aliran Islam sendiri penggunaan jilbab sendiri masih pro kontra. Masalah berjilbab bukannya keputusan pribadi? lha pemerintah daerah kok melanggar hak asasi manusia dengan mengambil alih kebebasan manusia dalam memutuskan? lha kebudayaan berpakaian ala minang mau di kemanakan? di ganti dengan kebudayaan berpakaian ala arab yang memang mau tidak mau harus menggunakan jilbab bukan hanya masalah moral tetapi masalah iklim setempat?

    menurut saya sih buat rekan Kristen di Padang, yang tidak bisa masuk sekolah Kristen dan Katolik, dan terpaksa masuk sekolah negeri, siasati saja dengan bijak. meski kita membayar pajak sama besarnya, tetapi jelas sekali hak kita sebagai warga negara di potong habis oleh sekelompok orang yang menggunakan nama agama dan negara yang bukan Islam menjadi Islam. kita tentu memilih wakil rakyat bukan untuk di jajah seperti ini, mengingat negara ini negara Republik dan bukan Republik Islam ataupun negara Islam; karena itu tegar ya…bayangkan saja ibu Yesus juga menggunakan jilbab, para biarawati juga menggunakan jilbab, sehingga hati kita tidak tersakiti oleh ulah sekelompok orang yang menjijikan tingkah laku dan keputusannya yang memaksakan. lalu kalau cukup dana, tinggalkan tanah minang. biarkan saja menjadi masa lalu kalian, mereka kehilangan seorang anak minang yang bukan Islam, yang mungkin jika mereka mau bertoleransi akan membawa nama tanah minang ke seluruh jagat dengan kerinduan. tapi kali ini akan banyak orang keluar dari tanah minang dengan membawa nama buruk kehancuran hak asasi manusia di tanah Minang di sebuah daerah di tanah Republik yang bukan Islam.

    jadi saja warga dunia.

  • Nusantara

    Benarkah atau Sudahkah ISLAM merupakan agama yang membawa Rachmat bagi Manusia dan Alam Semesta ????????????

  • cewe bandung

    @Rahman
    setau saya..spanduk/baliho/tulisan ‘Negara Indonesia adalah negara Pancasila, bukan negara demokrasi’ dimaksudkan untuk mengembalikan pemahaman masyarakat ttg dasar negara = Pancasila. Demokrasi adalah (hanya) salah satu dari poin (-poin) pengamalan Pancasila. Belakangan masyarakat dan mungkin sebagian besar elit politik sudah menggeser dasar negara menjadi ‘demokrasi’, alasan yang sering digunakan sebagai pembenaran dari tindakan yang dilakukan. Padahal, masyarakat kita masih dalam proses pembelajaran dalam menerapkan demokrasi yang baik. Demokrasi sering diartikan sebagai kebebasan tanpa batas, yang sedemikian bebasnya sampai bersinggungan dengan hak-hak pihak lain. Akibatnya, ya seperti sekarang ini, tatanan horizontal NKRI carut marut, kusut, yang kuat menindas yang lemah, yang banyak melindas yang sedikit..dengan menggunakan judul DEMOKRASI, pemerintahan rakyat. Saya yakin, bukan itu yang dimaksud dalam Pancasila. Dasar NKRI adalah Pancasila, bukan demokrasi. itu maksudnya.

  • kead

    “menyangkut keyakinan itu, itu persoalan pribadi, tetapi soal pendidikan siapa saja boleh datang ke sini (Red: Pesantren Walisanga)” Ini cuplikan dari film dokumenter yang bisa menyadarkan orang-orang yang fanatis bodoh terhadap agamanya. Kalau SBY terima penghargaan untuk toleransi “yang sesungguhnya” adalah atas kekerasan berbasiskan agama, mereka dalam film ini tidak butuh penghargaan untuk menghidupkan Bhineka Tunggal Ika.

    http://rakyatkecilbersuara.blogspot.com/2013/05/assalamualaikum-story-from-ende.html

  • Feri

    Ini tulisan Guntur Romli sepilis itu ya? Gak heran deh…
    Maju terus perda-perda yang akan membawa kebaikan bangsa. Aamiin

  • Masrial MR

    Ass.Wr.Wb. Maju terus Perda Syariah, ga masalah banyak tantangan, kalo ga ada tantangan itu, itu bukan namanya Islam, Islam tentu banyak tantangan baik dari dalam Islam itu sendiri maupun darei luar. Semangat pagi Islammmmmm. Wassalam,

  • begundal lowokwaru

    Mas Guntur makin hari makin pinter. Aku suka deh sama kamu.
    Aku gay, ingin dipuaskan olehmu. Dulu kan kita pernah aksi bareng mendukung LGBT. Lupa?
    aku tunggu di hotel four season ya mas guntur…

  • amin-admin

    Min, elo nyortir pendapat yang masuk ya…yang cuma ngebelain doang yang elo masukin kan.
    #PECUN LU!

  • freddy

    MAKAN BABI YOK?!!!!!
    GA AKAN BIKIN MATI KOK

  • bokirkribo

    bangsa INDONESIA telah dijajah bangsa arafff

  • Masrial MR

    Bagus Perda-Perda untuk mengatur manusia yang jalang.

  • konyol

    saya mengusulkan supaya segera dibuat perda untuk membuat celana dalam khusus dari Baja murni, yang kuncinya hanya dipegang oleh ibu or istri dari si lelaki.
    Insya allah kemaksiatan akan tuntas! Tas! Tas!

    PS:
    Kenapa hanya perempuan yang dikarungi, sedangkan laki-laki tidak?

  • meyiyaseki

    Banyak sekali orang islam yang mendukung penerapan syariah sering berargumen bahwa syariah hanya akan berlaku bagi umat islam dan non islam tidak perlu takut. bahkan mereka sesumbar bahwa syariah akan melindungi non islam juga, karena klaimnya rahmatan lil alamin…
    tetapi faktanya penerapan syariah di manapun sama saja selalu menjadi penjajahan psikis dan theologis bagi umat non islam.

  • meyiyaseki

    Jadi ingat pernah ada usulan perda syariah di Jambi, katanya untuk melindungi perempuan dari tindak pelecehan seksual, maka perempuan dikenakan jam malam. Jadi kalau perempuan tidak keluar lewat jam 10 malam, maka mereka akan aman.
    Kenyataannya, sepatutnya hal tersebut dikenakan pada laki-laki. Laki-laki jika tidak boleh keluar setelah jam 10 malam, bukankah juga akan mencegah terjadinya tindak pelecehan seksual?
    Tetapi yang namanya penerapan syariah itu selalu perempuan adalah target yang disalahkan, sehingga koreksi hanya dilakukan pada perempuan.

  • meyiyaseki

    daging babi haram, korupsi haram, zina haram.
    daging babi dihindari..
    uang haram dimakan.
    zina dilakukan.

    apakah daging babi lebih haram dari korupsi dan zina?

  • alpha

    saya muslim, saya tegas anti perkawinan beda agama, tapi kalo pemakaian jilbab bagi non muslim mestinya dikaji ulang lah…

    • nath

      Setuju…menurut saya justru pemaksaan jilbab kpd non muslim, bukannya melecehkan arti dan makna jilbab yang begitu luhur? Jilbab adalah penutup aurat bagi muslimah yang disyariatkan oleh agama… apa makna nya jika dipaksakan untuk dikenakan oleh nonmuslim? Jilbab akan menjadi sehelai kain tanpa arti… benar benar melecehkan jilbab itu sendiri kalau dipaksakan….

  • william

    coba pikirkan ; anda mau tidak disuruh melakukan kewajiban agama lain? Coba orang2 yang mendukung perda ini memikirkannya. Pasti ga mau kan?

  • Slamet Widodo

    agama tak lebih dari alat pembenar ego kita maka beagama sering membuat kita kekanak-kanakan

    • J kendill

      ACC Aa Slamet; memang demikian adanya. Kalo sudah MENGAKU BERAGAMA, Maka PENDAPATNYA HARUS DIANGGAP BENAR, tidak boleh orang lain beda pendapat. Dan INI DIDEKLARASIKAN DENGAN LANTANG DAN GALAK. Tapi Aneh Bin Ajaib Faktanya Sedikit2 NGELUH; Sedikit2 NGRENGEK; Sedikit2 BERANG; Sedikit2 TEBAR ANCAMAN; Sedikit2 MRASA DIZALIMI, dsb…….. dsb……… . Apalagi hal ini kalo bukan kanak2……………. .

  • kalian itu pada sok sekuler ., ateis., kalian tuh sebenarnya korban kegenitan intelektual.

    coba tolong sebutkan hasil otak kalian yang berguna buat perkembangan masyarakat dan majunya ekonomi rakyat ?

    sejarah dunia tidak mencatat ada peradaban yang lahir dari curahan pikiran, tenaga, dan darah dari orang-orang atheis.

    grown up man.

    • banyak dari para Atheis ini sebenarnya berasal dari Kristen sendiri, mereka tidak percaya Tuhan karena memang Tuhan di ajaran Kristen itu membingungkan mereka, banyak hal yang ambigu dan diluar logika mereka..

      sehingga mereka berkata Tidak ada Tuhan..

      apabila atheis ini memang berilmu tidak menutup mata dan mau mempelajari dan mencari tentang Tuhan, coba baca setiap kitab dari setiap agama, saya yakin suatu saat mereka akan berkata

      “Tidak ada Tuhan, melainkan Allah”

  • Ahmad Kurniawan

    baguslah..perda syariah harus diterapkan diseluruh indonesia…biar si guntur romli kepanasan,,,karena dia termasuk Murtadin halal darah si guntur ditumpahkan !!!!

    • nath

      Wahh….ternyata islam benar benar menarik… barbar juga ternyata ya. Mmg bener tnyt suka banget sm pertumpahan darah #jd mikir lagi mau belajar dan memeluk islam# hummmfftt… ayo, ayo….ada kejutan apa lagi….suer kpgn tau…

  • joniyogi

    Inilah tanda2 Negara Indonesia akan hancur yang diakibatkan oleh kekuatan golongan tertentu untuk memaksakan kehendaknyanya kepada golongan lain, tolong diingat penduduk Indonesia sangat majemuk (bahasa,suku,agama dan budaya)ini harus dijaga dan saling toleransi. Kalau kita simak kembali kehancuran Kerajaan Majapahit, (tolong dipelajari ulang sejarah Penyebab dibalik kehancuran kerajaan Majapahit siapa2 dalangnya).Saya secara pribadi tidak ingin Negara di nusantara ini hancur yang kedua kali. Saran saya kepada pemerintah Pusat harus mikir dengan bijak dan bertindak tegas terhadap walikota PADANG dengan hukuman mati dia ingin menghancurkan Negara Indonesia, karena aturan yang dibuat sangat berbahaya untuk kelangsungan berbangsa dan bernegara di Indonesi.

  • ra

    orang minang sangat majemuk, tapi lucunya sekarang… virus2 wahabi sudah merasuki.. kalau walikota Padang ini, saya rasa ini taktiknya ngambil hati orang Minang. Padang khususnya.

    Saya islam, minang dan tidak setuju dengan perda syariah. Saya kira otonomi daerah akan memajukan Padang yang tadinya lemah industri. eh, malah yang dikerjain yang berhubungan dengan hak pribadi. Agama di Indonesia atau provinsi yang melakukan syariah ini hanyalah untuk politik. Mengambil hati rakyatnya yang polos2. Orang Padang di Padang emang banyak yangpolos2.. jadi si walikota ini sok2an keliatan alim .. padahal itu hanya taktik. Taktik apa, …???

    menurut saya gini… FB ini punya keinginan untuk memasukan investor2 luar ke Padang, karena di Padang tuh agak susah berinvestasi,- selain urusan tanah yang ribet karena tanah merupakan tanah kaum bukan pemerintah. Lalu, Padang sering gempa, siapa yang tertarik berinvestasi. Nah, dia bikin langkah2 jitu untuk ngambil hati rakyatnya yg polos2 ini….. dengan cara perda syariah, asmaul husna…. dan terkahir saya dengar 2 bulan yang lalu, bagi siswa yang hafal 30 juz alquran dibebaskan masuk universitas negeri tanpa tes.. HAHAHA.. lucu kan, jadi kalau mau masuk teknik mesin, selama hafal alquran meski gak ngerti artinya bisa masuk sekolah negeri… sangat2 absurb….

    KARENA…………
    dia punya keinginan… memasukan LIPPO SUPERBLOK ke Padang… yaitu pengusaha keturunan ke Padang, investasi yang dikeluarkan cukup wah.. 1.3 trilyun. Jadi yang saya tangkap, dia ambil hati warga padang dulu dengan gayanya yang sholeh, gamis.. diakhir masa jabatannya dipersilahkannya investasi lippo masuk…. (yang jujur saya senang… karena industri di padang tuh gak jauh beda dengan kabupaten, terjadi brain drain di padang, dimanan putra putri usia produktif merantau…)

    ehhhhhhhh…..
    ternyata jalan Fauzi ini tidaklah mulus…… ada pengusaha Padang, Basrizal Koto.. pemilik mal dan hotel di Padang & Pekanbaru yang ternyata sudah memonopoli mal di Padang. Si Basko ini menyogok PEMDA untuk tidak mengizinkan invsetasi mal lain masuk ke Padang selama 10 tahun mallnya dibuka.. jadi dia memonopoli mall di padang, padahal orang padang dan chinanya banyak yg mampu bikin mal lebih dari si basko ini.. mall si basko ini standard, gak ada 21 jua.. katanya hotel basko bintang 5.. yang saya lihat hanya bintang 3…

    dan tau akan ada LIPPO superblock, yang nantinya akan ada hotel aryaduta, rumahsakit taraf internasional, sekolah sekelas pelita harapan (yang saya harap bukan sekolah agama, tapi membebaskan siswinya untuk tidak pakai jilbab)…..

    akal licik si Basko untuk menentang saingan bisnisnya dengan cara menghembuskan isu agama dipadang, kalau Lippo ini tujuannya permurtadan dan sebagainya… jadi sekarang nasib lippo agak2 terkatung2… emang ini pengusaha Minang licik, saya orang Minang… tapi saya akui, mungkin karena itu orang Minang banyak yang lebih sukses di rantau dibanding tanah sendiri… susah menjadi maju dinegeri dimana saudara sendiri makan sesama…..

    jadi…. usaha fauzi bahar selama ini yang ngambil hati rakyat dengan syariah hampir sia2.. yang rugi siapa???

    yaaaahh rakyat dong, udah harus pake jilbab, peraturan jadi semakin aneh2….. lippo superblok yang diharapkan akan membawa kemajuan di kota Padang… nasibnya gak jelas……..

    sebagai orang Padang, kalau mau ngejalani syariat islam gak perlu lah pake2 jilbab…. cukup urus saja tenda2 ceper dengan siswi2 berjilbab di pinggir pantai…

    dan jangan salah, dana gempa 2006 dan 2009 juga lenyap di udara…..
    agama kalau dipolitisir emang begini…..

  • ra

    saya clarify ya, orang minang majemuk disini maksud saya mindsetnya. Banyak orang Minang yang modern, moderate lalu orthodox atau wahabi. Yang saya perhatiin, belakangan banyak yang wahabi, mungkin salah satunya karena media yang dibacanya, contohnya majalah hidayatullah yang isinya kebanyakan fitnah dan tidak objective. ini yang bikin mereka beerubah menjadi wahabi, lalu ikut2 pengajian yang ustadnya juga wahabi….

  • tutik heriyanto

    Walikotax g brmutu spt ini yg g bs jd pmimpin kmajemuk bangsa indonesia.
    Pmimpin yg d budak olh arab

  • Billy Gunadie

    Rasanya musti kembali ke SEJARAH MESIR, di mana jilbab dimulai untuk menbedakan antara wanita PELACUR dan bukan Pelacur. Wanita Pelacur dilarang memakai Jilbab. Bukan kebudayaan Arab, tetapi diadaptasi oleh Islam aliran tertentu masalah aurat.

    Baca juga tulisan Lila Abu-Lughod

  • Walau bagaimanapun tidak akan senang kepada kamu, Orang-orang Yahudi dan Nasrani itu,
    hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
    QS.al-baqarah 2:120

    Begitulah arti dari salah satu ayat yg ada dalam al-qur’an..
    Saya asli minang dari pariaman dan besar di kota padang, belum ada saya pernah sendiri mendengar bahwa non muslim itu di paksa memakai jilbab malahan pendeta kristen yg suka memaksa saudara kami yang lemah ekonominya masuk kristen….
    Saya pernah 1 lokal dengan orang yg beragama kristen di saat pengambilan nilai agama temen saya itu malah di suruh sama guru saya yg tak lain adlh islam untuk temen saya meminta nilai agamanya di gereja di tempat biasa dia konser….
    Ini artikel kayaknya untuk pembodohan terhadap kaumnya sendiri “kristen” .
    Knp di sumatra barat itu berlaku hukum syariah islam, karna falsah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai….

    Jangan adu domba kami,..
    Karna Kalikaik orang minang nan parantau dan akhlak orang Islam nan indak manutuik diri dalam bergaul adolah suatu harmonisasi nan sangat rancak. Dek urang minang, kalau baik urang nan tibo, indak tapak tangan nyiru ditampuangkan tapi kalau jalan kadiasak urang lalu cupak ka dialiah urang panggaleh, iyo bapantang. Baitu juo dek urang islam, indak bapantang bamuamalah walaupun jo urang kafir sarupo Nabi saw nan manggadai ka urang yahudi tapi kalau nan pokok nan digaduahnyo, nan sandi aqidah nan diancamnyo, di sikolah jihad ditagakkan.

  • Waras

    tolol semua, tuhan itu kagak ada, islam itu ajaran utk menyesatkan manusia !

  • nogog

    Wong iki ngomong apa seh? Pakai Bahasa Indonesia kenapo?

  • ttbnice

    Saudara Minang, tulisan di atas ada Nama lengkap dengan institusinya. Kalo mau cross check ya gampang. Apalagi anda berkoar orang Minang.

    Nah tulisan anda itu justru yang gak ada dasarnya kecuali ayat AQ tapi dengan arogan nya sudah menyalahkan orang lain. Nanti kalo tulisan Moh Guntur Romli terbukti, yang malu kan ayat AQ nya. Makanya jangan sembarangan bawa2 ayat biar kesannya mentereng. Tapi sebetulnya anda sudah merendahkan kitab suci anda sendiri…

    Kata paman nya spiderman, great power comes with great responsible. Kalo anda merasa ayat AQ itu great powers, mbok ya makenya ati2…

  • zufri edi

    Saudara-saudara kami non muslim. Mari kita menyampaikan pendapat dengan menjunjung tinggi etika dan moral. Saya yakin tidak ada agama manapun yang membolehkan umatnya berdebat dengan kata-kata yang kotor atau menghina agama lain.Cara yang seperti ini justru akan menimbulkan antipati yang makin dalam dari saudara kita dari penganut agama lain. Kita ditakdirkan hidup di negara yang multi etnis, multi budaya, dan multi agama/kepercayaan. Perbedaan ini seharusnya kita syukuri sebagai kekayaan bangsa. Oleh sebab itu sudah seharusnya kalau masing-masing kita saling menghormati dan menghargai perbedaan diantara kita. Masyarakat Minang Kabau adalah salah satu etnis di Indonesia yang memiliki karakteristik budaya yang unik di Indonesia. Sebagai masyarakat yang mayoritas penganut agama Islam dan memiliki nilai-nilai budaya yang unik, sudah sewajarnya mereka berusaha menjalankan ajaran agamanya dengan baik sekaligus menjaga keluhuran nilai-nilai budayanya. Perda yang mengatur penggunaan pakaian islami saya rasa tidak sedikitpun merugikan saudara-saudara kami yang non muslim. Perda ini hanya berlaku bagi masyarakat minang yang muslim sebagai upaya meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai agama dan nilai-nilai adat minang yang mereka anut. Tidak ada satu pasalpun dalam perda ini yang mewajibkan saudara non muslim untuk menggunakan pakaian muslim. Mengenai penerapan aturan di sekolah-sekolah, seharusnya sekolah-sekolah tersebut dalam merumuskan tata tertib sekolah harus merujuk kepada perda ini, yakni tidak boleh ada pemaksaan penggunaan pakaian muslim bagi siswa non muslim. Kalau ada penyimpangan, ini merupakan kasuistik yang bersifat individual. Kewajiban kita semua untuk mengontrol, memandu, dan mengkritisi kalau ada aturan-aturan yang bertentangan dengan perda. Saya rasa tidak semua sekolah yang menyalahi aturan. Kenyataan, dari semua sekolah yang saya bina, baik negeri maupun swasta di Sumatera Barat mudah-mudahan tidak saya temukan aturan sekolah yang menyalahi perda. Kalau ada, saya pasti akan melakukan koreksi terhadap aturan tersebut. Sekali lagi, mohon maaf, mari kita menilai segala sesuatu dengan objektif dan hati yang lapang. Izinkanlah kami masyarakat minang menjalankan ajaran agama dan tuntunan nilai-nilai adat kami dengan baik. Terima kasih.

  • ttbnice

    Saudara Zufri, hina, kotor, etika itu landasan bersamanya apa? Dan apa pengaruhnya terhadap individu? Gak ada. Anas U yg katanya berpolitik santun toh korupnya jago. GD itu kalo ngomong selalu nyelekit, tapi dia penolong kamu minoritas yg sering diinjek2.

    Sebetulnya, kalau kita mau konsekuen bernegara dan berbangsa. Perda itu sendiri sudah menyalahi aturan. Kita bisa liat AS yg menghilangkan In GOD we trust di uangnya demi kaum non believers demi semangat pluralismenya. Bahkan Ucapan merry christmas di saat Natal pun dilarang karena Desember juga merupakan perayaan Hanukah nya Yahudi. Mereka mengucapkan Happy holiday.

    Ini yg namanya berkomitmen.

    Dalam pemerintahan demokrasi Pancasila, dan semangat sumpah pemuda dari founding fathers kita. Pemerintah tidak boleh mengacu peraturannya berdasarkan satu agama. Supaya adil, pemerintah gak boleh bawa2 agama. Bikin mesjid di halaman kelurahan atau sekolah negri saja sudah merupakan pelanggaran. Apalagi sampe polisi boleh pake jilbab… idih.

    Jika ini negri federal, dimana setaiap daerah punya otonomi untuk mengatur daerahnya sesuai kepentingan rakyatnya ya podo wae.

    Jadi Pak Zufri, yang berbahasa santun dan beretika dan bermulut manis, mending itu ego di kecilin dulu biar keliatan imbang antara mulut dan hati. Dan mulailah pengetahuan yg berwawasan. Atau paling tidak mengerti arti komitmen dan konsekuensi.

  • Arief

    Yg bikin artikel dimaklumi karena Fahamnya yg liberal,yg komen lebih lucu karena kebanyakan kaum Kristiani bahkan tidak faham dengan syariat agamanya sendiri. Jilbab itu syariat agama,bukan budaya atau sekedar anjuran,tapi diwajibkan tidak hanya bagi Muslimah,tapi wanita2 Kristen… Baca dulu Al-kitab anda sebelum komen bodoh membabi-buta…
    KORINTUS 11:5-6.10,13:
    {5}Tetapi setiap wanita yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung,menghina kepala,sebab ia sama dengan wanita yang dicukur rambutnya. (6)Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya,maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan jika rambutnya digunting atau dicukur,maka haruslah ia menudungi kepalanya. (10)Sebab itu,perempuan harus memakai tanda wibawa dikepalanya,oleh karena para malaikat. (13)Pertimbangkanlah sendiri,patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala tidak bertudung?
    Catatan: Alkitab dengan tegas mewajibkan wanita harus berjilbab,bahkan yg melanggar harus digunduli rambutnya.
    Bukan kebetulan atau sekedar tradisi kenapa Bunda Maria,ibunda Yesus dan para biarawati memakai kerudung/jilbab. Namun dengan berbagai dalih dan alasan yg dibuat-buat untuk memuskan hawa nafsu dan selera,lagi2 umat kristen menafikan syariat agama dan perintah Tuhannya..

  • Meme Yahoo

    untuk Arief , Anda mengutip Ayat pada Alkitab , Korintus 11:5-6 .. Baca lagi “Setiap wanita yang berdoa dan Bernubuat…….” Artinya bukan setiap saat !!
    Paham !! , CIH ONTA ARAB LOE YEAAA !!

  • JADIKAN AKU PEMBAWA DAMAI
    Tuhan,
    Jadikanlah aku pembawa damai,
    Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
    Bila terjadi penghinaan jadikanlah aku pembawa pengampunan
    Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
    Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
    Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
    Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai, Sebab dengan memberi aku menerima
    Dengan mengampuni aku diampuni Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
    Amin

  • Umat Kristiani Padang/Sumbar, tabahkan hati, hadapi semua dengan senyum dan damai. Memeng sepintas Walkot/Kepsek disana itu seperti penjajah saja, tapi jangan anggap itu tekanan, jangan cengeng. Nikmati saja. Itu belum seberapa dibandingkan dengan penindasan kepada warga Kristen dan umat beragama lain komunis oleh rezim di Tiongkok, Sovyet dan Eropah Timur, namun lihat sekarang komunis jatuh, umat beragama tidak tertindas lagi.

  • kasut

    ya.. Saya rasa biarkan saja mereka berlomba dengan simbol… Yang masuk surga kan simbolnya bukan orangnya. Allah membalas alpa yang dilakukan bukan dalil dalil buatasn manusia..

  • Al Rasyid

    Fenomena aneh yg terjadi di dunia pendidikan, itu juga terjadi di Yogyakarta. Itulah mengapa saya yang muslim sengaja memasukan anak saya ke sekolah Katolik, saya tidak ingin anak saya mendapat ajaran agama Islam dari sekolah negeri yang akhir-akhir ini agak berbeda. yang entah dari mana sumbernya,yg suka mengecam agama lain, etnis cina. dll. biarlah dia mendapat ajaran Islam dari keluarga saya sendiri.biar dia belajar menghargai perbedaan di lingkungan katolik sekolahnya.

  • prya tanggoeh

    lakum di nukum waliadiiiin,,,[agamu ku untuk ku,,,agama mu untuk mu],,,amaluna amalukum,,[amal ku untuk ku amal mu untuk mu],,,urus diri masing2,,,perempuan muslim wajib pakai hijjab/jilbab,,,pantas tak pantas cuaca/iklim nya,,,utk yg non-muslim tdak ada pemaksaan pake jilbab,,,non-muslim kalo pake baju jgn pake baju yg terbuka aurat nya ataw yg tembus pandang karna mata laki2 [muslim /non-muslim] bisa menembus isi dari balik baju nya[wanita] sekalipun di tutupin pake apa saja,,,ini yg menjadi acuan agar perempuan menutup aurat nya muslim atau non muslim.ini masalah maksiat mata belaka,trus menjurus ke arah nafsu birahi,,,itu maka nya perempuan harus di tutup aurat nya muslim/non-muslim.thanks.

  • prya tanggoeh

    alrasyid@ kalau agama mu agama syiah najis takfiri laknatullah turunan para binatang mut’ah/zina ya jelas beda…karna syiah bukan lah agama islam…yg mengatakan si’ah adlh islam pasti binatang.

  • saya islam, istri saya ga pake jilbab, saya larang menyetir mobil/motor karena hukumnya haram, agama kristen,yahudi hindu, budha adalah benar (menurut pemeluknya) itu saja, mohon maaf bila kata-kata saya salah.

  • rika

    @P. Deli : jaman dulu penduduk Indonesia itu bukan muslim pak. Mayoritas hindu dan budha. Islam masuk lalu mengggerus penduduk yg beragama Hindu dan Budha dgn mengklaim bwh mereka adalah orang kafir. Kayaknya bapak kudu belajar sejarah lagi deh pak. Dan begitulah agama yang selalu mengklaim “Rahmatan lil ilamin”…tapi pada kenyataan dan prakteknya selalu menekan kaum minoritas.

  • Elek

    Paling2 ini tulisan hoax.. Super hoax!

  • Nama agama biasanya selalu terkait dg nama,asal daerah atau RAS si Pembawa:
    1.Dinamai Hindhu karena asalnya Pembawa dari Hindustan.
    2.Dinamai Budha karena nama pembawanya Sang Budha,idem Kong Hu Chu.
    3.Dinamai Kristen Jawi karena ada unsur JOWO.Idem HKBP.
    4.Dinamai Yahudi karena Rasnya Yahudi.
    5.Dinamai Roma Katolik,terkait dg nama Romawi,idem Greech Katolik.
    6.Dinamai Kristen karena dibawa oleh Kristus.
    7.Dinamai Protestan karena pembawanya dulu protest soal Surat Aflat.
    Tuan2 mestinya nanyak kenapa Nabi gak menamai agama Arab atau agama Makkah,kok ISLAM yg gak terkait apapun dg Pembawanya,sebab arti Islam = SELAMAT.

  • Setan

    Kalian tu pejabat bodoh… Syukurlah sipangacau ala indak jadi pejabat lai.. Sukur2 ala mati di neraka jahanam….

  • yakobus

    Koq bingung pakai jilbab/kerudung, gereja katholik aja baru2 ini menganjurkan umatnya khususnya wanita kembali ke khitahnya, menutup aurat termasuk kerudung. Lantas apa komentar pembaca katholik: “…Nah…, begini lebih enak dilihat, labih sopan dan gak perlu pusing2 milih baju kalau mau ke gereja..”. Nah lo…piye…??? :)

  • Tabahkanlah iman orang Kristen di Padang Tuhan.

  • amar

    sadarkah kalian bahwa Budaya asli Indonesia sudah Punah di ganti budaya ARAB…